Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Ambar - Seni.
...~•Happy Reading•~...
Ambar bersyukur bisa mendapat tempat duduk di kereta commuterline. Hal itu bisa membuat dia istirahat sejenak, setelah berdiri melayani sepanjang pagi sampai sore di restoran.
Ambar jadi memikirkan hidup rumah tangganya dengan Rulof selama ini. 'Mungkinkah semua yang kualami saat ini, akibat pembiaranku selama ini?' Ambar bertanya dalam hatinya.
~*
Dia menikah di usia yang hampir 20 tahun, di tahun ke 3 masa kuliahnya. Sehinga belum terlalu mengerti cara hidup bersama dengan orang lain. Dia menerima dan menurut saja yang dikatakan suaminya.
'Ambar, aku bisa sampai bisa kuliah dan bekerja seperti sekarang, karena perjuangan kakakku Inge dan orang tuaku. Jadi sekarang, giliranku harus melihat dan membantu keluargaku.' Itu yang dikatakan Rulof, saat mereka sudah menikah.
Ambar menerima dan membiarkan Rulof membantu keluarganya. Bahkan ketika kakaknya datang tinggal di rumah, Ambar menerima.
Semua kebutuhan rumah tangga diurus oleh Rulof. Keuangan dipegang dan diatur oleh Rulof. Ambar menerima saja, karena semua kebutuhan hidupnya dan Juha tercukupi.
Tapi setelah hampir 2 tahun terakhir, Ambar mulai merasa ada yang salah. Ketika dia membutuhkan uang untuk keperluan Juha yang tiba-tiba dan tidak punya uang.
Awalnya Ambar katakan itu kepada Rulof, dan dia mulai diberikan uang untuk kebutuhan yang mendesak. Walaupun tidak banyak, tetapi ada. Ambar menyimpannya dengan baik untuk kebutuhan yang mendesak. Sehingga dia tidak terlalu panik ketika Juha membutuhkan sesuatu yang tidak disediakan Rulof di rumah.
Selama Inge tinggal di rumah bersama mereka, dia yang mengatur semua keperluan rumah tangga. Kadang Rulof pergi belanja setiap bulan dengannya. Menurut mereka, Ambar cukup mengurus dan memperhatikan Juha saja di rumah.
Ambar menerima tanpa protes, walau kadang hatinya berontak. Karena dia adalah seorang istri, bukan hanya seorang Ibu.
Tetapi setelah Inge menikah dan tinggal bersama suaminya, mulai terjadi perubahan dan kekacauan. Inge sering datang mengambil yang dia perlukan keluarganya di rumah. Rulof mengijinkan dan dia akan beli lagi untuk menggantikan yang dibawa kakaknya.
Ambar pernah mengatakan kepada Rulof. 'Kenapa tidak diberikan uang saja, biar kak Inge beli sendiri kebutuhannya. Supaya yang di rumah tidak usah diotak-atik lagi.' Tetapi Rulof mengatakan: 'Mungkin uang yang diberikan kurang, jadi biarkan saja kalau kakaknya datang mengambil sesuatu dari rumah.'
Ambar pertamanya terkejut mendengar Rulof sudah berikan uang untuk kakaknya. Tapi dia hanya bisa diam dan menerima, karena dia tidak mau ribut untuk hal-hal yang seperti itu. Toh, semua kebutuhan di rumah tercukupi.
Ambar mengingat lagi, selama lebih dari dua tahun tinggal bersama dengan mereka, Inge tidak pernah memasak. Dia hanya pergi keluar dan pulang sebelum Rulof pulang dari kantor.
Jadi ketika dia menikah, Ambar merasa sangat bersyukur. Dia merasa terlepas dari pengawasan seekor pelanduk. Ternyata itu hanya beberapa saat kelegaan itu. Karena kemudian terjadi seperti peristiwa kemaren. Hal itu membuat Ambar tidak bisa berdiam diri lagi, karena bukan saja menyangkut dirinya. Tetapi menyangkut kehidupan putranya.
~*
Ambar tersentak, ketika mendengar pengumuman, sebentar lagi kereta akan sampai di stasiun tujuannya. Dia segera berdiri dan siap-siap untuk turun dari kereta, Dia kembali memesan ojol untuk pulang ke rumah, karena tidak kuat berjalan ke rumah dia merindukan putranya.
Setelah tiba di rumah, dia disambut oleh Juha yang sedang bermain bersama Seni di ruang tamu. "Mamaaa... Juha kangen sekali sama Mama." Juha berteriak riang sambil berlari memeluk, tapi Ambar menahannya.
"Mama juga, sayang. Jangan peluk Mama dulu. Mama mau bersih-bersih dan ganti baju. Mama kotor dari luar, nanti kuman yang menempel di baju Mama pindah ke badan Juha. Sebentar, yaa." Ambar segera masuk kamarnya untuk membersihkan badan.
Ketika masuk kamar, Ambar terkejut melihat kamarnya berantakan. "Seni... Tolong bantu bersihkan dan rapikan kamar ini, ya." Ambar memanggil Seni untuk membantunya.
Selama ini dia sendiri yang membersihkan kamarnya, tapi sekarang sudah sangat lelah, jadi minta tolong Seni yang membersihkan dan merapikan.
Ambar segera masuk kamar mandi untuk mandi sebelum Rulof pulang kerja. Ambar tidak ingin bertemu dengannya di kamar mereka. Oleh sebab itu, dia mengganti baju dan mengambil beberapa potong baju untuk berangkat kerja. Semua perlengkapan wanita, dia pindahkan ke kamar Juha.
Juha senang sekali, mengetahui Mamanya akan tidur bersamanya. "Seni, ada makanan yang bisa kita makan malam ini?" Tanya Ambar saat mereka keluar dari kamar.
"Ada Bu., kalau mau makan sekarang, saya akan hangatkan." Jawab Seni, cepat.
"Sedikit lagi, Seni. Sekarang tolong buatkan teh panas, ya. Kalau kau mau, buatkan juga untukmu. Ibu mau bicara sebentar denganmu." Ambar mengangkat Juha dan menggedongnya. Juha tertawa senang, lalu duduk di pangkuan.
"Hari ini, Juha tidak menyusahkan Mba' Seni, kan?" Tanya Ambar, sambil mencium pipi Juha yang cabi.
"Tidak ko', Ma. Tadi Juha tidur siang dan juga belajar berhitung sama Mba' Seni." Jawab Juha, sambil memeluk Mamanya.
"Uuuuhh... Anak Mama tambah besar, tambah pintar." Ambar balik memeluk Juha dengan sayang.
"Sekarang, Juha nonton dulu. Mama mau bicara dengan Mba' Seni. Nanti setelah itu, kita makan malam." Ucap Ambar kepada Juha.
"Iya, Ma." Juha turun dari pangkuan Mamanya, lalu berjalan ke ruang tamu untuk nonton TV.
Perlahan Ambar minum teh panas yang dibuat Seni. "Seni, sekarang Ibu sudah mulai kerja. Jadi Ibu minta bantuanmu, tolong perhatikan Juha, ya." Ambar berkata serius sambil melihat Seni yang sedang duduk dengannya.
"Baik, Bu. Ibu tenang saja, nanti Seni bantu ngurusin Juha." Seni merasa terharu melihat Nyonyanya. Suaminya memiliki pekerjaan yang bagus, tetapi istrinya harus mencari uang untuk dirinya sendiri.
"T'rima kasih, Seni. Ibu akan berangkat pagi dan pulang seperti tadi. Dan sementara ini, kalau bapak tidak memberikan uang untuk belanja, kau tolong pakai uangmu untuk belanja makanan kalian berdua, ya. Semua pengeluaran kau catat, nanti Ibu ganti jika sudah gajian." Ambar berkata pelan, karena merasa tidak enak hati.
"Begitupun dengan uang yang Ibu pinjam darimu untuk berangkat kerja. Nanti Ibu ganti setelah gajian." Ambar berkata lagi dan makin tidak enak hati, karena tadi pagi, dia harus pinjam uang dari Seni untuk pergi ke kantor Sari.
"Kalau Ibu sudah ada uang, nanti Seni tolong jemput Juha di sekolah. Ibu akan kasih ongkos untuk jemput Juha. Sementara ini, Juha tidak ke sekolah. Nanti kalau Ibu ada libur, kita pergi ke sekolah, supaya Seni tahu jalannya." Ucap Ambar lagi.
"Iyaa, Bu. Nanti kalau bapak tanya mengenai Ibu, saya jawab apa? Karena tadi pagi saya hanya bilang Ibu sedang keluar." Seni mengingat peristiwa tadi pagi.
"Tidak apa'pa... Seni bilang saja, Ibu sedang keluar cari kerja. Jadi sementara, Juha tidak ke sekolah, karena tidak ada yang jemput." Ucap Ambar, tenang.
"Iya, Bu. Kalau bapak tanya, saya sampaikan." Seni jadi prihatin dengan kondisi Nyonyanya.
"Mari... Kita makan malam, karena Ibu lumayan lelah, mau istirahat lebih awal." Seni dan Ambar berdiri untuk menyiapkan makan malam.
"Tidak usah, Bu. Nanti Seni yang siapkan. Ibu minum saja." Seni mencegah Ambar berdiri.
"T'rima kasih.." Ambar segera menghabiskan tehnya lalu berdiri memanggil Juha untuk makan malam.
"Seni... Apakah ini sudah semua lauknya?" Tanya Ambar, ketika melihat makanannya tidak akan cukup jika untuk Rulof juga.
"Iyaa, Bu. Makanannya dihabiskan saja semua. Kalau bapak pulang dan belum makan, nanti bisa masak mie. Tadi Seni beli mie instan beberapa bungkus untuk berjaga-jaga." Seni menjelaskan.
"Ooh, iya. T'rima kasih. Juha, berdoa dan makan yang banyak, biar kuat." Ambar berkata sambil mengepalkan tangannya memberikan semangat kepada putranya. Juha ikut mengepalkan tangannya, sambil tersenyum lalu mengatupkan tangannya untuk berdoa.
...~●○♡○●~...