saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.pertimbangan orang tua
Hari pertunangan akhirnya tiba. Rumah orang tua Zahra sudah tertata rapi dengan hiasan sederhana namun penuh makna, dipenuhi aroma masakan khas yang disiapkan dengan penuh kasih sayang. Kerabat dekat dari kedua belah pihak mulai berdatangan, membawa senyum hangat dan doa tulus. Tak ada kemewahan berlebihan, hanya kehangatan silaturahmi yang menyatukan dua keluarga yang dulunya sempat terjalin dalam kisah rumit, kini berdiri berdampingan dengan penuh rasa hormat.
Zahra duduk di kamar, dibantu Ibu dan sepupu-sepupunya merapikan pakaian serta riasan yang menonjolkan kecantikan aslinya. Hatinya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena bahagia yang tak terlukiskan. Ia teringat perjalanan panjang yang dilalui: dari persahabatan yang retak, rahasia yang menyakitkan, perpisahan, hingga akhirnya sampai di momen ini.
“Kau cantik sekali, Nak,” bisik Ibu sambil mengusap bahu putrinya. “Ayahmu saja tadi sampai berkaca-kaca melihatmu.”
Zahra tersenyum haru, menahan air mata bahagia. “Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah selalu mendukungku.”
Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan. Rendra turun dengan pakaian rapi dan sopan, wajahnya bersinar namun tetap tenang. Di belakangnya ada Ibu Rendra serta kerabat yang membawa seserahan dengan penuh penghormatan. Saat melangkah masuk, pandangan Rendra langsung mencari sosok Zahra. Begitu mata mereka bertemu, seolah dunia di sekitar berhenti sejenak hanya ada keyakinan dan kasih sayang yang mengalir di antara tatapan itu.
Prosesi berlangsung khidmat. Setelah salam dan pembukaan, wakil keluarga Rendra menyampaikan niat baik secara resmi. Kemudian tibalah momen pertukaran cincin. Dengan tangan sedikit bergetar namun mantap, Rendra menyelipkan cincin pertunangan di jari manis Zahra.
“Terima kasih sudah menungguku dan mempercayaiku,” bisik Rendra pelan. “Aku berjanji akan menjagamu mulai detik ini sampai nanti.”
Zahra hanya mampu mengangguk sambil tersenyum bahagia, air mata keharuan menetes perlahan. Kini, secara resmi ia adalah tunangan Rendra. Suasana ruangan dipenuhi ucapan selamat dan doa yang tulus dari semua hadirin.
Namun saat suasana mulai tenang untuk pembicaraan rencana selanjutnya, Ibu Rendra berdiri perlahan dengan wajah sedikit serius namun penuh rasa hormat.
“Bapak, Ibu sekalian yang kami muliakan, serta seluruh hadirin,” buka Ibu Rendra lembut. “Kami sangat bersyukur diterima dengan begitu baik. Namun ada satu hal yang ingin kami sampaikan dengan rendah hati. Kami memohon izin dan kerelaan hati Bapak serta Ibu Zahra untuk memberi waktu selama dua tahun sebelum pelaksanaan pernikahan dilangsungkan. Rendra ingin mempersiapkan segalanya dengan matang tempat tinggal, tabungan, dan usaha yang lebih mapan agar nanti Zahra bisa hidup layak tanpa kekurangan.”
Permohonan itu sontak membuat suasana sejenak hening. Rendra kemudian menegaskan kembali alasan itu dengan penuh tanggung jawab, menyatakan bahwa ia ingin memberikan yang terbaik sebagai bentuk rasa hormatnya kepada Zahra dan keluarganya.
Namun di dalam hati Ayah dan Ibu Zahra, permohonan itu memunculkan perasaan ragu yang mendalam. Dua tahun adalah waktu yang sangat lama untuk masa pertunangan. Di tengah masyarakat mereka, waktu yang terlalu lama antara tunangan dan nikah sering dianggap kurang baik rentan digunjingkan orang, membuka peluang hal-hal yang tidak diinginkan, dan membuat posisi Zahra menjadi canggung di mata lingkungan.
Setelah acara usai dan keluarga Rendra berpamitan, suasana di rumah berubah menjadi penuh perenungan. Malam itu, Ayah, Ibu, dan Zahra duduk bersama di ruang tengah.
“Niat Rendra memang baik, dan kami menghargai tanggung jawabnya,” ujar Ayah Zahra memulai pembicaraan dengan suara berat. “Tapi dua tahun itu waktu yang sangat lama, Nak. Di mata orang banyak, gadis yang sudah bertunangan tapi lama sekali dinikahkan sering kali menjadi bahan pembicaraan yang tidak-tidak. Kami takut nama baikmu tercoreng, dan kami takut ada hal lain yang bisa terjadi selama masa penantian itu.”
Ibu Zahra mengangguk setuju. “Ibu juga berpikir begitu, Nak. Cinta memang butuh persiapan, tapi menunda terlalu lama juga tidak baik. Hati manusia tidak ada yang tahu, dan pandangan orang luar pun tidak bisa kita kendalikan. Sebelum kita merundingkan hal ini lagi dengan keluarga Rendra, sebaiknya kita meminta pandangan dari orang yang lebih tua dan lebih bijak.”
Keesokan paginya, Ayah dan Ibu Zahra membawa Zahra berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya yang tinggal agak jauh dari desa mereka. Mereka adalah orang yang paling dituakan, yang paling mengerti adat istiadat, dan yang biasanya dimintai petunjuk dalam hal-hal penting menyangkut masa depan anak cucu.
Sesampainya di sana, mereka menceritakan semuanya dengan jujur mulai dari niat baik Rendra, permohonan waktu dua tahun, hingga kekhawatiran mereka tentang pandangan orang dan kebaikan bagi Zahra.
Kakek Zahra mendengarkan dengan saksama sambil sesekali mengelus jenggotnya yang memutih. Setelah diam sejenak, ia berbicara dengan suara yang berwibawa namun lembut.
“Niat pemuda itu patut dihargai. Dia ingin bertanggung jawab, itu tanda dia laki-laki sejati. Tapi orang tua kalian benar juga,” ujar Kakek perlahan. “Dalam adat dan pandangan kita, mengikat janji tapi terlalu lama tidak disempurnakan pernikahannya memang kurang baik. Bukan saja karena pandangan orang, tapi juga karena menjaga hati dan kehormatan kedua belah pihak. Dua tahun itu terlalu jauh jika belum ada kepastian yang matang.”
Nenek Zahra pun ikut berbicara sambil menggenggam tangan Zahra. “Kami akan membantu mencari hari dan tanggal yang baik, yang berkah, dan tidak terlalu lama namun tetap memberi waktu yang cukup bagi Rendra untuk bersiap. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak menunda berlarut-larut. Agar semua berjalan lurus, dan tidak memberi celah pada pandangan yang salah dari orang lain.”
Hari itu juga, dengan bantuan petunjuk penanggalan dan doa bersama, Kakek dan Nenek menemukan waktu yang dianggap paling tepat dan membawa keberkahan: sekitar delapan bulan dari hari pertunangan. Waktu itu dirasa cukup bagi Rendra untuk menyelesaikan persiapannya yang paling mendesak, namun tidak terlalu lama sehingga kehormatan Zahra tetap terjaga dan pandangan orang pun akan baik.
Setelah mendapatkan keyakinan dan tanggal yang disarankan oleh Kakek serta Nenek, hati Ayah dan Ibu Zahra menjadi lebih tenang. Mereka tahu ini bukan untuk menolak niat baik Rendra, melainkan untuk mencari jalan tengah yang terbaik bagi kedua belah pihak.
“Kita akan menemui keluarga Rendra sebentar lagi,” ujar Ayah Zahra mantap. “Kita akan sampaikan hasil musyawarah ini dengan bahasa yang halus, menjelaskan alasan kita, dan mencari kesepakatan bersama. Kami yakin Rendra dan keluarganya orang yang bijaksana, mereka pasti bisa mengerti pertimbangan ini demi kebaikan bersama.”
Zahra mendengarkan dengan hati yang lega. Ia mengerti kekhawatiran orang tuanya, dan ia pun percaya bahwa Rendra tidak akan keberatan jika alasannya demi menjaga kehormatan dan kebaikan mereka berdua.
Malam itu, doa kembali dipanjatkan memohon kemudahan dalam pembicaraan nanti, agar tidak ada pihak yang tersinggung, dan agar keputusan yang diambil nantinya adalah keputusan yang paling diberkati oleh Tuhan dan disepakati oleh semua pihak.