Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Baik yang Datang Bersamaan
Pagi itu, Joyce terbangun dengan perasaan yang sama seperti beberapa hari terakhir. Lelah. Berat. Dan penuh ketidakpastian. Sejak masalah dengan Grand Imperial Hotel muncul, tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak. Bahkan saat membuka mata, hal pertama yang muncul di kepalanya adalah kemungkinan terburuk.
Bagaimana jika klien-kliennya benar-benar pergi?
Bagaimana jika reputasinya sudah rusak?
Bagaimana jika semua kerja keras bertahun-tahun hilang begitu saja?
Ponselnya bergetar di atas nakas. Dengan malas dia mengambil ponselnya. Dan nama yang muncul membuatnya mengernyit. Pak Damar. Joyce paham bagaimana karakter orang yang selalu mengajak collab. Biasanya atasannya tidak pernah menelepon sepagi ini. Tania biasanya yang menghubungi, jika ada pekerjaan. Dengan perasaan tidak nyaman, Joyce mengangkat panggilan.
"Selamat pagi, Pak."
Namun suara di seberang justru terdengar jauh lebih bersemangat dari biasanya.
"Joyce, kamu di rumah?"
"Iya."
"Bagus."
"Kenapa, Pak?"
"Tunggu kami tiga puluh menit."
"Kami?"
Sambungan telepon sudah terputus. Pikiran Joyce bertanya-tanya. Dia teringat pada pak Damar, pemilik EO yang masih muda itu. Namun masih melajang di usianya itu. Dan Joyce, bingung karena laki-laki itu akan datang ke apartemennya. Namun bibirnya juga tidak mampu untuk menolak.
********************
Tepat tiga puluh lima menit kemudian. Bel apartemen berbunyi. Saat Joyce membuka pintu, ia langsung membeku. Pak Damar berdiri di depan pintu, dengan senyum lepas menyambutnya. Di sampingnya ada Tania yang membawa dua kotak pastry dan sekantong besar kopi. Dan yang paling mengejutkan..., keduanya tampak sangat bahagia.
"Kenapa kalian terlihat seperti habis menang lotre?" tanya Joyce bingung.
“Tidak ada angin tidak ada hujan.. datang kemari sambil cengengesan..”
Tania tidak menjawab, namun langsung memeluknya.
"Kita menang Joy.. Kita menang!"
"Hah? Menang apaan, lotrekah?"
Pak Damar tertawa. Laki-laki itu tidak menjawab. Dia hanya tertawa melihat keakraban Tania dan Joyce. Dua gadis andalannya, meskipun Joyce bukan karyawan resmi EO nya. Namun jika ada event, dia selalu menjadi MC andalannya.
"Masuk.. ayuk masuk dulu. Di dalam, baru kita ngobrol"
Begitu mereka duduk di ruang tamu, Tania tidak bisa lagi menahan diri.
"Grand Imperial Hotel telepon pagi-pagi!"
Jantung Joyce langsung berdegup. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya, dan terlihat dari raut wajahnya. Dia mencoba menenangkan hatinya
"Terus?"
"Apakah mereka sudah memastikan untuk membatalkanku, tanpa memintaku klarifikasi?"
"Mereka minta maaf."
Joyce terdiam. Tidak percaya.. Dia menatap ke arah Tania, dan pak Damar bergantian
"Apa katamu Tan, apa aku salah dengar?" ucapnya lirih
"Mereka minta maaf Joyce. Namamu bersih."
Pak Damar tersenyum dan mengangguk, tanda mengiyakan apa yang disampaikan Tania.
"Bahkan bukan cuma mereka."
Lalu ia mengeluarkan tablet dari tasnya.
"Tiga klien besar yang sempat menunda kontrak."
"Ketiganya menghubungi saya pagi ini."
Joyce masih belum memahami. Dia bahkan mencubit pahanya sendiri, berusaha meyakinkan jika semua ini bukan mimpi.
"Maksudnya?"
Pak Damar tersenyum lebar.
"Mereka semua melanjutkan kerja sama. Selamat Joy... bahkan mereka merilis secara resmi permintaan maaf kepadamu. Tunjukkan release beritanya Tan.."
Beberapa detik Joyce hanya duduk diam. Tidak bergerak. Tidak bicara. Seolah otaknya membutuhkan waktu untuk mencerna semua informasi itu. Tania dan pak Damar berpandangan, mereka mengira jika Joyce akan euforia mendengar berita itu. Namun yang mereka lihat, malah Joyce terlihat bingung.
"Tunggu..., tunggu Tan.., pak Damar"
Suaranya pelan.
"Mereka percaya lagi sama aku gitu..?"
"Bukan cuma percaya Joyce. Kamu dengar penjelasan pak Damar tidak sih?"
Tania hampir berteriak. Dia sudah merasa jengah. Pak Damar hanya tertawa melihat interaksi keduanya.
"Mereka minta maaf karena sempat meragukanmu."
Mata Joyce perlahan membesar. Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Pak Damar lalu membuka salah satu email.
"Ini dari Grand Imperial. Dan tiga klien lainnya. Mereka mengirimkan permintaan resmi, dan bukti jika mereka juga melakukan release permintaan di media massa. Namamu bersih Joy."
Joyce membaca layar itu.
Setelah melakukan evaluasi menyeluruh, kami menyimpulkan bahwa informasi yang kami terima sebelumnya tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Kami menyampaikan permohonan maaf kepada Ibu Joyce Alvaretha atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berharap kerja sama dapat terus berlanjut.
Joyce merasakan matanya mulai panas. Bukan karena sedih. Tetapi karena lega. Sangat lega. Seakan beban yang dipikulnya hilang seketika. Tania langsung memeluknya lagi. Tangan mungilnya mengusap punggung Joyce. Pak Damar meraih tissue, dan menyerahkannya pada Joyce. Gadis itu mengusap air mata yang sudah mulai keluar dari sudut matanya.
"Kamu tahu nggak Joy?"
"Aku hampir ngamuk waktu mereka menggantung kita. Untung pak Damar mencegahku"
Joyce tertawa kecil di sela air matanya.
"Tania..., jangan bergurau kamu"
"Aku serius."
"Aku udah siap bikin presentasi lima puluh slide buat membela kamu."
Pak Damar ikut tertawa.
"Kami semua percaya padamu, Joyce."
Kalimat sederhana itu membuat dadanya menghangat. Karena di saat ia mulai meragukan dirinya sendiri..., ternyata masih ada orang-orang yang percaya.
Namun setelah suasana sedikit tenang, Joyce mulai menyadari sesuatu. Ada pikiran yang mengganjal, dan akhirnya
"Pak..."
"Hm?"
„Pak Damar mendengar tidak sih perkataan Joyce?”
“Dengar.. dengar. Lagian kalian dari tadi pak.. pak.. Memang aku pak ojek pengkolan apa.”
Tidak diduga, pak Damar malah bicara dengan keras. Tania tertawa sambil menutup mulutnya.
„Maksudnya apa sih pak Damar..?”
„Joyce.., Tania.. kita saat ini sedang tidak berada di perusahaan. Kita di apartemenmu Joy.. Bisa tidak menghilangkan sebutan pak.. pak.. Apakah kalian pikir, aku ini sudah tua apa..?”
Tania dan Joyce berpandangan sambil menahan tawa.
‘Usia kita hanya terpaut dua tahunan di atas kalian. Bisa tidak sebut nama langsung, Damar atau mas, atau kak..?”
“Baik mas Damar..” sahut Joyce cepat.
Laki-laki itu tersenyum dan menatap Joyce dengan antusias.
“Apa yang akan kamu sampaikan Joy?”
"Ini terlalu cepat bukan sih."
Pak Damar dan Tania menatapnya.
"Maksudmu?"
"Dua hari lalu mereka masih meragukanku."
"Tapi hari ini semuanya berubah dengan tiba-tiba."
Joyce mengernyit.
"Seolah ada seseorang yang membereskan semuanya."
Ruangan mendadak sedikit hening. Tania dan Pak Damar saling berpandangan. Dan itu tidak luput dari perhatian Joyce.
"Kalian tahu sesuatu? Atau kalian memang sengaja menyembunyikannya"
Tania langsung pura-pura sibuk membuka kotak pastry. Dia langsung mencomot pastry dan memasukkan ke mulutnya. Sedangkan Pak Damar berdeham kecil.
"Yah..."
"Mas... please. Tell me why.!"
Pak Damar menghela nafas, kemudian..
"Grand Imperial menyebut ada pihak yang membantu mengklarifikasi semuanya."
Joyce langsung menatapnya bingung.
"Pihak siapa? Adakah malaikat baik yang menolong kita, khususnya aku"
Pak Damar tersenyum tipis.
"Laki-laki yang sangat berpengaruh."
„Siapa itu mas.. Apakah mas punya orang berkuasa, yang dengan cepat membantu membereskan semuanya.”
Pak Damar menggelengkan kepala. Dan tatapann jujur terlihat dari tatapan matanya. Seketika, jantung Joyce berdetak lebih cepat. Dan entah kenapa..., hanya ada satu nama yang muncul di kepalanya.
Ardian Mahendra.
CEO Aethera itu punya segalanya. Punya kuasa, punya sumber daya, dan punya koneksi. Pasti semua hilang begitu saja, karena perannya.
“Joy.. kenapa kamu malah melamun?”
Suara Tania membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke arahnya.
‘Sudahlah Joy.. suatu saat orang yang memberikan pertolongan pasti akan ditunjukkan pada kita. Tuhan itu Maha baik, kita harus yakin itu.”
Pak Damar seakan ingin menghentikan rasa ingin tahu gadis itu.
***************
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung Aethera Corporation, Ardian sedang menandatangani dokumen tanpa mengetahui bahwa di apartemen kecil itu..., seorang perempuan baru saja mulai menyadari betapa besar peran yang ia mainkan dalam menyelamatkan kariernya.