Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Kembalinya Sang Tirani
Kehadiran sosok pria tua itu seketika membekukan atmosfer di dalam kamar. Silas Pratama,.sang patriark sekaligus fondasi utama klan Pratama, berdiri tegak di ambang pintu.
Meskipun rambutnya telah memutih seluruhnya dan jalannya dibantu oleh tongkat kayu berukir naga, sepasang mata elangnya masih memancarkan otoritas mutlak yang mampu membuat para petinggi direksi berlutut ketakutan.
"Kakek..." Dominic bersuara, lehernya mendadak terasa kering. Ia segera melepaskan cengkeramannya dari bahu Victoria dan membungkuk hormat.
"Bagaimana bisa Kakek kembali dari Singapura tanpa memberi kabar?"
Silas tidak langsung menjawab cucunya. Pandangan tajamnya menyapu ruangan, melewati Dominic, lalu tertuju pada Maya yang masih tergeletak lemas di lantai dengan busa di sudut mulutnya, hingga akhirnya berhenti tepat pada mangkuk sup yang menghitam di atas meja.
"Jika aku tidak kembali malam ini, mungkin besok pagi aku hanya akan mendapati mansion ini berubah menjadi rumah duka," suara Silas berat dan serak, namun setiap kata yang diucapkannya memiliki daya tekan yang luar biasa. Ia mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai marmer.
"Tulus! Bawa pelayan muda itu ke lab medis pribadi di paviliun belakang. Pastikan dia tetap hidup."
"Baik, Tuan Besar!" Tulus yang baru saja kembali ke koridor langsung bergerak cepat bersama dua pengawal, membopong tubuh Maya yang sudah setengah tidak sadar keluar dari kamar.
Setelah Maya dibawa pergi, Silas melangkah masuk. Langkahnya lambat namun pasti, mendekati Victoria yang sejak tadi berdiri diam dengan punggung tegak dan dagu terangkat tinggi.
Tidak ada secuil pun rasa takut atau tunduk di wajah wanita itu—sebuah pemandangan yang sangat asing bagi Silas yang mengingat Clarissa sebagai cucu menantu yang rapuh dan selalu menunduk dalam-dalam.
Silas menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Victoria. Ia menopang kedua tangannya di atas kepala tongkatnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata wanita di hadapannya.
"Kau bukan Clarissa," desis Silas, suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. Kilatan curiga dan selidik memancar kuat dari matanya.
"Clarissa yang kukenal tidak memiliki keberanian untuk menatap mataku tanpa gemetar. Siapa kau sebenarnya?!"
Dominic tersentak mendengar ucapan kakeknya. Kecurigaan yang sama yang sempat terlintas di benaknya kini disuarakan langsung oleh sang Singa Tua.
Ia menatap Victoria, menunggu bagaimana wanita itu akan bereaksi di bawah tekanan mental dari pria paling berkuasa di klan Pratama.
Victoria tidak berkedip. Menghadapi gertakan Silas, jiwa Ratu Victoria di dalam dirinya justru merasa tertantang.
Ia melepaskan seulas senyum tipis yang sarat akan keanggunan berdarah dingin, lalu membungkuk sedikit—bukan sebagai tanda tunduk, melainkan sebuah penghormatan formal antar sesama penguasa.
"Pertanyaan yang sama dengan cucumu, Tuan Besar Silas," sahut Victoria, suaranya terdengar sangat tenang tanpa ada riak kepanikan.
"Manusia yang telah berjalan melewati gerbang kematian dan melihat kebusukan di sekelilingnya tidak akan lagi memiliki ruang untuk rasa takut. Jika Kakek mencari Clarissa yang lemah dan bisa ditindas oleh siapa saja... maka aku minta maaf. Clarissa yang itu sudah mati tenggelam di danau dua hari yang lalu."
Silas menyipitkan matanya yang keriput.
Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dominic bahkan menahan napasnya, bersiap jika kakeknya tiba-tiba memerintahkan pengawal untuk mengurung Clarissa.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan. Silas mendadak tertawa kekeh, sebuah tawa pendek yang dingin namun menyiratkan kepuasan.
"Bagus. Sangat bagus," ucap Silas sembari mengangguk-angguk. "Pernikahan bisnis ini awalnya sangat membosankan karena Dominic mendapatkan seorang istri yang tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Tapi sekarang... tampaknya papan catur ini menjadi jauh lebih menarik."
Silas mengubah arah pandangnya kepada Dominic, wajahnya kembali mengeras seketika.
"Dominic! Besok malam adalah acara makan malam darurat keluarga besar untuk membahas penurunan saham. Aku ingin kau membawa istrimu. Beberapa kerabatmu, termasuk bibimu, sudah menyiapkan dokumen untuk mendesakmu menceraikan wanita ini dengan alasan dia membawa sial bagi perusahaan."
Dominic mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan menceraikannya dalam situasi seperti ini, Kakek. Itu sama saja mengakui kekalahan kita pada rumor."
"Aku tidak peduli kau mau cerai atau tidak," potong Silas dingin sembari berbalik arah menuju pintu. "Yang ingin kulihat adalah cucu menantuku ini..." Silas menoleh sedikit ke arah Victoria,
"...membungkam mulut-mulut parasit di keluarga kita yang sudah terlalu lama berisik. Jika kau gagal besok malam, Clarissa... aku sendiri yang akan memastikan kau keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun."
"Aku tidak pernah kalah dalam permainan di meja makan, Tuan Besar," balas Victoria dengan nada mutlak yang memotong udara malam.
Silas tidak menyahut lagi. Pria tua itu melanjutkan langkahnya keluar koridor, meninggalkan ketukan tongkatnya yang bergaung menjauh.
Setelah kepergian Silas, Dominic berbalik menghadap Victoria. Wajahnya dipenuhi emosi yang campur aduk.
"Besok malam akan menjadi neraka untukmu. Bibi dan pamanku tidak selembut pelayan yang kau tampar tadi pagi. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkanmu di depan Kakek."
Victoria berjalan mendekati meja riasnya, mengambil sebotol kecil minyak esensial, lalu menatap Dominic dari balik pantulan cermin dengan tatapan yang sangat tajam.
"Biarkan mereka mencoba, Dominic," bisik Victoria dengan senyuman yang teramat dingin.
"Mari kita lihat, siapa yang akan memohon ampun terlebih dahulu di meja makan besok malam."
Namun, saat Dominic hendak melangkah keluar untuk memeriksa kondisi Maya, Tulus tiba-tiba berlari kembali ke ambang pintu kamar dengan napas terengah-engah. Di tangannya, ia memegang sebuah gaun malam berwarna merah darah yang baru saja diantarkan oleh kurir khusus ke mansion.
"T-Tuan Dominic... Nyonya Clarissa..." Tulus terbata-bata, wajahnya dipenuhi ketakutan baru.
"Ada kiriman paket tanpa nama untuk Nyonya. Di dalamnya ada gaun ini... dan sebuah surat bertuliskan darah."
Dominic merebut surat dari tangan Tulus dan membacanya. Detik itu juga, wajah Dominic mendadak pucat pasi saat membaca deretan kalimat di atas kertas tersebut.
sangat menarik sekali