Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detektif
Di sebuah kamar hotel melati berbau rokok kretek yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tiga layar monitor portabel menyala dalam remang-remang cahaya lampu. Ruangan itu berantakan, dipenuhi oleh gelas kopi plastik yang mengering, bungkus rokok, dan tumpukan peta topografi Jawa Timur yang ditandai dengan spidol merah.
Di depan monitor tersebut, duduklah Bramantyo, seorang mantan perwira intelijen militer yang kini berprofesi sebagai detektif swasta bayaran paling mahal di Jakarta. Bramantyo bukan tipe detektif yang mencari perselingkuhan artis atau melacak mobil hilang, ia adalah orang yang disewa oleh korporasi besar ketika hukum legal terlalu lambat atau terlalu bersih untuk menyelesaikan sebuah masalah.
Dan kali ini, orang yang membayar jasanya dengan cek bernilai sembilan digit adalah Reynald Pratama.
"Mereka tidak menggunakan jalur utama," ujar seorang pria muda berkaos hitam yang duduk di samping Bramantyo, jemarinya bergerak cepat di atas papan tik mekanik.
"Sinyal jammer yang sempat terlacak oleh pos pantau kita di Ciremai kemarin menghilang tepat di perbatasan Jawa Tengah. Setelah itu, log perjalanan digital mereka bersih."
Bramantyo menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, matanya yang tajam dan memiliki bekas luka di pelipis kanan tidak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan data manifes penumpang kereta api.
"Zahran Adrian itu lulusan arsitektur terbaik, dia terbiasa berpikir spasial," kata Bramantyo, suaranya berat dan serak.
"Pria seperti dia tahu bahwa jika dia menggunakan kartu kredit, paspor, atau bahkan ponsel yang terhubung ke menara BTS komersial, jalurnya akan langsung terbaca. Tapi dia punya satu kelemahan."
"Apa itu, Bos?"
"Dia membawa Catalea Yoora," Bramantyo menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Catalea adalah wanita yang terbiasa dengan kenyamanan tingkat tinggi. Kulitnya, staminanya, fisiknya... tidak akan kuat jika dipaksa bersembunyi di hutan atau berjalan kaki puluhan kilometer di jalur tikus selama lebih dari tiga hari. Zahran pasti akan membawanya ke tempat yang memiliki atap, air bersih, dan akses logistik dasar. Cari semua aset properti atau jaringan konstruksi yang pernah dikerjakan oleh Zahran secara independen dalam lima tahun terakhir di wilayah Jawa Timur."
Pria muda itu mengangguk, lalu memasukkan parameter pencarian baru ke dalam sistem basis data mereka yang terkoneksi secara ilegal ke data dinas perizinan bangunan. Dalam hitungan menit, layar monitor menampilkan beberapa titik koordinat yang berkedip merah.
"Ada tiga belas titik, Bos. Mulai dari vila di Batu, gudang di Gresik, sampai beberapa rumah petak di Sidoarjo."
Bramantyo berdiri, mengambil jaket kulit hitamnya yang digantung di sandaran kursi. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat pelacak taktis berbentuk kotak hitam kecil berukuran sebesar korek api—sebuah *ST-500 Tactical Cell Sniffer*, alat militer yang mampu menangkap emisi frekuensi rendah bahkan dari ponsel yang dalam keadaan mati atau menggunakan pengacak sinyal jammer komersial, selama alat itu berada dalam radius dua kilometer.
"Kita abaikan Batu dan Gresik," perintah Bramantyo sambil mengisi magasin senjata api taktisnya dengan gerakan yang sangat terlatih.
"Vila di Batu terlalu mencolok untuk pelarian, dan gudang di Gresik terlalu kotor untuk seorang putri mahkota Rotasi Company. Sidoarjo adalah tempat paling logis. Kawasan industri tua, padat penduduk, dan banyak jalur pelarian menuju pelabuhan atau bandara."
"Tapi Bos, Kompol Hendrawan dari Polda Metro sudah memperingatkan agar kita tidak bergerak mendahului polisi," asistennya mengingatkan dengan nada cemas.
Bramantyo membalikkan badannya, menatap asistennya dengan pandangan mata yang membuat nyali pria muda itu menciut.
"Reynald Pratama tidak membayar kita untuk mematuhi prosedur polisi, Doni. Dia membayar kita untuk membawa Catalea kembali ke Jakarta sebelum kontrak akuisisi dengan Rotasi Company dinyatakan batal karena lewat tenggat waktu. Polisi mencari tersangka, kita mencari jaminan aset. Ada perbedaan besar di sana."
Bramantyo melangkah menuju pintu kamar hotel. Langkah kakinya terdengar mantap dan penuh ancaman. Sebagai detektif swasta yang telah menembus batas-batas hukum selama belasan tahun, ia tidak peduli pada romantisme pelarian Zahran dan Alea. Baginya, ini hanyalah perburuan mangsa bernilai tinggi.
Sementara itu, di rumah petak mereka di Sidoarjo, Zahran tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya di dekat jendela. Perasaannya mendadak tidak enak. Sinar matahari sore yang mulai meredup di luar sana terasa membawa atmosfer yang mencekam.
Zahran melirik ke arah alat pengacak sinyal jammer yang diletakkan di atas lemari kayu. Lampu indikator hijau pada alat itu mendadak berkedip dengan ritme yang tidak beraturan, pertanda bahwa ada frekuensi asing yang sedang mencoba memindai area sekitar dengan kekuatan yang sangat besar.
"Ada apa, ran?" tanya Alea yang baru saja selesai merapikan berkas audit palsu milik Reynald di laptop. Ia melihat perubahan ekspresi wajah Zahran yang mendadak berubah menjadi sangat tegang.
"Kita harus pergi sekarang, Al..," bisik Zahran, suaranya bergetar oleh urgensi yang mendesak. Ia segera mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam ransel taktis dengan gerakan cepat.
"Seseorang yang bukan polisi sedang melacak kita dengan peralatan militer. Frekuensi pengacak sinyal kita mulai ditembus."
Alea terkesiap, rasa aman yang baru saja ia rasakan selama beberapa jam di rumah petak itu seketika menguap. Detektif swasta kiriman Reynald telah berhasil menembus batas perimeter persembunyian mereka, memotong waktu tenang yang mereka miliki sebelum pertemuan krusial malam nanti. Badai di Jakarta kini telah resmi mendarat di tanah Jawa Timur.