Perjalanan hidup seorang gadis bernama Vega Clarista dengan bayang-bayang masa lalu. Tujuan hidupnya berubah sejak menyaksikan sendiri ayahnya tewas di depan matanya. Segala cara ia tempuh untuk mencari pembunuh sang Ayah. Hingga ia menghimpun pasukan menjadi sebuah genk yang mereka juluki sebagai Genk X, yang tujuan awalnya agar kelak dapat membantunya menyelesaikan misi hidupnya.
Meskipun banyak menghabiskan waktu hidup di jalanan, namun jiwa penolongnya selalu bergejolak tatkala melihat ketidak adilan di depan matanya. Meskipun akibatnya ia harus di hadapkan dengan banyak musuh karena aksi kepahlawanannya.
Kemampuan bela diri yang ia kuasai sejak kecil menghantarkannya bertemu dengan pengusaha kaya yang memintanya menjadi bodyguard putranya yang berprofesi sebagai artis dan penyanyi bernama Devano Zidan haidar. Rencana yang di susun oleh keluarganya membuat Devan merasa kebebasannya semakin terkekang, ia pun berupaya membuat rencana agar Vega tidak betah bekerja dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiina nurul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habisi Dia
Devan bersama asisten dan pengawalnya berada di depan loby sebuah stasiun televisi. Kedatangan mereka di sambut serbuan wartawan, mereka mencecar Devan dengan bertubi-tubi pertanyaan. Awalnya Devan meladeni tanya jawab dari para wartawan,
" Apa betul anda mau menikah tahun ini dengan Vanessa?" tanya salah satu wartawan.
" Kami masih belum ada rencana, kalaupun ada pasti kami akan mengabari rekan-rekan wartawan," jawab Devan.
Devan segera memerintahkan Ferdi untuk mengatasi para pencari berita tersebut. Ferdipun meminta pengawal menghalau para wartawan yang berusaha memaksa mendekat ke arah Devan. Devan bisa bernafas lega, masuk ke ruang tunggu artis pengisi acara pada HUT stasiun TV tersebut.
Sementara itu di sebuah rumah megah kediaman Haidar, Galang tengah melamun di kursi panjang sebuah taman. Ia melepas lelah karena seharian mengawal tuan putri keluarga Haidar yaitu Naysila Haidar. Setelah mengantar ke kampus, pulangnya masih harus mengawalnya keliling Mall bersama teman-teman kuliahnya.
Veronika tiba-tiba muncul di hadapannya, Galang segera berdiri membungkukkan kepala memberi hormat, " Selamat sore Nyonya besar, ada yang bisa saya bantu?"
" Aku butuh bantuanmu, sebagai imbalan aku akan membayarmu," tutur Veronika.
" Pekerjaan apa Nyonya besar?" tanya Galang.
" Vega telah berani menantangku, aku tidak mau dia jadi penghalang semua rencanaku, aku mau kamu habisi dia!" perintah Veronika dengan suara lirih namun penuh penekanan kebencian.
Deg!
Jantung Galang terpacu sangat cepat, ia sangat terkejut dengan apa yang di perintahkan oleh majikannya itu.
" Aku sangat mengagumi keahlianmu, maka jangan kecewakan aku," ucap Veronika
" Maaf Nyonya aku tidak bisa," jawab Galang.
" Kenapa kamu sekarang berani membantahku,"
" Dia gadis baik-baik, apa lagi dia kesayangan Tuan Besar, anda jangan coba-coba melukainya Nyonya Besar, atau anda akan berhadapan dengan saya," balas Galang yang kini berani menegakkan kepala, menatap majikannya dengan berani.
" Ck ck ck, apa kamu punya hubungan khusus dengan gadis itu?" tanya Veronika dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
" Itu bukan urusan anda,"
" Baiklah, aku akan mencari orang yang lebih hebat darimu,"
Veronika melangkah pergi meninggalkan Galang.
" Tunggu Nyonya, sebaiknya anda urungkan niat untuk menyakiti Vega!"
" Itu bukan urusanmu!"
" Apa anda tidak takut jika aku mengadukan anda pada Tuan Haidar?"
" Silahkan saja, sebaiknya kamu urungkan niatmu atau kamu tidak ingin melihat lagi adikmu yang berada di asrama?" Veronika balik mengancam Galang.
" Jangan coba-coba sentuh adik saya, atau saya akan menghancurkan hidup anda dan keluarga anda!" balas Galang.
Galang tidak bisa berbuat apa-apa bila menyangkut nyawa adik perempuannya. Adiknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Adiknya bernama Gita yang kini tinggal di sebuah asrama putri dan sedang menempuh kuliah di salah satu universitas di Ibu kota.
Veronika tidak menyerah, orang dalam tidak bisa ia andalkan. Iapun menemui anak dan adiknya.
Mobil yang membawa Veronika berhenti di sebuah rumah mewah, David dan Ronald telah menunggunya. Veronika menceritakan rencana Haidar yang sempat ia dengar secara diam-diam, ketika Haidar suaminya sendiri sedang berdiskusi dengan Haris sekretaris pribadi Haidar dan juga pengacaranya.
Setelah mendengar cerita dari Veronika, merekapun akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap Vega. Karena Vega akan menjadi salah satu penghalang mereka untuk menguasai keluarga Haidar dan Harta warisannya
***
Di sudut lain di sebuah area parkir Sakti tengah siap-siap mengemudikan mobil yang akan di tumpangi oleh Vega dan majikannya. Sementara Vega, Devan, dan Ferdi menunggu di lobby. Ponsel Sakti berdering, ia melihat nama Galang tertera di layar, iapun segera mengusap layar dan berbicara,
" Hallo!" sapa Sakti.
" Sakti, apa Nyonya Veronika menghubungimu?" tanya Galang.
" Tidak, memangnya kenapa?"
" Dia menawariku pekerjaan untuk melenyapkan Vega,"
" Apa!?" Sakti terkejut.
" Aku kira setelah aku menolaknya, dia akan menghubungimu,"
" Meskipun di bayar berapapun aku pasti menolaknya," ucap Sakti
" Oke, aku percaya padamu, tolong lindungi Vega. Kini dia jadi incaran pembunuhan Nyonya Veronika,"
" Tentu!" jawab Sakti.
Galang dan Sakti mengakhiri percakapan. Ia segera memacu mobil ke depan loby. Sakti turun dari mobil, ia menangkap kekecewaan majikannya yang menunggu.
" Maaf lama menunggu," ucap Sakti, sembari membukakan pintu untuk Devan.
Seperti biasa Ferdi menyela Vega yang mau duduk di depan. Entah kenapa Ia sering secara sengaja membuat Devan duduk berdampingan dengan Vega.
Mobil melesat meninggalkan halaman sebuah stasiun TV menuju rumah keluarga Haidar. Vega menagkap raut wajah kecemasan pada Sakti dari kaca, ia pun bertanya,
" Ada apa Bang, apa ada masalah?"
" Tidak apa-apa," jawab Sakti.
Mobil mulai melewati jalanan sepi, tiba-tiba segerombolan geng motor menyalip mobil dan membunyikan klakson dengan kencang. Mereka berjalan di didepan mobil tidak menyediakan ruang sedikitpun untuk mobil melintas. Sakti mengurangi kecepatan dan ia pun menginjak rem secara mendadak, karena segerombolan geng motor tersebut menghadang.