Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Kantin siang itu lebih ramai dari biasanya. Suara tawa bercampur dengan dentingan sendok dan gelas. Aroma makanan menguar bercampur dengan udara hangat yang masih menyisakan sisa hujan.
"Yang itu Sya!,..yang itu!" Calysta menunjuk ke arah Stan minuman "yang Boba rasa baru itu ya?"
"Iya,..katanya enak banget Sya" Syahira mengangguk.
"Oke kita coba" mereka mengantri terlalu lama, tapi cukup untuk membuat Syahira,..diam dan matanya menjadi tidak fokus, piki nanya melayang tidak disitu tapi masih dikelas. tangannya menggenggam tasnya bagian ujung dengan pelan "kenapa sih,.."
"Syah,..elo dipanggil tuh dari tadi"
"Oh iya,..kenapa?" Calysta menghela nafas "elo lagi kepikiran apa sih?"
"Enggak"
"Kebiasaan." Haikal tiba tiba saja berdiri diantara mereka seolah sudah mengenalnya dekat tanpa merasa mengganggu aktivitas mereka. "Btw kalian udah pada makan belum?"
"Belum sih, ini masih antri baru mau beli minum"
"Bareng" sahut Haikal. Calysta melirik ke arah Syahira keduanya nampak mengangguk dan tersenyum tipis padahal dalam batin Syahira ada sedikit risih "ini orang serius ya" Syahira sempat ragu "boleh nggak nih?" dan keduanya mengangguk memperbolehkan mau tidak mau.
Mereka duduk bertiga, tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat suasana diantara mereka berbeda. Haikal membuka pembicaraan ringan entah itu tentang kelas, dosen maupun tentang hafalan " elo cepat banget adaptasinya"
"Syahira menggeleng"
"Eggak juga,..biasa aja" Calysta langsung menyela "Iya juga sih, dia mah kalu udah niat pasti gitu" Syahira tersenyum tapi tidak juga menyangkal.
"Btw dosen itu berat juga ya"
Deg. Tak lama Syahira mengangguk pelan "tapi bagus tau"
"Iya" dia menarik nafas "jadi kayak ngerasa ditarik"
***
Dibalik jendela kaca ruang dosen seseorang berdiri diam menatap ke arah kantin, jaraknya dari kejauhan tapi cukup terlihat pada kedua netra Bilal yang mengenalinya. "Syahira ,..tapi siapa yang duduk didepannya?" rahangnya mengeras tangannya terdiam disisi meja, matanya tidak berpindah ke lain arah. Sampai ia sendiri yang akhirnya memalingkan wajahnya.
"Astaghfirullah,..ini tidak benar." gumam Bilal.
"Syah,..gue kayaknya pamit duluan ya, ada perlu dulu soalnya"
"Eh elo mau kemana?"
Calysta sengaja memberi ruang pada Syahira dan Haikal yang pada akhirnya ia meninggalkan keduanya lebih dulu. Tersisa Syahira dan Haikal yang akhirnya terlibat percakapan ringan.
"Elo asli sini Sya?"
"Enggak juga"
"Nyokap sih tinggal di Bali"
"Oh,.. berarti sekarang elo tinggal sama,..?"
"Tinggal sama Bokap dan Kakak gue"
"Elo sendiri orang mana?"
"Asli sini sih hehe"
Panjang lebar keduanya berbincang sambil sesekali menyeruput minuman yang sudah dipesan dan menyendok menu yang sudah dipesan tadi.
Ditempat lain, Feryal baru saja sampai rumah.langkahnya pelan berbeda dari biasanya. Motor sudah terparkir rapi, tidak ada suara bising dan tawa dirumahnya itu.
Ia membuka pintu dan masuk dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. kedua netranya menyapu ke sekeliling sudut ruangan "Abi sama Syara belum pulang ternyata" ia masuk ke kamarnya dan membanting tubuhnya seraya menatap langit-langit atap kamarnya.
Tak lama tangannya meraih ponsel lalu menyalakannya, tak ada notifikasi pesan apapun yang masuk sama sekali padahal nama di kontaknya masih Ada dengan nama "Bilal" suaminya.
Feryal mematikan ponselnya lagi seraya menarik nafasnya sempat merenung tapi matanya kosong dengan pikiran yang begitu penuh menumpuk diotaknya. pada akhirnya ia pun berusaha memejamkan kedua netranya.
kembali ke Kampus tempat Syahira mengejar ilmu. saat ia hendak masuk ke kelas, tiba tiba saja seseorang muncul tiba tiba menyapanya.
Syahira menoleh dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak nyaman. Seorang pria berdiri tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
Aura dingin dengan tatapan yang tajam. Kaizan altaz namanya. Haikal ikut menoleh alisnya sedikit terangkat "kenal?"
"Enggak" Syahira menggeleng. Kaizan berjalan mendekat langkahnya tenang "elo yang namanya Syahira ya?"
Deg.
"Iya"
"Jangan terlalu gampang percaya sama orang" kalimat itu meluncur begitu saja tanpa konteks yang jelas, membuat Syahira dan Haikal mengernyit heran.
Kaizan altaz sambil pergi begitu saja ia mengakhiri ucapannya dengan kata kata menohok "jaga diri elo."
Dan Kaizan pun pergi begitu saja tanpa ekspresi, membuat Syahira langsung membeku seketika. "Dia siapa sih?"
"Ribet ya tuh orang?" ucap Haikal.
"Kamu kenal Kal?"
"Sedikit" sahut Haikal. Sementara dari kejauhan Bilal melihat semuanya, melihat lebih lama dan berdiri diam tanpa mendekat, ia bingung terhadap perasaannya sendiri saja ia masih belum memahaminya.
Kampus mulai sepi, satu persatu mahasiswa sudah pada ampih pulang kerumahnya masing masing meninggalkan area gedung. Termasuk Syahira.
"Capek banget ikh hari ini.." gumam ya pelan sambil berjalan ke luar gerbang bersama Calysta.
"Tapi worth it sih"
"Iya juga sih" Syahira tersenyum kecil, tangannya menggenggam strap tas, dengan langkah santai untuk pertama kalinya melangkah tanpa beban.
"Syah"
"Iya" Calysta menoleh ke arah Calysta.
"Elo ngerasa enggak ada yang aneh"
"Aneh gimana?"
"Banyak orang,..yang perhatiin elo"
"Lebay"
"Serius"
"Buktinya,..si Haikal terus sama satu lagi yang datang tak diduga tau tau pergi gitu aja" Syahira langsung terdiam. Sekilas wajah dingin itu terlintas lagi. Dengan tatapannya yang menatap tajam.dirinya, dan anehnya lagi mengucap kalimat yang membuatnya bingung., "Maksudnya apa?"
"Sya, btw gue duluan ya"
"Lah kok tinggalin gue lagi"
Sorry dijemput ayang soalnya hehe"
"Yasudahlah hati hati" Syahira mengangguk seraya melambaikan tangannya saat Calysta menaiki motor bebek dan langsung berjalan menjauh.
Ia kembali melangkah santai tanpa beban, langkahnya melambat, kemudian merogoh kantong sakunya untuk mengambil ponselnya. Belum ada pesan dari orang rumah. Ia menarik nafas lega.
"Pulang sendiri lagi"
"Naik!" tegas orang itu tanpa memberi pilihan, tanpa meminta jawaban.
"Hah" sahut Syahira singkat dengan ekspresi terkejutnya.
"Enggak,..makasih" tolak Syahira berusaha ramah sambil menahan napasnya.
"Udah sore, gue anter" ucap pria itu lagi namun dengan penekanan.
"Enggak usah, makasih ya" tolak Syahira lagi.
"Elo enggak denger apa kata gue tadi ya?" kesal orang itu dengan kedua netra yang mengintimidasi begitu dingin dan tegasnya.
"Denger" sahut Syahira singkat
"Terus?"
"Ya,..gue bisa jaga diri"
"Lagi elo siapa!, gue kenal aja enggak sama elo!" tegas Syahira yang sudah tidak tahan alias tidak suka dengan menyuruhnya seenaknya.
Ya itu Kaizan Altaz yang seperti biasa muncul tak terduga, dengan sebuah motor sporty mewah miliknya, ia tidak terlalu suka basa basi langsung to the point pada orang yang dikenalnya, dengan jarak yang tidak terlalu dekat tapi cukup untuk Syahira menoleh ke arahnya. Helmnya padahal masih terpasang tapi aura dinginnya saja sudah membuat Syahira merinding di buatnya.
Disisi lain kota, dengan cuacaya yang sudah mulai menghitam, lampu jalan yang menyala terang satu persatu secara bergantian, Kaizan turun dengan melepas helm namun tatapannya kosong tapi pikirannya tidak sekosong itu
\#**Flashback On**\#
Suara mesin dan sorakan menyebut satu nama, yaitu sang Ratu sirkuit yang terus menggema memantul riuh hanya menyebut namanya.
"Feryal,..Feryal!"
Kecepatannya, kelincahannya dalam menyalip sang lawan, dan perhitungan yang pas dalam menerobos lawannya saat mereka bertanding saat ia menantangnya, dan bagaiman saat ia memenangkannya, semua masih terlintas dalam ingatannya.
Flashback lagi,..
Degan langkah diamnya dari kejauhan ia mengikuti, setiap langkah yang terus berjalan, tanpa suara. Feryal dan Josef masuk ketempat penukaran uang. Dan keluar dengan membawa amplop.
"Yayasan tuna daksa" Langkah Kaizan langsung terhenti, matanya menyipit tak percaya.
"Serius,..dia?" sampai dia melihat sendiri amplop itu diserahkan tanpa ragu dan beban dan tanpa banyak bicara hanya senyuman manis yang terbit dari wajah datarnya itu. Yang baru pertama kali ia lihat selama ia mengenalnya dalam diam tak sampai disitu kembali ia mengikutinya lagi dan lagi. Dan semua ia lihat dengan dua netranya dengan jelas.
flashback off.
Kembali ke sekarang, Kaizan berdiri diam, dengan rahangnya yang mengeras. "Cewek kayak gitu elo sia siain" tangannya mengepal bukan karena marah tapi ia merasa tidak terima jika Feryal diperlakukan yang tidak seharusnya ia dapatkan.
Syahira melangkah masuk ke gerbang rumahnya, dan sedikit berlari saat melihat pintu rumahnya dan menoleh ke area parkir sudah bertengger motor kakaknya. Tak sabar iapun masuk untuk sekedar mengadu atas apa yang dialaminya barusan.
"Assalamualaikum"
"Walaikum salam" ucap salam balik Feryal yang masih belum terlalu lancar mengikuti keyakinan adik dan ayahnya itu.
"Baru pulang Sya?" tanya Feryal. Syahira Salim ke Feryal dan Feryal menerima juluran tangan adiknya dan mengusap kepalanya lembut.
"Iya, kak"
"Hmm,.. kak,.."
"Kenapa?"
"Lancar kuliah hari ini?"
"Iya kak lancar, hafalan juga Alhamdulillah"
"Tapi,..kak,.."
"Apa,..tapi kenapa?"
"Ada orang aneh di kampus tadi,"
"Aneh gimana Sya?"
"Iya dia tiba tiba aja nyapa aku, mana mukanya nyeremin lagi"
"Dia bilang apa sampai kamu ketakutan gitu?"
"Iya dia bilang katanya elo jangan percaya sama orang dan jaga diri elo katanya gitu, sia dia kan kak, kenal aja Syara enggak sama orang itu"
"Kamu kenal dia siapa"
"Enggak kak, tapi kata temen Syara sih dia Mantan ketua BEM di kampus,..namanya,..hmm,..Izan Altaz deh kalo enggak salah,..Izhan atau Rehan ya pokoknya ada altaznya gitu"
Deg.
"Jauhin"
"Kenapa kak, kakak kenal dia?"
"Enggak, intinya jauhin"
Ditempat lain, Fahrizal duduk seperti biasa di tempat kerjanya, namun tatapannya berbeda tidak seperti biasanya, seolah ada yang ia pikirkan tapi ia memilih diam. Dan fokus pada pekerjaannya.
Sementara Bilal berdiri di depan gerbang rumah itu, hanya diam tanpa masuk, masih menggenggam setir motornya, ia menatap ragu. Hanya menghela nafas. Matanya masih menatap.pintu yang pernah ia masuki sebagai suami, yang sekarang terasa semakin jauh.
Didalam Feryal meraih ponselnya lagi yang ia letakkan dimeja, nama itu muncul, Bilal. Namun ia tidak menjawabnya layarnya kembali dimatikan.
Diluar Bilal mematikan ponselnya, ia menarik nafas panjang, menutup matanya sejenak dan akhirnya memilih pergi.
Didalam kamar Syahira membuka Al-Qur'an nya lagi seraya membacanya setelah ia melakukan sholat ashar.
"Amma yatasaa aluun" surah an naba sudah ia selesaikan dengan baik lanjut dengan surah selanjutnya "Wannaziyati Gorqhon,..wannaasyithooti nasython,..wassabihaati sabhan,..falmudabbirooti amron,..yauma tarjuu fuurojifah,"dan selanjutnya terus tanpa henti ia selesaikan sampai akhir.
"Shodaqollohul adziim"
"Alhamdulillah akhirnya bisa juga"