Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
BAB 5
Kuda kami berpacu menaiki jalanan bukit yang berbatu.
Guncangannya membuat gigiku bergemeretak, tapi aku menahan diri untuk tidak bersuara. Di depanku, napas Kak Waraqah memburu tidak beraturan. Tangan kirinya memegang tali kekang erat-erat, sementara tangan kanannya memelukku seolah takut aku akan terlepas dan jatuh ke jurang gelap di sisi jalan.
"Jangan takut, Qatilah," suara Kak Waraqah bergetar di atas kepalaku, berusaha terdengar tenang meski jelas gagal. "Kita memang dalam bahaya, tapi Kakak akan melindungimu. Itu... itu hanya perampok rendahan. Abi sedang membereskan mereka."
"Iya, Kak," balasku lirih.
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya, berpura-pura menjadi balita penurut yang ketakutan. Namun di balik kepalaku yang tertunduk, pikiranku bekerja secepat badai.
Perampok? Alasan yang sangat buruk.
Tidak ada perampok bodoh yang cukup nekat menyerang kediaman utama klan sebesar Bani Asad secara terang-terangan. Bau darah di jubah Kak Waraqah masih terlalu segar, dan tangannya yang memelukku gemetar hebat. Rumah kami bahkan terbakar sampai terlihat jelas dari kejauhan.
Semua tanda itu hanya mengarah pada satu kesimpulan: ini bukan perampokan biasa.
Dadaku terasa sesak memikirkan kemungkinan terburuknya, tapi aku memaksa diriku menelan kepanikan itu. Menangis tidak akan menyelamatkan kami. Di dunia liar seperti ini, kepanikan hanya akan mempercepat kematian.
"Kita akan ke rumah Paman," gumam Kak Waraqah lagi, kali ini lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Paman Khuwaylid punya banyak pengawal. Keluarga beliau pasti akan menolong kita. Tempat itu aman..."
Mataku sedikit melebar dalam gelap.
Paman Khuwaylid. Ayah Khadijah. Salah satu saudagar terkaya dan paling dihormati di Mekah. Jika masih ada satu tempat yang aman malam ini, kemungkinan besar hanyalah kediaman mereka.
Kuda kami terus mendaki tanjakan batu menuju distrik atas Mekah. Angin malam meniup jubah kami keras-keras. Dari atas bukit, lampu-lampu minyak kota terlihat kecil berkelap-kelip di kejauhan seperti bara api yang hampir padam.
Namun tepat sebelum kami keluar dari bayangan tebing... Kak Waraqah mendadak menarik tali kekang sangat keras.
Kuda kami meringkik pelan dan berhenti mendadak.
Aku mendongak.
Tubuh Kak Waraqah membeku.
Di depan sana, jalan menuju distrik kediaman Paman Khuwaylid telah tertutup. Puluhan pria bersenjata berdiri diam di antara bayangan tembok batu. Obor-obor mereka menyala redup diterpa angin malam, memantulkan kilatan dingin di ujung tombak dan pedang.
Mereka sedang menunggu.
Jebakan.
Napas Kak Waraqah tercekat kasar. Untuk pertama kalinya sejak kami kabur, aku melihat topeng keteguhan itu retak sepenuhnya.
"Tidak..." bisiknya pelan, tangannya yang memegang tali kekang mulai gemetar hebat. "Mereka... mereka benar-benar ingin membunuh kita semua..."
Suara remaja itu terdengar hancur. Bukan lagi putra bangsawan Quraisy yang tenang dan cerdas. Malam ini, dia hanyalah seorang anak lelaki yang baru saja kehilangan rumahnya.
Namun insting bertahannya masih menyala. Dengan gerakan panik, Kak Waraqah menarik tali kekang dan memutar arah kuda kami kembali turun ke jalan gelap berbatu.
Sayangnya, gerakan mendadak itu membuat bebatuan kerikil longsor dari pinggir tebing.
Krak... krik...
Suara kecil itu bergemuruh memecah kesunyian malam.
Salah satu pria bersenjata langsung menoleh.
"Di sana!" teriak suara berat dari arah persimpangan. "Anak Naufal! Kejar mereka!"
Derap belasan kuda langsung meledak memecah malam.
Jantungku serasa berhenti. Kak Waraqah melecut kudanya sekuat tenaga menuruni bukit. Angin menghantam wajah kami seperti cambuk es, sementara di belakang, suara para pengejar terdengar semakin dekat.
Kami berpacu masuk menembus distrik bawah Mekah, wilayah tempat tinggal para pelayan dan pekerja keluarga besar kami.
Namun pemandangan di sana membuat napasku tercekat.
Lorong-lorong sempit itu dipenuhi mayat.
Tubuh para pelayan dan budak bergelimpangan di atas pasir. Beberapa pintu rumah kecil hancur didobrak paksa. Dinding-dinding tanah liatnya dipenuhi bercak darah segar yang memantulkan cahaya kemerahan dari obor kami. Bau anyir darah dan isi perut menyeruak tajam ke udara.
Tubuhku langsung membeku.
Dalam dua kehidupanku... ini pertama kalinya aku melihat pembantaian sedekat ini.
Napas pendekku tersendat. Tenggorokanku terasa tercekat keras seperti dicekik sesuatu yang tak terlihat. Perutku bergejolak hebat sampai cairan asam naik ke kerongkongan.
Aku buru-buru menutup mulutku sendiri.
Pandangan mataku berkunang-kunang. Telingaku berdenging nyaring.
Tubuh kecil ini gemetar hebat tanpa bisa kukendalikan.
Namun aku menggigit bibirku keras-keras sampai terasa perih. Aku memaksa diriku tetap sadar.
Ini bukan waktunya muntah. Bukan waktunya menangis.
Kalau aku panik sekarang, kami akan mati.
Dan perlahan, sebuah kenyataan mengerikan mulai kupahami.
Ini bukan sekadar penyerangan.
Mereka benar-benar sedang membasmi kami sampai ke akar-akarnya.
Kak Waraqah jelas menyadari hal yang sama. Harapan terakhirnya untuk mencari bantuan di dalam kota runtuh tak bersisa.
"Kita keluar kota!" geramnya parau.
Ia membelokkan kuda kami tajam memasuki gang sempit yang gelap gulita, jalur pintas menuju gerbang perbatasan gurun.
Di belakang kami, cahaya obor para pengejar mulai menerangi distrik bawah. Suara tapak kuda musuh bergema mengerikan di antara lorong batu sempit.
Lalu, bencana itu terjadi.
Karena gang itu nyaris tanpa cahaya, Kak Waraqah tidak melihat apa yang terbentang di depan. Kuda kami menginjak sesuatu yang lunak.
Sebuah tubuh pelayan yang tergeletak melintang di tengah jalan.
Kaki depan kuda tersandung keras.
Hewan itu meringkik panik dan kehilangan keseimbangan.
"Berpegangan!" teriak Kak Waraqah.
Dunia seolah jungkir balik.
BRAAAK!
Tubuh kuda menghantam tanah begitu keras hingga pasir dan kerikil beterbangan ke segala arah.
Aku terlempar dari pelana.
Tubuh mungilku berguling brutal di atas tanah kasar dan bebatuan. Kulit siku dan lututku terasa seperti dikuliti hidup-hidup. Debu masuk ke mata, hidung, dan mulutku hingga aku tersedak keras.
Untuk sesaat aku bahkan tidak tahu mana atas dan bawah.
Pendengaranku berdenging nyaring.
Langit malam berputar liar di atas kepalaku.
Aku mencoba bangkit, tapi keseimbanganku hancur total. Kakiku goyah dan tubuhku hampir roboh lagi ke tanah.
Di sisi lain gang, Kak Waraqah menghantam dinding batu dengan suara benturan yang mengerikan.
"UGH!"
Remaja itu jatuh tersungkur sambil memegangi bahunya. Wajahnya pucat pasi menahan sakit, tapi begitu melihatku, insting melindunginya langsung mengalahkan rasa sakit itu.
Ia memaksakan diri merangkak mendekat.
"Qatilah!" serunya panik. "Kau terluka?!"
Aku belum sempat menjawab saat cahaya obor mulai menyapu ujung gang.
Para pengejar.
Mereka hanya berjarak hitungan detik dari kami.
Kuda kami masih meringkik liar sambil meronta berusaha berdiri, tapi kami kehabisan waktu.
Tepat saat maut terasa sudah menyentuh kulit kami, terdengar suara batuk pelan dari kegelapan di samping lorong.
Aku menoleh refleks.
Sebuah tangan kasar yang gemetar mendorong paksa pintu reyot dari sebuah rumah kecil di sisi gang. Sesosok perempuan paruh baya, bersimbah darah, melangkah tertatih keluar dari bayangan.
Mataku membelalak.
"Bibi... Salma?"
Bibi Salma nyaris roboh. Pakaian tidurnya yang lusuh basah oleh darah pekat, dan wajah kerasnya sepucat mayat. Namun di balik napasnya yang tersengal, sorot mata pengasuhku itu masih menyala penuh tekad.
"Bibi... kau masih hidup..." bisik Kak Waraqah tak percaya.
"Cepat naik ke kudamu, Tuan Muda!" desis Bibi Salma dengan napas berat.
Perempuan tangguh itu mencengkeram lengan Kak Waraqah lalu mendorongnya kuat-kuat dengan sisa tenaga kasarnya.
Kak Waraqah tersadar.
Ia bangkit terpincang-pincang, menarik tali kekang kuda yang akhirnya berhasil berdiri tegak, lalu mengangkat tubuhku kembali ke atas pelana sebelum dirinya sendiri melompat naik.
"Bibi, ikut dengan kami!" teriak Kak Waraqah sambil mengulurkan tangan.
"Mereka sudah di sini!" balas Bibi Salma.
Tepat saat itu, tiga penunggang kuda muncul dari tikungan gang. Cahaya obor mereka menerangi lorong sempit itu, memperlihatkan pedang-pedang yang sudah terhunus.
Bibi Salma tidak menyambut tangan Kak Waraqah.
Ia justru membalikkan tubuhnya.
Dengan tangkas ia memungut sebuah balok kayu tebal penyangga gerobak yang tergeletak di dekat dinding, lalu melangkah ke tengah lorong sempit. Otot lengannya yang terbiasa bekerja keras menegang saat ia mengangkat balok kayu itu.
Tubuhnya menjadi dinding terakhir yang memisahkan kami dari pasukan pembunuh.
Seorang pelayan paruh baya yang sudah terluka parah, menantang kuda-kuda perang yang beringas.
"BAWA QATILAH PERGI!" jeritnya sekuat tenaga, suaranya pecah menantang para pengejar.
"Bibi!" teriakku refleks, menjulurkan tangan kecilku ke arahnya.
Untuk sesaat, perempuan itu menoleh kepadaku.
Dan di tengah wajahnya yang berlumuran darah, Bibi Salma masih sempat memaksakan sebuah senyum kecil yang sangat familiar.
Senyum yang sama seperti saat ia mengalah kalah debat denganku di paviliun dulu.
"Jangan menoleh lagi... Tuan Putri Penyelamat..." bisiknya lirih.
Dadaku langsung terasa seperti diremas sesuatu.
Namun Kak Waraqah tahu pengorbanan ini tak boleh disia-siakan. Rahangnya mengatup keras hingga otot lehernya menonjol. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengayunkan cambuk ke tubuh kuda dengan sisa tenaga terakhirnya.
Kuda kami melesat maju menembus ujung gang.
Dan tepat ketika kegelapan malam mulai menelan punggung kami... terdengar suara benturan kayu.
Sebuah jeritan tertahan.
Disusul suara tebasan pedang yang merobek udara malam.
Aku menoleh ke belakang dengan dada yang serasa terkoyak.
Lorong sempit itu perlahan menghilang dalam kegelapan, membawa serta nyawa Bibi Salma...
...orang yang dulu pertama kali menyuapiku saat aku belum bisa memegang sendok sendiri.
Orang yang selalu panik setiap aku bertingkah terlalu dewasa.
Dan orang yang, selama lima tahun terakhir, diam-diam telah menjadi bagian dari rumah yang baru saja direnggut oleh api dan darah.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭