Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
"Jadwal pesawat ke Indonesia adalah sekitar jam sebelas pagi, sebelum kita pulang apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Rava. Saat ini keduanya tengah berada di restoran hotel.
"Gimana kalau ke toko cenderamata? Aku ingin beli oleh - oleh untuk keluarga dirumah, Jeni dan yang lain."
"Bukannya kamu sudah pergi dengan Alex?" sahut Rava dengan wajah keruh. Kesal karena mengingat kejadian di toko cenderamata kemarin.
Bianca menghela napas, "Katanya nggak usah bahas soal itu lagi?"
"Oke, oke, setelah sarapan kita langsung ke toko itu"
"Humm"
***
Rava sedang berdiri di pintu kamar ketika Bianca tengah membereskan barang-barang mereka. Selesai sarapan tadi keduanya ke kamar dulu untuk mengambil uang, tetapi Bianca malah sekalian membereskan pakaian-pakaian mereka.
"Kenapa lakukan itu sekarang? Nanti saja 'kan bisa" celetuk Rava.
"Lebih baik bereskan sekarang,Mas. Jadi kalau mau ke bandara tinggal bawa saja. Daripada waktu sudah mepet baru kita grasa grusu. Kalau ada yang tertinggal kan, bisa repot"
Rava manggut-manggut. Ckck, kadang Bianca bisa menjadi istri yang cekatan, kadang darah ABG nya mendominasi hingga ia bisa kekanakan dan masih memiliki emosi yang labil.
Begitu selesai membereskan koper, Bianca mengambil sebuah kalung yang ia letakkan di samping dispenser.
"Kalungnya bagus" komentar Rava ketika melihat sebuah kalung dengan kerang kecil sebagai liontinnya, melingkar manis di leher Bianca.
"Benarkah? Aku yang pilih loh, hehehe, pilihanku memang nggak pernah salah"
"Kapan kamu beli?"
"Kemarin, Alex yang membelikannya"
"Lepas"
Bianca yang sedari tadi berdiri di depan cermin, membalikkan badannya. Raut heran terpasang di wajahnya ketika melihat Rava dengan sepasang alis yang bertaut, "Tapi-"
"Lepas atau kubuang?" Rava menggeram kesal.
"Iya, iya" gumam Bianca mengalah.
Yah, mungkin dia harus membiasakan diri dengan sikap posesif Rava. Meskipun dia senang dengan itu, tapi kalau berlebihan rasanya jadi menyebalkan juga.
"Boneka itu…aku baru melihatnya" kini mata tajam Rava tertuju pada boneka –yang sebenarnya adalah bantal- berbentuk bintang yang terletak tidak jauh dari koper.
"Itu untuk Gio. Aku hanya meminjam uang Alex untuk membelinya"
Rava tidak menyahut, hanya mendengus kesal. Melihat itu Bianca menghampiri Rava dan mengecup bibirnya sekilas, "Kita pergi sekarang, Mas?"
***
Bianca dan Rava sudah membeli cukup banyak barang. Terlihat dari banyaknya belanjaan yang mereka bawa.
Untuk kedua orangtua dan mertuanya, Bianca membelikan 'Inochi No Haha'. Sejenis suplemen tubuh yang direkomendasikan untuk pria dan wanita usia 50 hingga 60-an. Di dalamnya terkandung 13 jenis obat-obatan herbal dan 11 jenis vitamin yang diperlukan tubuh.
Lalu untuk Bu Sumi, sebuah patung 'Maneki Neko'.
Maneki Neko adalah patung kucing yang seringkali ditempatkan di sebuah restoran ataupun sebuah toko. Dipercaya banyak orang dapat membawa keberuntungan.
Kemudian untuk calon menantunya a.k.a Yuni, Bianca membelikannya bantal –atau boneka?- yang sama dengan Gio. Bedanya yang untuk Yuni warnanya merah.
Dan untuk sahabat terbaiknya, Bianca membelikan Jeni sebuah 'Sensu' , atau kipas tangan khas jepang dengan motif yang sangat indah. Serta beberapa 'Tanegui' atau sapu tangan khas negeri sakura. Ia akan membagikannya nanti pada Tania and the gengs.
Tak lupa mereka juga membeli beberapa makanan dan snack khas jepang.
"Menurutmu Yoga akan suka ini, nggak?" tanya Rava sambil menunjukkan sebuah miniatur shamisen . Shamisen, alias gitar traditional Jepang tersebut terlihat sangat antik.
"Menurutku lebih cocok kalau itu diberikan pada wanita"
"Benarkah? Hm, mungkin ini untuk Ara saja"
"Apa?"
Rava menoleh dan mendapati Bianca dengan bibir manyun beberapa senti. Tentu Rava tahu penyebabnya kenapa, "Hei, Ara itu temanku juga"
"Ya,ya terserah…"
"Bi, kamu marah?"
Bianca tidak menjawab. Bibirnya masih cemberut.
"Bi…"
"Ya, ya, aku nggak marah kok" meski demikian Bianca tetap dengan ekspresinya. Bibir maju beberapa senti plus alis yang saling bertaut. Melihatnya, Rava hanya menghela napas. Pria tampan itu akhirnya membelikan Yoga sebuah jam weker berbentuk buah kelapa.
Dan untuk Ara, Biancalah yang memilihkan hadiahnya. Sebuah patung 'Daruma'. Daruma adalah patung yang memiliki paras galak dan berwarna merah.
Yah, mungkin Bianca sengaja memilih itu, sebagai kode agar Ara tidak kecentilan lagi pada suaminya. Biasalah, perempuan kan memang suka main kode - kode an. Haha...
Selesai berbelanja rencananya mereka akan segera kembali ke hotel. Namun tidak jadi, karena Bianca mengingat sesuatu yang penting.
"Umm… Mas, kalau kamu nggak keberatan apa kita bisa singgah di café-nya Alex?"
Rava menolehkan kepalanya, "Untuk apa?" tanyanya dengan nada yang sangat jelas menunjukkan bahwa dia tidak suka.
"Mas tahu bantal bintang itu 'kan? Aku meminjam uang Alex untuk membelinya, jadi sekarang aku ingin mengganti uangnya"
Rava mendengus kesal.
"Ayolah Mas… kalau aku nggak mengganti uang Alex, kan sama saja artinya dengan Gio menerima hadiah dari Alex, kamu mau seperti itu?"
"Baiklah, kita kesana" ujar Rava akhirnya. Walau dia tidak rela Bianca menemui Alex lagi, tapi Rava juga tidak rela kalau Gio menyentuh barang dari pria bernama Alex itu. Insting lelakinya memberitahu bahwa Alex menyukai istrinya. Dan ia sangat kesal karenanya.
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah