Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI TERIMA BEKERJA
Pagi itu, ponsel Olivia bergetar di atas meja kecil di apartemennya. Dengan cepat, dia meraihnya dan melihat nomor tak dikenal yang menelepon.
“Halo?” Olivia menjawab dengan hati-hati.
“Selamat pagi. Apakah ini Olivia Carter?”
“Ya, saya sendiri.”
“Saya asisten Ny. Charlotte Hayes. Saya menelepon untuk memberi tahu bahwa Anda diterima sebagai perawat percobaan untuk Tuan Nathan Hayes.”
Olivia tertegun sejenak. “Saya... diterima?”
“Benar. Anda diharapkan datang ke lokasi besok pagi pukul delapan untuk memulai pekerjaan. Detail lebih lanjut akan diberikan saat Anda tiba.”
Jantung Olivia berdetak lebih cepat. Ini adalah kesempatan besar baginya, tapi juga pekerjaan yang terdengar sangat menantang.
“Baik, saya akan datang,” jawabnya mantap.
“Bagus. Sampai jumpa besok.”
Telepon terputus, dan Olivia menatap ponselnya dengan campuran perasaan. Dia merasa lega karena akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tinggi, tapi juga ada rasa khawatir.
Nathan Hayes bukan pria biasa. Dia adalah legenda di dunia kuliner, seorang chef jenius yang kini berubah menjadi pria penuh kemarahan dan keputusasaan.
Bisakah dia bertahan?
Olivia menghela napas panjang. “Aku harus mencobanya.”
Besok, hidupnya akan berubah.
Malam Sebelum Olivia mulai bekerja Charlotte duduk di ruang kerja bersama Erick, menyeruput teh hangat. Setelah seharian penuh wawancara dan diskusi, mereka akhirnya memutuskan memilih Olivia.
Erick menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kau yakin dengan Olivia, Ny. Hayes?"
Charlotte menatapnya sejenak. "Tidak sepenuhnya. Tapi dia punya sesuatu yang berbeda. Dia mahasiswa psikologi, mungkin itu bisa sedikit membantu memahami Nathan."
Erick menghela napas. "Aku harap begitu. Sejauh ini, tidak ada satu pun yang bertahan. Dan aku tidak mau berharap terlalu tinggi."
Charlotte tersenyum tipis. "Aku juga. Tapi kita harus mencoba."
Mereka berdua terdiam, memikirkan hal yang sama apakah Olivia akan bertahan lebih lama dari perawat-perawat sebelumnya, atau dia akan menyerah seperti yang lain?
Di Apartemen Olivia
Olivia menatap tasnya yang sudah dikemas. Rasanya aneh mengetahui besok dia akan bekerja sebagai perawat seorang publik figur yang terkenal, tapi juga terkenal temperamental.
Dia mengambil ponselnya dan membuka kembali email konfirmasi dari asisten Charlotte.
"Gaji fantastis, tapi risikonya juga tinggi," gumamnya pelan.
Dia menarik napas panjang. Apa pun yang terjadi besok, dia harus kuat. Dia tidak boleh menyerah begitu saja.
___
Mobil yang membawa Olivia berhenti di depan rumah besar di tengah kawasan yang sunyi dan asri. Udara di tempat itu terasa lebih sejuk dibanding kota. Suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk New York, tetapi bagi Olivia, ketenangan ini justru terasa sedikit menekan.
Ia turun dari mobil, menggenggam erat tali ranselnya. Pintu besar rumah itu terbuka, dan seorang pria yang dikenalnya sebagai Erick sudah menunggunya.
"Olivia Carter?" Erick menatapnya tajam.
Olivia mengangguk. "Ya."
"Ny. Hayes menunggumu di dalam. Mari."
Ia mengikuti Erick melewati lorong luas dengan interior klasik. Suara langkah kaki mereka menggema di lantai marmer, menciptakan kesan sepi yang membuat jantung Olivia berdegup lebih cepat.
Di ruang tamu, Charlotte Hayes duduk anggun di sofa dengan secangkir teh di tangannya. Wanita itu tersenyum lembut saat melihat Olivia.
Olivia Carter
"Selamat datang, Olivia. Semoga kau bisa bertahan lebih lama dibanding pendahulumu," katanya dengan nada hangat tapi penuh arti.
Olivia tersenyum tipis. "Saya akan melakukan yang terbaik, Bu."
Charlotte menatapnya sejenak sebelum mengangguk. "Bagus. Erick akan membawamu menemui Nathan. Dari sana, kau bisa menilai sendiri apakah kau siap atau tidak."
Jantung Olivia berdetak cepat. Ini adalah momen yang paling ia khawatirkan bertemu langsung dengan Nathan Hayes.
Erick membawanya ke sebuah pintu di ujung lorong. Sebelum mengetuk, dia menoleh ke Olivia.
"Apapun yang terjadi, jangan menunjukkan kelemahan."
Olivia mengangguk, meski tangannya mulai dingin.
Erick membuka pintu.
Ruangan itu gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari jendela yang tirainya setengah tertutup. Bau obat dan alkohol samar-samar tercium.
Di dalam, duduk seorang pria di kursi roda, punggungnya menghadap mereka.
"Nathan," Erick memanggil.
Tidak ada jawaban.
"Nathan," panggilnya lagi, lebih tegas.
Pria itu akhirnya bergerak, memutar kursi rodanya dengan malas. Olivia menahan napas.
Nathan Hayes...
Bahkan dalam kondisi seperti ini, pria itu tetap tampan dengan rahang tegas dan mata tajam berwarna biru gelap. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sorot mata itu penuh kemarahan dan kehancuran.
Nathan menatap Olivia dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mendengus.
"Ini apa lagi? Perawat baru?" katanya dengan nada mengejek.
Olivia berdiri tegak. "Ya."
Nathan menyeringai miring. "Berapa lama kau pikir bisa bertahan? Sehari? Dua hari? Atau mungkin beberapa jam?"
Olivia menatapnya tanpa gentar. "Tergantung seberapa buruk perlakuan Anda."
Erick menatapnya dengan ekspresi terkejut, sementara Nathan justru menaikkan alisnya.
"Oh? Kau punya nyali," gumamnya, suaranya rendah dan berbahaya.
Olivia tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menunggu langkah Nathan selanjutnya.
Nathan mendengus sinis, lalu dengan sengaja menepis gelas yang ada di meja kecil di sampingnya. Gelas itu jatuh dan pecah di lantai.
"Bersihkan," perintahnya dingin.
Erick membuka mulut, hendak menyela, tapi Olivia sudah lebih dulu bergerak. Dengan tenang, ia berlutut dan mulai mengambil pecahan kaca dengan hati-hati.
Nathan mengerutkan kening.
Perawat sebelumnya akan langsung menangis atau lari. Tapi wanita ini? Ia melakukannya tanpa banyak bicara.
Saat Olivia berdiri, Nathan menatapnya tajam. "Kau pikir kau bisa menangani aku?"
Olivia menatap balik, suaranya tetap tenang. "Saya pikir saya bisa mencoba."
Ruangan itu sunyi.
Hari itu Olivia tidak melakukan pekerjaannya. Ia hanya diminta untuk bertemu Nathan dan berkeliling sekitar hunian itu tujuannya agar Olivia tahu kemana tempat-tempat yang akan dia kunjungi.
Setelah pertemuan pertama yang penuh ketegangan, Olivia diberi waktu untuk beristirahat di kamarnya. Kamar itu sederhana, tetapi nyaman, dengan jendela besar yang menghadap ke halaman hijau. Seharusnya pemandangan itu bisa membuatnya merasa tenang, tapi pikirannya masih dipenuhi bayangan Nathan Hayes.
Dia harus sudah siap menghadapi pasien yang sulit, tapi pria itu jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Tatapan mata Nathan seperti pisau tajam, menusuk dan penuh kebencian. Olivia sadar, hari-hari ke depannya tidak akan mudah.
Keesokan paginya, Olivia bangun lebih awal. Dia mengenakan seragam perawatnya, menata rambutnya rapi, lalu melangkah keluar. Erick sudah menunggunya di dapur.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Erick sambil menyeruput kopi.
"Cukup baik," jawab Olivia.
Erick menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Kau lebih tenang daripada yang kuduga. Biasanya, perawat baru sudah mulai menunjukkan keraguan setelah pertemuan pertama dengan Nathan."
Olivia mengangkat bahu. "Aku butuh pekerjaan ini."
Erick tersenyum samar. "Kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan."
Setelah menyiapkan nampan berisi sarapan, Olivia membawa makanan itu ke kamar Nathan. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.
"Nathan, ini sarapan Anda," katanya, meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur pria itu.
Nathan tidak langsung bereaksi. Ia duduk di kursi rodanya, menatap kosong ke arah jendela. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menoleh.
"Kau pikir aku butuh belas kasihan?" tanyanya dingin.
Olivia menghela napas. "Ini bukan belas kasihan. Anda harus makan."
Nathan menyeringai miring. "Kau pikir aku tak bisa makan sendiri?"
Tangan Nathan bergerak cepat, menepis nampan sarapan itu hingga isinya tumpah ke lantai. Piring pecah, telur dan roti berserakan, sementara gelas susu terguling dan mengotori karpet.
Olivia menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.
Ia menghela napas perlahan, lalu berjongkok untuk membersihkan kekacauan itu.
Nathan memperhatikannya dengan ekspresi tak terbaca. "Kau tidak marah?"
Olivia tetap fokus pada pekerjaannya. "Saya terbiasa menghadapi orang yang sulit," katanya tenang.
Nathan mendecak. "Kau pikir aku hanya ‘orang yang sulit’?"
Olivia berdiri, menatapnya tanpa takut. "Saya pikir Anda adalah seseorang yang sedang terluka, dan ini adalah cara Anda melampiaskannya."
Keheningan memenuhi ruangan.
Tatapan Nathan berubah. Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit terkejut.
Namun, detik berikutnya, senyum sinis kembali muncul di wajahnya. "Kalau begitu, bersiaplah, perawat. Karena aku tidak akan membuat pekerjaanmu mudah."
Olivia mengangkat bahu. "Saya tidak mengharapkan yang mudah, Tuan Hayes."
Nathan terdiam, lalu akhirnya memutar kursi rodanya dan kembali menatap jendela.
Hari pertama baru saja dimulai, tapi Olivia tahu satu hal, ini bukan hanya tentang pekerjaan. Ini tentang membuktikan bahwa ia tidak akan menyerah semudah yang Nathan harapkan.
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??