NovelToon NovelToon
Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Cintamanis / Contest / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:606.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lintang Lia Taufik

Tania Wijaya adalah seorang putri kaya raya yang terbuang karena persaingan bisnis sang ayah, harus bangkit belajar beladiri dan melakukan penyamaran menjadi seorang model.


Pertemuan tak sengaja dengan seorang pria keras kepala. Segala cara Tania lakukan demi menghindari pria itu. Namun, takdir berkata lain saat Tania terjebak dalam jeratan cinta yang di rencanakan Milan, kakak dari pria yang dicintainya.


Bagaimana perjalanan hubungan Tania setelah tahu Milan memiliki tunangan? Ikuti terus keseruan kisahnya.



***

Noted: Novel ini mengandung unsur beladiri/ Action yang tidak cocok untuk di bawah umur. Harap bijak memilih bacaan. Novel ini juga hanya tulisan fiksi pengarang. So harap berkomentar sopan ya reader yang budiman.


Novel ini sedang tahap revisi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukmu Berhasil Menenangkanku

🌟 Jangan lupa LIKE, FAVORIT, dan RATE 🌟

~ Happy Reading ~

Tania masih menatap lekat garis tegas dari wajah Milan yang semakin jelas terkikis jarak. Tatapan matanya yang tajam tanpa kedip sedikitpun. Membuat Milan yang kini sedang menggendong tubuh rampingnya mengalihkan pandangan, karena salah tingkah.

Bagaimana mungkin tidak salah tingkah dipandang tanpa kedip begitu. Terlebih oleh gadis cantik yang amat ia sukai meski terkadang Milan menyangkal demi menjaga harga dirinya.

Sikap angkuhnya yang melekat, membuat Tania semakin penasaran dengan latar belakang pria yang kini menjadi suaminya ini.

"Ganti bajumu, aku sudah sah jadi suami kamu meski secara agama," ucapannya memberikan perintah. Namun, pandangannya beralih pada arah yang berbeda setelah setengah melempar Tania di atas ranjang king size miliknya.

"Apa maksud kamu?" tanya Tania, Berpura-pura. Sebenarnya ia hanya ingin Milan mengutarakan keinginannya saja.

"Ini sudah larut, aku tidak ingin lagi berdebat. Aku sudah mentransfer sejumlah uang sebagai gaji pertama kamu sebagai seorang istri. Mulai sekarang anggap saja sebagai pekerjaan."

"Katakan yang lebih jelas. Aku wanita yang kamu anggap bodoh! Jadi aku tidak paham dengan ucapan kamu saat ini," ucap Tania yang kini tersungkur di atas ranjang.

Milan terlihat resah, ia mengerjap berulang kali berusaha menenangkan diri. Perlahan ia berjalan menuju sofa di sudut ruangan, diraihnya sebotol air mineral dan diteguknya hingga tandas.

"Aku bukan pria kejam. Namun, tidak penting bagiku menjelaskan semua alasanku tentang semua hidupku." Milan menyandarkan kepalanya sejenak di sandaran sofa.

Disaat yang bersamaan, Tania melirik resah ke arah Milan yang terlihat penuh beban dalam hidupnya. Begitu jelas tergambar dari raut wajahnya yang nampak gelisah. Sesekali melempar pandangan seolah-olah ingin mengawasi pergerakan Tania.

"Oke," dengus Tania, sembari mengedikkan bahunya dan beranjak dari ranjang. Kini kaki jenjangnya perlahan mulai melangkah menuju kamar mandi meski sebenarnya hatinya enggan.

Sepuluh menit kemudian, Tania keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang berbentuk kimono dengan warna putih. Saat itu ia terkejut karena menubruk dada bidang tanpa mengenakan sehelai kainpun.

Matanya membulat seketika, teriakan kecilpun mulai terdengar memenuhi ruangan akibat terkejut. Tak biasa memang Tania melihat pria yang bukan saudara bertelanjang dada di ruangan yang sama seperti saat ini. Kedua telapak tangannya refleks menutupi sebagian wajahnya, sementara Milan acuh main nyelonong memasuki kamar mandi.

"Ganti pakaian kamu dengan piama yang sudah aku sediakan di atas ranjang!" teriak Milan, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cara dibanting. Membuat Tania semakin terlonjak, ia menahan diri untuk tidak marah.

Kemudian Tania memilih menuruti permintaan Milan. Pikirnya, jika menurut setidaknya urusan dengan Milan tidak akan pernah panjang.

Diraihnya beberapa shopping bag yang berada di atas ranjang. Perlahan ia buka satu persatu isinya. Namun, ia memilih sebuah piama polkadot kuning kemudian segera ia kenakan. Setelah berhasil menyingkirkan sisa shopping bag pun Tania segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang dirasa jauh lebih empuk, lebih luas, dan berkelas dari ranjang miliknya.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki pelan namun berirama terdengar mendekat. Jantung Tania semakin bergemuruh saja ketika itu. 

"Apa-apaan ini? Aku ingat, ia bilang aku istri pesanan?" batin Tania, kemudian memutar tubuhnya hendak bangkit dari tempat tidur. Namun, ia mengurungkan niatnya, saat melihat Milan kini berbaring di tempat yang sama dengan posisi tubuh miring ke arahnya.

"Astaga! Dia tampan sekali," lirih Tania, saat tangannya tanpa ia sadari mulai mengelus pipi, bibir, bahkan elusan tangan itu berpindah ke bagian kepala.

Menit kemudian, Milan membuka kelopak matanya perlahan. Tania tertegun, ia segera bangkit ketika mulai tersadar. Namun, dengan gerakan cepat pula Milan meraih dan memeluk erat tubuh ramping Tania.

Bukannya bisa menolak tetapi justru kini tubuh ramping itu setengah menindih tubuh Milan. Keduanya saling melempar pandangan sepersekian detik.

"Milan, bisa tolong lepaskan. Anggap saja aku memohon," tukas Tania. Suaranya begitu serak, seolah menahan kesedihannya yang mendalam.

Melihat ekspresi wajah itu, wajah yang sama yang Tania tampakkan ketika Milan mendatangi rumahnya di malam kematian Reyhan. Bukannya menuruti keinginan Tania, tetapi pria berkharismatik itu justru menggulingkan Tania dan berganti posisi yang kini memaksanya berada di setengah menindih tubuh Tania.

"Maaf," ucap Milan singkat. Kemudian, ia mulai membenamkan wajahnya di dada wanita yang kini berstatus istrinya.

Tania terdiam, karena baginya tidak ada pilihan lain saat ini. Walaupun terbilang begitu cantik, tetapi Tania tidak sedikitpun berharap lebih dengan pernikahan yang kini sedang ia jalani bersama Milan. Mengejutkan, Milan justru membenamkan wajahnya dalam pelukan Tania.

"Ini diluar kesepakatan kita," sergah Tania, Milan mengangkat kepalanya sesaat. Kemudian ia membenamkan kepalanya lagi sembari memejamkan matanya.

"Tidakkah kamu bisa diam sebentar saja?" tanya Milan, berusaha menawar.

"Kamu mulai bersikap tidak sopan, mana mungkin aku diam," sahut Tania, ketus. Ia nampak tak nyaman dengan perlakuan Milan.

"Ijinkan aku memeluk kamu sebentar saja," pinta Milan, dengan suara serak yang terdengar berat khasnya.

"Untuk apa?" tanya Tania, sinis.

"Karena pelukmu berhasil memenangkan aku," balas Milan lirih.

Tania berusaha mencerna ucapan Milan. Sejenak ia memberikan kesempatan memberanikan diri. Pikirnya, bukankah Milan adalah suaminya, tidak ada yang perlu ia risaukan meski terkadang Milan sangat menjengkelkan bahkan sebutan istri pesanan masih membuat Tania sakit hati. Tetapi saat itu, Tania berusaha meredam semua rasa itu.

Setelah puas memeluk Tania dan menumpahkan kesedihan yang ia rasakan, Milan mulai melepaskan tangannya, kemudian memundurkan tubuhnya meski fokusnya tetap tertuju pada raut wajah Tania.

Kini Milan mulai terhipnotis oleh kecantikan Tania, ia bahkan paling menyukai bagian mata gadis itu ketika mulai menatapnya. Mata bening, yang kini mulai bersikap manja meski Tania tidak mau mengakuinya di depan Milan. 

Milan kini menatap bibir mungil yang ranum menggoda. Apa lagi jika bibir itu mulai melengkung indah tepat di depannya, rasanya ia berseteru dengan waktu seolah hatinya babak belur karena penolakan. 

Tania juga membalas tatapan mata Milan yang semakin teduh.  Kini ia bergantian menatap Milan dengan tatapan mata penuh keraguan, kecemasan, dan mulai bercampur dengan kekaguman.

"Ini sudah larut, setelah pernikahan resmi selesai digelar. Aku akan menjelaskan secara gamblang apa sebenarnya tugas kamu," jelas Milan saat itu. Masih terlihat dingin seperti sebelumnya.

Tania mulai was-was mendengar semua itu. Namun, meski begitu, ia berusaha menepis jauh-jauh tuduhan buruknya terhadap Milan selama ini.

"Bagaimana jika Milan memaksaku memberikan haknya nanti?" batin Tania sembari menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa sadar jika Milan masih memperhatikannya.

"Tidur, tugasmu akan dimulai besok" ucap Milan. Ia memang sengaja menggoda. Ia terkekeh melihat raut wajah Tania saat ini yang nampak begitu cemas.

— To Be Continued

🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, kalian pasti penasaran dengan siapa Tania akan menikah bukan? Jadi jangan lupa minta jempolnya ya guys. Salam hangat Lintang untuk kalian.

Salam cintaku.

Lintang (Lia Taufik).

Found me on IG: lia_lintang08

1
Nina_Melo
Semangat Kak, jangan berhenti menulis. Tulisanmu bagus
ros
X nk lanjutkan k thor
mahdalena pulungan
ya habis akhirnya/Silent//Silent//Silent/
mahdalena pulungan
terbawa emosi lanjuuuut/Facepalm//Facepalm/
mahdalena pulungan
keren😁😁😁😁🥰🥰🥰🥰
Mhercye DG
thor mana lanjutanx
Mhercye DG
Raffa jangan mati dulu dong thor😢
Rina Yulianti
sayang banget....cerita sebagus ini minim like
Wida Yanti
ceritanya menarik,penuh teka-teki
Lintang Lia Taufik: Terimakasih Kak, silahkan mampir juga di "Bunga Desa Terdampar di Kota & Cinta Tabu" jika berkenan.
total 1 replies
Samantha
Selalu suka karyanya
Teddy
Genre yang beda, tapi tetep seru
Magic Lightning
crazy up
Black Blink
amazing
Eli Supriatna
mau di bawa kemana ini,,,
Yu Fi
rafa ini kyknya kakak kandung edo deh lah tania alat buat ngehancurin milan
Rusie Abdullah Ibu Kidorin
mampir ah ada beladirinya..
Erlinda
Tania kamu kok ceroboh sekali seharus nya dlm kondisi mu yg seperti ini kamu harus bersikap tenang ga perlu sesumbar kamu kan ga tau siapa kawan dan siapa lawan jgn gegabah dong
Ami
up pokoknya up, ga bisa tidur nanti
Ami
up thor
Ami
cemunguth
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!