NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013

Pukul tujuh lewat dua puluh menit, ponsel Hafeng tidak berbunyi.

Ia duduk di bangku taman yang sama seperti beberapa hari sebelumnya. Di tangan kanannya ada tablet. Di tangan kirinya ada kopi hitam dari kantin timur, masih dingin, tanpa gula.

Masalahnya, tidak ada yang menyuruhnya membeli kopi itu.

Chiko datang sambil menggigit roti isi. Ia berhenti ketika melihat gelas di tangan Hafeng, lalu melihat jam.

"Instruksi hari ini sudah datang?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kamu beli Americano dingin tanpa gula?"

Hafeng menatap gelas itu seolah baru menyadari benda tersebut muncul dari dimensi lain.

"Aku haus."

Chiko melihat label di gelas. "Kamu haus dengan selera Lim Meiran?"

"Chiko."

"Oke. Aku diam." Chiko duduk di sampingnya, tetapi dua detik kemudian berkata lagi, "Tapi ini lucu."

Hafeng meletakkan gelas itu di meja batu dengan gerakan terlalu keras.

Ponselnya tetap diam.

Di sisi lain kampus, Meiran justru sedang duduk di studio maket tanpa mengirim satu pesan pun. Ia menatap panel sistem yang muncul di atas tabletnya.

**【Sistem Predator】Laporan pola interaksi: target mulai mengantisipasi instruksi Host sebelum instruksi diberikan.**

"Jadi dia mulai terbiasa?"

**【Sistem Predator】Lebih tepat: tubuh target membangun rute kebiasaan. Pikiran target masih menolak, tetapi tubuh sudah menyiapkan respons.**

Meiran memutar pulpen di antara jari. "Bahasa manusia, Sisi."

**【Sistem Predator】Tubuh lebih dulu bergantung. Hati menyusul belakangan.**

Meiran berhenti memutar pulpen.

Kalimat itu terdengar terlalu sederhana untuk sesuatu yang bisa membunuhnya atau menyelamatkannya.

Tubuh lebih dulu bergantung.

Berarti tugasnya bukan membuat Hafeng langsung mengaku suka. Itu terlalu jauh. Ia hanya perlu membuat hari-hari Hafeng punya ruang kosong yang terasa salah ketika ia tidak hadir.

"Berapa nilainya?"

**【Sistem Predator】Nilai Cinta: -45.**

Meiran mengangkat alis.

"Aku bahkan belum melakukan apa-apa hari ini."

**【Sistem Predator】Ketidakhadiran Host juga termasuk rangsangan.**

Meiran tersenyum pelan.

Menarik.

Di taman, Hafeng membuka layar ponsel untuk ketiga kalinya dalam lima menit.

Tidak ada pesan.

Chiko mengunyah roti sambil memperhatikannya. "Kalau kamu menunggu pesan, kirim duluan saja."

"Aku tidak menunggu."

"Kamu membuka ponsel seperti orang menunggu hasil lab."

"Aku mengecek jadwal."

"Jadwal apa?"

Hafeng terdiam.

Chiko tersenyum makin lebar. "Jadwal diperintah Lim Meiran?"

Hafeng berdiri. "Aku ke studio."

"Studio siapa?"

"Studioku."

Tetapi langkahnya mengarah ke gedung seni, bukan gedung arsitektur.

Di tengah jalan, dua mahasiswi melewati mereka sambil membawa tabung gambar.

"Meiran ada di studio maket dari pagi, ya?"

"Iya, katanya mau revisi lampu. Hafeng hari ini belum disuruh apa-apa?"

Pertanyaan itu bukan ditujukan padanya, tetapi tubuh Hafeng bereaksi lebih dulu. Langkahnya melambat. Ponselnya kembali dibuka, layar pesan tetap kosong.

Chiko melihat semuanya dari belakang.

"Feng," panggilnya.

"Apa?"

"Kalau kamu benar-benar ke studiomu, belok kiri."

Hafeng menatap koridor di depannya.

Lurus menuju gedung seni.

Kiri menuju gedung arsitektur.

Ia memilih lurus.

"Aku mau mengembalikan sesuatu," katanya.

"Apa?"

Hafeng baru sadar gelas kopi Meiran masih tertinggal di bangku taman.

Chiko mengangkat gelas itu dari jauh. "Yang ini?"

Hafeng mengumpat pelan dan tetap berjalan.

Chiko tidak mengejar. Ia hanya mengangkat gelas kopi yang tertinggal di meja dan bergumam, "Tubuhnya sudah hafal jalan."

Hafeng baru menyadari kesalahan arah setelah sampai di koridor lantai dua gedung seni.

Ia berhenti.

Di ujung koridor, pintu studio maket terbuka sedikit. Dari celah itu, ia melihat Meiran berdiri di depan meja, sedang mencoba memasang kabel lampu kecil ke dalam maket. Rambutnya diikat longgar, beberapa helai jatuh di pipi. Tidak ada drama. Tidak ada perintah. Tidak ada kotak hadiah dari Yanting.

Hanya Meiran, fokus pada pekerjaannya.

Hafeng seharusnya pergi.

Ia tidak pergi.

Lampu kecil di maket tiba-tiba berkedip, lalu padam. Meiran menghela napas dan mencari sesuatu di kotak alat. Tanpa sadar, Hafeng melangkah masuk.

"Kabelnya terbalik."

Meiran menoleh, tetapi tidak tampak terkejut. "Aku belum memanggilmu."

Hafeng berhenti di ambang pintu.

Benar.

Ia belum dipanggil.

Dan itu membuat ruangan terasa jauh lebih sunyi.

"Aku lewat," katanya.

"Gedung arsitektur ada di sebelah sana."

"Aku tahu."

"Tentu."

Meiran menyerahkan kabel itu tanpa berdiri. "Karena sudah lewat, perbaiki."

Hafeng menatap kabel, lalu menatap Meiran.

"Kamu benar-benar memanfaatkan semua kesempatan."

"Kamu yang masuk sendiri."

Ia tidak bisa membantah.

Hafeng mengambil kabel itu, berjongkok di sisi meja, dan memperbaiki sambungan lampu kecil. Bahunya hampir sejajar dengan lutut Meiran. Posisi itu aneh. Terlalu dekat, terlalu alami, terlalu mirip rutinitas.

Lampu menyala.

Cahaya hangat memenuhi maket.

Namun Hafeng tidak berhenti di sana. Ia memeriksa baterai kecil di bawah alas maket, mengikat ulang kabel yang terlalu longgar, lalu memindahkan lem tembak yang masih panas menjauh dari siku Meiran.

"Ini jangan taruh di sini."

"Aku tidak meminta audit keselamatan."

"Kalau terbakar, aku yang disuruh memadamkan."

"Kamu mulai memahami masa depan."

Hafeng menatapnya datar, tetapi tetap menarik satu kursi agar kabel tidak menggantung di jalur orang berjalan.

Meiran melihat semua gerakan kecil itu.

Tidak romantis.

Tidak lembut.

Tetapi terlalu penuh perhatian untuk disebut kebetulan.

Meiran menatap lampu itu, lalu berkata pelan, "Terima kasih."

Hafeng tidak menjawab.

Tetapi kali ini, ia juga tidak langsung pergi.

**【Sistem Predator】Data diperbarui: target mendatangi Host tanpa instruksi langsung.**

Nilai Cinta: -44.

Meiran menyimpan senyum di balik bibir yang hampir terbuka.

Hafeng berdiri, membersihkan debu dari jarinya. "Lain kali cek kabel sebelum menyalakan."

"Lain kali kamu akan datang lagi?"

Hafeng membeku.

Di luar studio, langkah Chiko terdengar mendekat, disusul suaranya yang ceria.

"Feng, kopimu ketinggalan. Oh."

Chiko berdiri di pintu, melihat Hafeng di dalam studio Meiran, kabel menyala, dan wajah Hafeng yang jelas tertangkap basah.

Senyumnya muncul perlahan.

"Aku mengganggu rutinitas baru kalian?"

Hafeng mengambil kopi dari tangan Chiko dengan gerakan cepat. "Itu punyaku."

Chiko melihat label di gelas, lalu membacanya keras-keras, "Americano dingin, tanpa gula."

Meiran menoleh pada gelas itu.

Hafeng berhenti bergerak.

Studio menjadi terlalu sunyi.

Meiran berjalan mendekat, mengambil gelas dari tangan Hafeng, lalu menyesap sedikit melalui sedotan.

"Pas."

"Aku tidak membelinya untukmu."

"Aku belum bilang kamu membelinya untukku."

Chiko menutup wajah dengan satu tangan. "Feng, makin kamu bicara, makin dalam."

Hafeng menatap Chiko seperti ingin mengusirnya dari Jakarta.

**【Sistem Predator】Data pendukung: target mengingat preferensi minuman Host tanpa instruksi.**

Meiran mengangkat gelas itu sedikit.

"Terima kasih untuk rutinitas barunya."

Hafeng ingin membantah, tetapi telinganya yang memerah lebih dulu menjawab daripada mulutnya.

**【Sistem Predator】Nilai Cinta stabil di -44. Pola kebiasaan menguat.**

Di luar studio, hujan sisa semalam kembali menetes dari talang, pelan tetapi teratur, seperti hitungan mundur yang baru dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!