"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 35
Butuh dua jam lebih untuk Sagara menempuh perjalanan ke Bandung, dimana rumah orang tua Hanin berada. Sagara tak datang sendiri, ia membawa serta Mami dan Papinya. Kecuali Hanin, gadis itu tak tahu apa yang akan Sagara lakukan hari ini, sebab Sagara hanya bilang ia sibuk.
Definisi sibuknya Sagara adalah menyiapkan masa depannya bersama Hanin kelak.
"Harusnya Hanin ikut, kenapa sih Gara pake ditinggal?"
tanya Cassandra. Wanita paruh baya itu hanya bisa mengomeli sang anak karena bertindak tanpa melibatkan calon menantunya.
"Iya, heran deh."
"Hanin masih baru di tempat kerjanya, lagian kemarin-kemarin dia udah banyak izin, Mi."
Casandra maklumi alasan putranya itu, hingga mobil mereka terhenti di depan sebuah gang.
"Nanti Papi sama Mami biasa aja ya, gak usah heboh!"
Cassandra cemberut, "heboh gimana?"
"Ya kan keluarga Hanin itu super!" balas Sagara membuat Cassandra hanya mengulum senyum, lalu menatap suaminya dan berkode lewat mata.
Mereka turun dari mobil setelah Sagara parkir, langsung disambut laki-laki yang membuka pintu. Sagara tahu betul itu adalah Harsa, mantan sekaligus sekarang jadi iparnya Hanin.
"Mau apa?" ketus Harsa.
Sagara tersenyum miring, laki-laki itu belum melihat kedua orang tuanya yang baru akan keluar mobil.
"Menurutmu?"
Cassandra keluar, disusul sang suami yang tengah merapikan kemejanya. Harsa menelan ludah, lalu mundur selangkah hingga tubuhnya menyentuh pintu.
"Siapa, Sa?"
"Anu, Bu, itu,—" Harsa mendadak gagap, lalu memberi jalan agar tamunya bisa lewat.
"Siang Ibu," sagara menyapa dengan ramah.
"Lho kamu?" Tak seperti pertama bertemu, kali ini Ibunya Hanin menatap Sagara terkejut.
Pun tiba-tiba Cassandra dan sang suami yang mengikuti langkah Sagara.
"Siang calon besan," sapa Cassandra.
Sagara sudah memperingatkan maminya tadi, tapi wanita modis itu malah maju dan cipika cipiki ala-ala pada ibunya Hanin.
"M-masuk, Bu." dengan terbata Ibunya Hanin menyambut tamunya. Ia sampai gemetaran karena tak menyangka Sagara akan datang bersama orang tuanya.
Sofa kusam itu, Casandra sebenarnya sedikit miris. Tapi tak ingin menampakkan tingkahnya dan membuat Sagara kecewa. Ia harus full senyum demi kebahagiaan putra bungsunya.
"Maaf, ada apa ya Nak Sagara kemari?"
"Begini, Bu. Saya mau meminta izin untuk meminang Hanin jadi istri saya."
Harsa yang mendengarnya menelan saliva, Hanin? Dilamar? Tidak, dirinya tak rela jika sang mantan menemukan bahagia. Ah tidak, bukan itu. Tapi dirinya tidak rela Hanin dimiliki laki-laki lain.
Harsa mulai serakah.
"Melamar Hanin?"
Cassandra tersenyum ramah, meski ia tak tahu seperti apa keluarga Hanin yang kata Sagara super itu. "Hanin itu cantik, baik, cocok jadi mantu saya. Selain itu, putra saya; Sagara ini sangat mencintainya. Jadi bagaimana, Bu?"
"Masalah itu, sebenarnya saya ikut bagaimana Hanin saja. Kalau Hanin mau ya silahkan, tapi ini— kenapa Hanin gak ikut pulang?"
"Hanin ada pekerjaan penting, Bu." Sagara yang menjawab.
Cassandra berdiri sebentar, lalu berjalan heboh kembali ke mobil. Membawa sesuatu, "oleh-oleh dari Jakarta, maaf gak seberapa."
Sagara mendelik, tak menyangka Maminya akan mempersiapkan bawaan juga.
"Kalau begitu, saya ikut Hanin aja. Keputusan ada di dia, tapi yang jelas saya dengan tangan terbuka menerima Nak Sagara jadi calon suami Hanin, kalau memang Hanin mau. Silahkan, nanti diskusi tanggal pernikahan bisa lewat ponsel, atau mau ke Hanin dulu."
"Oh, baik, Bu."
"Aduh, maaf ini sebentar." Ibunya Hanin ke belakang, saking seriusnya membiarkan tamu menganggur tanpa jamuan. Sementara Harsa di kamar yang menguping jadi mengepalkan tangan. Ia tatap istrinya yang tidur pulas tanpa gangguan, menghela napas kasar. Kenapa sekarang ia sedikit menyesal melepaskan Hanin demi kembali pada Naura?
Beberapa cangkir teh hangat, dua piring camilan kini berada di meja.
"Duh, jadi merepotkan, Bu." Cassandra menatap tak enak.
"Sama sekali nggak, apalagi ini kan tamunya Hanin jauh. Maaf kalau tempatnya begini."
Sagara menatap papinya, meminta bantuan bicara. Tapi, yang terjadi malah Mami dan Papinya itu kompak mencicipi kudapan. Seolah betah berlama-lama disana. Menjelang sore, mereka baru pamit pulang.