NovelToon NovelToon
Sekretaris yang Tak Tersentuh

Sekretaris yang Tak Tersentuh

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:58.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.

Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.

Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.

Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.

Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.

Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.

Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.

**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**

---

*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Pintu Lift Hotel

Vania tidak menelepon malam itu.

Ia pulang ke Rumah Khiu dengan wajah pucat, sepatu basah, dan alasan kelas selesai terlambat. Mama Lina menyuruhnya mandi air hangat. Papa Hendra menanyakan apakah ia sudah makan. Vania menjawab iya, padahal perutnya kosong.

Keira baru pulang hampir tengah malam dari Gemilang. Ia melihat Vania duduk di ruang tengah, televisi menyala tanpa suara.

"Belum tidur?"

Vania menoleh. Matanya merah.

Keira langsung tahu ada yang salah. Setelah semua yang terjadi, ia mulai mengenali wajah orang yang membawa rahasia terlalu berat untuk tubuhnya.

"Vania?"

Bibir Vania bergetar. "Ci Kei, kalau aku lihat sesuatu yang mungkin salah, tapi aku tidak yakin, aku harus bilang atau diam?"

Keira meletakkan tas pelan. "Tergantung sesuatu itu bisa melukai siapa."

Vania menunduk. "Bisa melukai Ci."

Udara ruang tengah berhenti.

Mama Lina muncul dari dapur, tetapi Keira memberi isyarat pelan agar beliau menunggu.

"Katakan," kata Keira.

Vania menangis sebelum suaranya keluar. Ia bercerita patah-patah: hotel bisnis, hujan, Arya di lounge, perempuan bernama Jessy, tangan di lengan, pinggang yang ditahan, lift. Tidak ada foto. Tidak ada bukti selain mata Vania sendiri.

Keira mendengarkan sampai selesai.

Vania menggenggam ujung kausnya sampai kusut. "Aku takut salah lihat, Ci. Aku takut kalau aku bilang, Ci sedih. Tapi kalau aku diam, aku juga merasa jahat."

Keira duduk di depannya, menahan kedua tangan Vania.

"Kamu tidak jahat."

"Tapi aku tidak foto. Aku bodoh."

"Kamu bukan detektif. Kamu anak yang melihat sesuatu yang berat."

Vania menangis lebih keras. Mama Lina akhirnya mendekat dan memeluk bahunya dari belakang. Di wajah Mama, Keira melihat kekhawatiran yang sama dengan malam Nadia dulu, hanya kali ini Keira bukan gadis delapan belas tahun yang bisa menangis di kamar dua bulan. Ia perempuan dewasa dengan pekerjaan, keluarga, dan terlalu banyak rahasia lain.

"Kalau ternyata aku salah?" bisik Vania.

"Maka aku akan minta maaf pada Mas Arya," kata Keira. "Tapi kalau kamu benar, aku harus tahu malam ini."

Yang aneh, ia tidak langsung marah. Tubuhnya justru menjadi sangat tenang. Tenang seperti saat rapat hampir meledak, seperti saat ia harus menyelamatkan sesuatu sebelum semua orang sadar ada api.

"Hotel mana?"

Vania menyebut nama.

"Jam berapa?"

"Sekitar sembilan lewat."

Keira mengambil ponsel.

Mama Lina akhirnya mendekat. "Keira."

"Aku hanya mau memastikan."

"Malam-malam begini?"

"Kalau aku menunggu pagi, aku akan mulai membuat alasan untuk dia."

Kalimat itu membuat Mama Lina diam.

Keira tidak pergi sendirian. Papa Hendra bersikeras mengantar dengan Avanza. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hujan sudah reda, tetapi jalan masih basah. Lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis panjang yang rusak.

Di lobi hotel, petugas resepsionis menatap mereka dengan sopan bingung. Keira tidak membuat keributan. Ia hanya duduk di sofa lobi, menelepon Arya.

Hotel itu wangi bunga mahal dan lantai baru dipel. Di sudut lounge, gelas-gelas bekas acara belum semuanya dibereskan. Keira melihat dua gelas di meja dekat pilar, salah satunya masih menyisakan bekas lipstik nude. Ia tidak tahu apakah itu milik Jessy, tetapi warna itu langsung menempel di kepala.

Papa Hendra duduk diam di sampingnya. Ia tidak bertanya apakah Keira kuat. Pertanyaan itu tidak berguna. Yang ia lakukan hanya meletakkan tangan di punggung kursi Keira, tidak menyentuh, tetapi cukup dekat untuk membuatnya tahu Papa ada.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua juga.

Panggilan ketiga akhirnya tersambung.

"Keira?" suara Arya terdengar serak.

"Kamu di mana?"

"Di rumah."

Keira menatap lift hotel yang terbuka di depannya. Seorang pasangan keluar sambil tertawa.

"Rumah yang mana?"

Di seberang, hening.

Papa Hendra duduk di sampingnya, tangan menggenggam kunci mobil.

"Keira, aku bisa jelaskan."

Kalimat itu lagi.

Keira menutup mata sebentar. "Turun."

"Apa?"

"Aku di lobi hotel."

Tidak ada jawaban. Lalu suara napas Arya berubah.

Butuh tujuh menit sampai Arya keluar dari lift. Tujuh menit yang cukup untuk membuat Keira menghitung semua tahun yang pernah ia habiskan menunggu pria itu: menunggu dia pulang sekolah, menunggu dia menjelaskan soal matematika, menunggu dia melihatnya bukan sebagai adik, menunggu dia kembali, menunggu dia menjadi pria yang ia kira dulu ada.

Arya memakai kemeja yang sama seperti foto di kepala Vania. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat.

Di belakangnya, beberapa detik kemudian, Jessy muncul dari lift lain. Ia berhenti saat melihat Keira, lalu memasang wajah bingung yang terlambat.

"Pak Arya?"

Keira berdiri.

Papa Hendra ikut berdiri, tetapi tidak maju. Ia memberi ruang bagi putrinya untuk bicara sendiri.

Arya berjalan mendekat. "Keira, dengar dulu."

"Aku sedang mendengar."

"Jessy mabuk. Dia tidak bisa pulang sendiri. Aku hanya membantu."

Jessy menggenggam tas kecilnya. "Nona, maaf kalau salah paham. Pak Arya benar-benar hanya..."

"Saya tidak bertanya padamu," kata Keira.

Jessy terdiam.

Keira menatap Arya. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Justru itu membuat Arya terlihat makin takut.

"Kamu bilang masih lama karena kerja."

"Awalnya memang kerja."

"Lalu?"

"Lalu dia tidak enak badan. Aku antar ke kamar supaya dia bisa istirahat."

"Kamar siapa?"

Arya membuka mulut, lalu menutupnya.

Keira mengangguk pelan. "Kamar hotel."

"Aku tidak menyentuh dia."

"Tapi kamu naik."

"Aku salah. Aku tahu. Tapi tidak terjadi apa-apa."

Keira menatap kerah kemejanya. Ada bekas lipstik sangat tipis di dekat sisi dalam, warna nude yang mungkin tidak terlihat kalau lampu lobi tidak seterang itu.

Arya mengikuti arah pandangnya dan wajahnya hancur.

"Keira..."

"Jangan."

Satu kata itu keluar lebih pelan daripada bisikan, tetapi cukup membuat Arya berhenti.

Jessy mundur setengah langkah. Ponselnya bergetar, mungkin dari orang yang menunggu laporan. Keira melihat gerakan itu, menyimpan wajahnya dalam ingatan.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Keira tiba-tiba.

Jessy kaget. "Apa?"

"Kamu tidak cukup pandai untuk melakukan ini sendirian."

Mata Jessy berubah satu detik. Cukup. Keira tahu ada tangan lain, tetapi malam ini bukan tentang tangan itu.

Ia kembali menatap Arya.

"Aku tanya satu kali."

Arya tampak seperti pria yang berdiri di tepi jurang.

"Apa kamu tidur dengan dia?"

Lobi hotel yang dingin terasa seperti ruang sidang.

Arya menatap Keira, bibirnya bergerak, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Keira merasakan sesuatu di dalam dirinya putus tanpa suara. Bukan cinta, mungkin cinta sudah retak jauh sebelumnya. Yang putus adalah bagian terakhir yang masih ingin membela Arya sebelum dunia sempat menghakiminya.

Di belakang Keira, Papa Hendra menarik napas sangat pelan.

Jessy menunduk, dan itu lebih jujur daripada semua pembelaan.

1
Evy
Instuisi Keira tajam banget ya...
Evy
Selene yang licik dan serakah pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri..
Evy
Harusnya Sanya jujur sama suaminya..biar masalah tidak berlarut larut.. mereka kan hanya nikah bisnis aja..
Nur Ajlina
cerita nya keren👍👍
ANJ
bagusss bangettt ..
Wardah Saiful
baguus
ariyan
menarik ceritanya, selalu bikin penasaran
Khaliz11 Satrian: bahasa novel terlallu kaku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!