Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Train to Busan Versi Low Budget
"G-GOLOK KANIBAL?!" teriak Reno histeris setengah mati.
Golok tua yang beberapa menit lalu sudah ia buang sekuat tenaga ke dalam tong sampah depan rumah, kini sudah nangkring kembali dengan manis, anggun, dan sentosa di bawah bantal tidurnya. Kondisi golok itu bahkan kering kerontang tanpa ada setitik air pun, seolah-olah benda magis itu punya pelindung fitur anti-air level dewa.
Reno langsung melompat berdiri di atas kasur springbed-nya. Ia menatap golok usang itu dengan pandangan ngeri, seolah benda mati itu adalah sesosok mantan kekasih posesif yang gagal move on dan terus menerus meneror hidupnya.
"Woy! Kok lo bisa balik lagi ke sini?! Gue kan udah buang lo ke tempat sampah luar ya! Pergi nggak lo dari kamar gue! Pergi syuuuh!"
Reno menunjuk-nunjuk golok itu dengan jari telunjuk yang gemetar hebat, persis seperti orang stres yang lagi memarahi kucing tetangga karena mencuri ikan asin.
Bukannya menghilang atau terbang pergi, golok tua itu tiba-tiba saja mengeluarkan pendaran cahaya merah redup yang sangat mistis dari balik sarung kayunya. Dan entah ini hanya sekadar halusinasi otaknya yang korslet atau bukan, Reno mendadak mendengar sebuah suara bisikan halus yang gaib dengan logat Sunda yang sangat kental, mirip suara kakeknya sendiri.
"Ulah dibuang, Kasep... nanti nyesel seumur hidup..."
JDERR!!!
Suara petir kembali menggelegar memekakkan telinga tepat di atas atap rumah, dan detik itu juga seluruh aliran lampu di kamar Reno mati total menjadi gelap gulita.
Di tengah kegelapan yang mencekam tersebut, golok tua di atas kasur tiba-tiba saja bergerak sendiri dan berdiri tegak dengan penuh harga diri, seolah-olah benda itu sedang berkata: "Emang enak gue hantuin, hah?"
"MAMAAAAA!!! TOLONG, MA! ADA GOLOK POSESIF DI KAMAR AKU!!!" jerit Reno histeris dengan suara melengking delapan oktav.
Ia langsung lari kencang terbirit-birit keluar dari kamar. Dan kocaknya, tanpa sadar di tengah kepanikan massal itu, tangan Reno secara otomatis kembali melilitkan handuk putihnya di leher—sebuah kebiasaan aneh bin ajaib yang tetap saja terbawa secara refleks meskipun nyawanya sudah berada di ambang batas terbang ke langit.
****
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Karena kelelahan lahir batin setelah mengikuti tur melelahkan mencari sinyal di pelosok Sukabumi, ditambah bonus insiden "ngebom" ilegal di hulu sungai, Reno pun akhirnya tumbang.
Ia terlelap begitu cepat di atas kasur kamarnya yang nyaman. Pemuda itu langsung masuk ke alam mimpi yang ternyata... adalah sebuah episode horor tingkat kelurahan dengan rating sensor mandiri.
"Kamu akan mendapat hukuman yang setimpal! Berani-beraninya kamu membuang benda pusaka keramat milik nenek moyangmu sendiri... wahai pemuda pemalas tiada tara! Mulai detik ini, hidupmu tidak akan pernah tenang, segelisah indikator sinyal E di pedalaman Sukabumi!!"
"Hah... Huh... Astaga, ternyata cuma iklan mimpi!" Reno mendadak terbangun dengan keringat dingin sebesar biji jagung yang mengucur deras di dahinya.
Ia baru saja bermimpi dikejar-kejar oleh sesosok kakek-kakek misterius yang sedang melakukan cosplay menjadi jawara sakti serba putih.
Penampilan kakek itu lengkap dengan jenggot dan kumis putih panjang yang menjuntai sampai ke tanah, mirip tali jemuran baju milik tetangga sebelah rumah. Kakek botak itu terbang melayang mengejar Reno ke mana pun ia lari, layaknya sebuah drone pengintai canggih buatan militer.
Untungnya, jiwa Reno langsung otomatis log out dari alam mimpi tepat setelah si kakek jawara memberikan ultimatum maut tersebut.
Reno melirik ke arah jam dinding kamarnya: jarum menunjukkan pukul 7 malam. Sudah tiga jam penuh ia melakukan simulasi mati di atas kasur. Ia segera turun dari ranjang, mengambil baju ganti bersih, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Selesai menjalankan ritual mandi malam, Reno merasa tubuhnya jauh lebih segar—bahkan ia merasa tingkat ketampanannya mendadak naik satu level lebih ganteng dari biasanya. Ia mengenakan kaos oversize berwarna hitam polos dan sebuah kolor kebanggaan bermotif Doraemon warna biru muda—sebuah atribut wajib dan sakral bagi sang penguasa jagat rebahan Jakarta Barat.
Sesampainya di ruang makan lantai bawah, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Rika. Reno tanpa pikir panjang langsung menyambar piring kosong, berasumsi dalam hati kalau Mamanya pasti sudah makan kenyang duluan di luar.
"Ren, baru bangkit dari kubur kamu? Tadi Mama ketuk pintu kamar kamu berkali-kali, tapi tidurmu sudah kayak kerbau yang lagi pingsan total kena bius peluru sumpit," sapa Rika yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah sambil matanya asyik scrolling layar HP.
"Iya, Ma. Capek banget asli. Jalanan mudik dari Sukabumi tadi beneran nggak santai. Goyangan mobilnya makin ekstrem, ngalahin getaran panggung dangdut koplo pantura," sahut Reno sambil menyendok nasi ke piringnya.
"Ya sudah, habisin dulu itu makan malamnya. Habis itu buruan temani Mama nonton video di TV nih. Seru parah, tegang banget!" ajak Rika dengan semangat membara.
Reno menaikkan sebelah alisnya sambil mengunyah lauk. "Nonton apaan sih, Ma? Palingan juga berita seputar harga cabai rawit yang lagi naik di pasar tradisional."
"Bukan! Ini lho, film Train to Busan! Mama itu nggak pernah bosan nonton aksi heroik dan kegantengan hakiki dari Om Gong Yoo!" jawab Rika sambil tersenyum-senyum sendiri.
Reno yang baru saja menyuap sesendok penuh nasi beserta kuah sayur ke dalam mulutnya, seketika tersedak hebat. Ia hampir saja melakukan atraksi sulap berupa semburan naga api di atas meja makan.
"Pffttt... Uhukk! Bwahahahahaa! Aduh Mama, tolong deh! Ini kan sudah tahun 2031! Itu mah film zaman batu pas Reno masih ingusan dan hobi main kelereng! Kirain Mama lagi nonton drakor modern yang lagi trending nomor satu di Netflix, eh ternyata selera Mama masih terjebak di dalam gerbong kereta rongsokan arah Busan!"
Reno tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya berair. Ia merasa selera tontonan ibunya benar-benar sudah ketinggalan di zaman purba.
Rika langsung mendengus kesal, wajah glowing-nya mendadak cemberut. "Gak lucu ya, Reno! Mama mendingan lanjut nonton sendirian di dalam kamar saja, daripada harus diketawain terus sama pejabat pengangguran yang kerjaan sehari-harinya cuma menabung lemak di perut!"
Rika melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan wajah ketus. Reno sendiri masih melanjutkan sisa tawanya sendirian di meja makan sampai otot perutnya terasa kram.
Setelah perutnya kenyang akibat menyikat habis semua lauk pauk yang tersedia—hanya menyisakan tulang-belulang ayam yang bersih mengkilap kayak habis diamplas tukang bangunan—Reno akhirnya berjalan kembali ke kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar, efek dari rasa kenyang yang luar biasa bertemu dengan rasa kantuk malam hari adalah sebuah kombinasi maut yang tak tertahankan.
Karena hawa kamar mendadak terasa gerah, Reno melepas kaos hitam oversize-nya dan hanya menyisakan kolor Doraemon sakti di tubuhnya. Tanpa butuh waktu lama, ia pun kembali tumbang ke alam mimpi untuk kedua kalinya dalam kondisi mode minimalis.
CTAK!
BRUKK!!
"Awss... sshh... duh... jahanam bener, aset masa depan gue..."