NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

~​Kamis sore, pukul 16:30 WIB~

​Sesi bimbingan belajar di perpustakaan baru saja selesai. Dion, Riko, Tono, dan Budi keluar dari gedung sekolah dengan wajah loyo, otak mereka terasa seperti diperas habis-habisan oleh materi Rumus Algebra dan Tata Bahasa Inggris yang diajarkan oleh Bella selama dua jam penuh.

​Namun, saat mereka mendekati gerbang utama sekolah, langkah mereka terhenti. ​Di luar gerbang, lima buah sepeda motor berhenti melintang, memblokir jalan keluar. Pengendaranya adalah enam remaja laki-laki dari sekolah rival, SMA Swasta Kencana yang terkenal dengan geng mereka, Geng Serigala. Mereka mengenakan jaket denim dengan emblem serigala, memegang rantai kapal dan pipa besi kecil.

​Pimpinan mereka, seorang remaja berwajah penuh jerawat bernama Toni, meludah ke jalan saat melihat kelompok Bella berjalan keluar.

​"Woy! Anak-anak Bone Breakerz!" teriak Toni dengan suara nyaring. "Manajer baru kalian mana? Denger-denger bos kalian si Bella udah tobat jadi cewek alim? Hahaha! Mana Dion si tukang pukul?"

​Tono dan Bono langsung memucat, mundur refleks ke belakang tubuh Dion. Riko menyikut pinggang Dion.

​"Dion... itu si Toni anak Serigala," bisik Rindi panik. "Mereka mau nyari ribut gara-gara kita nggak pernah kelihatan di area perbatasan minggu ini."

​Dion merasakan darahnya mendidih. Insting lamanya sebagai berandal dan tukang pukul berteriak agar ia segera memungut batu, maju melompati gerbang, dan menghantam wajah Toni hingga hancur. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. ​Namun, sebelum Dion melangkah maju, sebuah suara dingin terdengar dari balik punggungnya.

​"Dion. Berhenti di posisi."

​Bella melangkah maju, berdiri sejajar dengan Dion, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau panik. Ia memandangi enam anggota Geng Serigala di luar gerbang seperti seorang supervisor yang sedang menilai kelayakan instalasi pabrik yang tidak memenuhi standar K3.

​"Dion, Laporan Evaluasi Ancaman (Threat Assessment Report)," perintah Bella singkat. "Berapa rasio kekuatan kita dibanding mereka?"

​Dion menelan ludah, mencoba memproses perintah itu dengan pola pikir barunya. "K-kita lima orang, Bos. Mereka enam orang, tapi mereka bawa senjata tumpul (pipa dan rantai). Kuantitas kita kalah, persenjataan kita nol."

​"Bagus. Analisis situasi yang objektif," puji Bella. "Lalu, apa tingkat keparahan risiko jika kita melayani konfrontasi fisik saat ini?"

​"Risiko... kita bisa luka-luka. Kena sanksi sekolah karena kelahi di depan gerbang, dan... dan KPI Kedisiplinan kita bakal jeblok, bonus kita hangus," Dion menjawab dengan mata membelalak saat menyadari konsekuensi strategisnya.

​"Kesimpulan?" tanya Bella lagi.

​"Konfrontasi fisik adalah tindakan irasional dengan risk-to-reward ratio yang sangat merugikan," jawab Dion lancar, membuat Rindi dan Tono melongo tak percaya.

​Bella tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan manajerial. "Luar biasa, Dion. Kamu baru saja mengeksekusi penilaian risiko tingkat manajerial."

​Bella kemudian melangkah maju satu meter ke depan gerbang, menatap Toni yang tampak bingung karena mangsanya malah berbisik-bisik ramah di balik gerbang.

​"Saudara Toni," panggil Bella dengan suara tegas yang bergema di sepanjang jalan. "Aktivitas pembendungan jalan publik dan intimidasi menggunakan senjata tumpul yang Anda lakukan berada di bawah pengawasan dua kamera CCTV operasional SMA Garuda yang terpasang di atas pos satpam."

​Toni tersentak, refleks menoleh ke atas pos satpam di mana kamera hitam kecil sedang mengarah ke posisi mereka.

​"Selain itu," lanjut Bella tenang, "Berdasarkan Pasal 335 KUHP tentang Pengancaman dan UU Darurat No. 12 Tahun 1951 atas kepemilikan senjata tajam/tumpul tanpa izin, rekaman ini cukup untuk membawa Anda dan lima rekan Anda ke kantor Polsek terdekat dalam waktu kurang dari satu jam. Apakah Anda ingin melanjutkan simulasi kekerasan ini, atau membiarkan kami lewat?"

​Toni menatap Bella dengan tatapan tidak percaya, lalu melihat ke arah kamera CCTV, dan terakhir melihat ke arah anak buahnya yang mulai ketakutan mendengar ancaman pasal-pasal hukum yang diucapkan dengan sangat yakin oleh seorang siswi SMA.

​"Cih! Bacot lo Bella! Awas ya lo pada! Serigala nggak bakal tinggal diam!" teriak Toni mencoba menyelamatkan mukanya. Ia menggeber gas motornya keras-keras, memutar balik, dan kabur diikuti oleh kelima rekannya.

​Di balik gerbang, Dion, Riko, Tono, dan Budi mematung. Sebuah potensi tawuran berdarah yang biasanya akan memakan korban luka dan skorsing sekolah, baru saja diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga menit hanya menggunakan intimidasi hukum dan analisis risiko.

​Dion menatap Bella dengan rasa kagum yang amat sangat. Ia menyadari satu hal, kekuatan terbesar bos barunya bukan berada di kepalan tangan, melainkan di dalam otaknya.

​Jumat sore akhir bulan, ruang kelas 11 IPS 2 sudah kosong. Hari sudah membayang jingga saat Bella duduk di meja guru, menghadapi empat anggota Unit Manajemen Krisis yang duduk rapi di barisan depan. Ini adalah sesi Monthly Performance Review (Peninjauan Kinerja Bulanan) pertama. ​Bella membuka folder dokumen tebal di mejanya.

​"Selama satu bulan terakhir, organisasi kita telah melalui fase restrukturisasi awal," Bella membuka sesi. "Hari ini, kita akan melihat hasil dari metrik pencapaian kalian."

​Bella membaca lembaran evaluasi:

...​Kehadiran Akademis: 100% Zero Alpa untuk seluruh anggota. (Peningkatan 100% dari bulan sebelumnya)....

...​Kedisiplinan: Zero Surat Peringatan baru yang diterbitkan. Tidak ada keterlibatan dalam perkelahian fisik....

...​Keuangan: Seluruh utang warung lunas, dan pungutan liar dihentikan total. Kas organisasi stabil....

​"Berdasarkan akumulasi skor," Bella menaikkan pandangannya, "Seluruh anggota berhasil mencapai nilai kinerja di atas 80%. Artinya, kalian semua berhak menerima pencairan Performance Bonus untuk bulan ini."

​Bella mengeluarkan empat buah amplop cokelat kecil dari tasnya dan meletakkannya di meja. Masing-masing amplop berisi uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah, hasil efisiensi anggaran belanja pribadi Bella yang ia alokasikan untuk insentif timnya.

​Rindi menerima amplopnya dengan tangan gemetar, membukanya, dan melihat lembaran uang krispi di dalamnya. Matanya berkaca-kaca. "B-Bos... ini beneran uang hasil kerja keras gue? Nggak usah dikejar-kejar guru BP? Nggak usah rasa bersalah karena malak anak orang?"

​"Itu adalah imbalan atas kepatuhan dan kinerjamu yang sah, Rindi" kata Bella lembut. "Kamu mendapatkannya dengan terhormat."

​Tono dan Bono memeluk amplop mereka seperti memeluk harta karun. Sementara Dion menatap amplopnya, lalu menatap Bella dengan pandangan yang dalam.

​"Bos," kata Dion, suaranya mantap. "Gue nggak pernah ngerasa se-bangganya ini jadi bagian dari kelompok. Dulu gue pikir kita ini hebat karena orang takut sama kita. Tapi sekarang... gue ngerasa kita hebat karena kita emang punya nilai."

​"Itu adalah esensi dari pembangunan budaya organisasi, Dion," ujar Bella. "Kekuatan sejati lahir dari kompetensi dan struktur, bukan dari kekacauan."

Organisasi geng telah berhasil direstrukturisasi dari dalam. Namun, sebuah perubahan besar tidak pernah terjadi dalam ruang hampa. ​Di luar jendela kelas, dari balik koridor lantai dua, dua orang sedang berdiri memperhatikan suasana di dalam kelas 11 IPS 2. ​Orang pertama adalah Pak Surya, Kepala Sekolah SMA Garuda. Orang kedua adalah Bu Ratna, guru kedisiplinan.

​"Luar biasa..." gumam Pak Surya sambil menyesuaikan kacamatanya. "Anak-anak berandal yang paling bermasalah di sekolah ini... bisa duduk tenang, belajar, dan berdiskusi seperti eksekutif muda. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Bella Anastasia?"

​Bu Ratna memicingkan matanya dengan tatapan penuh curiga. "Saya tidak tahu, Pak Surya. Tapi perubahan yang terlalu cepat ini tidak alami. Bella pasti merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar. Saya akan terus mengawasinya."

​Sementara itu, di tempat lain, Toni dari Geng Serigala sedang berlutut di sebuah markas kumuh di luar sekolah, melapor kepada seorang pemuda berjaket kulit hitam yang sedang mengasah sebilah pisau.

​"Leo," panggil Toni takut-takut kepada Ketua Geng Serigala yang sebenarnya. "Geng Bone Breakerz udah berubah. Bella megang kendali penuh, dan mereka makin susah dipancing. Kita nggak bisa panggil mereka pakai cara lama."

​Leo menghentikan gesekan pisaunya. Mata elangnya menatap tajam ke arah dinding yang penuh dengan foto-foto siswa SMA Garuda.

​"Bella Anastasia, ya?" desis Leo dengan senyum tipis yang mengerikan. "Menarik. Kalau musuh kita memutuskan untuk memakai otak, maka kita akan lihat sejauh mana otaknya bisa bertahan sebelum aku menghancurkannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!