NovelToon NovelToon
PENGHIANAT

PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

Cinta pertama seharusnya indah.

Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.

Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.

Tapi di balik senyum mereka... ada darah.

15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.

Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.

Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.

Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.

Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."

Salah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Di sisi lain.

Jalan raya yang mengarah ke kawasan pantai tampak lengang.

Lampu-lampu jalan menjadi satu-satunya penerang malam itu.

Seorang pemuda mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.

"Hah?"

Basyer mengerutkan dahinya saat melihat dua sosok perempuan berdiri di dalam gedung kosong yang jendelanya sudah pecah.

Karena penasaran, ia menghentikan motornya di pinggir jalan.

"Ck... itu..."

Basyer melangkah mendekat sambil mengintip dari balik tembok yang mulai rapuh.

Matanya membelalak.

"Lay?"

Di dalam gedung, Lay masih berdiri di depan Eskay.

Sedangkan Eskay terduduk lemah di lantai dengan tubuh penuh luka.

"Lay... maaf..." ucap Eskay lirih.

"Maaf?" Lay tersenyum sinis.

"Menurut lo semua selesai cuma karena kata maaf?"

Eskay hanya menundukkan kepalanya.

Air mata menetes perlahan membasahi pipinya.

"Lo udah rebut Ahber dari gue."

"Lo pikir gue bakal gampang maafin lo?"

"Lay... dengarkan dulu..."

"Diam!"

Bentakan Lay menggema di seluruh ruangan.

Basyer yang melihat dari kejauhan mulai panik.

"Nggak..."

"Gue harus kabarin Ahber."

Tangannya buru-buru mengambil ponsel dari saku celana.

Nomor Ahber langsung dihubunginya.

Tut...

Tut...

Tut...

"Halo?" suara Ahber terdengar dari seberang telepon.

"Ber!"

"Basyer?"

"Lo di mana?"

"Gue di rumah. Kenapa?"

"Lay!"

Suara Basyer terdengar panik.

"Lay lagi berkelahi sama Eskay di gedung kosong dekat pantai!"

"Apa?!"

Ahber langsung berdiri dari kursinya.

"Serius lo?!"

"Iya!"

"Cepat datang!"

"Oke!"

Sambungan telepon langsung terputus.

Tanpa berpikir panjang, Ahber mengambil jaketnya lalu berlari keluar rumah.

Sementara itu...

Di dalam gedung.

Lay masih menatap Eskay dengan tatapan dingin.

Ruangan itu begitu sunyi.

Hanya suara napas Eskay yang terdengar berat.

"Lay..."

"Aku tahu kamu marah."

"Tapi..."

"Diam."

Lay kembali memotong ucapannya.

"Gue nggak mau denger alasan."

Eskay menggigit bibirnya.

Ia berusaha bangkit meski tubuhnya terasa sangat lemah.

"Ahber..."

"Bukan seperti yang kamu pikirkan."

Lay tertawa pelan.

"Hahaha..."

"Bukan seperti yang gue pikirkan?"

"Lalu apa?"

"Kalian pelukan."

"Kalian jalan berdua."

"Kalian ketemuan malam."

"Terus sekarang seluruh sekolah ngomongin kalian."

Lay menatap Eskay tajam.

"Masih mau bilang itu cuma salah paham?"

Eskay membuka mulutnya.

Namun tidak ada satu kata pun yang keluar.

Ia memang ingin menjelaskan.

Tetapi ia sadar...

Bukan dirinya yang berhak menjelaskan semuanya.

Yang seharusnya menjelaskan adalah Ahber.

"Lay..."

"Aku..."

Belum sempat kalimat itu selesai...

Suara langkah kaki terdengar dari luar gedung.

Tap...

Tap...

Tap...

Semakin lama semakin cepat.

Lay menoleh ke arah pintu.

"Hah?"

Beberapa detik kemudian...

"Lay!!"

Suara itu menggema memenuhi ruangan.

Ahber.

Dengan napas yang terengah-engah, Ahber berlari masuk ke dalam gedung.

Pandangannya langsung tertuju kepada Lay.

Namun saat melihat Eskay yang terduduk lemah di lantai...

Wajahnya berubah panik.

"Eskay!"

Ahber langsung berlari melewati Lay.

Ia berlutut di samping Eskay.

"Eskay!"

"Lo denger gue?"

Eskay membuka matanya perlahan.

"Ah..."

"Ber..."

Ahber langsung mengangkat tubuh Eskay ke dalam pelukannya.

"Lo tahan."

"Gue bawa lo ke rumah sakit."

Melihat pemandangan itu...

Hati Lay terasa seperti diremas.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Hah..."

"Ahber."

Suaranya bergetar.

Ahber menoleh.

"Lay."

Tatapan mereka bertemu.

Lay mengepalkan kedua tangannya.

"Lo jujur sama gue."

Eskay menoleh pelan.

"Lay..."

"Diam!"

Lay kembali membentak.

Tatapannya kini hanya tertuju kepada Ahber.

"Dia..."

"Selingkuhan lo, kan?"

Ahber menggeleng cepat.

"Lay."

"Dengerin gue dulu."

"Eskay cuma teman."

"Lo salah paham."

"Salah paham?"

Lay tertawa kecil.

"Hahaha..."

"Masih salah paham?"

"Gue udah lihat semuanya."

"Lo masih mau bohong?"

"Lay."

"Gue bakal jelasin."

"Jelasin sekarang!"

teriak Lay.

"Lo jujur sama gue!"

Ruangan kembali sunyi.

Ahber memejamkan matanya beberapa saat.

Ia sudah lelah.

Sejak pagi ia terus mencoba menjelaskan.

Namun Lay tidak pernah memberinya kesempatan.

Ditambah kondisi Eskay yang semakin lemah di pelukannya membuat pikirannya kacau.

"Lay."

"Gue mohon."

"Bukan sekarang."

"Enggak!"

Lay melangkah mendekat.

"Jawab sekarang!"

"Dia selingkuhan lo atau bukan?!"

Ahber menggertakkan giginya.

Emosinya mulai memuncak.

"Oke!"

teriaknya.

"Iya!"

"Dia selingkuhan gue!"

"Puas lo?!"

Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Eskay langsung menoleh kaget.

"Ahber..."

Sedangkan Lay...

Hanya terdiam.

Air matanya jatuh perlahan.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun senyum itu dipenuhi luka.

"Ck..."

"Oke."

"Gue puas."

"Akhirnya..."

"Lo jujur juga."

Lay menghapus air matanya.

Lalu menatap Ahber untuk terakhir kalinya.

"Gue mau kita putus."

Ahber menutup matanya.

Napasnya terasa berat.

"Huh..."

"Maaf, Lay."

"Kita putus."

Suara Lay kali ini terdengar jauh lebih tegas.

Beberapa detik...

Tak ada lagi yang berbicara.

Ahber perlahan berdiri sambil tetap menggendong Eskay.

Ia menatap Lay beberapa saat.

Lalu berbalik.

Melangkah keluar dari gedung.

Tidak sekali pun ia menoleh ke belakang.

Lay tetap berdiri di tempatnya.

Memandangi punggung Ahber yang semakin jauh.

Hingga akhirnya menghilang di balik gelapnya malam.

Beberapa detik kemudian...

Lutut Lay melemas.

Bruk.

Ia jatuh terduduk di lantai.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

"Hahaha..."

Tawa kecil bercampur tangis keluar dari bibirnya.

"Ahber..."

"Lo pengkhianat."

Suara Lay semakin bergetar.

"Gue benci lo."

"Gue benci lo, Ahber!"

Teriakannya menggema memenuhi gedung kosong itu.

Malam yang sunyi menjadi saksi berakhirnya hubungan yang bahkan baru dimulai satu hari.

Tak seorang pun di antara mereka menyadari...

Bahwa semua yang terjadi malam itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang baru akan terungkap bertahun-tahun kemudian.

1
Alia Chans
Hadir thor
like + bunga biar semangat deh/Smile/
nila edrina: terimah kasihh 🥰😘😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!