Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
.
Sinar matahari pagi sudah mulai menerobos celah tirai jendela, menerangi ruang makan yang luas dengan cahaya hangat. Di meja makan, Putri baru saja membersihkan mulutnya menggunakan tisu setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam, begitupun Dirga dan Amanda.
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat, membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. “Maaf, Tuan. Ada Tuan Muda Ega di halaman depan. Beliau mengatakan ingin menjemput Nona Muda.”
Dirga langsung menoleh ke arah Putri dengan kening berkerut, ekspresi wajahnya penuh dengan rasa penasaran. “Kamu ada janji dengan Ega?” tanyanya.
Putri menatap ayahnya dan mengangguk. “Tadi malam, Kak Ega menelpon, Yah,” jelasnya. “Dia mengajak Putri mengunjungi makam Om Agung.”
Dirga mengamati wajah putrinya yang tampak tenang. “Baiklah. Ayah titip doa untuk Om Agung, ya.”
“Baik, Ayah,” jawab Putri segera berdiri dari kursinya, namun sebelum langkahnya makin jauh, ia berbalik lagi menghadap ayahnya. “Ayah,” panggilnya, “tolong antar Bu Manda pulang ya?”
"Ayah?" Dirga menunjuk hidungnya sendiri. "Kenapa harus Ayah?" Ekspresi wajahnya sedikit berubah menjadi kesal. Amanda tidak hanya telah mengambil alih perhatian Putri seperti yang terjadi tadi malam, kini bahkan menambah pekerjaannya dengan menyuruhnya mengantar pulang.
Amanda yang baru saja menghabiskan air putih di gelasnya menolak. “Tidak usah, Putri,” ucapnya. “Ibu bisa pulang sendiri kok. Ibu berterima kasih karena sudah menumpang semalam. Ibu tidak ingin merepotkan.”
Namun, Putri bersikeras. Gadis itu kembali mendekat ke sisi ayahnya, menatap ayahnya tak ingin dibantah. “Tidak boleh!” tegasnya tidak mau ditolak. “Pokoknya Bu Manda akan diantar sama Ayah! Putri khawatir, orang yang mengincar Bu Manda semalam akan menunggu Ibu di sana. Ibu akan aman jika pulang sama Ayah. Ayah akan mengantar Bu Manda, kan?"
Dirga hanya bisa menghela napas menyadari tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan putrinya, meskipun sebenarnya ia sangat enggan.
“Iya, iya,” ucap Dirga pasrah. “Ayah akan mengantarnya pulang setelah kamu pergi bersama Ega. Sana bersiaplah, jangan biarkan ega menunggu lama!”
Putri tersenyum bahagia, bahkan memberikan pelukan pada ayahnya sebelum bergegas menuju kamar untuk mengambil tas.
Dirga menatap arah tikungan tangga di mana Putri menghilang, lalu melirik Amanda dengan tatapan dingin.
Amanda mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sebenarnya ia juga enggan diantar oleh Dirga mengingat mulut pria itu yang begitu pedas.
*
“Saya izin mengajak Putri ya Om. Nanti saya akan mengantarkan Putri kembali,” pamit Ega.
“Hati-hati di jalan ya, dan jangan sampai sore,” pesan Dirga. Pria itu hafal, kalau sudah bersama dengan Mila putrinya kadang sampai lupa waktu.
“Iya, Om,” jawab Ega lalu menatap wanita yang berdiri di samping Dirga. “Emmm..? Beliau ini adalah…?”
“Kak Ega lupa, dengan Bu Manda?” Tanya Putri.
“Bu Manda?” Cicit Ega, mengerutkan keningnya untuk mengingat-ingat.
“Oh, ya Allah. Apa kabar, Bu?” Ega terbelalak saat berhasil mengingat. Pemuda itu bergegas mendekati Amanda lalu meraih dan mencium punggung tangan wanita itu.
“Ini Tuan Muda Ega?” tanya Amanda yang tampaknya juga lupa lupa ingat.
“Ega saja, Bu.” Ega merasa tidak enak hati dipanggil dengan sebutan tuan muda oleh wanita yang pernah menjadi gurunya sewaktu di SMA.
Amanda mengangguk dan tersenyum. “Perasaan kemarin Ega gak setinggi ini? Sekarang sudah dewasa dan makin tampan aja,” kelakar Amanda.
Mata Dirga seketika memicing mendengar ucapan Amanda. “Dasar perawan tua. Lihat yang bening dikit langsung ijo,” ejeknya dalam hati. Rasa kesalnya semakin bertambah karena sepertinya Ega juga sangan menghormati Amanda.
“Ibu bisa aja,” jawab Ega menggaruk tengkuknya. Dipuji di depan Putri membuatnya salah tingkah.
“Kalau begitu Putri berangkat sekarang ya, Yah,” pamit Putri sambil mencium punggung tangan ayahnya. "Dan pastikan Bu Manda sampai rumah dengan selamat!" pesannya lalu beralih berpamitan pada Amanda, diikuti oleh Ega.
Sementara itu di dalam mobil, Mila bisa melihat dari celah pagar, adanya seorang wanita yang bersama dengan Dirga. Ada yang berdenyut nyeri dalam dada. Tetapi wanita itu segera menepisnya.
“Akhirnya kamu bertemu dengan orang yang akan mendampingi hidupmu, Mas,” ucapnya mengira bahwa wanita yang sedang berada di dalam sana, adalah wanita yang sedang dekat dengan Dirga.
Senyum tipis tersemat di bibir Jameela. Baginya itu lebih baik. Kisah mereka telah usai. Kebahagiaan anak-anak mereka adalah yang utama.
*
Sepeninggal putrinya, mau tak mau Dirga pergi untuk mengantarkan Amanda pulang.
“Apa tidak bisa kau tidak membuat aku repot sekali saja. Entah dosa apa hingga aku harus selalu berurusan denganmu.” Dirga menggerutu sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Hehh, Duda gila!! Kamu pikir aku begitu senang diantar olehmu? Jangan ge-er! Kalau bukan karena putrimu yang minta, aku juga tidak sudi satu mobil denganmu.”
Amanda menatap Dirga dengan mata berkilat merah. Benar-benar kesal. Entah apa sebenarnya masalah pria di sebelahnya itu. Kenapa senang sekali mencari gara-gara dengan dirinya.
“Kau panggil aku apa? Ulangi sekali lagi kalau berani!” Dirga merasa geram dengan panggilan yang tersemat untuknya.
“Duda gila. Du-da gi-la. Kurang jelas? Apa aku perlu pinjam toa masjid?” Bu Manda, tersenyum mengejek melihat pria di sampingnya mengetatkan rahang.
“Kenapa? Marah? Marah saja. Kau juga suka mengataiku perawan tua. Jadi, Lo, gue... Impas!”
Wajah Dirga memerah. Benar, semua berawal dari dirinya. Apa dia harus minta maaf? Oh, no..! Itu akan membuat si kungfu panda besar kepala.
Amanda kembali memperbaiki posisi duduknya, lalu bersedekap dengan pandangan menatap lurus ke arah jalanan di depannya. “Anaknya cantik, manis, imut, sopan, baik. Sayang bapaknya julid.”
Ckiiittt…
Dirga menghentikan mobilnya secara mendadak. Manda memang hanya bergumam seorang diri, tetapi suaranya cukup keras, hingga tetap bisa didengar oleh Dirga. Dan itu membuat telinga pria itu serasa terbakar api.
“Kamu gila ya..?” Teriak Amanda. Wanita itu meraba keningnya yang mungkin benjol akibat terantuk dashboard.
“Keluar dari mobil sekarang!” Seru Dirga tanpa menoleh ke arah Amanda. Tangannya mencengkeram setir dengan erat.
“What..?” Amanda terbelalak mendengar perintah Dirga. “Ini jalur yang tidak dilewati transportasi komersil, dan kamu menurunkan aku di sini?”
“Aku bilang, keluar..!!” Seru Dirga lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Manda tersenyum miring. “Oke. Siapa takut? Aku bukan anak kecil yang tidak bisa mencari jalan pulang!” Manda mengambil tas yang ada di atas pangkuannya, membuka pintu dan segera turun.
Brakk!
Pintu mobil dibanting dengan kencang. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dirga, wanita itu segera naik ke trotoar, dan melenggang membawa rasa kesalnya.
“Dia satu-satunya pria yang tanpa hati menurunkan wanita di pinggir jalan.” Gerutunya.
Dirga masih belum bergerak, matanya menatap punggung wanita itu yang kian menjauh. Pria itu mencoba mengatur emosinya, meraup wajahnya kasar. Dia sendiri juga tidak tahu, kenapa setiap kali bersama Amanda, dia selalu saja ingin berdebat. Sikap Amanda yang selalu membantah dan menjawab kata-katanya membuat egonya terluka. Dia terbiasa tidak ada yang berani melawannya.
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.