Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 05.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂,...
Setelah selesai merenung, Raka Adinata tidak membuang waktu lagi, karena suntikan dana sebesar setengah triliun itu bak sebuah pasokan oksigen segar di tengah ruang hampa udara.
Dengan wibawa dan kepercayaan diri yang telah bangkit kembali, dia langsung menumpulkan seluruh jajaran direksi dan kepala divisi Adinata Group dalam ruang meeting pagi itu juga.
Suasana di dalam ruang meeting terkesan dingin dan menyesakkan, saat mereka melihat CEO-nya kembali bersemangat.
"Saya tahu, beberapa dari kalian sudah bersiap-siap untuk melompat dari kapal yang kalian pikir akan tenggelam hari ini," ujar Raka dengan nada dingin.
Dia menatap satu-persatu wajah bawahannya yang kini tertunduk dengan wajah pucat.
"Akan tetapi, perkiraan kalian semua salah. Seperti yang kalian telah lihat di lantai Bursa saham pagi ini, Adinata Group tidak akan tumbang begitu saja!" lanjut Raka dengan nada intimidasi yang lekat.
"Bersihkan barisan kalian masing-masing sekarang, atau saya sendiri yang akan menendang kalian keluar tanpa hormat!" perintahnya tanpa ada tendeng aling-aling.
"Baik, Pak Raka!"
-
Sementara Raka sibuk dalam menertibkan internal di dalam perusahaannya, di tempat lain badai yang sesungguhnya baru saja di mulai.
Sekitar jam dua siang, sebuah mobil Mercedes-Benz hitam melaju kencang dan berhenti mendadak di depan lobi Apartemen Mewah Sudirman milik Raka Adinata.
Dua orang pria paruh baya berwajah tegang segera keluar dengan tergesa dari dalam kendaraan itu, mereka adalah Dwipangga dan Leonard Adinata, Adik dari Almarhum Suryaputra Adinata, ayah dari Raka Adinata.
Wajah kedua Paman Raka itu terlihat merah padam, menahan amarah yang akan melonjak keluar.
Mereka baru saja kehilangan ratusan miliar karena memprediksi saham Raka akan turun drastis, lalu mereka akan membelinya dengan harga murah, dan bisa menguasai Adinata Group dengan mudah.
Namun, mereka justru terjebak dalam fenomena 'Short Squeeze' akibat investor anonim tersebut.
Rencana mereka untuk menyingkirkan Raka dari semua takhta Adinata Group gagal total, dan mereka tidak bisa menyingkirkan anak itu dari semua warisan Adinata yang dipegangnya.
"Kita harus hadapi anak ingusan itu dengan tegas sekarang, Kak!" desis Leonard sambil melangkahkan kakinya ke dalam sebuah lift khusus menuju Penthaouse milik Raka.
"Dia pasti menyembunyikan sisa aset mendiang Kak Surya, yang tidak diketahui oleh kita! Dasar anak ingusan yang licik!" lanjutnya dengan amarah yang membara.
"Tenangkan dirimu, Leonard! Jangan biarkan emosimu terbaca," peringat Dwipangga dengan suara rendah.
"Kita lihat saja nanti, sejauh mana dia bisa bertahan setelah kita konfrontasi langsung!"
"Oke, Kak!"
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Tidak berapa lama, lift tersebut sudah sampai di lantai paling atas tempat Raka tinggal.
TING!
Pintu lift langsung terbuka di lantai teratas, menembus area lorong depan pintu utama Penthaouse milik Raka.
Namun, langkah mereka mendadak terhenti, ketika melihat dua orang wanita bertubuh tegap dan berwajah dingin memakai pakaian pengasuh, berdiri menghadang di depan pintu.
Kalista dan Kaylin menatap kedua paruh baya itu dengan wajah datar, membuat nyali kedua orang itu sedikit gentar.
"Minggir kalian! Kamu tidak tahu siapa kami, hah?! Berani-beraninya menghadang jalan kami!" hardik Leonard kasar, sambil mencoba untuk mendorong bahu Kalista.
Namun, alih-alih bergeser, Kalista tetap berdiri kokoh bagaikan sebuah dinding beton.
Justru Leonard yang terhuyung mundur satu langkah, membuat wajahnya semakin memerah karena malu.
Regatta memang sudah memerintahkan mereka untuk menghadang kedua orang itu, setelah dia berhasil melacak ponsel kedua orang itu, yang sedang bergerak ke arah Apartemen ini.
Sementara dia? Dia sedang menidurkan ketiga Minion kesayangannya di dalam sana.
"Maaf, Tuan-Tuan, Apakah kalian sudah memliki janji temu dengan Nyonya Regatta dan Tuan Raka sebelumnya? Jika tidak, kalian tidak bisa masuk!" ujar Kalista, dengan nada sedatar aspal jalan tol.
Dwipangga dan Leonard mengerutkan keningnya dalam-dalam, saat mendengar ucapan wanita itu.
"Nyonya Regatta? Siapa dia?!" tanya Dwipangga dengan nada ketus.
Sebelum Kalista sempat menjawabnya, terdengar suara merdu namun sarat akan penekanan dari arah dalam.
"Saya Regatta,"
Ceklek!
Pintu Penthouse itu terbuka lebar, memperlihatkan seorang Regatta Aulia yang tampak santai mengenakan dress rumahan berwarna pastel yang elegan, sambil memegang secangkir teh hangat di tangan kirinya.
Kedua mata jernihnya menatap Dwipangga dan Leonard dengan binar meremehkan.
"Silahkan masuk Tuan Leonard dan Tuan Dwipangga, suami saya masih berada di kantornya sekarang," sambut Regatta sambil tersenyum tipis.
"Sebagai Nyonya rumah yang baik, saya rasa ... saya bisa menerima tamu yang datang tanpa sopan santun seperti kalian," lanjutnya dengan nada sindiran.
Dwipangga dan Leonard saling pandang, mereka bingung sekaligus murka, kala melihat keberadaan seorang 'wanita asing' yang tiba-tiba mengaku sebagai istri keponakannya itu.
Mereka masuk ke dalam ruang tamu dengan mengeluarkan aura permusuhan yang sangat kental.
Regatta mempersilahkan mereka duduk, lalu meminta Kalista untuk membuatkan minuman untuk mereka.
"Raka telah menikah kembali, heh? Dan sekarang 'gadis ingusan' sepertimu yang menjadi istrinya? Hahahaha, dasar bo-doh!" ujar Leonard dengan nada dan tawa sinis.
"Setelah ja-lang yang lama kabur, Raka ternyata memilih ja-lang baru yang tidak diketahui asal-usulnya seperti ini," lanjutnya sambil menjatuhkan dirinya ke atas sofa.
KREK, KREK, KRETEK!
Suara jemari Keylin refleks berbunyi, saat mendengar nada merendahkan itu.
Dia siap melompat detik itu juga untuk mematahkan leher Leonard, tinggal menunggu perintah dari Regatta.
Namun ternyata, majikannya telah memberikan kode tangan yang tidak terlihat, agar bawahannya itu menahan diri.
Trak!
Regatta meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan gaya anggun, lalu dia menatap Leonard lekat-lekat.
"Mulut Anda mencerminkan isi kepala Anda, Tuan Leonard. Sayang sekali, di usia sematang ini, Anda belum mempelajari 'Adab' bicara dengan manusia lain dengan sopan," ujar Regatta dengan nada sarkas yang lembut.
Mendengar ucapan yang penuh sindiran itu, Leonard langsung geram.
"Dasar ja-lang sia-lan~!"
Dia hendak berdiri menunjuk wajah Regatta, namun Dwipangga segera menahan lengan adiknya.
Dwipangga adalah sosok manusia yang licik, dia menatap Regatta dengan pandangan menyelidik.
"Siapa kamu sebenarnya? Dan dari mana Raka mendapatkan dana segar untuk membalikkan keadaan di pasar bursa pagi ini?" tanya Dwipangga, bertubi-tubi.
"Jangan katakan, jika kamu adalah 'pion' dari salah satu kompetitor kami untuk menjatuhkan Adinata Group?" lanjutnya dengan mata menyipit curiga.
Regatta terkekeh pelan, saat mendengar tuduhan itu.
Dia menyandarkan punggungnya di sofa, dan melipat kakinya dengan anggun.
Aura seorang pemimpin dunia bawah langsung menguar begitu saja, membuat atmosfer di ruangan itu mendadak mencekam dan berat bagi kedua Paman Raka itu.
"Saya hanyalah seorang 'Istri', yang kebetulan tidak suka melihat, jika hasil perjuangan suaminya diganggu oleh para 'tikus-tikus' yang serakah di luar sana," ujar Regatta santai, namun matanya berkilat tajam.
"Mengenai dana segar di lantai bursa ... kenapa Anda tidak mencari sendiri dari mana asalnya, Tuan Dwipangga? Dan bagaimana rasanya melihat uang sebesar 300 juta yang Anda kirimkan ke Ratna itu terbuang sia-sia, hm? Anda tidak akan mendapatkan berita apa-apa lagi sekarang, karena Ratna sudah saya pecat semalam ..." lanjutnya dengan nada sinis.
Mendengar nama 'Ratna' disebut, jantung Dwipangga langsung berhenti memompa sesaat.
Wajah yang semula tenang itu, kini berkedut menahan rasa syok yang hebat.
"K-Kamu ... Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Dwipangga, menatap Regatta dengan tatapan tidak percaya.
"Regall Security tidak pernah melewatkan hal sekecil apapun juga, Tuan ..." jawab Regatta.
Dia sedikit berbohong demi mengangkat nama perusahaan miliknya, seolah-olah itu adalah pihak ketiga yang disewa oleh seorang Raka Adinata.
"Jadi, saya sarankan kepada kalian berdua untuk berhenti 'bermain' dari dalam kegelapan. Jika kalian masih berani membayangi langkah suami saya dengan licik, maka saya yang akan memegang kendali atas hidup dan mati kalian berdua," lanjut Regatta dengan nada peringatan yang mutlak.
Leonard yang sudah kehilangan kesabaran, langsung menggebrak meja di depannya.
BRAK!
"Jangan sombong kamu, dasar ja-lang sia-lan! Kami sudah memegang 'mayoritas' sisa aset fisik Adinata Group! Dan tanpa persetujuan dari kami, Raka tidak akan bisa membangun kembali perusahan itu dari kehancuran!" ujarnya dengan menggebu.
TING!
Tepat setelah kalimat itu keluar dari mulut Leonard Adinata, terdengar dentingan pintu lift di depan pintu Penthouse yang masih terbuka lebar.
Regatta memang tidak menutup pintu utama itu, karena hunian mereka ini satu-satunya di lantai teratas.
Raka Adinata melangkah keluar dari dalam sana dengan langkah tegap, tangannya memegang beberapa berkas dokumen penting yang telah disiapkan oleh asisten pribadinya, yang masih bawahan Regatta.
Wajahnya mengeras, saat melihat kehadiran kedua Pamannya di sana, yang sedang berdebat dengan Regatta.
"Hentikan sudah! Kalian sudah tidak memegang apa-apa lagi mulai hari ini, Om!" ujar Raka dengan suara yang menggelegar di dalam ruang tamu itu.
Raka berjalan mendekati mereka, lalu melemparkan berkas dokumen itu ke arah da-da Leonard dan Dwipangga yang masih terkejut akan kehadiran keponakannya.
"Silahkan kalian baca sendiri. Itu adalah dokumen pembatalan hak kuasa atas seluruh sisa aset fisik Adinata Group yang resmi," ujar Raka dengan nada dingin.
"Semua atas permintaan dari kedua pemegang saham anonim terbesar, yang menuntut 'restrukturisasi' total hari ini, serta mencabut seluruh hak pengelolaan atas nama kalian berdua atas dugaan sabotase internal perusahaan," lanjutnya dengan wajah datar.
Dengan tangan bergetar, Dwipangga membuka berkas-berkas tersebut.
Srak! ... Srak! ... Srak!
Lembar demi lembar dia membacanya dengan mata terbeliak lebar ...
Dokumen itu ternyata legal.
Isi di dalamnya terikat dan didukung oleh hukum korporasi tertinggi yang tidak bisa mereka sanggah sedikitpun.
"I-Ini ... ini tidak mungkin! Siapa investor 'Anonim' ini, Raka?! Siapa dia?!" teriak Dwipangga frustasi.
Wajahnya langsung pucat-pasi, sama persis dengan wajah Ratna tadi malam, saat ketahuan.
Raka tidak menjawabnya, matanya hanya melirik ke arah Regatta, yang saat ini sedang menyeringai sinis sambil menikmati tehnya kembali.
Dia sendiri sebenarnya belum mengetahui dengan pasti, siapa 'sosok' dibalik dana raksasa tersebut.
Namun, saat dia melihat ketenangan di wajah istri kontraknya itu, dia tahu ... kemana arah jawaban dari misteri 'sosok' yang telah membantunya kali ini, namun dia masih belum yakin.
"Silahkan kalian keluar dari Penthouse saya ini sekarang!" ujar Raka tegas, sambil menunjuk ke arah lift di luar sana.
"Kalian bersiaplah, besok pagi akan ada tim auditor independen akan memeriksa seluruh aliran dana korporasi yang pernah kalian kelola. Jika ada selisih satu rupiah saja ... saya pastikan kalian berdua akan membusuk di dalam penjara!" lanjutnya dengan nada dingin.
Dengan tubuh gemetar dan harga diri yang sudah terkoyak, Dwipangga dan Leonard terpaksa melangkah mundur untuk saat ini.
Mereka meninggalkan Penthouse mewah itu dengan langkah gontai, menyadari bahwa 'Takhta' yang hampir mereka kuasai dalam semalam, kini total telah sirna.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Setelah pintu lift itu tertutup rapat dan menuju ke bawah, Raka menghela napas panjang ... menyisakan keheningan yang damai dalam ruangan tersebut.
Sret!
Dia melonggarkan dasinya, lalu berjalan mendekati Regatta yang masih duduk santai di sofa.
Raka menatap wanita di depanya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Mereka sudah pergi. Sekarang ... jelaskan kepadaku, Nyonya Adinata ... siapakah investor asing pemilik uang setengah triliun itu?" tanya Raka dengan nada lembut.
Regatta berdiri dari duduknya, lalu dia mengedipkan satu matanya ke arah Raka dengan jenaka.
"Pertanyaan itu melanggar peraturan kontrak nomor dua, Mas Raka. Aku berhak untuk tidak menjawabnya," jawab Regatta dengan nada santai.
"Lebih baik sekarang Mas bersiap, karena sebentar lagi Triple D akan bangun dari tidur mereka. Mereka tidak berangkat ke sekolah hari ini, karena saya sudah memprediksi kedatangan kedua orang itu. Aku sudah menjanjikan mereka membuat ayam goreng serundeng khas Bandung saat mereka bangun nanti ..." lanjutnya dengan nada ceria.
Regatta melenggang menuju dapur, meninggalkan seorang Raka Adinata yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Dia menyadari, jika lima tahun ke depan nanti, hidupnya akan penuh warna bersama wanita aneh dan misterius ini.
"Semoga sebelum perjanjian itu usai, aku dan kamu bisa mempunyai rasa yang lebih, agar kita bisa benar-benar menjalani pernikahan yang sesungguhnya ..."
...^^^🍃☀†๏ вэ ¢๏и†เиµэ∂☀🍃^^^...