saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15.rencana perjodohan
Setelah hari yang penuh kesan di acara pernikahan itu berlalu, suasana di desa kembali tenang seperti biasa. Namun bagi Zahra, hari itu meninggalkan jejak yang berbeda bukan hanya karena ia merasa nyaman dan aman saat ditemani Rendra, tapi juga karena ia melihat betapa serasi dan akrabnya Rendra dan Rana berinteraksi sepanjang perjalanan. Di mata Zahra, Rana yang ceria, lincah, dan pandai berbicara tampak sangat pas berpasangan dengan Rendra yang tenang, tegas, namun berhati lembut. Bagi Zahra, seolah-olah keduanya adalah pasangan yang diciptakan untuk saling melengkapi.
Sejak saat itu, benih niat mulai tumbuh di hati Zahra ia ingin menjadi jembatan yang menyatukan mereka berdua. Di dalam pikirannya yang polos dan tulus, ia meyakini bahwa Rendra pantas mendapatkan pasangan yang bisa membuatnya selalu ceria seperti saat bersama Rana, dan Rana pun akan bahagia bersama pria yang bertanggung jawab dan baik hati seperti Rendra. Sama sekali tidak terlintas di benaknya bahwa perasaan yang mulai tumbuh di antara dirinya dan Rendra sendiri justru perlahan menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan.
Beberapa hari setelah pulang dari kota, suasana sore yang teduh membuat Zahra duduk di beranda sambil merajut benang pikirannya. Ia teringat kembali momen saat di perjalanan pulang Rana tertawa riang menceritakan kisah lucu, dan Rendra yang biasanya serius ikut tertawa lepas, matanya bersinar gembira. Pemandangan itu terasa begitu indah dan pas di matanya.
“Benar-benar serasi sekali mereka berdua,” gumam Zahra pelan sendirian. “Mas Rendra butuh sosok yang bisa menghidupkan suasana di sisinya, dan Rana pun tampak sangat nyaman bersamanya. Seandainya mereka bisa bersatu, pasti akan menjadi pasangan yang paling bahagia.”
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa ini adalah hal yang baik dan patut diusahakan. Ia bertekad diam-diam untuk mulai menyusun rencana kecil demi mendekatkan keduanya mengatur kesempatan bertemu lebih sering, menciptakan suasana yang akrab, dan secara halus mengarahkan pembicaraan agar keduanya saling mengenal lebih dalam.
Sementara itu, Raka masih belum kembali dari perjalanannya dan belum mengetahui apa pun tentang perjalanan kondangan mereka berdua bertiga. Kabar yang diterimanya hanya sekadar “semuanya berjalan lancar” lewat pesan singkat, tanpa rincian lebih lanjut hal yang membuat Zahra dan Rendra merasa lebih leluasa bergerak dan berinteraksi seperti biasa, tanpa kekhawatiran akan salah paham. Rendra sendiri tetap bersikap wajar, ramah, dan perhatian kepada Zahra sebagaimana sebelumnya, tanpa curiga bahwa ada rencana tersembunyi yang sedang disusun gadis itu.
Kesempatan pertama datang saat Zahra mendengar Rendra berencana pergi ke pasar desa untuk membeli kebutuhan rumah dan toko. Ia segera berpikir cepat.
“Mas Rendra, nanti kalau ke pasar, bolehkah aku ikut? Lagipula aku ingin sekali mengajak Rana juga jalan-jalan sebentar. Sudah lama kami tidak berbincang panjang,” kata Zahra dengan senyum tulus saat berpapasan dengan Rendra di halaman rumah.
Rendra tersenyum setuju. “Tentu saja boleh. Tidak ada salahnya jalan-jalan sekalian menghirup udara segar. Nanti aku lewat sebentar ke rumah Rana untuk menjemputnya.”
Singkat cerita, rencana itu berjalan sesuai keinginan Zahra. Di pasar yang ramai namun hangat suasananya, Zahra sengaja membiarkan Rendra dan Rana berjalan beriringan lebih dulu, sementara ia sendiri berjalan agak di belakang sambil memperhatikan keduanya dengan rasa puas. Ia melihat bagaimana Rana dengan riang menunjuk barang-barang dagangan, bertanya ini-itu, dan Rendra yang menjawab sabar, sesekali tertawa mendengar celoteh gadis itu.
“Lihatlah, betapa mudahnya mereka berkomunikasi,” batin Zahra makin yakin. “Rana bisa membuat wajah Mas Rendra yang serius itu menjadi lebih cerah. Pasti ini jalan yang benar.”
Di tengah perjalanan pulang, mereka berhenti sejenak di pinggir sungai kecil yang airnya jernih dan sejuk. Di sana, Zahra mulai menyusun kata-kata dengan hati-hati, mencoba memancing pembicaraan ke arah yang ia inginkan.
“Kalian berdua sungguh akrab sekali, ya. Rasanya seperti sudah saling kenal sejak lama,” ujar Zahra memulai percakapan sambil duduk di atas batu besar.
Rana tertawa renyah. “Memang asyik saja jalan sama Mas Rendra. Dia pendengar yang baik dan tidak membosankan meski terlihat pendiam.”
Rendra hanya tersenyum sambil memandang aliran air. “Rana memang membawa kesegaran ke mana pun ia pergi. Sulit merasa sedih atau kaku di dekatnya.”
Zahra segera menangkap kesempatan itu. “Kalau begitu, sepertinya kalian memang pas sekali. Orang yang membawa keceriaan dan orang yang membawa ketenangan itulah pasangan yang saling melengkapi, bukan?”
Ucapan itu membuat Rana sedikit tersipu wajahnya memerah, sementara Rendra menoleh sekilas ke arah Zahra dengan pandangan yang sedikit bingung namun tetap tenang. Zahra sendiri merasa senang karena berhasil melemparkan benih pikiran itu, sama sekali tidak menyadari bahwa matanya sendiri justru sering kali diam-diam menatap Rendra lebih lama dari yang seharusnya—dan bahwa Rendra pun diam-diam menyadari hal itu.
Tak puas hanya satu kali, Zahra terus berusaha dengan cara lain. Ketika ibu Rendra hendak mengadakan acara memasak bersama untuk tetangga, Zahra dengan antusias mengusulkan agar Rana diundang untuk ikut serta alasan agar suasana lebih meriah dan banyak yang bisa dipelajari dari keahlian memasak Rana.
“Benar sekali, ide bagus itu,” kata ibu Rendra setuju tanpa ragu.
Hari itu dapur rumah menjadi sibuk namun penuh tawa. Zahra sengaja mengatur posisi berdiri: Rendra yang membantu mengupas dan memotong bahan berada di sisi yang sama dengan Rana, sementara ia sendiri membantu ibu Rendra di sisi lain, namun tetap memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Rana dengan lincah mengajarkan cara bumbu diolah, bagaimana Rendra mengikuti arahan dengan sabar, dan sesekali saling menyindir dengan canda tawa yang akrab.
Namun ada hal yang tidak disadari Zahra di sela-sela kesibukan itu, saat Rana sedang asyik bercerita kepada ibu Rendra, Rendra justru diam-diam melirik ke arah Zahra yang sedang sibuk mengaduk kuah dengan penuh perhatian. Tatapan Rendra itu lembut, dalam, dan penuh kekaguman sesuatu yang sama sekali tidak ditujukan kepada Rana.
Di sisi lain, Rana sendiri sebenarnya sadar betul akan niat Zahra. Ia gadis yang cerdas dan peka. Diam-diam ia tersenyum geli melihat usaha Zahra yang begitu bersemangat menjodohkan dirinya dengan Rendra, padahal ia tahu betul bahwa hati Rendra justru mulai condong ke arah lain—yaitu ke arah Zahra sendiri. Namun Rana memilih diam dan ikut bermain dalam rencana itu, ingin melihat sampai ke mana perjalanan perasaan mereka berdua akan berjalan.
“Zahra sungguh baik hati, tapi kadang terlalu polos dan tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi di depan matanya sendiri,” batin Rana sambil tersenyum dalam hati.
Suatu sore, saat semua pekerjaan selesai dan mereka duduk santai di teras rumah, suasana menjadi lebih hening. Zahra kembali mencoba menyampaikan maksudnya dengan lebih terbuka.
“Mas Rendra... aku sudah lama berpikir,” kata Zahra pelan namun serius. “Menurutku, Rana adalah gadis yang sangat baik, cantik, cerdas, dan sangat menyenangkan. Bukankah akan sangat indah jika kalian berdua bisa saling melengkapi dan menyatukan hidup kelak? Aku yakin kalian akan sangat bahagia.”
Rendra terdiam sejenak, menatap Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa heran, kelembutan, dan sedikit rasa sedih yang samar.
“Terima kasih atas niat baikmu, Zahra. Aku tahu kau melakukannya karena tulus dan menginginkan kebahagiaan kami berdua,” jawab Rendra perlahan, suaranya rendah namun tegas. “Tapi... tidak semua keserasian yang terlihat dari luar berarti cocok untuk menjadi pasangan hidup. Rana memang sahabat dan kerabat yang sangat aku hargai dan sayangi, tapi bagiku ia seperti adik sendiri tidak lebih dari itu.”
Kalimat itu membuat Zahra tertegun sejenak. Ia tidak menyangka jawaban Rendra akan begitu tegas dan lugas. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang tak terduga muncul, namun segera ia tepis dan gantikan dengan rasa bingung.
“Tapi... apa yang kurang, Mas? Rana sangat cantik dan baik hati,” tanya Zahra lagi, masih ingin memahami.
Rendra menghela napas pelan, lalu menatap lurus ke arah Zahra, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang lebih dalam namun masih menahan diri karena waktu belum tepat.
“Kecantikan dan kebaikan saja tidak cukup, Zahra. Ada sesuatu yang lain sesuatu yang membuat hati merasa tenang, merasa dihargai apa adanya, dan merasa bahwa takdir memang sudah menyiapkan jalan khusus untuk dua orang itu bertemu. Sampai saat ini, aku belum menemukan hal itu bersama Rana. Dan percayalah... aku tahu persis apa yang aku cari.”
Di sudut teras lain, Rana yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum kecil sambil memandang ke arah mereka berdua. Ia tahu betul kepada siapa kata-kata Rendra itu sebenarnya ditujukan dan betapa polosnya Zahra yang masih belum menyadarinya sama sekali.
Di sela-sela semua ini, kabar mulai terdengar bahwa Raka akan segera kembali. Pikiran itu membuat suasana menjadi lebih berhati-hati. Rendra dan Zahra sama-sama sadar bahwa selama kepergian Raka, hubungan mereka telah tumbuh lebih dekat dan hangat dari sebelumnya terutama setelah hari kondangan itu dan kini ada rencana penjodohan Zahra yang justru semakin membingungkan keadaan.
Zahra sendiri mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hatinya. Semakin ia berusaha mendekatkan Rendra dan Rana, semakin ia merasa ada rasa berat dan gelisah yang menyelinap. Ia tidak mengerti mengapa rasanya seperti itu padahal ia meyakini rencananya baik dan benar.
Sementara itu, Rendra semakin yakin bahwa perasaan yang mulai tumbuh di hatinya bukan sekadar rasa hormat atau persahabatan biasa. Ia sadar bahwa setiap kali Zahra berbicara tentang menjodohkan dirinya dengan orang lain, hatinya terasa sesak. Namun ia tetap menahan diri, tidak ingin bertindak terburu-buru, apalagi mengingat posisi Zahra sebagai kekasih sahabatnya sendiri.
Di sisi lain, Rana yang menjadi saksi semua ini mulai berpikir: jika Raka kembali dan mengetahui betapa dekatnya hubungan mereka bertiga terutama betapa Zahra diam-diam memikirkan Rendra dan Rendra memandang Zahra dengan pandangan yang berbeda pasti akan timbul kesalahpahaman besar. Dan rencana penjodohan Zahra yang gagal ini justru bisa menjadi pemicu awal terungkapnya perasaan yang selama ini tersembunyi.
Sore itu berakhir dengan banyak pertanyaan yang menggantung di udara. Niat tulus Zahra berubah menjadi benang kusut yang perlahan mengikat hati mereka masing-masing. Rencana yang ia bangun dengan baik hati ternyata tidak berjalan sesuai harapan, dan justru semakin membuka jalan bagi perasaan lain yang selama ini berusaha disembunyikan.