NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Papan Catur dan Mahkota Abadi

Keheningan yang melingkupi lantai 48 Perkasa Tower usai kepergian Julian Vance terasa begitu agung. Para anggota dewan komisaris dan tim hukum Perkasa Group masih saling berbisik, memandangku dengan binar rasa hormat yang tak lagi diwarnai sedikit pun keraguan. Tidak ada lagi yang berani mempertanyakan keabsahan posisiku. Di hadapan mereka, seorang serigala tua dari Singapura yang puluhan tahun menjadi momok menakutkan bagi konglomerasi Asia Tenggara baru saja ditelanjangi dan dilumpuhkan secara finansial oleh strategi berdarah dingin yang kurancang bersama Raymond.

Raymond mengusap lembut jemari tanganku di atas meja marmer, menyadarkanku dari tatapan kosong yang mengarah ke pintu ganda.

"Pak Herman," suara bariton Raymond bergema, membungkam keriuhan kecil di ruang rapat. "Kosongkan ruangan ini. Batalkan seluruh agenda rapat direksi hingga akhir pekan. Clarissa dan aku memiliki urusan pribadi yang harus diselesaikan."

"Baik, Tuan Raymond," sahut Pak Herman sigap, mengarahkan belasan komisaris dan staf hukum untuk segera meninggalkan ruangan.

Dalam hitungan detik, pintu ganda kayu jati itu tertutup rapat, menyisakan kami berdua di tengah kemegahan ruang rapat bertaraf internasional tersebut.

Aku berdiri dari kursi Executive Chairperson, merapikan gaun blazer merah darahku. Langkah kaki hak tinggiku terdengar begitu mantap saat aku melangkah mendekati dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan Jakarta di bawah naungan langit siang yang mulai memutih. Liontin blue sapphire 15 karat di dadaku berkilat dingin, menangkap pendar matahari yang menerobos dari luar.

Raymond melangkah menghampiriku dari belakang. Postur tubuhnya yang tegap dan kokoh bergerak tanpa suara, sebelum kedua tangannya yang besar dan hangat melingkar ketat di pinggangku, menarik punggungku bersandar rapat pada dada bidangnya. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan pendar kehangatan tubuhnya seketika merayapi indra penciumanku, menghancurkan sisa-sisa ketegangan yang sempat menumpuk di pundakku.

"Kamu baru saja menghancurkan dua musuh terbesar masa lalu ayahmu hanya dalam hitungan minggu, Clarissa," bisik Raymond parau di dekat telingaku. Napas hangatnya berembus lembut di leherku, membuat bulu kudukku berdiri halus. "Ibumu hancur di Jakarta Selatan, dan Julian merangkak kembali ke Singapura dengan kerugian jutaan dolar. Apa rasanya berdiri di puncak kemenangan ini?"

Aku memutar tubuhku perlahan di dalam lingkaran lengannya, menengadahkan kepala untuk mengunci iris mata hazel-nya yang pekat. Tanganku terangkat, menempelkan telapak tanganku di dada bidangnya yang berdetak kuat dan teratur di balik kemeja sutra hitamnya.

"Rasanya seperti akhirnya bisa bernapas lega setelah bertahun-tahun tenggelam dalam amarah, Raymond," balasku jujur, suara jernihku bergema halus di antara kami. "Tapi kemenangan ini tidak akan pernah lengkap... jika aku tidak berdiri di ruangan ini bersamamu."

Sudut bibir Raymond terangkat tipis, mengukir senyuman dingin yang teramat tampan dan memikat—senyuman dari seorang pria dominan yang telah menyerahkan seluruh isi dunianya kepadaku.

"Kamu bukan sekadar berdiri bersamaku, Clarissa," sahut Raymond rendah, jemari tangannya merengkuh daguku dengan penuh kepemilikan mutlak. "Kamu adalah pemilik tunggal dari pria yang memegang kekaisaran ini. Seluruh aset, seluruh keputusan, dan seluruh jalannya hidupku... adalah milikmu."

Pria 35 tahun itu menundukkan kepalanya, mengikis habis sisa jarak di antara kami dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang sarat akan kehangatan, kebuasan, dan obsesi yang telah mengkristal menjadi cinta terlarang yang tak tergoyahkan. Ciuman itu tidak lagi berbau dendam atau manipulasi pertaruhan; itu adalah meterai pengesahan atas takdir kami yang telah lebur menjadi satu.

Tiga hari kemudian.

Sebuah helikopter korporat berwarna hitam legam berlogo Perkasa Group mendarat di atas helipad pribadi yang terletak di pulau terpencil kawasan Kepulauan Seribu. Pulau privat itu adalah salah satu aset pribadi Raymond yang tak pernah tersentuh oleh media atau publik—sebuah perlindungan megah berarsitektur modern dengan pantai pasir putih yang membentang luas dan air laut yang bening bagaikan kristal.

Pintu helikopter terbuka, menyambut udara laut yang segar dan embusan angin sore yang sejuk.

Raymond keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membimbingku turun. Hari ini, aku melepaskan gaun blazer formal dan perhiasan beratku. Aku mengenakan gaun pantai kasual berwarna putih bersih berbahan kain chiffon yang melambai indah ditiup angin laut, sementara rambut hitam panjangku dibiarkan terurai bebas di bahu.

Di dermaga kayu yang menjorok ke arah laut, sebuah meja makan malam privat bernuansa lilin romantis telah disiapkan di bawah naungan pohon-pohon kelapa dan pendar jingga dari matahari terbenam yang perlahan merayap turun ke garis horizon.

"Aku memintamu datang ke sini bukan untuk membicarakan saham atau laporan keuangan Perkasa Nusantara Investama," ujar Raymond seraya menarikkan kursi kayu jati untukku duduk.

Aku menyunggingkan senyuman manis, membiarkan jemari tanganku mengusap permukaan meja yang terhias kelopak bunga mawar putih. "Lalu untuk apa sang taipan tambang membawaku ke pulau tersembunyi ini?"

Raymond melangkah mengitari meja, menyiramkan sampanye berkualitas tinggi ke dalam dua gelas kristal di hadapan kami. Pria itu kini hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga ke siku dan celana kain santai berwarna krem—meninggalkan kesan penguasa dingin di Jakarta dan menampilkan sosok pria yang seutuhnya milikku.

ia duduk berhadapan denganku, menatapku dengan intensitas yang teramat dalam.

"Untuk menyelesaikan apa yang seharusnya dimulai sejak awal," sahut Raymond datar namun sarat akan ketegasan yang bergetar.

Pria itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil, lalu membukanya di atas meja. Di dalamnya, bertengger sebuah cincin platina murni dengan desain minimalis namun memancarkan kilau berlian murni yang sempurna—berbeda dengan cincin canary yellow yang kugunakan untuk pamer kekuasaan di depan media.

"Cincin ini tidak ada hubungannya dengan Perkasa Group, tidak ada hubungannya dengan warisan ayahmu, atau perang melawan Siska," kata Raymond, suaranya yang bass terdengar begitu parau dan lembut di tengah desiran ombak pantai. "Cincin ini adalah milik Raymond—seorang pria yang bertekuk lutut di hadapan Clarissa."

Jantungku berdesir kencang, menyebarkan kehangatan liar yang memenuhi seluruh dadaku. Mataku menatap lurus pada pria paling berkuasa yang dahulu sangat ditakuti dan dipuja oleh Ibu, kini duduk di hadapanku dengan pandangan mata yang sepenuhnya menyerahkan dirinya padaku.

"Raymond..." bisikku parau, menahan getaran emosi yang membakar tenggorokanku.

Raymond meraih tangan kiriku, melepaskan cincin pameran kekuasaan di jari manisku, dan menggantikannya dengan cincin platina murni tersebut. Sentuhan dingin berlian itu menyatu dengan hangat jemarinya yang menggenggam tanganku dengan erat.

"Menikahlah denganku secara resmi, Clarissa," ucap Raymond tanpa keraguan sedikit pun. "Bukan sebagai bagian dari skenario hukum, tapi sebagai penyatuan dua jiwa yang telah membakar dunia bersama-sama."

Aku menatap cincin yang kini melingkar indah di jariku, lalu mengalihkan pandanganku menatap mata hazel yang selalu sanggup membuat pertahananku runtuh. Sebuah senyuman paling tulus yang tak pernah kuperlihatkan pada siapa pun di Jakarta terukir sempurna di bibirku.

"Aku sudah milikmu sejak malam pertama aku melangkah masuk ke dalam kamar vilamu di Bali, Raymond," jawabku pelan, mantap, dan sarat akan kepastian. "Dan aku akan tetap menjadi milikmu di atas puing-puing kekaisaran ini."

Raymond menyunggingkan senyuman dominannya yang menawan. Ia berdiri, menarik tanganku hingga aku ikut berdiri, lalu merengkuh tubuhku dalam pelukan hangat yang membius. Di bawah pendar langit jingga dan suara gemuruh ombak Kepulauan Seribu, bibir kami menyatu kembali dalam sebuah kesepakatan abadi yang menyegel takdir kami selamanya.

Satu bulan kemudian.

Sebuah kapel batu kuno di tepi tebing Uluwatu, Bali—tempat di mana segalanya bermula—menjadi saksi bisu dari pernikahan privat yang tak tersentuh oleh pendar kamera wartawan.

Tidak ada liputan media nasional, tidak ada karangan bunga dari para pejabat, dan tidak ada ribuan tamu undangan. Hanya ada aku, Raymond, Pak Herman sebagai saksi hukum, dan seorang pastor tua yang memimpin jalannya pemberkatan.

Aku berdiri di depan altar berbalut gaun pengantin sutra putih berpotongan mermaid yang anggun, membiarkan selendang transparan memanjang menyeret lantai batu kapel. Di hadapanku, Raymond berdiri dengan tuxedo serba hitam buatan Italia, tampak begitu tampan, berwibawa, dan mengintimidasi.

Saat pastor mengucapkan janji suci dan merestui pernikahan kami, Raymond mengangkat cadar tipis yang menutupi wajahku. Jemari tangannya yang besar mengusap lembut pipiku sebelum ia menundukkan kepala dan mengunci bibirku dalam ciuman pernikahan yang begitu syahdu.

"Mulai detik ini, kamu adalah Nyonya Perkasa yang sesungguhnya, Clarissa," bisik Raymond parau di depan bibirku saat kami mengurai ciuman. "Tidak ada lagi wanita lain yang berhak menyandang nama itu selain dirimu."

Aku tersenyum tipis, meremas erat jemari tangannya yang terikat cincin pernikahan murni kami.

Di Jakarta, kehidupan Siska telah sepenuhnya berubah menjadi keheningan yang menyiksa. Rumah kecil di Jakarta Selatan menjadi tempat tinggal barunya, jauh dari gemerlap pesta sosialita dan pelayan beruntun yang pernah dimilikinya. Wanita itu kini menghabiskan hari-harinya memandangi siaran televisi yang sesekali menayangkan berita tentang kesuksesan Perkasa Nusantara Investama di bawah kepemimpinan anak perempuannya—sebuah hukuman berjalan yang membakar jiwanya tanpa henti.

Sementara di Singapura, konsorsium milik Julian Vance terpaksa melakukan pembubaran aset usai dipaksa membayar ganti rugi atas pelanggaran akuisisi ilegal di pasar modal Indonesia, memusnahkan ambisinya untuk menyentuh warisan Ayah selamanya.

Malam harinya, di balkon master suite vila tersembunyi Seminyak—tempat yang sama di mana badai dendam dan obsesi kami pertama kali meledak secara bebas—udara malam berembus lembut membawa aroma bunga kamboja basah dan garam laut.

Aku berdiri menyandarkan tubuhku pada pagar kayu balkon, memutar gelas wiski tipis di tanganku. Gaun malam sutra berwarna hitam milikku berayun lembut ditiup angin pantai.

Raymond melangkah keluar dari dalam kamar, telanjang dada dengan hanya mengenakan celana panjang santai. Pria itu menyusupkan tubuh tegapnya dari belakang, melingkarkan lengan berototnya di perutku dan menyandarkan dagunya di bahuku.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Nyonya Perkasa?" bisik Raymond parau, hembusan napas hangatnya menyapu lembut leher dan telingaku.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menatap gemerlap pendar lampu kapal-kapal nelayan di tengah laut Samudra Hindia yang membentang luas.

"Aku sedang memikirkan betapa indahnya akhir dari papan catur ini, Raymond," jawabku halus, menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. "Kita memulai semuanya dari dosa, dendam, dan manipulasi... namun malam ini, kita memenangkan segalanya."

Raymond terkekeh rendah sebuah tawa bass yang sarat akan dominasi pekat dan kehangatan mutlak. Jemari tangannya bergerak naik, menyusuri garis leherku hingga berhenti di cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku.

"Dunia mungkin menyebut apa yang kita lakukan adalah kejahatan terlarang, Clarissa..." bisik Raymond parau, memutar tubuhku hingga mataku mengunci iris hazel-nya yang menyala di bawah pendar remang lampu balkon. "...tapi di dalam duniaku, kamu adalah hukum dan kebenaran mutlak."

Raymond mengangkat tubuhku ke dalam bopongan tangannya yang kokoh tanpa memutus tatapan mata kami, membawaku melangkah masuk kembali ke dalam master suite dan menutup pintu balkon rapat-rapat, mengunci seluruh dunia di luar sana.

Di dalam ruangan yang hangat dan sarat akan keheningan malam, permainan catur yang dipenuhi darah dan dendam telah resmi berakhir. Topeng-topeng kehancuran telah runtuh, musuh-musuh telah bertekuk lutut, dan di atas puing-puing masa lalu yang terbakar... aku dan sang taipan berdiri abadi sebagai penguasa takhta terlarang yang tak akan pernah tergoyahkan oleh siapa pun.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!