Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Modal Pertama Sang Pendekar Matre
Pagi hari ,sinar matahari baru saja muncul di atas Kota Qinghe.
Suara pedagang mulai terdengar dari berbagai penjuru kota.
Jalan-jalan yang semalam sunyi kini kembali dipenuhi aktivitas.
Namun di dalam kediaman Keluarga Feng.
Feng Bai Hu
Bocah tujuh tahun itu sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya.
Di hadapannya terletak sepuluh batu roh yang ia dapatkan kemarin.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
"Sepuluh."
Bai Hu mengangguk puas.
Jumlahnya masih sama.
Tidak ada yang hilang.
Kemudian menyimpan seluruh batu roh itu ke dalam kantong kecil yang digantung di pinggangnya.
"modal awalku."
Mata bocah itu berbinar.
Baginya,Kultivasi membutuhkan uang.
Pil membutuhkan uang.
Senjata membutuhkan uang.
Teknik membutuhkan uang.
Bahkan makan juga membutuhkan uang.
Jadi menurut logikanya.
Mencari uang adalah bentuk kultivasi yang paling penting
Beberapa saat kemudian Bai hu Berjalan keluar ia melihat Ketiga kakaknya di halaman belakang,
Feng Tian Yu sedang berlatih pedang
Feng Yun He sedang mempelajari kitab formasi.
Sedangkan Feng Ling Yue duduk membaca kitab teknik pedang.
Bai Hu berjalan santai menuju gerbang keluarga.
Tian Yu yang melihat Bai hu spontan memanggilnya ,,"Hey Bai , Kau mau ke mana?"
"Mau ke pasar."
jawab Bai Hu.
Tian Yu mengernyit.
"Untuk apa kau kepasar?"
"mencari uang." Jawab Baihu tanpa menoleh
"..."Tian yu Terkejut mendengar jawaban Baihu
"Bukankah Kau baru berusia tujuh tahun."
Bai Hu berhenti dan mulai berceloteh.
"Kakak Tian ,, justru itu,, Kalau aku mulai saat umur tujuh tahun,Saat umur tujuh belas tahun aku sudah lebih kaya dari kalian,."
"..."
Tian Yu tidak tahu harus berkata apa.
Sementara Yun He tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!"
Ling Yue juga ikut tersenyum.
"jangan pulang terlalu sore Bai,"
"Baik Kakak Ling."
Bai Hu melambaikan tangan.
Kemudian pergi meninggalkan kediaman.
Pasar Timur.
Wilayah perdagangan terbesar Kota Qinghe.
Suasana di sana selalu ramai.
Banyak pedagang dari luar kota datang menjual barang.
Bahan obat.
Kulit monster.
Bijih logam.
Senjata.
Pil Dll
Segala macam barang dapat ditemukan di tempat ini.
Bai Hu berjalan perlahan sambil mengamati keadaan.
Matanya bergerak ke sana kemari.
tampak seperti anak kecil biasa.
Namun di balik itu,,, tatapannya seperti seorang pedagang tua,,"Harga jamur roh naik,Harga kulit serigala turun,Biji teratai roh sedang langka."
Ia mengingat semua informasi itu.
Kemampuan berhitung dan mengingatnya sangat mengerikan.
Sekali melihat harga.
Ia bisa mengingatnya berbulan-bulan.
Saat ia sedang asik berkeliling dan mengamati ,, ia mendengar Seseorang berteriak memanggilnya dari kejauhan.
"Bai Hu!"
Bocah itu menoleh.
ia melihat Seorang anak bertubuh besar sedang berlari ke arahnya.
Tubuhnya hampir dua kali lebih besar dibanding anak seusianya.
"Tie Niu." Anak dari pandai besi sekaligus temannya ,, usianya 9 tahun ,2 tahun lebih tua dari Bai Hu
Tie Niu menyeringai lebar.
"Hey ,,Kau benar-benar datang."
"Tentu saja aku datang karna kau bilang ada pekerjaan untuku."Bai Hu menyeringai
Tie Niu segera mengangguk.
"Iya,Ayahku butuh bantuanmu, ayo ikuti aku " Ucap Tie Niu memimpin arah
Setelah berjalan cukup lama,mereka tiba di sebuah bengkel pandai besi, lalu masuk begitu saja melalui pintu belakang,
Bai hu melihat ,Seorang pria besar sedang mengangkat palu Besar , Terus memukul Besi panas Berulang ulang,,,
Keringat mengalir di wajahnya.
Pria itu adalah ayah Tie Niu.
Tie Shan.
" Ayahh,, Aku sudah membawa teman yang aku ceritakan pada ayah " ucap Tie Niu pada ayahnya,
Tie Shan menoleh,,mengamati Bai Hu yang berdiri di sebelah Tie Niu ,
Melihat itu,, Bai Hu Melambaikan tangannya ,
"Hai Paman,"
"Heheheh, Bocah Gendut pintar."
Tie Shan menunjuk tumpukan besi di sudut ruangan.
"Aku membeli terlalu banyak bahan baku,Aku ingin menjual kelebihannya,Aku dengar kau pandai berhitung jadi,,bagaimana ? Apa kau bisa membantuku , bocah gendut." Ucap Tie Shan terus terang,
Bai Hu segera berjalan mendekat memeriksa seluruh tumpukan bahan itu, untuk melihat kualitasnya ,,,
"Paman,, Berapa harga belinya?"
tanya Bai Hu.
Tie Shan menyebutkan angka 2 batu roh tingkat rendah dan 13 koin perak.
Mendengar itu ,Bai Hu langsung menggeleng.
"Paman mungkin tertipu"
"Apa?" Ucap Tie Shan Terkejut
"Harga ini terlalu mahal paman. "
mendengar itu Tie Shan membelalak.
"Paman ,, bahan yang paman beli itu harga sedang turun , haga Saat ini jauh lebih murah dari harga yang paman beli," Ucap Bai hu
Tie Shan mulai bingung.
Bai Hu mengambil ranting lalu menggambar di tanah.
"Sebagian besar tambang sedang menghasilkan cukup banyak bahan beberapa saat yang lalu." Bai hu mulai menjelaskan
"Tetapi menurutku itu tidak akan lama karna pedagang lain pasti akan menjual hasil tambang itu ke kota lain agar harga jual tidak terlalu jatuh."
"Artinya persediaan logam akan berkurang lagi dalam beberapa minggu , harga bisa kembali stabul atau mungkin akan naik kembali,, jadi jangan teeburu-buru paman."
Tie Shan diam dan terus mendengarkan.
Bai Hu kembali melanjutkan.
"Kalau Paman menunggu satu sampai dua bulan ,Ada kemungkinan harga akan naik sekitar tiga puluh persen dari harga sekarang , yang artinya itu akan memberi paman keuntungan 20 persen."
Ruangan langsung sunyi.
Tie Shan menatap bocah tujuh tahun itu.
Ekspresinya seperti melihat monster.
"Apa Kau yakin?"
Bai Hu mengangguk.
"Sembilan puluh persen yakin paman,, lihat saja nanti paman, lagipula jika paman menunggu dan mengawasi paman juga tidak akan rugi karna bahan paman masih tetap utuh ,." ucap Bai hu dengan percaya diri
Tie Shan masih tidak percaya.
Namun karena tidak punya pilihan.
Ia memutuskan mengikuti saran itu.
"Baiklah ,jika apa yang kamu bilang benar,Aku akan memberimu sedikit uang sebagai imbalan"
Mata Bai Hu langsung berbinar.
"Uang,, berapa uang yang akan paman beri?"
Tie Shan tertawa keras.
"Hahaha!,Kalau benar benar seperti yang kau bilang , aku akan memberimu satu batu roh."
"Deal!"
jawab Bai Hu secepat kilat di sertai tawa bahagia ,,
Setelah berbincang lagi beberapa saat dengan Tie Shan,,
Bai hu memutuskan untuk kembali ke pasar ,, Saat meninggalkan bengkel..
"Kau hebat sekali Bai." ucap Tie niu penuh Kekaguman
"Biasa saja." potong Bai hu
"bahkan aku tidak mengerti apa yang kau katakan tadi." Tie Niu kembali berbicara
Bai Hu Tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya.
"Jangan khawatir.Setiap orang punya bakat masing-masing."
Tie Niu tersenyum.
"ya,, Itu benar"
Bai Hu mengangguk dan melanjutkan
"Kau berbakat untuk mengangkat barang, dan aku berbakat untuk menghasilkan uang."
"..."
Mendengar itu Tie Niu terdiam , ia tiba-tiba merasa ada yang aneh.
Namun tidak tahu apa.
Saat mereka berjalan melewati sebuah gang kecil.
Mereka mendengar suara keributan,
Bai Hu berhenti untuk melihat tepat di ujung gang yang dia lewati.
Seorang nenek tua terlihat sedang berdebat dengan seorang pedagang.
"Itu terlalu mahal, aku tidak punya uang sebanyak itu ,,"
Ucap nenek itu.
Pedagang tersebut mendengus.
"Kalau tidak punya uang, makan tidak usah beli."
Wajah nenek itu menjadi pucat.
Ia tampak sangat membutuhkan tanaman tersebut.
Melihat itu Tie Niu terlihat marah.
Namun sebelum ia bergerak.
Bai Hu lebih dulu melangkah maju.
"Nenek." panggilnya
Wanita tua itu menoleh.
Bai Hu tersenyum.
"Aku ingin Lihat ramuan itu sebentar apa boleh,"
wanita tua itu hanya mengangguk ringan tanpa berbicara sepatah katapun,,
Bai Hu mengambil ramuan dari tangan pedagang.
Kemudian mengamatinya
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mengembalikannya.
"Ramuan ini kualitas rendah." ucap Bai hu pelan
"Apa katamu Bocah?"
bentak pedagang tidak terima
Bai Hu menunjuk beberapa bagian tanaman.
"Lihatlah ,, Warna daunnya terlalu pucat."
"Batangnya telah mengering."
"Usianya juga terlalu muda."
"harganya hanya setengah dari harga yang kau Bilang tadi paman."
Wajah pedagang langsung berubah.
semua yang dikatakan Bai Hu benar.
karna ia melihat wanita tua itu terlihat sangat membutuhan tumbuhan ini karna itu ia berbohong untuk mengambil keuntungan lebih ,, tapi tidak di sangka sebelum ia dapat memetik keuntungan , itu di gagalkan oleh bocah gendut yang entah berasal darimana ,
Orang-orang mulai berkumpul.
Mereka mulai berbisik.
Pedagang itu terlihat panik.
Hingga akhirnya ia menurunkan harga untuk menghindari keributan lebih dari ini.
Nenek tua tersebut berhasil membeli ramuan yang dibutuhkan.
Wanita tua itu menatap Bai Hu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih Nak sudah membantu nenek."
Bai Hu menggaruk kepala.
" Tidak apa-apa nek."
Kemudian ia menunjuk pedagang.
"Lagipula aku memang tidak suka melihatnya."
Tie Niu tidak terkejut melihat sisi lain dari sahabatnya.
Memang.
Bai Hu sangat menyukai uang.
Namun ia juga tidak suka melihat orang kecil ditindas.
Bersambung...
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut