Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Cerita
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, suasana di ruang tengah rumah itu terasa tenang dan hangat. Cahaya terang dari lampu memantul di wajah wanita yang sedang tertidur diatas pangkuan suaminya. Senyum tipis selalu terukir di bibirnya setiap kali menatap ke arah lelaki yang kini wajahnya tepat dalam pandangan matanya, namun senyum itu selalu membuat dada laki-laki bernama Zid Farhan Hutama terasa sesak.
Wanita itu adalah Amira Arum , istrinya. Wanita yang dinikahinya satu tahun lalu, wanita yang dikenal oleh banyak orang sebagai sosok yang beruntung mendapatkan lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan sanggup mengangkat derajatnya serta kedua adiknya dari kesulitan hidup. Bagi dunia luar, mereka adalah pasangan yang serasi, rumah tangga mereka tampak begitu utuh, harmonis, dan penuh kasih sayang. Tidak ada seorang pun yang pernah menduga, bahwa segala keindahan yang terlihat itu hanyalah kulit luar semata.
Farhan menatap wajah istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mata orang lain, pandangan itu terlihat penuh perhatian dan kelembutan. Namun, hanya dirinya yang tahu apa yang sebenarnya tersimpan di sana. Apa yang ia rasakan bukanlah rasa cinta yang membara, bukan rasa memiliki yang tulus sebagaimana seharusnya dirasakan seorang suami kepada istrinya. Yang ada di hatinya hanyalah rasa iba yang mendalam, rasa tanggung jawab yang berat, serta belas kasihan yang tumbuh saat ia melihat betapa beratnya kehidupan yang harus dipikul Amira sebagai seorang yatim piatu yang harus menjadi tumpuan hidup bagi kedua adiknya yang masih bersekolah.
Ia menikahi Amira didorong oleh keinginan untuk menolong, bukan karena perasaan cinta. Saat itu, ia berpikir bahwa rasa sayang akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Ia berpikir bahwa dengan memberikan tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang terjamin, ia juga akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Namun, satu tahun berlalu, dan hatinya masih tetap tertutup rapat untuk Amira.
Di sudut paling dalam sanubarinya, masih tersimpan nama orang yang sama. Sosok yang bahkan hingga saat ini tidak bisa ia hapus dari ingatan, meski hubungan mereka telah berakhir bertahun-tahun silam. Sosok yang memutuskannya secara tiba-tiba tanpa penjelasan apa pun, namun tetap menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya dengan sepenuh jiwa. Setiap kali ia menatap Amara, wajah mantan kekasihnya itu seolah melayang di hadapannya. Setiap kali ia mendengar suara Amira, suara wanita lain yang justru bergema di telinganya.
“Mas, kenapa menatapku begitu lama? Apa ada yang salah di wajahku?” tanya Amira tiba-tiba, menyadari pandangan suaminya yang diam saja. Ia tersenyum lagi, senyum yang tulus dan polos, senyum yang justru membuat rasa bersalah di dada Farhan semakin menumpuk setinggi gunung.
Farhan tersentak, lalu segera menyusun senyum buatan yang sudah sering ia latihkan. “Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya berpikir… betapa beruntungnya aku memilikimu.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, namun rasanya seperti duri yang menusuk tenggorokan. Ia tahu ia sedang berbohong. Ia tahu ia sedang menipu wanita yang tidak pernah berbuat salah apa pun kepadanya. Ia tahu, jika suatu saat nanti Amira mengetahui kenyataan pahit ini bahwa dirinya hanyalah objek belas kasihan, bahwa ia tidak pernah memiliki tempat sedikit pun di hati suaminya maka dunia wanita itu akan runtuh seketika.
Dan Farhan tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Apakah Amira akan tetap bertahan demi kedua adiknya? Atau ia memilih untuk pergi, meski harus kembali menghadapi kerasnya dunia sendirian?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Farhan, membawa rasa takut yang dingin merayap ke sekujur tubuhnya, di tengah kehangatan rumah yang seolah menjadi penjara.
Flashback
Farhan dan Amira bekerja di gedung yang sama, namun dunia tempat mereka berpijak terasa begitu jauh dan berbeda. Amira hanyalah seorang petugas kebersihan yang mulai bekerja setelah lulus Sekolah Menengah Atas. Sementara itu, Farhan menjabat sebagai Manajer Keuangan, bekerja di ruangan ber-AC yang tenang dan rapi di lantai atas.
Amira sudah terbiasa berinteraksi dengan para pegawai bagian kantor. Tugasnya memang sering membawanya mendatangi mereka menyajikan teh atau kopi, diperintah untuk membelikan makanan di luar, hingga merapikan atau menata perlengkapan di meja kerja mereka. Baginya, mereka hanyalah orang-orang yang harus ia layani dengan sopan dan cekatan, tanpa berani melirik lebih jauh.
Namun, hari itu berbeda.
Siang itu, suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya karena ada rapat besar dengan klien dari luar kota. Amara berjalan terburu-buru membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat, melangkah hati-hati agar tidak ada satu pun yang tumpah. Ia baru saja akan memutar arah di ujung lorong, ketika tubuhnya kecil menabrak sesuatu yang kokoh dan keras.
Brak!
Nampan di tangannya terguling. Dua cangkir jatuh ke lantai dan pecah berderai, sementara air teh hangat itu membasahi sebagian kemeja putih yang dikenakan orang yang ditabraknya.
Amira membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mendongak, dan sepasang manik mata hitam yang tajam langsung menatap tepat ke dalam manik matanya. Wajah lelaki itu tampak kaku, namun ada ketenangan yang membuatnya semakin tampak berwibawa. Ia mengenakan kemeja rapi dengan lengan digulung sebatas siku.
"Maaf! Maafkan saya, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja..." Amira langsung membungkuk berkali-kali, suaranya terdengar cemas dan nyaris pecah. Ia segera berlutut, berusaha mengumpulkan pecahan kaca dengan tangan kosong tanpa mempedulikan rasa sakit yang mungkin akan muncul. Air matanya sudah mulai menetes di pelupuk mata. Ia tahu betul posisinya, dan kesalahan ini bisa saja membuatnya kehilangan pekerjaan satu-satunya sumber penghidupan yang ia miliki saat ini.
Namun, bukannya marah atau membentak seperti yang sering dilakukan oleh beberapa pegawai lain yang berkedudukan tinggi, Farhan justru berjongkok di hadapannya. Ia menahan tangan Amira yang gemetar, mencegah gadis itu melukai dirinya sendiri dengan pecahan kaca yang tajam.
"Jangan diambil dengan tangan kosong, nanti terluka," ucapnya. Suaranya terdengar rendah, namun lembut sangat jauh dari dugaan Amira.
Lelaki itu lalu mengambil tisu di meja terdekat, lalu mengelap sisa air teh yang menempel di lengan kemejanya sendiri dengan santai. Tatapannya yang semula tajam kini melembut saat kembali menatap wajah Amira yang tampak sangat ketakutan dan pucat pasi.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanyanya lagi, kali ini nadanya terdengar lebih lembut dan penuh perhatian.
Amira menggeleng pelan, masih belum berani mengangkat wajah sepenuhnya. "Saya... saya baik-baik saja, Pak. Maafkan saya sekali lagi, saya akan segera membersihkan kekacauan ini."
Farhan tersenyum tipis, senyum yang membuat jantung Amira seolah berhenti berdetak sejenak. Senyum yang tidak pernah ia sangka akan ia lihat dari sosok yang begitu dielu-elukan di tempat ini.
"Tidak apa-apa, itu hanya kecelakaan biasa. Jangan terlalu dipikirkan, dan jangan takut, aku tidak akan melaporkanmu atau memecatmu hanya karena hal ini. Ambillah sapu dan pengki untuk membersihkannya, hati-hati ya," katanya pelan, lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Amara yang masih terpaku di tempatnya.
Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diri Amira. Setiap kali ia melihat sosok Farhan di kejauhan, atau sekadar mendengar suaranya, Amira begitu kagum. Bagi dunia, mereka bagaikan langit dan bumi, dan Amira tahu betul bahwa ia hanyalah seorang gadis biasa yang tidak pantas untuk menjangkau bintang setinggi itu.
Sementara di sisi lain, Farhan tetaplah Farhan sosok yang masih misterius dikalangan orang-orang tempatnya bekerja. Dia tidak akan memikirkan hal sepele yang terjadi hari ini, Farhan cukup sibuk untuk menjaga nominal kantor yang angkanya cukup banyak itu.