NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: BANGKITNYA SANG RAJA

Bau uap panas dan kain terbakar dari lantai atas merembes masuk ke ruang bawah tanah, menciptakan kabut tipis yang membuat suasana semakin mencekam.

Lampu bohlam yang tergantung di langit-langit berayun pelan, melemparkan bayangan Lorenzo yang tampak seperti monster di dinding beton yang lembap.

Lorenzo Al-Ricci sudah kehilangan kesabarannya.

Wajahnya yang biasanya tertata rapi kini memerah, urat-urat di lehernya menegang saat ia menodongkan moncong pistol kaliber sembilan milimeter tepat ke dahi Matteo.

"Tanda tangani sekarang, Matteo! Atau aku akan memastikan darahmu menodai lantai pabrik busuk ini sebelum istrimu sempat masuk ke ruangan ini!" teriak Lorenzo, suaranya parau karena panik.

Map dokumen yang berisi penyerahan seluruh aset Al-Ricci dilemparkan ke pangkuan Matteo.

Matteo hanya menatap Lorenzo dengan ketenangan yang menghina.

Darah yang mengalir dari pelipisnya membuat tatapannya terlihat semakin ganas.

"Kau gemetar, Paman. Seorang raja tidak seharusnya gemetar di depan mangsanya."

"CUKUP!" Lorenzo menarik pelatuk senjatanya, suara click pengaman yang dibuka bergema nyaring.

"Satu... dua..."

Tepat sebelum hitungan ketiga, sebuah bayangan melesat dari balik tumpukan kain wol di sudut ruangan.

"JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARINYA!"

Alesha muncul dengan gerakan yang tak terduga. Ia tidak menyerang dengan pisau lipatnya terlebih dahulu.

Sebagai gantinya, ia melemparkan sebuah botol kaca berisi cairan aniline pekat, zat kimia pewarna tekstil yang ia ambil dari laboratorium kecil di lantai atas tepat ke arah wajah Lorenzo.

PRANG!

Botol itu pecah di bahu Lorenzo, mencipratkan cairan hitam pekat yang berbau menyengat ke mata dan wajah sang paman.

"ARGHHH! MATAKU!" Lorenzo menjerit kesakitan.

Tangannya secara refleks melepas todongannya untuk mengusap wajahnya yang terasa terbakar.

Ia terhuyung mundur, namun insting membunuhnya masih ada.

Dengan membabi buta, ia mengarahkan pistolnya kembali ke arah suara Alesha, jarinya siap menekan pelatuk.

"Alesha, merunduk!" teriak Matteo.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang akan diingat Alesha seumur hidupnya.

Selama ini, Alesha telah melihat Matteo berdiri di ruang kerjanya yang gelap, namun itu dilakukan dengan perlahan dan hati-hati.

Namun kali ini, tidak ada keraguan. Tidak ada kelemahan.

Dalam satu sentakan tenaga yang pasti, Matteo menghancurkan sandaran tangan kursi kayu tempat ia terikat.

Borgol yang mengikat tangannya ternyata sudah ia otak-atik sejak tadi menggunakan kawat kecil yang disembunyikan di balik jam tangannya.

Dengan gerakan yang lebih cepat dari terkaman macan tutul, Matteo bangkit berdiri bukan sebagai pria cacat, melainkan sebagai mesin pembunuh yang sempurna.

Matteo tidak butuh waktu untuk menyeimbangkan diri. Ia menerjang maju, menangkap pergelangan tangan Lorenzo sebelum pria tua itu sempat melepaskan tembakan.

Dengan satu gerakan memutar yang presisi, terdengar suara krak yang mengerikan, tulang pergelangan tangan Lorenzo patah seketika.

Pistol itu jatuh ke lantai marmer yang dingin. Matteo menangkapnya di udara sebelum menyentuh tanah, memutarnya dengan lihai, dan kini moncong senjata itu berpindah posisi.

Matteo menekan ujung pistol itu ke bawah rahang Lorenzo, memaksa sang paman untuk mendongak menatapnya.

Matteo berdiri tegak. Bahunya lebar, posturnya dominan, dan matanya memancarkan otoritas murni seorang raja yang baru saja merebut kembali takhtanya.

"Permainan selesai, Paman," bisik Matteo, suaranya sedingin es di puncak Alpen.

"Kau meremehkan tubuhku. Kau meremehkan istriku. Dan yang paling fatal... kau meremehkan keinginanku untuk melihatmu membusuk di penjara terdalam Italia."

Lorenzo merintih, tubuhnya lemas saat menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya ini bukanlah keponakan lumpuh yang bisa ia tindas.

Ini adalah Matteo Al-Ricci yang sesungguhnya, sang penguasa kegelapan yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kursi roda.

Alesha masih berdiri mematung di dekat mesin tenun. Napasnya tersengal-sengal.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.

Ia melihat Matteo berdiri di sana, menjulang tinggi, melindunginya dari bahaya dengan punggung yang kokoh.

Vincenzo dan beberapa pengawal setia yang tersisa tiba-tiba menyerbu masuk ke ruangan, segera meringkus Lorenzo yang sudah tidak berdaya.

"Amankan dia," perintah Matteo tanpa menoleh.

"Bawa dia ke otoritas yang sudah kita siapkan. Pastikan tidak ada satu pun pengacaranya yang bisa menjangkaunya malam ini."

"Siap, Tuan," sahut Vincenzo dengan nada hormat yang luar biasa.

Setelah Lorenzo diseret keluar, ruangan bawah tanah itu menjadi sunyi.

Hanya ada suara tetesan air dari pipa yang bocor dan napas berat Alesha.

Matteo membuang pistol itu ke meja terdekat. Ia berbalik perlahan, menatap Alesha dengan tatapan yang melunak.

Ada rasa lega, kemenangan, dan kasih sayang yang memancar dari matanya.

Ia melangkah mendekati Alesha, hendak menyentuh pipinya yang kotor oleh jelaga.

"Alesha... kau luar biasa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak muncul dengan botol kimia itu—"

PLAKKK!

Suara tamparan itu begitu keras hingga menggema di seluruh ruangan.

Kepala Matteo terlempar ke samping.

Matteo tertegun. Ia memegang pipinya yang kini terasa panas dan mulai memerah.

Ia menatap Alesha dengan bingung.

"Alesha?"

Alesha tidak tampak lega. Wajahnya memerah karena amarah yang jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi Kiara.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipinya yang berdebu.

"Kau bisa berdiri..." suara Alesha bergetar karena emosi yang meluap.

"Kau bisa berdiri sekuat itu selama ini?!"

"Alesha, aku harus menjaga sandiwara ini demi keamanan kita—"

"KEAMANAN KITA?!" Alesha berteriak, ia memukul dada Matteo dengan kedua kepalan tangannya.

"Aku hampir gila, Matteo! Aku mempertaruhkan nyawaku, aku menjual seluruh koleksi desainku, aku menyamar jadi buruh pabrik, aku ketakutan setengah mati membayangkan kau akan dibunuh atau disiksa karena kau tidak bisa melarikan diri!"

Alesha memukulnya lagi, dan lagi. Matteo hanya diam, membiarkan wanita itu meluapkan seluruh ketakutan dan rasa sakitnya.

"Aku melihat kursi rodamu kosong di Villa d’Este dan aku merasa duniaku kiamat!" Alesha terisak hebat, tubuhnya gemetar karena kelelahan emosional yang luar biasa.

"Kau membiarkanku merasa tidak berdaya... kau membiarkanku menangisimu semalaman seolah-olah kau adalah pria malang yang butuh perlindungan, padahal kau bisa saja mematahkan leher mereka semua dalam sekejap!"

Matteo menangkap kedua tangan Alesha, menariknya paksa ke dalam pelukannya.

Meskipun Alesha meronta, Matteo memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah wanita itu di dadanya yang bidang.

"Aku minta maaf, Alesha... Aku minta maaf," bisik Matteo berkali-kali di telinganya.

"Awalnya ini adalah rencana untuk menjatuhkan Lorenzo, tapi aku tidak pernah bermaksud membiarkanmu menderita seperti ini. Aku bersumpah, ini adalah kebohongan terakhir."

Alesha terisak di pelukan Matteo, mencengkeram kemeja pria itu dengan sisa tenaganya.

Rasa lega itu ada, namun rasa dikhianati oleh rahasia sebesar ini menciptakan lubang baru di hatinya.

"Aku membencimu, Matteo Al-Ricci," gumam Alesha di balik tangisnya.

"Aku benar-benar membencimu."

Matteo menghela napas panjang, mencium puncak kepala Alesha sambil tetap berdiri tegak, menjaganya dari dunia luar yang kejam.

"Aku tahu. Tapi sekarang, Sang Raja sudah kembali, dan tidak akan ada lagi kursi roda di antara kita. Aku akan membayarnya, Alesha. Aku berjanji."

Di ruang bawah tanah yang gelap itu, aliansi mereka telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks.

Rahasia telah terbongkar, kekuatan telah bangkit, namun luka di hati Alesha baru saja dimulai.

Sang Raja memang telah bangkit, namun ia harus belajar bahwa memenangkan perang jauh lebih mudah daripada mendapatkan kembali kepercayaan ratunya.

1
Ani Basiati
lanjut thor😍😍
merry
suka dech akhir ale tau yg slh siapa yg salah dan bnrr dan teo gk salh melakukan kebohongan
merry
orang tua dan mertua y celakaiin mantuy sndri demi harta,, Kiara mah juga terlibat
Yoyoh Rokayah
double up thor
chelsea dian
amazing
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Ani Basiati
lanjut thor 💪💪💪
Yoyoh Rokayah
double up dong thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!