Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan
Seorang gadis terlihat melangkahkan kakinya dengan gontai di sepanjang koridor. Hari ini, rasanya ia benar-benar tidak bersemangat. Ujian hari pertama telah dimulai dan beberapa minggu lagi, ia akan meninggalkan sekolah yang penuh dengan kenangan suka maupun duka. Tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan lelaki yang mengubah hidupnya. Carla terus berjalan, dan sesekali menyapa siswa siswi lainnya yang melempar senyum padanya. Sejak bertemu lelaki itu baru sekarang ia melihat siswa siswi lain melempar senyum padanya. Karena untuk pertama kalinya ia berjalan sendiri, entah kemana Steve pergi sejak dua hari lalu. Tiada kabar, bahkan pesan ataupun panggilan dari kekasihnya.
"Hey, Carla.."
Carla menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Gadis itu tersenyum, kemudian melambai. "Edgar?"
Lelaki berkacamata itu berlari kecil untuk menghampiri Carla, "Kau sudah belajar? Bagaimana kalau kita belajar bersama sepulang sekolah nanti?" tanya lelaki itu antusias, sambil membenarkan kaca mata yang bertengger dihidungnya.
"Sudah, lalu bagaimana denganmu? Emm, kita lihat saja nanti, apakah aku bisa belajar bersama atau tidak." jawab Carla sambil tersenyum kecil, ia tidak bisa menjanjikannya. Meskipun Steve tidak ada disini, tetap saja dirinya was-was.
"Aku juga sudah, tapi aku tidak mengerti beberapa bab dan aku ingin menanyakannya padamu jika kau bisa belajar bersama nanti. Tapi tidak apa-apa jika kau tidak bisa, it's okey."
Carla tersenyum, sungguh ia tidak enak hati rasanya jika menolak, "Baiklah, kita lihat saja nanti."
Edgar tersenyum antusias, "Ayo ke kelas." Ajaknya dan tanpa sadar menggandeng tangan gadis itu yang membuat Carla tersentak.
"I-iya ayo.."
***
Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Lelaki itu keluar dari jet pribadinya Gulfstream G650. Aura yang begitu dominant menguar, dan siapa saja yang melihatnya otomatis menundukkan kepala. Steve melepas kacamata nya dengan angkuh, sambil melihat sekitar. Indonesia, ya dirinya tengah menapakkan kaki di negara yang memiliki sebutan Heaven of Eart. Steve menyunggingkan senyumnya, disini apa yang ingin ia ketahui akan terwujud.
"Mari tuan." ujar Troy sopan dan segera membukakan pintu mobil. Steve segera masuk dan duduk, mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Seperti biasa Jakarta yang dilanda kemacetan. Steve melihat keluar jendela, menelisik sekitar dengan tatapan tak terbaca. Sudah sepuluh tahun lalu ia tak berkunjung lagi kesini, dan sekarang ia berada di Indonesia lagi. Negara yang penuh dengan kenangan suka maupun duka.
Mobil terhenti, Steve menoleh dan ternyata lampu merah. Bergelut dengan pikirannya yang mengelana, membuatnya mengira bahwa ia telah sampai pada tujuannya. Tapi, ia bingung entah kemana dulu kakinya harus melangkah.
Lampu berganti hijau, perjalanan dilanjutkan Steve melirik sebuah gang kecil yang akan ia lewati. Semuanya telah berubah, dulu banyak pohon dan bunga disekitarnya, namun sekarang sudah tergantikan dengan bangunan yang menjulang tinggi.
Sungguh, tempat yang penuh dengan kenangan.
"Kita akan kemana tuan?" tanya Troy ketika melihat jejeran rumah mewah disekitaran sana, ternyata hanya gang nya yang kecil, tapi isinya bagaikan istana dongeng. Namun suasananya bagaikan di hutan, sepi dan jauh dari kebisingan ibu kota.
"Mana saja."
Troy meneguk ludahnya kasar, tidak heran ternyata jejeran rumah mewah ini bukan satu namun semua milik tuannya. Troy memasuki salah satu rumah mewah tersebut, halamannya luas dan terlihat kebersihannya selalu terjaga, meskipun rumahnya sepi.
Steve turun, dan menatap sekitar sebelum melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut. Dengan perlahan Steve membuka pintu, dan sebelum masuk ia menapat setiap sudut rumah itu dengan tatapan datar. Waktu begitu cepat berlalu kaki kecil yang dulu melangkah memasuki rumah ini, kini sudah beranjak dewasa. Perlahan Steve melangkah, meresapi setiap kenangan yang menusuk dadanya seperti belati. Rumah yang dulu dipenuhi dengan canda tawa, kini hanya keheningan yang mengisinya.
Lelaki itu berjalan menuju balkon, lalu mendudukkan dirinya pada kursi gantung dan menyalakan sebatang nikotin sambil menatap sebuah danau dibawah sana. Halaman belakang tempat ini lebih mirip hutan, tak heran jika jalannya begitu sempit. Perasaannya ketika berada disini sungguh damai, rasanya tanpa masalah dan beban. Steve menjatuhkan pandangannya pada perahu kecil lengkap dengan dayung nya. Seulas senyum terbit diujung bibirnya, dulu ia bisa menghabiskan harinya di perahu itu tanpa bermain dengan temannya. Steve memejamkan matanya sejenak, sejuknya semilir angin yang menerpa wajahnya membuatnya mengantuk.
"Steve, hari sudah gelap ayo masuk.."
"Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada?!"
"Siapa lelaki itu?!"
"A-ampun, tidak.. hiks.. hiks."
"Dasar ****** tidak berguna!!"
Nafasnya tersendat, Steve membuka matanya seketika peluh membanjiri keningnya. Baru saja ia memejamkan mata 5 menit, mimpi baik maupun buruk langsung menghampirinya. Lelaki itu memegang dadanya yang terasa sesak, ia pun membuka kemejanya asal. Namun seketika ia terdiam, lelaki itu mendengar langkah kaki yang mendekat. Steve sembunyi, sambil mengisi peluru pada pistolnya. Langkah itu kian terasa mendekat, dan "A-ampun tuan, ini a-aku Troy.." Troy bergetar ketakutan, hampir saja peluru itu menghancurkan kepalanya.
"Kenapa kau mengendap-endap?!" tanya Steve tajam.
"A-aku tidak.." Troy menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, ia tidak mengendap-endap tapi mungkin tuannya saja yang merasa was-was ketika berada ditempat ini.
Steve tidak menjawabnya, dan ia kembali menyimpan pistolnya lalu berlalu menuju kamarnya.
Troy menghela nafas pelan, tuannya itu memang tidak mau terbuka apapun padanya meski sudah bertahun-tahun bersamanya. Ia pun sudah menganggap Steve seperti adiknya sendiri, jika tuannya itu bercerita padanya ia akan siap mendengarkannya seperti seorang kakak. Sejauh ia mengenal Steve, lelaki itu memang tertutup, bahkan kekasihnya Carla tidak mengetahui apapun tentang tuannya itu apalagi perihal masa lalunya.
Terlihat sekali bahwa tadi Steve sedang merasa cemas, dan seperti terbangun dari mimpi buruknya. Troy melihat sekitar, sungguh ini adalah tempah yang indah.
Jauh dari keramaian, membuat seseorang yang menghampirinya akan merasa senang sekaligus takut.
...tbc....