“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suntik Aku
Wicaksana melangkah mengejar Ria, kemudian merentangkan tangan menghentikan gerobaknya.
“Ada apa?” Tanya Ria acuh.
Wicaksana melirik ke arah Joko dan Nining yang sudah berada jauh dari mereka. Pemuda itu menelan ludah kemudian bertanya.”Kamu mau jual anggur ini ke mana?”
“Ke tempat kakak sepupuku, Tristan. Harga jualnya tetap seperti biasa rp9.000 per kg. Aku ini orang yang tahu diri, 5 tahun lalu keluargaku kekurangan beras bahkan kami pernah hanya makan daun singkong yang direbus saja. Semua hasil panen tidak bisa dijual. Harga jeruk terlalu murah saat itu. Paman dan bibiku yang membantu, secara khusus pamanku menghubungi Kak Tristan. Kakak mengajarkan untuk menanam anggur dan membantu menjual hasilnya. Aku adalah seseorang yang tahu caranya mengenang budi. Bukan seperti kalian yang hanya memegang uang sedikit tapi sombong setengah mati.” Wanita yang mengangkat sebelah alisnya, hendak kembali melajukan gerobaknya.
“Tunggu dulu! Boleh aku juga numpang menjual anggurku? Jujur saja…aku sedikit ragu dengan Bos Hendra.” Keluh Wicaksana kepada Ria.
“Tidak boleh, TV analog yang ada di rumah Kak Tristan kamu yang ambil kan? Kamu itu menjarah rumah kakak sepupuku. Apa yang membuatmu merasa berhak untuk meminta tolong padanya? Minta tolong pada bos Hendra sana! Aku yakin dalam waktu 10 tahun kamu akan menjadi pria terkaya di dunia. Saat itu biarlah aku yang miskin ini masih makan ayam goreng.” Sarkas wanita itu meninggalkan Wicaksana yang menghela nafas, hanya dapat terpaku diam.
***
Pada akhirnya gerobak milik Nining yang ditarik oleh sapi sampai di perbatasan desa lumbung emas dan desa Makmur.
Wanita itu membawa satu gerobak yang dipenuhi dengan anggur segar.
“Kak Tristan!” Suara teriakannya penuh senyuman.
Tristan menoleh ke arah saudara sepupunya, wanita itu benar-benar datang. Wajahnya tersenyum cerah, membawa satu gerobak yang dipenuhi oleh buah anggur.
“Kak ini panen pertamaku di musim ini. Nanti kalau sudah panen yang kedua aku akan membawanya ke sini.” Ucapnya dengan cepat menurunkan kotak demi kotak anggur.
“Panen pertama sudah sebanyak ini. Hasilnya lumayan…kamu memang jago.” Tristan tersenyum padanya.
“Tentu saja semua yang kakak ajarkan sudah aku catat. Dimulai dari memotong beberapa bunga, dan memotong buah jika terlalu padat. Lihatlah…varietas Red globe hasil panen dari kebunku. Besar-besar kan?” Ucapnya penuh kebanggaan, menunjukkan hasil panennya.
Warga desa lumbung emas membulatkan matanya. Mereka menelan ludah melihat hasil panen dari gadis ini.
“Seperti biasa rp35.000/kg. Timbang dan angkut ke truk pendingin.” Perintah sang kakak pada adik sepupunya.
“Rp35.000/kg…astaga lebih dari tiga kali lipat buah anggur lokal.” Helen menelan ludahnya.
Pemuda itu hanya tersenyum, kemudian berucap kepada warga yang kebetulan hadir di sana.”Kalian juga mengembangkan varietas red globe bukan? Ada alasan kenapa aku tidak berniat untuk membelinya. Itu karena, Aku biasa memasok ke supermarket besar. Jadi kualitas harus yang diutamakan. Sedangkan kualitas anggur kalian, jujur saja masih begitu rendah untuk masuk ke dalam supermarket. Karena itu, aku bisa membelinya tapi dengan harga yang lebih murah. Itupun hanya dapat dijual ke pasar tradisional. Tapi…panen tahun depan untuk anggur red globe milik kalian, jika bisa mengikuti cara yang aku ajarkan, maka hasil seperti buah anggur milik Ria akan kalian dapatkan.”
Pemuda itu tersenyum, menunjukkan anggur yang begitu besar dan merah. Benar-benar buah-buahan kualitas premium yang menggoda.
“Orang-orang kaya lebih mementingkan kualitas. Sedangkan orang-orang kelas menengah ke bawah lebih mementingkan kuantitas. Sudah aku bilang sebelumnya, anggur itu seperti hewan peliharaan. Misalkan saja varietas anggur lokal, itu seperti kalian memelihara kucing kampung yang bisa berburu sendiri. Sedangkan varietas anggur impor seperti red globe, itu bagaikan kalian memelihara kucing anggora. Perawatan khusus diperlukan, pembasmian hama, serta pengaturan suhu dan hujan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Untuk panen tahun depan aku akan mengawasi dan mengajari kalian secara ketat. Aku jamin hasil seperti ini akan kalian dapatkan.” Tristan menunjukkan bukti mutlak, anggur milik Ria adik sepupunya.
Sejatinya di desa Makmur maupun di desa Lumbung Emas ada dua varietas anggur yang dikembangkan. Varietas anggur lokal, memang asalnya dari luar negeri. Tapi tetap saja, dapat dengan mudah beradaptasi di iklim tropis. Satu lagi varietas red globe, varietas yang masih terbilang mudah untuk dikembangkan di negara ini. Harganya juga lumayan stabil, tapi perawatan dan cara panen buahnya memiliki cara yang lebih khusus daripada anggur lokal.
“Tristan…terima kasih! Kami benar-benar berterima kasih. Untunglah kamu bersedia pergi ke desa kami. Kalau tidak bahkan anggur lokal kami pun dijual dengan harga yang begitu murah. Kami benar-benar…terimakasih…” Helen yang merupakan salah satu warga desa lumbung emas menunduk, air matanya mengalir penuh rasa haru.
“Tidak masalah…tapi Aku ingin mengingatkan sesuatu pada kalian. Jangan pernah serakah dengan mengembangkan satu produk saja. Anggur lokal akan dijual untuk bahan wine, jika ada hama dan perubahan musim tidak pasti maka anggur Varietas lokal yang paling tahan. Itu dapat dijadikan penyangga perekonomian tetap kalian. Sedangkan anggur red globe, kita anggap itu sebagai investasi yang stabil. Satu lagi…varietas baru yang akan Aku kembangkan Ruby Roman…itu adalah investasi yang tidak stabil. Tapi jika berhasil, akan benar-benar menguntungkan.” Tristan mengatakan strategi bisnisnya pada mereka.
Mereka pada awalnya mengangguk begitu kagum. Walaupun ada beberapa yang tidak mengerti sama sekali.
Hingga Vivian yang dari tadi mengamati mereka, melangkah mendekat kemudian mengatakan.
“Kata Tristan anggur lokal untuk kepastian uang makan, anggur Varietas red globe untuk uang tabungan, anggur yang baru akan kita tanam setelah panen, anggur bernama varietas Ruby roman adalah bahan percobaan untung-untungan. Semuanya untuk kepastian hidup warga desa kita! Jadi kalian harus mendukung suamiku!” Suara teriakan penuh semangat dari Vivian.
Hal yang membuat Tristan tidak dapat berkata-kata menatap ke arah wanita ini.
Tapi hebatnya hanya dengan satu kata-kata darinya. Seluruh warga desa berteriak.
“Benar ini semua untuk kepentingan desa kita! Tristan bahkan bersedia membeli anggur dengan harga mahal!”
“Tristan adalah anak emas kampung ini!”
“Tristan! Mungkin kamu adalah reinkarnasi leluhurku yang menyelamatkanku!”
Semua warga desa tiba-tiba bersorak memujinya.
“Kak…itu benar-benar calon istrimu yang baru? Bagian depannya benar-benar menantang, tubuhnya benar-benar indah. Wajahnya cantik…aku saja sebagai wanita yang datar seperti landasan pacu pesawat benar-benar iri.” Keluh dari Ria.
“Dia bukan pacarku. Dia adalah dokter bedah yang tinggal di desa ini. Bisa dibilang satu-satunya dokter di desa lumbung emas.” Jawaban dari Tristan dengan nada datar.
“Bu dokter! Kakak sepupuku kena penyakit cinta! Tolong obati kakak sepupuku bu dokter! Nanti malam biar kakak sepupuku menyuntikmu, dijamin! Kakak sepupuku akan sembuh setelah menyuntik bu dokter!” Suara teriakan dari Ria penuh senyuman, mengejek Kakak sepupunya.
Sedangkan Tristan, menutup mulut Ria dengan tangannya. Adik sepupunya ini benar-benar…
“Tristan…nikah dulu baru boleh suntik aku.” Vivian malah mengedipkan sebelah matanya.
mimpi basah🫣
Suka gitu author mah, setengah² ngasih clue na teh 😄
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲