Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Identitas Terungkap
"Firda mengalami gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) akibat kehilangan orang-orang yang dicintainya. Dia memiliki kecemasan yang sangat tinggi akan kehilangan lagi, terutama terhadap bayi Anda yang sekarang dia rawat."
"Apakah kondisi ini bisa diatasi?" tanya Arman dengan kening mengkerut, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Baginya, Firda sudah seperti permata yang harus dia jaga dengan baik, karena wanita itu adalah sumber kehidupan bagi putrinya. Tanpa Firda, entah apa yang terjadi kepada Akira.
"Ya, PTSD bisa diatasi dengan terapi yang tepat. Saya akan bekerja sama dengan pasien untuk mengatasi traumanya dan mengembangkan strategi coping yang lebih sehat, dan mengenai bayi Anda, dia perlu belajar untuk tidak memproyeksikan kecemasannya kepada anak itu. Saya akan membantu Firda untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengannya."
"Baik, Bu Rina. Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu Firda cepat sembuh?" tanya Arman.
"Dukung dia, namun jangan terlalu melindungi. Biarkan dia menghadapi dan mengatasi kecemasannya dengan bantuan saya. Dan jika memungkinkan, cobalah untuk lebih terlibat dalam perawatan bayi Anda bersama karena yang dia butuhkan adalah perasaan tenang dan aman." Arman mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian sesi terapi pun dimulai. Firda duduk bersandar di sofa, tampak sedikit tegang. Bu Rina, sang psikolog klinis duduk di depannya dengan ekspresi yang ramah.
"Firda, saya tahu ini tidak mudah, tapi saya ingin kamu tahu bahwa kamu aman di sini. Apa yang kamu rasakan saat ini?"
Firda mengambil napas dalam-dalam. "Saya ... saya selalu merasa takut. Takut kalau-kalau bayi itu ... juga pergi meninggalkan saya."
"Kamu merasa takut kehilangan bayi itu. Bisakah kamu ceritakan lebih banyak tentang perasaan tersebut?"
Firda mulai menangis. "Saya sudah kehilangan ayah dan ibu saat masih remaja. 5 Bulan lalu suami saya meninggal, dan seminggu lebih yang lalu bayi saya juga meninggal tidak lama setelah saya melahirkan. Sepertinya saya terlahir di dunia sebagai manusia pembawa s**l. Semua orang yang saya cintai dan kasihi satu per satu pergi meninggalkan saya. Saya tidak mau hal yang sama juga terjadi pada Baby Akira. Saya tidak bisa, dan saya tidak sanggup jika harus kehilangan lagi." Tangisan Firda semakin keras di akhir kalimatnya.
"Firda, kamu sudah melalui banyak hal yang berat. Tapi, bayi itu ada di sini, dan dia sehat. Kamu bisa melihatnya, menyentuhnya, merawatnya. Kamu tidak sendirian."
Firda menangis lebih keras lagi. "Tapi saya takut ... saya takut tidak bisa melindunginya. Saya takut saya tidak becus menjaganya," ucapnya dengan suara terputus-putus karena menangis sesenggukan.
"Firda, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu kuat, dan kamu bisa melalui ini. Saya ingin kamu mencoba teknik relaksasi bersama saya. Mau?" tanya Bu Rina setelah membiarkan Firda menangis hingga wanita muda itu lebih tenang setelah mengakui perasaannya.
Firda mengangguk lemah. Menyeka air matanya yang sudah tidak sederas tadi. "Ya, saya mau."
"Baik, tutup mata kamu, dan tarik napas dalam-dalam ..."
Firda mulai mengikuti instruksi Bu Rina, dan perlahan-lahan, napasnya mulai tenang.
...****************...
Malam itu, Arman duduk di seberang Firda di atas kasur lantai yang digelar di ruang keluarga. Baby Akira terlelap di atasnya, tepat di tengah-tengah dengan dua bantal guling kecil yang mengapit di sisi kiri dan kanannya. Keduanya memandang bayi yang sedang tidur dengan tenang itu setelah menyusu dan terjaga hingga tengah malam. Firda tampak lebih santai, ekspresinya lebih tenang daripada sebelumnya setelah melewati sesi terapi perdananya.
"Kalau kamu lelah dan mengantuk, tidur saja. Aku akan tidur di sini juga menemanimu menjaga Akira," kata Arman. Itulah tujuan mengapa Akira kini dibawa tidur di ruang keluarga, bukan di dalam kamar karena pasti kedua manusia dewasa itu canggung tidur bersama di dalam ruang sempit yang tertutup. Meski tak tidur di atas tempat tidur yang sama tetapi tetap saja rasanya aneh. Apalagi mereka berdua adalah janda dan duda.
"Apa tidak apa-apa, Tuan? Ini 'kan pekerjaan saya." Firda merasa tidak enak.
"Tidak ada salahnya seorang ayah begadang menjaga anaknya, 'kan?" Arman tersenyum. "Kamu tidurlah di sofa bed, biar aku tidur di kasur lantai ini bersama Akira. Akhir-akhir ini kamu kurang tidur, kamu butuh beristirahat agar tubuhmu bisa kembali fit."
Firda pun menurut, karena sekarang rasa kantuknya memang sudah tak tertahankan. Malam itu pertama kalinya Firda bisa tertidur dengan durasi yang lebih lama, meski dia masih sering tiba-tiba terbangun untuk memastikan apakah Akira masih bernapas.
"Tidak usah khawatir. Kamu tidur saja, ada aku yang menggantikanmu menjaganya," kata Arman dengan ekspresi menenangkan. Pria itu terus terjaga sambil berkutat dengan laptopnya, tidak jauh dari kasur tempat putrinya terlelap.
Keberadaan Arman sebenarnya cukup berpengaruh baik bagi psikologis Firda. Wanita itu sedikit tenang setelah menanamkan keyakinan di alam bawah sadarnya bahwa mulai sekarang dia tidak sendirian lagi menjaga Baby Akira, membuat durasi tidurnya lebih panjang lagi dari sebelumnya. Dia hanya terbangun saat bayi itu menangis minta ASI, kemudian melanjutkan tidur setelah selesai. Urusan mengganti popok dan menggendong bayi untuk menidurkannya kembali setelah menyusu diambil alih oleh Arman. Malam itu Arman ingin Firda fokus beristirahat dan dia akan menjaga Akira hingga pagi sambil menyelesaikan pekerjaan kantornya.
...****************...
Selama 1 bulan belakangan Arman jarang masuk ke kantor karena membantu Firda menjaga dan merawat Baby Akira. Dia hanya pergi ke perusahaan jika ada rapat atau pertemuan penting yang mengharuskan dia sendiri yang hadir tanpa boleh diwakili. Sisanya, Arman serahkan semuanya kepada asisten sekaligus sekretaris kepercayaannya, Pras Aditya.
"Bos, sadar tidak? Kalian berdua sudah seperti suami istri yang bekerja sama merawat anak," kata Pras saat membawakan map penting yang harus ditandatangani Arman siang itu.
Arman tak menanggapi ucapan Pras, justru malah melontarkan pertanyaan lain setelah menerima berkas yang dibawa pria berkaca mata itu. "Untuk informasi yang aku suruh cari, apakah sudah ada perkembangan? Ini sudah berlalu hampir sebulan, kenapa intelijen swasta dari lembaga yang katamu terpercaya susah sekali menemukan informasi? Apa sesulit itu menemukan informasi mengenai dia?"
"Ah, hampir saja saya lupa." Pras mengambil kembali map di tangan Arman. Dia menarik map yang warnanya beda sendiri di antara tumpukan map lain. "Sudah ada hasil, Bos. Semua informasinya ada di sini. Saya yakin, Anda pasti akan sangat terkejut setelah tahu siapa sebenarnya nona Firda."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" Kening Arman berkerut. Rasa penasaran membuat tangannya bergerak tak sabar membuka isi map dan mulai membaca isinya. Seiring Arman membaca isi map, matanya semakin terbuka lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. "Tidak mungkin ..." ucapnya lirih. Tangannya mendadak tremor. Matanya menatap lurus ke arah di mana kini Firda sedang duduk menyusui Baby Akira dengan posisi duduk membelakangi mereka.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..