NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Sinar matahari pagi menembus celah jeruji besi di jendela kamar sempit tempat Andira terkurung. Udara pagi perbukitan yang dingin merayap masuk, membangunkan Andira dari tidur ayamnya yang gelisah.

Tubuhnya pegal-pegal karena semalaman bersandar pada dinding semen keras, namun sorot matanya kini berberkas cahaya baru, cahaya tekad yang tak mudah dipadamkan.

Suara kancing pintu diputar dari luar bergema pendek.

Klek.

Bi Inah berdiri di ambang pintu dengan wajah masam. Tangannya bersedekap di dada, matanya menatap Andira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sarat penghinaan.

"Tuan Alvan sudah bangun. Kalau kamu pikir tinggal di rumah ini bisa bermalas-malasan seperti nyonya besar, kamu salah besar," cetus Bi Inah, suaranya tajam tanpa kehangatan sedikit pun. "Tuan Alvan tidak suka ada orang pemalas di rumahnya."

Andira berdiri pelan, merapikan kebayanya yang kusut. Ia tak membalas sindiran itu dengan nada tinggi. "Saya paham, Bi. Di mana dapur? Saya ingin menyiapkan sarapan."

Bi Inah mendengus sinis. "Dapur ada di bawah. Tapi tidak usah sok perhatian. Masakan pembunuh seperti kamu mana sudi dimakan oleh Tuan Alvan."

Kalimat itu menusuk telinga, tetapi Andira menarik napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa perlakuan kasar di rumah ini tak boleh meruntuhkan pertahanan mentalnya.

Jika ia ingin membuktikan kebenaran dan bertahan demi ayahnya, ia harus menjadi air yang tenang di antara karang-karang tajam rumah Samudra.

"Biar saya tetap mencobanya, Bi," jawab Andira lembut namun tegas.

Dapur mansion Samudra tampak sangat modern dengan konter marmer hitam dan peralatan memasak berbahan baja tahan karat yang mengkilap.

Namun, suasana di dapur itu tidak kalah mencekam dari ruangan lainnya. Dua orang juru masak muda dan seorang pekerja kebersihan yang sedang bertugas langsung menghentikan gerakan mereka begitu Andira melangkah masuk.

Kasak-kusuk bisikan langsung terdengar di sudut ruangan.

"Itu kan wanita yang membunuh Tuan Muda Roy..."

"Iya, Nyonya Elena kemarin pesan lewat telepon, katanya kita harus hati-hati. Wanita itu licik sekali, pintar bersandiwara."

"Kok Tuan Alvan mau menampung pembunuh di sini ya? Kasihan Nyonya Rosa sampai masuk Rumah Sakit..."

Setiap kata-kata beracun itu sampai ke telinga Andira dengan sangat jelas. Rumor yang disebarkan Elena telah meracuni pikiran seluruh penghuni rumah ini. Elena dengan sangat rapi membentuk narasi bahwa Andira adalah sosok monster yang manipulatif.

Tanpa memedulikan tatapan benci dari para pekerja, Andira melangkah ke arah lemari pendingin. Ia mengambil beberapa bahan sederhana, telur segar, roti gandum, dan beberapa sayuran.

Jemarinya yang mahir mulai memotong bahan makanan dengan rapi. Sejak dulu, memasak adalah cara Andira menenangkan pikirannya, dan pagi ini, aroma nasi goreng rempah tipis dan telur omlet hangat mulai memenuhi udara dapur.

Ia menyajikan sarapan itu di atas piring porselen putih, menatanya dengan sangat rapi, lalu menuangkan secangkir kopi hitam tanpa gula, seperti yang pernah tak sengaja ia dengar dari percakapan staf Alvan di kantor dulu.

Dengan langkah perlahan, Andira membawa nampan berisi sarapan tersebut menuju ruang makan utama.

Alvan sudah duduk di kepala meja makan yang panjang. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, sibuk menatap layar tablet finansialnya sambil menyesap air putih. Ketampanannya kaku dan sempurna, dipadu aura otoriter yang selalu mendominasi ruangan.

Andira meletakkan nampan dan menyajikan piring sarapan serta kopi hangat di hadapan Alvan.

"Saya buatkan sarapan dan kopi hitam," kata Andira pelan, berdiri di samping meja dengan tangan tertaut sopan.

Alvan menghentikan jemarinya di atas layar tablet. Ia tidak mengangkat wajahnya untuk melihat Andira, apalagi menyentuh piring tersebut. Suasana ruang makan seketika membeku.

"Siapa yang memberimu izin menyentuh makanan di dapurku?" suara Alvan mengalun dingin, bernada datar tanpa nada gembira.

"Saya hanya ingin menjalankan tugas saya..."

"Tugasmu di sini bukan menjadi seorang istri," potong Alvan tajam. Pria itu mengangkat pandangannya, menatap Andira dengan sepasang mata kelam yang tak tersentuh. "Tugasmu adalah mematuhi aturan dan menerima hukumanmu. Aku tidak akan pernah menyentuh makanan yang dibuat oleh jemari yang ternoda darah adikku."

Alvan berdiri seketika. Tanpa menyentuh kopi maupun sarapan itu sedikit pun, ia mendorong piring porselen tersebut ke tepi meja. Piring itu bergeser dan hampir jatuh jika Andira tidak menahannya dengan cepat.

Alvan menyambar jas hitamnya dari sandaran kursi, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa berpaling.

Di pintu dapur, Bi Inah dan beberapa pelayan menonton adegan itu dari balik tirai dengan senyum kemenangan yang tertahan.

Andira berdiri sendirian di meja makan yang luas itu. Ia menatap piring sarapan yang masih mengasap hangat. Dadanya sesak, tetapi ia menolak untuk meneteskan air mata di depan orang-orang yang mengharapkannya hancur.

"Satu penolakan tidak akan menghentikanku, Alvan," batin Andira. "Aku akan membuatmu melihat kebenaran itu, bagaimanapun caranya."

~

Seharian itu, Andira sengaja tidak mengurung diri di dalam sel sempitnya. Ia tahu bahwa diam berarti membiarkan dirinya membusuk dalam kepasrahan. Dengan langkah tenang, ia mulai berjalan menyusuri lorong-lorong mansion megah tersebut.

Namun, mengamati rumah Samudra bukanlah hal yang mudah.

Andira mendongak pelan, berpura-pura menatap ukiran di langit-langit koridor. Di sudut-sudut strategis, terpasang kamera pengawas - CCTV berbentuk kubah hitam kecil dengan lampu indikator merah yang berkedip secara konstan. Alvan tidak berbohong, setiap gerak-gerik Andira memang diawasi dua puluh empat jam.

"Pasti ada ruang kendali atau monitor utama di ruang kerja Alvan," pikir Andira. "Artinya, Alvan bisa melihatku kapan saja dari layar ponsel atau komputer pribadinya."

Andira tidak memperlihatkan gestur mencurigakan. Ia sengaja bertindak seolah-olah hanya sedang membersihkan debu di perabotan atau sekadar berjalan-jalan mengusir kebosanan. Namun di dalam benaknya, peta mansion itu mulai terbentuk dengan sangat detail.

Ia mencatat beberapa hal dalam hatinya.

Kamar Mendiang Roy - Pintu utamanya selalu terkunci rapat dengan gembok digital. Namun, Andira menyadari ada tangga servis di dekat area cuci pakaian yang terhubung ke balkon belakang sayap timur.

Perilaku Para Pelayan - Bi Inah selalu memegang seikat kunci cadangan di pinggangnya, tetapi wanita tua itu tidak pernah menyentuh area kamar Roy. Satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk untuk membersihkan kamar Roy secara berkala adalah seorang pelayan senior bernama Pak Karso yang jarang bicara.

Kejanggalan Malam Kematian - Menurut laporan polisi yang sempat dibaca Andira sebelum ditangkap, Roy tewas di vila pribadi keluarga Samudra akibat racun dalam minuman yang diduga disajikan oleh Andira. Namun Andira ingat betul, malam itu Roy tampak gelisah dan terus menerima panggilan telepon dari seseorang yang ia panggil 'Sayang'. Padahal saat itu, Elena mengaku pada keluarga bahwa ia sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis.

"Siapa wanita yang ditemui Roy sebelum minumannya beracun? Kenapa Elena begitu panik saat menyambar ponsel Roy di tempat kejadian perkara sebelum polisi datang ?" pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di kepala Andira.

Saat Andira melintasi area tangga menuju lantai dua, langkahnya terhenti di dekat sebuah dinding galeri keluarga.

Di dinding marmer yang luas itu, terpajang beberapa potret besar keluarga Samudra. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah foto berbingkai kayu hitam berukir emas, foto Roy Samudra.

Roy tampak tersenyum lepas dalam potret itu, mengenakan setelan jas kelabu dengan sorot mata yang penuh kehangatan dan jiwa muda. Di sebelah foto Roy, terdapat foto Alvan dan Roy sewaktu lebih muda, memperlihatkan betapa eratnya hubungan dua bersaudara tersebut sebelum tragedi ini merenggut segalanya.

Andira melangkah pelan mendekati foto Roy. Ia berdiri tepat di bawah bingkai tersebut, menengadahkan wajahnya.

Aroma duka yang mendalam seketika merayapi dada Andira. Ia mengingat Roy bukan sebagai musuh atau ancaman, melainkan sebagai pria muda yang sopan dan ramah, seorang adik yang sangat dicintai oleh Alvan, dan seorang pria yang masa depannya direnggut oleh tangan jahat yang masih berkeliaran bebas.

"Roy..." bisik Andira pelan. Suaranya penuh dengan getaran kesedihan yang tulus. "Aku minta maaf... aku tidak berada di sana saat seseorang meracunimu. Aku tidak bisa menyelamatkanmu malam itu."

Air mata bening perlahan mengalir menuruni pipi Andira yang pucat, jatuh menetes ke atas lantai marmer. Matanya menatap potret Roy tanpa ada sedikit pun rasa bersalah seorang pembunuh, tanpa ketakutan seorang kriminal, hanya ada duka murni dan penyesalan mendalam dari seorang sahabat yang merasa gagal.

"Tapi aku berjanji padamu," bisik Andira lagi, mengusap air matanya dengan jemari yang gemetar. "Aku tidak akan biarkan iblis yang sebenarnya mengambil nyawamu tertawa bebas di luar sana. Walaupun Alvan membenciku setengah mati... aku akan menanggung kebenciannya sampai nama baik kita berdua bersinar kembali."

Andira menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menundukkan kepala dalam doa yang sunyi untuk kedamaian jiwa Roy.

Tanpa disadari oleh Andira, dari sudut koridor di lantai dua, sebuah bayangan tegap berdiri mematung.

Alvan baru saja pulang lebih awal dari kantornya. Ia berencana untuk memeriksa langsung bagaimana keadaan tawanannya melalui pengawasan langsung. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di atas selasar begitu melihat Andira berdiri di depan foto adiknya.

Alvan mengepalkan tangannya di balik saku celananya, bersiap untuk turun dan mengusir wanita itu karena dianggap menodai kenangan Roy. Namun, kata-kata dan ekspresi Andira membuat langkah Alvan terkunci seketika.

Dari posisinya di atas, Alvan bisa melihat jelas wajah Andira yang diterangi sinar matahari sore.

Tidak ada raut wajah licik. Tidak ada rasa panik atau cemas seperti yang biasa diperlihatkan oleh tersangka penjahat saat melihat korbannya. Yang Alvan lihat hanyalah wajah seorang wanita yang hancur oleh duka, air mata yang mengalir itu begitu jujur, penyesalan di matanya begitu dalam dan murni.

"Bagaimana mungkin..." batin Alvan bergolak hebat. Dadanya yang keras seperti dihantam oleh kebingungan yang sangat besar. "Bagaimana mungkin seorang pembunuh berdarah dingin menatap foto korbannya dengan rasa duka sedalam itu ?"

Alvan mengingat kembali rekaman CCTV vila di malam kejadian yang diserahkan oleh Elena.

Dalam rekaman yang tidak lengkap itu, Andira tampak keluar dari ruangan Roy dengan tergesa-gesa. Elena menegaskan bahwa Andira melarikan diri setelah menaruh racun. Tapi rasa duka yang disaksikan Alvan secara langsung detik ini tidak bisa dipalsukan oleh sandiwara mana pun.

Atau... apakah Andira memang seorang aktris yang sangat jenius hingga bisa memanipulasi emosinya sendiri?

Alvan melangkah keluar dari bayangan koridor, membuat hentakan sepatu pantofelnya bergema nyaring di atas lantai marmer.

Tuk. Tuk. Tuk.

Andira terkejut dan memutar tubuhnya dengan cepat. Ia mengusap sisa air mata di pipinya saat melihat Alvan berjalan menuruni anak tangga dengan raut wajah yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan keraguan yang membingungkan.

Alvan berhenti tepat dua langkah di depan Andira. Matanya melirik ke arah foto Roy, lalu kembali menatap tajam ke dalam manik mata Andira yang masih basah.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" suara Alvan terdengar berat, namun tidak secetus pagi tadi. Ada sesuatu yang bergetar di dalam nadanya.

Andira menatap Alvan tanpa berpaling. "Saya hanya... berdoa untuk Roy."

"Berdoa?" Alvan tertawa dingin, berusaha keras menegakkan kembali dinding kebencian di dalam dadanya yang mulai retak. "Kamu mendoakan orang yang sudah kamu bunuh? Kamu pikir Tuhan akan mendengar doa dari tangan yang berlumuran darah?"

Andira tidak meronta atau marah. Ia hanya menatap Alvan dengan tatapan teduh yang membuat jantung Alvan berdegup kencang secara tak wajar.

"Anda boleh membenci saya sesuka hati Anda, Pak Alvan," ujar Andira sangat pelan namun menghujam ulu hati. "Tapi mata saya tidak bisa membohongi Anda. Rasa sakit saya atas kehilangan Roy... sama nyatanya dengan rasa sakit Anda."

Andira menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, lalu berjalan melewati Alvan menuju kamar sempitnya di ujung lorong, meninggalkan pria itu berdiri sendirian di depan foto adiknya.

Alvan menatap punggung Andira yang menjauh hingga pintu kayu sempit itu tertutup rapat.

Pria itu memutar tubuhnya, perlahan menatap potret Roy di dinding. Untuk pertama kalinya sejak malam berdarah itu... benih keraguan yang sangat mematikan mulai bertunas di dalam hati Alvan Samudra.

"Siapa kamu sebenarnya, Andira Kirana ?" bisik Alvan dalam keheningan yang membakar hatinya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!