we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Toko yang Tidak Masuk Akal
Suasana toko menjadi sunyi.
Kabut putih perlahan menghilang, memperlihatkan Garrick yang kini berlutut di lantai dengan wajah pucat.
Pedang hitam miliknya tergeletak tak jauh dari tangannya.
Teo masih memegang pisaunya erat, namun sorot matanya penuh kewaspadaan.
Sementara itu—
We Lin cuma merasa pusing.
Kenapa semua perhiasan di sini suka aktif sendiri sih...?
Ia mulai curiga kalau sistem sengaja mempermainkannya.
Garrick mencoba mengaktifkan auranya sekali lagi.
Namun hasilnya tetap sama.
Kosong.
Energinya seperti disegel total.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia menatap gelang hitam di pergelangan tangan dengan rasa takut.
Relik tipe penyegel seperti ini bahkan sangat jarang ditemukan di organisasi besar.
Namun di toko ini...
Benda seperti itu hanya tersimpan santai di rak biasa.
We Lin berjalan keluar dari balik meja kasir sambil menatap gelang tersebut.
“Hm... jadi itu fungsinya buat bikin orang tenang ya?”
Teo hampir tersedak mendengarnya.
Bikin orang tenang?
Itu relik yang mampu menyegel seluruh energi seorang Hunter tingkat tinggi!
Namun di mulut We Lin, benda itu terdengar seperti alat terapi biasa.
Garrick menggertakkan gigi.
Ia tahu dirinya kalah.
Namun yang membuatnya takut bukan Teo.
Melainkan pemilik toko ini.
Sejak awal pria itu bahkan tidak bergerak serius sedikit pun.
Tetapi hanya dengan beberapa “kebetulan”, seluruh situasi langsung berbalik.
Garrick perlahan menundukkan kepala.
“Saya mengaku kalah.”
Teo membelalak.
Hunter sekuat Garrick...
Menyerah begitu saja?
We Lin menghela napas lega.
“Syukurlah. Jadi gak usah berantem lagi kan?”
Di telinga Garrick, kalimat itu terdengar seperti belas kasihan dari eksistensi tingkat tinggi.
Ia semakin tidak berani bertindak gegabah.
Tiba-tiba—
Layar sistem muncul lagi di depan We Lin.
[Misi Darurat Selesai.]
[Hadiah diterima: Etalase Tingkat Menengah terbuka.]
[Fitur Baru: Penilaian Pelanggan.]
“Hah?”
Sebuah panel baru muncul di samping pandangannya.
Penilaian Pelanggan
Nama: Teo
Tingkat Kepuasan: Sangat Tinggi
Kesan terhadap toko: Tempat suci relik kuno milik ahli tersembunyi.
We Lin berkedip.
“Ah?”
Lalu panel berikutnya muncul.
Penilaian Pelanggan
Nama: Garrick
Tingkat Kepuasan: Ketakutan ekstrem.
Kesan terhadap toko: Wilayah terlarang milik monster tak dikenal.
We Lin langsung protes.
“Lah?! Kok takut?! Aku gak ngapa-ngapain!”
Namun sistem tidak memberikan penjelasan apa pun.
Di sisi lain, Teo diam-diam mengambil keputusan.
Ia harus melaporkan keberadaan toko ini kepada organisasinya.
Tetapi...
Ia juga takut.
Jika organisasi “Rasi Bintang” mengetahui keberadaan pria seperti We Lin, dunia Hunter mungkin akan berubah total.
“Senior,” ucap Teo hati-hati. “Bolehkah saya mengetahui nama Anda?”
We Lin refleks menjawab santai,
“Aku We Lin. Pemilik toko ini.”
Teo langsung menundukkan kepala hormat.
“Suatu kehormatan bisa bertemu Senior We Lin.”
We Lin jadi canggung sendiri.
Kenapa orang sini sopan banget sih...?
Namun tanpa mereka sadari—
Di luar toko, beberapa sosok berjubah hitam sedang mengawasi dari kejauhan.
Salah satu dari mereka menatap ke arah jendela toko dengan wajah serius.
“Itu benar-benar Garrick?.
“Ya.”
“Dan dia kalah?”
Suasana menjadi hening.
Tak lama kemudian, salah satu dari mereka berbicara pelan,
“Kita harus melapor ke markas.”
Tatapannya tertuju pada toko perhiasan tersebut.
“Di kota ini... telah muncul seseorang yang tidak boleh disinggung.”
Angin malam berhembus pelan melewati gang sempit di depan toko.
Lampu papan toko milik We Lin bergoyang kecil, menimbulkan suara berderit halus yang membuat suasana terasa makin misterius.
Di kejauhan, para pria berjubah hitam masih berdiri diam.
Tak satu pun berani mendekat.
Padahal biasanya, organisasi pengintai seperti mereka selalu bergerak cepat saat menemukan relik langka atau Hunter berbahaya.
Namun kali ini berbeda.
Aura dari dalam toko itu terlalu aneh.
Salah satu pria berjubah menelan ludah pelan.
“Apa kita benar-benar harus masuk...?”
Pria paling depan langsung menjawab tegas,
“Jangan bodoh.”
“Garrick saja kalah tanpa bisa melawan balik.”
“Kalau kita gegabah, mungkin kita bahkan tidak sempat melapor.”
Mereka semua terdiam.
Nama Garrick bukan nama sembarangan di dunia Hunter.
Ia dikenal brutal, kuat, dan hampir mustahil ditundukkan Hunter biasa.
Namun sekarang—
Pria itu justru keluar dari toko dengan wajah pucat seperti baru bertemu monster.
Sementara itu di dalam toko…
We Lin sedang sibuk memandangi panel sistem baru.
[Fitur Penilaian Pelanggan dapat meningkatkan reputasi toko.]
[Semakin tinggi reputasi, semakin besar peluang relik langka muncul.]
“Muncul sendiri lagi...”
We Lin memijat pelipisnya pelan.
Ia sebenarnya masih belum sepenuhnya memahami sistem aneh ini.
Tapi satu hal yang pasti—
Semakin lama, toko perhiasannya makin terasa tidak normal.
Teo berdiri dengan posisi tegak sambil sesekali melirik rak-rak relik di sekitar ruangan.
Tatapannya penuh tekanan.
Sebelumnya ia mengira tempat ini hanya toko biasa milik seorang ahli relik.
Namun sekarang pikirannya berubah total.
Tempat ini…
Lebih mirip gudang artefak legendaris yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Bahkan gelang penyegel energi tadi hanya diletakkan sembarangan di rak murah dekat pajangan cincin.
Kalau informasi ini bocor ke organisasi besar…
Perang besar antar Hunter mungkin bisa pecah kapan saja.
Tiba-tiba—
DING!
Suara sistem kembali muncul.
[Mendeteksi ketertarikan pelanggan.]
[Hadiah bonus dibuka.]
[Relik Baru berhasil ditambahkan ke etalase.]
Cahaya redup muncul dari salah satu rak kaca di sudut toko.
We Lin dan Teo refleks menoleh bersamaan.
Di sana—
Sebuah kalung perak perlahan muncul dari udara tipis.
Bentuknya sederhana.
Namun di bagian tengahnya terdapat batu kristal biru gelap yang memancarkan cahaya samar seperti lautan malam.
Teo langsung membelalak.
“Manifestasi relik?!”
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Relik yang muncul sendiri tanpa ritual pemanggilan…
Hal seperti itu bahkan hanya tercatat di legenda organisasi besar.
We Lin sendiri cuma mengedip bingung.
“Hah? Barang baru lagi?”
Ia mengambil kalung itu perlahan.
Sesaat tangannya menyentuh kristal biru—
BRRRTT!!
Seluruh lampu toko tiba-tiba berkedip.
Udara dingin menyebar ke seluruh ruangan.
Bahkan lantai mulai dipenuhi kabut tipis berwarna kebiruan.
Teo langsung mundur beberapa langkah dengan wajah tegang.
Aura relik itu…
Berbahaya.
Namun anehnya, We Lin tidak merasakan tekanan apa pun.
Ia malah memiringkan kepala bingung.
“Dingin amat ya?”
Panel sistem muncul cepat di depan matanya.
[Relik Terdeteksi.]
[Nama: Frozen Heart.]
[Tingkat: ???]
[Efek: Belum dapat dianalisis.]
[PERINGATAN: Relik dalam kondisi tidak stabil.]
“Hah?”
Belum sempat We Lin bereaksi—
KRACK!
Retakan kecil tiba-tiba muncul di kristal biru pada kalung tersebut.
Detik berikutnya—
Suara bisikan asing bergema pelan di seluruh toko.
“…akhirnya…”
Mata Teo langsung melebar.
“Itu suara siapa…?”
Suasana toko langsung berubah mencekam.
Kabut biru memenuhi lantai perlahan seperti air dingin yang mengalir tanpa suara.
Teo memasang posisi siaga.
Tangannya refleks memegang gagang pedang di pinggangnya meski tubuhnya sendiri gemetar.
Sementara itu We Lin masih memegang kalung tersebut dengan wajah bingung.
“Ini rusak ya…?”
Retakan kecil di kristal biru semakin melebar.
Suara asing tadi kembali terdengar.
“…lepaskan…”
Teo langsung pucat.
Suara itu jelas bukan suara manusia biasa.
Aura yang keluar dari relik tersebut terasa sangat tua… dan menyeramkan.
Namun anehnya—
We Lin malah mengetuk pelan kristal itu memakai kuku jarinya.
Tok.
Seketika—
SEMUA suara menghilang.
Kabut biru lenyap total.
Retakan di kristal berhenti menyebar.
Bahkan suasana dingin di dalam toko mendadak kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Teo terpaku.
“Hah…?”
We Lin sendiri terlihat lega.
“Oh aman ternyata.”
Padahal yang baru saja ia lakukan hampir membuat Teo terkena serangan jantung.
Relik tak dikenal dengan aura tingkat bencana…
Dihentikan hanya dengan ketukan jari?
Teo makin yakin.
Senior We Lin benar-benar monster tersembunyi.
Sementara itu di luar toko, para pria berjubah hitam langsung mundur beberapa langkah.
Mereka tadi sempat merasakan aura dingin mengerikan dari dalam toko.
Namun aura itu hilang terlalu cepat.
Salah satu dari mereka berkata dengan suara tegang,
“Apa kau merasakan itu tadi…?”
“Ya…”
“Seperti ada sesuatu yang hampir bangun.”
Mereka saling menatap.
Tak ada yang berani mendekat lagi.
Pria berjubah paling depan langsung mengambil keputusan.
“Kita mundur.”
“Tapi informasi soal toko ini harus segera sampai ke markas.”
Yang lain langsung mengangguk cepat.
Beberapa detik kemudian, seluruh sosok berjubah hitam menghilang ke dalam kegelapan malam.
Di dalam toko…
Garrick perlahan berdiri.
Gelang penyegel di tangannya akhirnya mulai melemah setelah aura permusuhan dalam dirinya benar-benar hilang.
Ia menatap We Lin dengan ekspresi rumit.
Takut.
Hormat.
Dan bingung.
Pria itu bahkan tidak sadar seberapa mengerikan dirinya sendiri.
Justru itu yang paling menakutkan.
Garrick lalu membungkukkan badan dalam-dalam.
“Saya permisi, Senior We Lin.”
We Lin langsung melambaikan tangan santai.
“Oh hati-hati di jalan ya.”
Teo hampir refleks ikut membungkuk lagi.
Kalimat biasa itu terdengar seperti izin hidup dari eksistensi tingkat tinggi.
Tak lama kemudian, Garrick akhirnya keluar dari toko.
Langkahnya jauh lebih pelan dibanding saat pertama datang.
Ia bahkan tidak berani menoleh ke belakang.
Teo ikut bersiap pergi.
Namun sebelum keluar, ia berhenti di depan pintu.
“Senior We Lin…”
“Hm?”
“Suatu hari nanti… dunia Hunter mungkin akan berubah karena keberadaan tempat ini.”
We Lin malah tertawa kecil karena tidak paham.
“Haha… kamu ngomong aneh-aneh.”
Teo tersenyum kaku.
Lalu ia menundukkan kepala hormat untuk terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan toko.
Kini toko akhirnya benar-benar sunyi.
We Lin berdiri sendirian di tengah ruangan.
Ia melihat sekeliling.
Rak perhiasan berantakan.
Lantai retak sedikit.
Kursi tamu roboh.
We Lin menghela napas panjang.
“Capek banget hari ini…”
Panel sistem tiba-tiba muncul lagi.
[Jam operasional selesai.]
[Seluruh relik akan memasuki mode tidur.]
Seketika seluruh cahaya relik di dalam toko mulai meredup perlahan.
Suasana toko menjadi tenang.
We Lin menguap lebar.
We Lin membalik papan tulisan “BUKA” menjadi “TUTUP” sebelum menutup pintu toko.
KREEEK…
Lampu luar dimatikan.
Gang sempit kembali gelap dan sunyi.
Tak ada yang menyangka kalau di balik toko perhiasan kecil itu tersimpan relik-relik mengerikan yang bahkan bisa membuat organisasi Hunter ketakutan.
Sementara itu di lantai dua toko…
We Lin menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
“Otakku mau meledak…”
Hari itu terlalu melelahkan untuknya.
Relik aneh.
Hunter misterius.
Orang-orang yang terlalu sopan.
Dan sistem yang terus muncul seenaknya.
Namun sebelum tidur, We Lin sempat bergumam pelan sambil menatap langit-langit kamar.
“Besok semoga gak ada masalah lagi deh…”
Ia terdiam beberapa saat.
"Aku juga... rindu rumah."
Di lubuk hatinya, hanya ada satu keinginan.
Kembali ke bumi, ke tempat di mana ia pernah hidup sebagai seorang yang memiliki keluarga.