NovelToon NovelToon
Diratukan Oleh Raja Vampir

Diratukan Oleh Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.

Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.

Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.

Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Purnama

“Kunci semua pintu dan jendela. Jangan pernah sekali pun keluar sebelum aku memberikan perintah.”

Suara Evander terdengar jauh lebih dingin dibanding biasanya.

Saat ini malam mulai turun perlahan. Langit yang tadi cerah kini berubah gelap, sementara cahaya bulan purnama mulai terlihat di antara pepohonan hutan. Suasana di sekitar gubuk terasa berbeda malam ini.

Lebih sunyi.

Dan entah kenapa, lebih menyesakkan.

Evelyn yang berdiri dekat meja langsung menatap Evander dengan gugup.

“L-lalu kamu akan ke mana?”

“Aku akan berjaga di luar bersama orang-orangku.”

“Orang-orangmu?” ulang Evelyn pelan. “Maksudmu yang siang tadi datang menemuimu?”

“Iya.”

Evander mengambil jubah hitam panjang miliknya yang sudah kering lalu mengenakannya perlahan.

Kini auranya terasa benar-benar berbeda dibanding pria terluka yang pertama kali ditemukan Evelyn di tepi sungai.

Dingin. Jauh.

Dan mengintimidasi.

Evelyn diam-diam memperhatikan Evander tanpa sadar. Entah kenapa, pria itu terlihat seperti seseorang yang sangat tinggi kedudukannya.

“Kamu benar-benar membuatku penasaran…” gumam Evelyn pelan.

Evander menoleh sedikit.

“Jangan penasaran terhadap sesuatu yang berbahaya.”

Jawaban itu membuat Evelyn langsung terdiam.

Tak lama kemudian.

Tok. Tok.

Suara ketukan pelan terdengar dari luar gubuk.

Tatapan Evander langsung berubah tajam.

Dia berjalan mendekati pintu lalu membukanya sedikit.

Di luar sana, tiga pria berpakaian hitam yang tadi siang datang sudah berdiri menunggu dengan kepala tertunduk.

“Yang Mulia,” ucap mereka bersamaan.

Evelyn yang melihat dari kejauhan sedikit membelalakkan mata.

Mereka benar-benar memanggil Evander seperti seorang raja. Sementara itu, salah satu vampir perlahan berkata,

“Banyak klan mulai berkeliaran malam ini. Mereka mencium aroma manusia di sekitar hutan.”

Tatapan Evander langsung berubah dingin.

“Aku sudah tahu.”

Aura mengerikan perlahan keluar dari tubuhnya hingga membuat udara sekitar terasa lebih berat.

Evelyn yang berada di dalam gubuk tanpa sadar merinding melihatnya. Untuk pertama kalinya. Dia merasa Evander benar-benar berbeda dari manusia biasa.

“Kita pergi sekarang juga,” ucap Evander kepada orang-orangnya dengan suara dingin.

“Baik, Yang Mulia.”

Ketiga pria itu langsung menundukkan kepala patuh.

Evander kemudian menoleh ke arah Evelyn yang masih berdiri di dalam gubuk dengan wajah penuh kebingungan.

Tatapan merah gelap itu menatapnya beberapa detik.

“Ingat apa yang aku katakan,” ucap Evander rendah. “Jangan keluar apa pun yang terjadi.”

Evelyn menggenggam pelan ujung bajunya.

“Tapi… memangnya ada apa di luar?”

Evander terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab,

“Monster.”

Jawaban singkat itu membuat bulu kuduk Evelyn meremang.

Namun sebelum dia sempat bertanya lagi, tubuh Evander perlahan berubah menjadi bayangan hitam pekat.

Dan dalam sekejap.

Dia menghilang dari depan pintu gubuk. Evelyn langsung membelalakkan mata.

Sementara tiga pria berpakaian hitam itu ikut lenyap satu per satu di antara kegelapan malam.

Brak.

Pintu gubuk tertutup sendiri karena hembusan angin malam.

Kini Evelyn benar-benar sendirian.

Suasana hutan di malam purnama terasa sangat berbeda.

Sunyi. Terlalu sunyi.

Evelyn perlahan berjalan mendekati jendela kecil lalu mengintip sedikit ke arah luar. Cahaya bulan purnama menyinari pepohonan hutan dengan samar.

Namun entah kenapa. Dadanya terasa tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari balik gelapnya hutan.

Setelah beberapa menit kepergian Evander dan orang-orangnya, suasana hutan yang tadinya sunyi mulai berubah.

Dari luar gubuk terdengar suara ribut-ribut yang samar.

Brak!

Suara sesuatu menghantam pepohonan terdengar cukup keras hingga membuat Evelyn tersentak kaget.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara geraman asing dari kejauhan.

Evelyn refleks mundur menjauh dari jendela. Jantungnya mulai berdetak tidak tenang.

“Apa yang sebenarnya terjadi di luar…?” gumamnya pelan.

Dia segera berjalan cepat menuju tempat tidurnya yang kecil lalu duduk di sana sambil memeluk kedua lututnya.

Suasana malam terasa semakin menyeramkan.

Sesekali terdengar: suara ranting patah, angin kencang, dan suara asing yang tidak pernah Evelyn dengar sebelumnya.

Tubuhnya mulai sedikit gemetar. Walaupun penasaran, Evelyn tetap mengingat ucapan Evander.

Jangan keluar apa pun yang terjadi.

Brak!

Kali ini suara benturan terdengar jauh lebih dekat dari sebelumnya. Seolah ada sesuatu yang terlempar tepat tidak jauh dari gubuk.

Evelyn refleks menutup mulutnya sendiri karena takut. Tatapannya mengarah ke pintu kayu gubuk yang sekarang terasa begitu rapuh.

Lalu.

Krekkk.

Terdengar suara langkah pelan di luar gubuk.

Seseorang sedang berjalan mengelilingi rumah kecil itu.

“Tenang, jangan takut. Saya orangnya Yang Mulia.”

Suara bisikan dari arah luar itu membuat Evelyn sedikit tenang. Walaupun begitu, jantungnya masih berdegup cukup cepat.

Evelyn perlahan turun dari tempat tidurnya lalu mendekati pintu dengan ragu-ragu.

“K-kalian sedang apa di luar?” tanyanya pelan.

Sunyi beberapa detik sebelum suara pria itu kembali terdengar.

“Kami sedang membersihkan beberapa gangguan.”

Gangguan?

Evelyn semakin bingung.

Namun sebelum dia sempat bertanya lagi. Terdengar suara mengerikan dari kejauhan.

Auman panjang yang membuat bulu kuduk

Evelyn meremang.

Brak!

Suara benturan keras kembali terdengar di antara pepohonan.

Refleks Evelyn mundur selangkah dari pintu.

“Tidak apa-apa,” ucap pria di luar lagi dengan nada tenang. “Yang Mulia ada di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuh Anda.”

Entah kenapa, ucapan itu justru membuat Evelyn semakin penasaran terhadap Evander.

Siapa sebenarnya pria itu…?

Dan monster apa yang sedang berkeliaran di luar malam ini?

Sementara jauh di tengah hutan. Cahaya bulan purnama menyinari sosok Evander yang berdiri di atas tanah penuh darah.

Tatapan merahnya menyala tajam.

Di sekelilingnya, beberapa vampir dari klan lain terbaring tidak bergerak. Salah satu vampir yang masih hidup menatap Evander dengan ketakutan.

“E-Evander Nocturne…” lirihnya gemetar.

Aura mengerikan langsung menyelimuti seluruh area hutan.

“Aku sudah memperingatkan kalian,” ucap Evander dingin. “Jangan mendekati wilayah ini.”

Namun para vampir itu terlambat menyadari satu hal. Raja Vampir sedang melindungi seseorang malam ini.

Sementara itu, Evelyn masih berdiam di dalam gubuk sambil mencoba mendengar suara-suara berisik dari luar.

Suara benturan dan geraman aneh masih terdengar samar di antara pepohonan hutan.

Tangannya tanpa sadar menggenggam erat selimut tipis di pangkuannya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.

Jantung Evelyn terus berdegup tidak tenang.

Lalu tiba-tiba.

Brak!

Pintu gubuk terbuka dengan keras.

“Aaaah!!”

Evelyn langsung berteriak ketakutan. Di depan pintu berdiri sosok yang benar-benar aneh dan liar.

Makhluk itu bertubuh tinggi dengan mata merah menyala terang. Taring tajam terlihat jelas dari mulutnya, sementara darah segar menempel di sebagian wajah dan pakaiannya.

Napasnya terdengar berat seperti binatang buas.

Evelyn langsung mundur ketakutan hingga tubuhnya membentur dinding kayu.

“M-manusia…” suara makhluk itu terdengar serak.

Tatapan matanya langsung tertuju pada Evelyn.

Tubuh gadis itu mulai gemetar hebat.

Dia belum pernah melihat monster seperti ini sebelumnya. Makhluk itu perlahan melangkah masuk ke dalam gubuk sambil menatap Evelyn dengan liar.

“Aroma darahmu…” gumamnya pelan. “Sangat manis…”

Evelyn refleks memejamkan matanya ketakutan saat makhluk itu bergerak cepat mendekatinya.

Namun tiba-tiba.

Duar!

Tubuh makhluk itu terpental keras menabrak dinding gubuk hingga kayu-kayunya retak. Evelyn membelalakkan mata.

Di depan makhluk itu.

Evander sudah berdiri dengan tatapan merah menyala penuh amarah. Aura mengerikan langsung memenuhi seluruh ruangan.

“Aku sudah bilang,” suara Evander terdengar sangat dingin. “Jangan menyentuh milikku.”

Tubuh Evelyn langsung melemas.

Malam ini terlalu mengerikan untuk dirinya.

Monster bermata merah itu. Taring tajamnya. Dan aura menakutkan yang memenuhi gubuk kecilnya. Semuanya membuat Evelyn benar-benar ketakutan.

Pandangan gadis itu mulai buram. Sebelum kehilangan kesadaran, Evelyn sempat melihat Evander berdiri di depannya dengan tatapan penuh amarah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Lalu perlahan.

Tubuh Evelyn jatuh lemas.

“Evelyn!”

Evander dengan cepat menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh ke lantai.

Tatapan merahnya langsung berubah jauh lebih gelap saat melihat wajah pucat Evelyn yang tidak sadarkan diri.

Aura membunuh memenuhi seluruh gubuk.

Sementara vampir liar yang tadi masuk kini gemetar ketakutan di sudut ruangan.

“Y-Yang Mulia… a-ampun—”

Brak!

Tubuh vampir itu kembali terpental keras hanya karena tekanan aura Evander. Tatapan dingin Raja Vampir itu benar-benar mengerikan malam ini.

Beberapa detik kemudian, dua bawahan Evander segera muncul di depan pintu gubuk dengan wajah tegang.

“Yang Mulia—”

“Kalian menyebut ini berjaga?” suara Evander terdengar rendah dan penuh amarah.

Kedua vampir itu langsung menundukkan kepala lebih dalam.

“M-maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak menyadari ada vampir liar yang berhasil lolos—”

“Tidak menyadari?” potong Evander dingin.

Udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

“Jika dia terluka sedikit saja…” tatapan Evander berubah sangat tajam. “Aku akan membunuh kalian lebih dulu.”

Kedua bawahan itu langsung membeku ketakutan.

Mereka belum pernah melihat Evander semarah ini hanya karena seorang manusia.

Sementara itu, Evander kembali menatap

Evelyn yang pingsan di pelukannya. Tatapannya perlahan berubah lebih tenang.

Dengan hati-hati, Evander mengangkat tubuh kecil gadis itu lalu membaringkannya di atas ranjang. Jemarinya perlahan menyingkirkan rambut Evelyn yang menutupi wajahnya.

“Manusia lemah…” gumamnya pelan.

Namun anehnya.

Tatapan dingin milik Raja Vampir itu justru dipenuhi sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya.

Khawatir.

1
Asra
Next kak
Anonim
semangat thor, lanjut lagi ....
Musicart Channel
best. cerita sang teratur Dan mendebarkan untuk setiap apisode. please update lagi🥺
Anonim
up lg donk thor...
Yayuk Yuhanah
lanjut donk
Yayuk Yuhanah
masih penasaran.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!