Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah Maura selesai membuatkan jus mangga, gadis manis itu berjalan seraya memegang nampan dan kembali ke ruang keluarga, namun suasana di sana terlihat sepi. Membuat kening nya berkerut.
"Dimana Mama dan kak Maura?" Maureen memutuskan untuk mengantar nya ke kamar sang kakak. Yang berada di lantai atas bersebelahan dengan kamar nya.
Langkah demi langkah Maureen lalui pelan menaiki tangga, sampai sepuluh menit kemudian akhir nya sampai juga. Baru saja tangan nya memegang gagang pintu.
Nyonya Susan yang baru saja datang pun segera menegur. "Berhenti! Jangan berani membuka atau masuk ke dalam kamar kakak mu."
Suara teriakan ibu nya seketika membuat Maureen tersentak kaget, lalu perlahan memutar badan ke arah sumber suara yang berada di belakang.
"Ma-mama bukankah tadi kaka meminta aku untuk membuatkan jus, jadi aku hanya ingin mengantar nya," Jelas Maureen menatap nanar seraya memegang erat nampan dengan kedua tangan nya.
"Kakak mu sudah pergi, minum saja sendiri. Dan ingat jangan sesekali masuk tanpa ijin Mama." Susan mengingatkan untuk yang kedua kali nya, karena dia tidak ingin barang-barang berharga yang sudah menjadi milik Maura di ketahui oleh Maureen.
Ketika mereka sedang berbicara, tuan Herman yang baru kembali setelah memastikan beberapa hal penting untuk pesta pernikahan yang sudah di depan mata.
"Maureen, ini sudah malam. Kamu harus banyak beristirahat karena mulai besok banyak hal yang harus kamu lakukan sebelum tiba hari H," Titah Tuan Herman dengan mode wajah serius dan terlihat tidak ingin di bantah.
"Baik Pah." Maureen patuh, lalu segera masuk ke kamar dengan beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di hati. Karena heran melihat sang ibu yang begitu ketakutan saat ia akan membuka kamar Maura.
Nyonya Susan menghela nafas lega, karena akhir nya Maureen tidak banyak bertanya lagi.
"Apa Mama yakin dengan semua ini? Papa hanya takut..."
"Papa sudah lah. Percaya saja pada Mama," Bentak Nyonya memotong perkataan sang suami. Tuan Herman pun hanya menurut saja kata-kata sang istri.
Maureen yang masih berdiri di balik pintu terdiam, saat mendengar Mama dan Papa nya berbisik seolah-olah ada hal yang di sembunyikan dari nya.
Tapi dia berusaha berpikir positif mungkin hal itu hanya urusan pribadi, yang hanya boleh di ketahui oleh kedua orang tua nya saja.
Mengingat hari pernikahan tinggal di depan mata, Maureen sangat penasaran siapa dan sosok seperti apa putra pertama dari keluarga konglomerat yang bernama Carlson Grup itu.
Melihat laptop di meja Maureen segera duduk, lalu membuka dan mengetik nama sosok pria yang kelak akan menjadi suami nya di kolom pencarian.
Namun nihil, yang muncul hanya beberapa prestasi Carlson Grup saja tidak mempublikasikan data pribadi, yang membuat Maureen semakin gelisah.
Tapi demi kebaikan sang ayah dan keluarga nya Maureen hanya bisa pasrah dan berpikiran positif saja, jika lelaki yang dipilihkan oleh kedua orang tua nya adalah pilihan terbaik.
***
Waktu terus berlalu, hari yang di nanti-nanti pun akhir nya telah tiba. Terlihat beberapa tenaga WO tengah sibuk menata dan memastikan setiap dekorasi tertata mewah dan elegan di setiap penjuru ruangan gedung yang akan menjadi saksi bisu sebuah ikrar suci di ucapkan oleh kedua insan.
Maureen yang duduk di meja rias, tampak gugup dan gelisah. Gadis muda itu tak henti-henti nya menatap gambaran diri yang terpantul di depan cermin.
Ketika para tenaga MUA tampak sibuk dan begitu serius menyulap wajah manis Maureen dengan kedua jemari handal mereka, membuat gadis itu sangat cantik sampai aura seorang pengantin wanita nya sangat manglingi siapa yang melihatnya.
"Nona, lihatlah. Anda sangat cantik, beruntung sekali calon suami nya," Anissa tersenyum bahagia saat melihat hasil kinerja nya sendiri.
"Benar sekali, cahaya pengantin nya terpancar jelas. Kami sangat iri jadi ingin menikah juga," Seloroh rekan Anissa yang masih fokus menata rambut Maureen.
Suasana di dalam ruang rias terasa hangat, saat canda dan tawa menyelimuti di sana. Maureen hanya mengukir senyuman tipis penuh keterpaksaan saat mendapatkan pujian-pujian mereka.
Jauh dari dalam benak nya, rasa takut, gelisah dan kekhawatiran mulai bercampur aduk. Karena sebentar lagi entah kehidupan macam apa yang akan dia lalui.
Karena menurut nya mengarungi bahtera rumah tangga di usia muda bukanlah hal yang mudah, apa lagi sosok pria yang akan menjadi suami nya tidak pernah dia lihat sama sekali, walaupun hanya dari selembar foto.
"Ya tuhan, sosok pria seperti apa yang ayah pilihkan untuk ku?" Batin Maureen kedua jemari nya meremas erat ujung gaun pengantin berwarna putih yang terbalut indah di tubuh ideal nya.
Maureen menatap nanar gambaran diri nya, berharap gerbang pernikahan yang akan dia lalui membawa sebuah kebahagiaan dalam hidup.
Kedua alis Anissa berkerut saat melihat mempelai pengantin wanita yang di rias oleh nya meneteskan air mata. " Nona, anda kenapa menangis?" tanya nya.
Maureen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya pelan."A-aku tidak apa-apa hanya sedikit gugup saja," sahut Maureen menutup rasa sedih dan memperlihatkan jika dia baik-baik saja.
"Hmm, memang sudah biasa perasaan seperti itu di rasakan para calon pengantin sampai meneteskan air mata bahagia, tapi percayalah menikah itu sangat indah apa lagi dengan orang yang kita cintai." ucap Anissa mengerti keadaan.
Maureen semakin sedih, saat mendengar kata-kata perias wanita yang sangat handal dan sangat terkenal pilihan keluarga calon mertua nya.
Suasana hangat di sana tiba-tiba saja hening, saat kedatangan nyonya Susan yang secara tiba-tiba.
"Kalian keluarlah dulu, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan putri ku." tegas Mama Susan.
"Ba-baik nyonya."
Kedua perias wanita itu membungkukkan badan, dan segera keluar ruangan sesuai perintah. Setelah pintu tertutup rapat, Nyonya Susan menatap tajam wajah nya tampak serius menghampiri putri nya.
"Mama ada apa?" Tanya Maureen tersenyum tipis.
Tak ingin berbasa-basi lagi, Nyonya Susan meminta satu hal pada Maureen. Jika nanti saat upacara pernikahan dia tidak di perbolehkan membuka Bridcage viel.
Kedua bola mata sipit Maureen melebar, kedua alis nya berkerut saat mendengar perintah sang ibu. " Kenapa Ma?" Tanya nya dengan sikap lugu dan polos.
"Pokok nya ya jangan, turuti saja jangan banyak tanya lagi, paham tidak?" Bentak Susan kesal.
Maureen memejamkan mata sejenak wajah nya tertunduk, mengingat dulu beberapa teman nya yang sudah menikah tidak boleh melanggar beberapa hal membuat ia berusaha mengerti itu. "Iya Ma, aku paham..." ucap nya.
"Bagus," Susan bernafas lega. Suara seseorang datang mengetuk pintu membuat mereka menoleh.
"Nyonya, pihak mempelai calon pria sudah datang. Mereka sudah menunggu," Ujar salah satu kepala pelayan memberitahukan di balik pintu.
Seketika Susan membelalakkan mata, perlahan wanita paruh baya itu pun membuka tirai jendela dan benar saja. Terlihat beberapa mobil mewah sudah berjejer di depan kastil.
"Mereka sudah datang, Maureen bersiaplah. Ingat kata-kata Mama, jangan di langgar dan jangan sampai membuat keluarga kita malu di acara pernikahan ini." peringat Susan dengan tegas.
\*
Bersambung.................