NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Buta di Atas Awan

Suara letusan senyap yang diredam peredam dari gedung pencakar langit seberang bergesekan tipis di udara, disusul pecahan kaca jendela penthouse lantai empat puluh yang langsung berhamburan tajam ke atas karpet tebal.

Tanpa membuang waktu sepersekian detik, Arka bergerak secepat kilat. Pria itu mengabaikan rasa ngilu yang mendadak menghujam perut kirinya, lalu menerjang ke arah Rara, membanting tubuh gadis tersebut ke lantai dan mendekapnya erat di balik perlindungan dinding meja marmer yang kokoh.

"Arka! Darah lo..." Rara membelalak ngeri saat telapak tangannya yang tak sengaja menyentuh kemeja pria itu langsung basah oleh cairan hangat.

"Diam di sini," desis Arka tegas. Suaranya rendah dan tajam, sarat akan cengkeraman posesif yang tak terbantahkan. Napas pria itu memburu di dekat telinga Rara.

"Lo gila ya?!" Rara setengah meronta, suaranya bergetar hebat antara panik dan marah. "Jahitan lo robek lagi, bego! Kenapa malah nutupin badan gue?!"

"Karena nyawa saya tidak ada artinya kalau kau sampai tergores," balas Arka tanpa keraguan, menatap lurus ke depan sambil merogoh pistol Glock dari balik jasnya dengan satu tangan.

"Eh, udah-udah! Ini bukan waktunya adegan sinetron romantis ya!" teriak Beby histeris dari sudut sofa. Cewek itu tiarap total, memeluk BlackBerry Curve putihnya erat seolah benda itu adalah perisai hidup. "Gue tiarap di sini bukan buat nonton kalian kasmaran, tapi nyawa gue mau melayang!"

"Beby, lo nggak apa-apa?!" seru Rara panik dari balik perlindungan meja.

"Gue baik-baik aja, tapi BB gue kesiram serpihan kaca, Ra! Kalau trackball-nya rusak, gimana caranya gue bales email dospem?!" ratap Beby dramatis, nyaris menangis di lantai.

Duar!

Satu tembakan lagi melesat, menghantam dinding marmer tepat beberapa sentimeter di atas kepala mereka, menciptakan cipratan semen putih.

"Bos, sniper-nya ada di menara air gedung sebelah, lantai dua puluh lima!" lapor Dino dengan napas terengah-engah. Pemuda itu sudah meringkuk di balik sofa panjang, memegang laptopnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya membuka panel kontrol digital. "Jaraknya sekitar empat ratus meter. Sudut tembaknya pas banget nembus kaca ruang tengah!"

Bara, yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pilar beton tanpa gentar sedikit pun, mengangkat senapan laras pendeknya. Matanya menyipit tajam menembus sisa pecahan kaca. Pria berwajah datar itu sama sekali tidak kelihatan panik.

"Dino, lacak frekuensi radionya. Pastikan tidak ada tim kedua di tangga darurat," perintah Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari bidikan.

"Siap! Lagi gue retas enkripsinya!" balas Dino panik, tangannya mengetik brutal di atas keyboard. "Sialan, enkripsi militer! Butuh waktu sepuluh detik, Bara!"

"Kita tidak punya sepuluh detik," desis Arka tajam. Pria itu meringis pelan, menahan nyeri luar biasa di perutnya, lalu menoleh menatap Rara yang masih mencengkeram kemejanya. "Rara, dengar saya."

"Apaan lagi?!" Rara mendelik, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. "Kalau lo mau nyuruh gue tiarap lebih bener, gue udah nempel ke lantai nih!"

"Pegang tangan saya," ucap Arka tanpa bantahan, menyodorkan telapak tangannya yang berlumuran darah. "Merangkak ke arah koridor kamar sekarang. Jangan angkat kepala."

"Terus lo gimana?!" Rara ngegas, menolak bergerak. "Lo nggak bisa jalan sendiri dengan kondisi perut bolong begitu!"

"Rara," panggil Arka rendah, sorot matanya berubah menjadi sangat gelap dan mengintimidasi. "Jangan membantah."

"Lo tuh ya! Keras kepala banget jadi cowok!" omel Rara setengah menangis, namun tangannya tetap refleks menyambut uluran tangan Arka, membantu pria itu merangkak mundur secara perlahan.

"Bara, bereskan sisanya," perintah Arka dingin kepada pengawalnya sebelum ia benar-benar masuk ke area koridor yang aman.

"Dilaksanakan, Bos," jawab Bara singkat.

Tanpa buang waktu, Bara menarik pelatuk senapannya ke arah jendela seberang. Letusan keras beruntun menyalak, membalas tembakan sniper musuh untuk memecah konsentrasi penembak jitu di seberang sana.

"Mbak Rara! Bos Arka! Geser ke sini, area sini blind spot dari kaca luar!" panggil Dino setengah berteriak dari ujung lorong, menarik Beby yang masih merangkak sambil meratapi nasib skripsinya.

Begitu mereka semua berhasil merapat ke lorong yang terlindung tembok beton tebal, suasana mendadak sedikit lebih longgar, meski suara baku tembak dari luar masih terdengar sayup-sayup.

Rara langsung mendengus kesal, buru-buru merobek sedikit kain saku kemejanya untuk melilit perut Arka yang kembali mengeluarkan banyak darah.

"Diem, Arka! Jangan gerak!" bentak Rara galak, meski tangannya gemetar hebat saat melilitkan kain tersebut. "Lo tuh hobi banget ya bikin gue jantungan tiap hari? Kalau lo mati, emangnya lo pikir siapa yang mau ngurusin kucing oyen gue di kosan?!"

Arka menatap wajah Rara yang belepotan keringat dan air mata. Bukannya meringis kesakitan, sudut bibir pria itu justru terbit sebuah senyuman tipis yang sangat tipis, nyaris tak terlihat.

"Kau lebih mengkhawatirkan kucing itu daripada saya, Rara?" tanya Arka parau, sengaja memancing emosi gadis di depannya.

"Jelas lah! Kucing gue nggak arogan kayak lo!" sewot Rara ngegas, meski ia tetap mengencangkan ikatan kain di perut Arka dengan hati-hati. "Sumpah ya, kalau urusan sama Victor ini kelar, gue mau pensiun jadi manusia. Mau jadi batu aja di pinggir jalan!"

Dino yang duduk bersandar di dinding sambil manggut-manggut langsung nyeletuk, "Wah, Mbak Rara cocok tuh jadi patung pancoran. Biar serasi sama Bos Arka yang galaknya minta ampun."

"Diam, Dino," potong Arka dingin, melirik anak buahnya itu dengan tatapan tajam yang membuat Dino langsung mingkem rapat-rapat sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya.

Beby, yang dari tadi duduk melongo di sebelah Rara sambil memeluk laptop panasnya, tiba-tiba bersuara dengan nada horor. "Ehm... guys? Sorry banget nih mau nyela momen dramatis kalian... Tapi email revisian gue udah centang hijau... Dan dospem gue barusan nge-reply."

Semua mata di lorong itu langsung menoleh ke arah Beby.

"Emang dospem lo ngomong apa, Beb?" tanya Rara cemas.

Beby menelan ludah dengan susah payah, wajahnya kehilangan seluruh warnanya. "Dia bilang... 'Revisi bab empat kamu lumayan. Tapi besok pagi jam sembilan, kita ketemuan di kampus buat sidang bimbingan offline.' Sumpah, Ra, gue lebih milih ditembak sniper tadi daripada harus sidang offline sama dospem killer besok pagi!"

Arka mendengus pelan, menyandarkan kepalanya ke dinding beton di belakangnya. "Besok pagi, kau tidak akan pergi ke mana-mana, Rara," ucap pria itu tegas tanpa membuka ruang bantahan, menatap lurus ke dalam mata Rara. "Kecuali kalau kau mau dijemput oleh peluru Victor di halaman kampus."

Rara menghela napas panjang, pasrah menyandarkan keningnya di bahu Arka. Di tengah hujan peluru dan kejaran sindikat kejam, urusan skripsinya benar-benar sudah resmi tamat.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!