Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Membawa harapan baru
Nadine menggeliat karena tubuhnya terasa pegal di semua bagian.
“Jam berapa sekarang?” Nadine melihat sekelilingnya yang sepi. Hanya ia sendiri yang berada di kamar ini.
Nadine mendudukkan tubuhnya dan bersandar di headboard dengan nyaman. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Pandangannya menatap ke map merah yang menjadi tujuannya untuk menuruti keinginan Adinata.
Nadine merampas map merah tersebut dari meja kecil di samping tempat tidur. Ia membukanya dengan cepat dan menghembuskan napasnya dengan lega. “Syukurlah. Adinata tidak membohongiku.”
Air mata Nadine mengalir dengan tiba-tiba. “Selesai sudah pernikahanku dengan Adinata. Aku harus bisa bangkit untuk anakku.”
Nadine mengusap perutnya yang masih datar dengan perasaan yang bertumpah ruah di hatinya. “Kalau kamu sudah lahir nanti, tolong maafkan ibu, ya, nak. Maafkan ibu yang tidak bisa mempertahankan pernikahan ibu dan ayahmu.”
Nadine mengusap air matanya dan berdiri dari kasur. Ia akan membersihkan diri dan mengemasi barang-barang miliknya sambil menghubungi Tante Almi—adik dari papa Nadine yang sangat menyayangi Nadine dibandingkan sang papa dan mama. Nadine akan tinggal bersama dengan Tante Almi dan keluarganya untuk sementara waktu sambil Nadine membantu sang tante untuk mengurus toko roti milik keluarga Om Divaz—suami Tante Almi yang turut menyayangi Nadine.
Nadine menghentikan langkah kakinya ketika bagian pahanya terasa nyeri. Nadine meringis. “Adinata memang monster. Berjam-jam tidak merasa lelah sama sekali dan sekarang sudah berangkat bekerja tanpa kesakitan”
“Tidak apa-apa, Nadine. Ini adalah terakhir kalinya kamu melayani Adinata di atas ranjang.”
Nadine masuk ke dalam kamar mandi dengan melangkah secara perlahan untuk meminimalisir rasa nyeri.
Nadine keluar dari kamar mandi setelah hampir 1 jam ia membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan membawa semangat.
“Nyonya, ini bubur ayam sesuai yang Tuan Adinata minta untuk Nyonya. Maaf saya masuk tanpa menunggu persetujuan Nyonya Nadine. Tadi saat saya mengetuk pintu, tidak ada balasan dari Nyonya Nadine.
Nadine menganggukkan kepalanya. Ia menyikapi orang yang ada di dalam rumah ini dengan tenang, kecuali dengan Adinata. Nadine tidak perlu membuat ketenangan ketika berhadapan dengan suaminya—ralat, mantan suaminya.
“Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah mengantarnya.”
Bi Ratih—salah satu dari beberapa asisten rumah tangga di rumah Adinata menganggukkan kepalanya dengan sopan. “Tuan Adinata juga berpesan kepada saya untuk membantu Nyonya Nadine.”
Nadine menatap Bi Ratih. “Bi Ratih diberi tahu Adinata?”
“Iya, Nyonya. Saya dengan rendah hati meminta maaf ke Nyonya Nadine, ya. Maaf jika saat Nyonya Nadine dipojokkan oleh Nyonya Sarah, saya tidak bisa membela Nyonya Nadine.”
Nadine menyentuh bahu Bi Ratih yang menunduk. “Tidak apa-apa, Bi. Nadine tahu karakter Mama Sarah yang angkuh. Terima kasih, Bi Ratih atas bantuannya selama ini yang sangat membantu saya selama tinggal disini.”
Nadine melangkahkan kakinya untuk mengambil koper miliknya yang akan ia penuhi dengan barang-barang yang akan Nadine bawa.
“Mama Sarah ada di rumah, Bi?”
Bi Ratih yang membantu membuka koper besar milik Nadine menggelengkan kepalanya. “Nyonyah Sarah pergi dari semalam dan belum kembali ke rumah sampai pagi ini, Nyonya.”
Nadine menganggukkan kepalanya sambil tangannya mengambil pakaian miliknya yang ada di dalam lemari kamarnya. Ia juga hanya akan membawa beberapa tas dan sepatu saja. Tidak perlu ia bawa semuanya.
“Tolong bantu saya agar bisa lebih cepat, ya, Bi. Saya ingin menghindari Mama Sarah.”
“Iya, Nyonya. Perlu saya bantu untuk memilih pakaian Nyonya?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Jangan, Bi. Kita bagi tugas saja. Saya yang mengambil dan Bi Ratih yang menatanya di koper. Tidak rapi, tidak apa-apa, Bi. Yang terpenting cukup.”
“Perlu saya bawakan koper baru, Nyonya?”
“Tidak usah, Bi. Saya hanya membawa 1 koper itu saja.”
“Nyonya yakin hanya membawa 1 koper ini saja?” Bi Ratih menatap Nadine yang bergerak dengan serba cepat walau tangan Bi Ratih juga menata pakaian milik Nadine dengan cekatan.
“Yakin, Bi. Saya gak perlu membawa banyak barang dari sini. Saya mengingatnya karena ini bukan milik saya semuanya walau saya yang memakainya. Biarlah nanti Adinata yang membersihkannya.”
Tak terasa, koper yang akan Nadine bawa sudah penuh dengan barang-barang yang Nadine pilih.
“Bi Ratih, terima kasih sudah membantu saya, ya. Maafkan saya kalau selama saya menjadi istri Adinata menyusahkan pekerjaan Bi Ratih.”
“Tidak, Nyonya. Nyonya Nadine tidak menyusahkan pekerjaan saya.” Bi Ratih membalas jabatan tangan Nadine. “Saya sangat berterima kasih ke Nyonya karena selama Nyonya tinggal disini, Tuan Adinata sering membantu kami, para pekerja di rumah ini agar tidak dipecat dari pekerjaan kami.”
Nadine tersenyum tipis. “Kalau itu, sampaikan terima kasih Bi Ratih ke Adinata. Saya rasa saya tidak seharusnya menerima terima kasih dari Bi Ratih.”
Bi Ratih menganggukkan kepalanya dan berpamitan keluar dari kamar milik Adinata dan Nadine ini untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Halo, Tante Almi. Nadine sudah siap, ya. Nadine akan kesana sekarang.”
“Halo, Nadine. Amankah kalau kamu pergi dari rumah itu sekarang? Ada mertua lampir itu tidak?”
“Di rumah ini tidak ada orang, kecuali Nadine dan para pekerja. Jadi gimana, Tan? Nadine kesana naik taksi atau tante jemput Nadine.”
“10 menit lagi, tante dan om sampai di depan rumah mertuamu, ya. Hati-hati, Nadine. Ingat kamu sedang mengandung.”