Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.Lupa Akar, Benang Merah yang Terputus
Dalam sekejap, kata-kata Xiao Xuan melayang di udara, menekan setiap sudut ruangan asrama hingga keheningan terasa begitu berat. Tidak ada bantahan, tidak ada suara yang menyela.
Tang San dan Xiao Wu berdiri kaku, wajah mereka yang tadinya penuh keyakinan dan sikap menghakimi kini memerah padam oleh rasa malu yang mendadak menyergap.
Bayangan skenario yang dilukiskan Xiao Xuan perlahan merasuk ke dalam benak Tang San. Ia membayangkan dirinya berada di posisi tetangga desa itu, menunggu bayaran hasil kerja kerasnya demi membeli beras di meja makan.
Beberapa keping koin perunggu yang ia peroleh dari lelahnya menempa besi adalah satu-satunya penopang hidupnya. Jika uang itu tertunda, betapa pun jeniusnya ia, betapa pun hebatnya bakat Roh yang dimilikinya, ia tetap akan jatuh tersungkur karena kelaparan.
Logika itu sederhana, dan Tang San tidak mampu lagi mengelaknya.
Sementara itu, Xiao Wu menatap pemuda di hadapannya dengan mata terbelalak, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan tidak sadar bahwa sejak tadi, Xiao Xuan memanggil namanya hanya sebagai
"Xiao Wu", bukan lagi "Saudari Xiao Wu" yang selalu ia banggakan. Selama ini, ia merasa menjadi sosok kakak yang hebat dan berkuasa di Akademi Nuoding, percaya bahwa ia harus melindungi adik-adiknya.
Namun hari ini, ia justru bersekongkol menyerang salah satu dari mereka, demi alasan yang kini terasa begitu kerdil dan memalukan.
Para siswa pekerja lainnya di Asrama 7 hanya diam mengamati, tatapan mereka kini berubah rumit. Mereka semua tahu betapa kerasnya hidup sebagai anak orang biasa, tahu persis nilai setiap keping uang.
Tang San, yang sama-sama berasal dari Desa Roh Suci, bukannya membela nasib sesama penduduk desa, malah berusaha menekan Xiao Xuan yang nyatanya sedang berjuang menegakkan hak mereka untuk meminta maaf pada pemilik kedai yang jelas-jelas memiliki kemampuan ekonomi jauh lebih baik.
Di mata anak-anak sederhana itu, perilaku Tang San kini terasa menjijikkan dan mengecewakan.
"Tapi... tapi tetap saja..." Xiao Wu menggigit bibirnya, berusaha mencari celah untuk mempertahankan pendiriannya, meski suaranya sudah tidak lagi sekuat tadi. "Kau Master Roh, mereka cuma orang biasa... Menindas yang lemah itu salah, kan? Kau tidak seharusnya melakukan kekerasan..."
Xiao Xuan menatapnya tajam, suara berat dan dinginnya kembali terdengar, memotong keraguan itu. "Orang biasa? Lalu bagaimana dengan Paman Fang Xi? Saat itu, ada empat atau lima orang berbadan besar yang dikirim pemilik kedai untuk mengancam dan memukulinya.
Jika aku tidak turun tangan, setidaknya tulang kakinya pasti sudah patah, dan dia akan terbaring sakit berbulan-bulan. Xiao Wu, coba jawab aku... Jika Ibumu atau Ayahmu dikepung orang-orang kuat yang ingin menyakiti mereka, dan kau punya kekuatan untuk menolong... maukah kau diam saja? Atau kau akan bertindak apa pun caranya demi keselamatan mereka?!"
"Aku..." Mulut Xiao Wu terbuka, namun kata-kata terhenti di tenggorokannya. Wajahnya yang semerah apel seketika berubah menjadi pucat pasi.
Sebuah kenangan kelam melintas cepat di benaknya, tajam dan menyakitkan. Ibunya... Bukankah ibunya juga mati dengan cara yang sama? Dikepung, diburu, dan dibunuh oleh orang-orang dari Balai Roh hanya karena kekuatan yang mereka miliki?
Jika dulu ia punya kuasa, jika dulu ia bisa berdiri di samping ibunya, tak ada keraguan sedikit pun di hatinya ia pasti akan melawan siapa saja, memaksa jalan masuk bersama Da Ming dan Er Ming, meski nyawanya sendiri taruhannya. Itu demi keluarga. Itu demi orang yang dicintai.
Kesadaran itu menghantam dada Xiao Wu sekeras palu godam. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya menjadi pucat seperti kain kafan, seolah ia baru saja jatuh ke dalam lubang ingatan yang paling mengerikan.
Mata indahnya berkabut air mata, berlinang dan siap jatuh kapan saja, menahan kepedihan yang mendalam.
Melihat perubahan drastis pada wajah gadis kecil itu, hati Tang San menjadi cemas bukan main. Ia segera melangkah maju, menopang bahu Xiao Wu, lalu menatap Xiao Xuan dengan tatapan tidak terima. "Xiao Xuan! Kenapa kau bicara begitu keras padanya? Xiao Wu masih anak-anak, dia tidak mengerti banyak hal!"
"Tang San," balas Xiao Xuan tenang, namun nada bicaranya mengandung ketegasan yang tak tergoyahkan. "Jika Xiao Wu masih dianggap anak-anak, bukankah aku juga sama? Tahun lalu, aku sempat menemaninya, mengalah dan mengikuti kemauannya selama setahun penuh. Tapi lihat sekarang... dia justru ingin merugikan kepentingan bersama orang-orang dari desa kita sendiri."
Ia melangkah selangkah mendekat, menatap lurus ke manik mata hitam Tang San. "Kau juga lahir dari keluarga miskin, kau juga tumbuh besar di Desa Roh Suci. Coba renungkan dalam hati... apakah sikap kalian hari ini benar?
Bukankah seharusnya sosok seperti 'Saudari Xiao Wu' itu melindungi kita yang lebih muda, atau yang lemah? Mengapa justru dia yang menuntut kita, memaksaku minta maaf pada orang yang jelas-jelas telah merugikan dan menindas warga desa kita?"
Tang San terdiam, ekspresinya membeku. Otaknya yang jenius dan cerdas itu kini kosong melompong, tak mampu merangkai satu pun kata untuk membantah.
Matanya yang berwarna ungu samar menatap Xiao Xuan dengan pandangan muram dan tak percaya. Ia tidak pernah menyangka, bahwa pemuda yang selama ini tampak pendiam,
sederhana, dan tak banyak bicara, ternyata memiliki pemikiran setajam ini, sejelas ini, dan sekuat ini dalam memegang prinsip. Ia telah dipojokkan sepenuhnya, hingga nuraninya sendiri ikut setuju bahwa ia salah.
"Sudahlah... Segalanya sudah cukup jelas sampai di sini," ucap Xiao Xuan pelan, namun kalimat itu terasa seperti penutup yang memisahkan dua dunia berbeda.
"Tang San, kurasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita. Satu hal yang pasti... kalian berdua sudah terlalu lama hidup di kenyamanan, jauh dari kehidupan rakyat jelata. Kalian telah melupakan akar kalian sendiri."
Ia menghela napas panjang, suara itu terdengar sedih namun tegas. "Mungkin kalian tidak tahu, tapi enam tahun lalu...
Kakekku lah yang dengan berani menentang pendapat seluruh warga desa, demi memberi izin Ayahmu dan kau menetap di sana. Keluargaku yang membantu membangunkan rumah kecil itu, yang menjaga dan memperlakukan kalian sebagai keluarga sendiri.
Tang San, aku bisa mengerti jika kau tidak mau ikut campur urusan warga desa yang kesusahan, atau masalah keadilan yang sulit didapat. Bagaimanapun, jalan hidupmu dan jalan hidup mereka mungkin sudah berjalan sejajar, dan mungkin takkan pernah bertemu lagi di masa depan."
Wajah Xiao Xuan mengeras, menatap tajam ke arah Tang San dan Xiao Wu. "Tapi yang tak bisa kuterima... adalah kau dan Xiao Wu justru membela pemilik kedai mie itu—orang yang menjual semangkuk mie seharga satu koin perak, orang yang jelas-jelas punya uang dan kekuatan—bahkan sampai rela menyerang saudara sendiri demi dia.
Dan yang paling ironis, pemilik kedai itu sendiri tidak pernah meminta tolong pada kalian! Kalian yang dengan sukarela memikul beban itu demi dia. Jujur saja, sampai detik ini aku benar-benar tak mengerti... alasan apa yang membuat kalian berbuat sejauh itu?"
Setelah melontarkan kata-kata terakhir itu, Xiao Xuan memalingkan wajah, seolah kedua sahabatnya itu sudah tidak lagi penting baginya. Ia kembali sibuk merapikan barang-barang di tempat tidurnya dengan gerakan tenang dan teratur.
Tang San merasa dadanya sesak, tak sanggup lagi bertahan di ruangan itu yang penuh dengan tatapan penghakiman teman-teman sekamarnya. Dengan wajah yang masih muram dan hati yang kacau, ia segera membawa Xiao Wu—yang masih tampak pucat dan lemas—bergegas meninggalkan Asrama 7.
Kepergian mereka meninggalkan keheningan yang mencekam, namun suasana itu tak berlangsung lama.
Setelah memastikan semua barangnya rapi, Xiao Xuan berdiri tegak, lalu menoleh ke arah teman-teman sekamarnya yang masih diam terpaku. Senyum tipis namun tulus kembali terukir di bibirnya, menghapus segala ketegangan yang tadi ada.
"Ayo kawan-kawan, jangan diam saja di sini," ucapnya riang, suaranya kembali ceria dan akrab seperti biasa. "Kita ke kantin, aku yang traktir! Anggap saja perayaan karena aku sudah mendapatkan cincin Roh pertamaku hari itu!"
"Wah! Baguslah! Kak Xuan memang paling dermawan!"
"Hore! Kak Xuan hebat banget!"
Suasana seketika berubah drastis. Para siswa yang tadinya takut berbicara atau mendekat, kini bersorak gembira. Rasa lega menyelimuti hati mereka.
Bersama Xiao Xuan, rasanya hidup jauh lebih ringan, jujur, dan sederhana—tidak ada kepalsuan atau sandiwara muluk-muluk seperti yang sering mereka rasakan saat berdekatan dengan Tang San maupun Xiao Wu.
Hari ini, setelah kejadian itu, pandangan mereka berubah sepenuhnya. Ternyata, sosok Tang San yang selama ini tampak begitu baik, sopan, dan bijaksana...
menyimpan sisi lain yang munafik dan lupa budi. Tanpa konfrontasi ini, mungkin mereka takkan pernah sadar seberapa besar perbedaan sifat antara kedua pemuda yang sama-sama berasal dari desa itu.
Sementara itu, Xiao Xuan berjalan di depan, memimpin rombongan teman-temannya dengan santai menuju lantai dua kantin akademi, tempat makanan terbaik disajikan.
Di sisi lain, langkah kaki Tang San terasa berat seolah terikat timah. Setiap kata yang diucapkan Xiao Xuan terus berputar di kepalanya, menusuk-nusuk hatinya.
Ia tidak tenang, bingung, dan penuh keraguan. Ia tahu ia harus bicara dengan seseorang, seseorang yang paling ia percaya untuk mencari jawaban dan kebenaran.
Dengan langkah gontai, ia membawa Xiao Wu menuju kediaman Guru Yu Xiaogang.
Sesampainya di sana, Yu Xiaogang segera menyambut mereka. Melihat wajah murung, mata sembab Xiao Wu, dan ekspresi kacau murid kesayangannya, sang guru langsung bertanya dengan penuh keheranan dan kekhawatiran.
"San Kecil? Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa wajah kalian kusut dan sedih sekali? Apa ada masalah saat berlatih, atau ada yang mengganggu kalian?"
Sejak memastikan identitas asli Tang San sebagai putra dari Douluo Gunung Terang, Yu Xiaogang semakin menaruh harapan besar dan perhatian mendalam padanya.
Jika saja ia masih memiliki kekuatan atau akses ke sumber daya keluarga, ia pasti sudah mengerahkan segalanya demi memajukan bakat luar biasa muridnya itu.
Di hadapan tatapan khawatir gurunya, Tang San tidak lagi menahan diri. Ia menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir, setiap kata, setiap argumen, dan setiap tuduhan yang terlontar antara dirinya, Xiao Wu, dan Xiao Xuan di dalam asrama tadi.
Ia menceritakan betapa tegasnya Xiao Xuan, betapa pucatnya wajah Xiao Wu, dan betapa kacau rasanya hatinya sekarang.
"Guru..." ucap Tang San dengan suara bergetar, matanya penuh kebingungan dan keraguan mendalam. "Apakah... apakah aku yang sebenarnya salah dalam hal ini? Xiao Xuan bilang aku sudah lupa asal-usulku... aku... aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana..."
Ia menunduk, membiarkan rasa bimbang itu memenuhi segenap hatinya, menunggu petunjuk dari satu-satunya orang yang ia anggap pembimbing sejati dalam hidupnya.