Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Luhur Pangestu bangkit dari kursi kebesarannya. Ia menatap Arka sambil bergumam lirih, “Jika kau mampu menahan serangan ini... bukan hanya anakku, aku pun akan menaruh hormat padamu.”
Pedang Cakrawala Gemilang jatuh laksana meteor menyala. Di bawah tekanan yang menghimpit, pakaian Arka menempel erat pada tubuhnya. Dua kakinya tenggelam ke dalam tanah, seolah-olah ia sengaja memaku dirinya di sana.
Setengah bilah Pedang Hitam Raksasa di tangannya memancarkan aura dominasi yang tiranik. Alih-alih menyusut, aura itu justru semakin pekat.
Tiga puluh meter...
Sepuluh meter...
Tiga meter...
“MURKA... SANG PENGUASA!!!”
Tepat saat ujung pedang raksasa itu tinggal sejangkauan tangan dari kepalanya, Arka meledak bagaikan naga murka yang terbangun dari tidur panjang. Seluruh tenaga dalamnya memuncak dalam satu detik. Diiringi raungan yang menggetarkan jiwa, Arka mengayunkan pedang patahnya menyambut sang raksasa langit.
BOOOOM!!!!!!!!
Dentuman mengerikan itu mengguncang seluruh area perguruan. Jantung para penonton bergetar hebat. Dua kekuatan yang bagaikan letusan gunung berapi bertabrakan di satu titik, menciptakan bola api raksasa yang menelan pandangan mata. Cahaya emas dan biru berputar-putar seperti naga yang menari di tengah amukan badai.
Arena benar-benar terbelah menjadi dua. Wayan, sang wasit, terpaksa melompat jauh ke belakang demi menyelamatkan diri dari aura pedang yang menyambar-nyambar.
Kekuatan Cakrawala Gemilang jauh melampaui perkiraan Arka. Namun, tebasan balasan Arka justru membuat Yogi terbelalak. Pedang raksasa miliknya tertahan di udara, tak mampu turun lebih jauh.
Lebih dari sepuluh tarikan napas berlalu dalam kebuntuan yang mencekam. Lalu... sebuah retakan kecil muncul di ujung pedang cahaya Yogi. Retakan itu menjalar cepat hingga ke pangkal.
BOOOOM!!!!
Suara itu lebih keras dari sebelumnya—suara hancurnya Cakrawala Gemilang dari intinya. Jika sebelumnya dua pedang Yogi mampu mematahkan pedang Arka, kini pedang Arka yang sudah patah justru menghancurkan teknik terkuat Yogi dengan cara yang jauh lebih brutal.
Ini adalah pembalasan sang Penguasa. Pedang cahaya itu terbelah vertikal, hancur berkeping-keping sebelum kemudian lenyap ditelan angin.
Getaran arena mereda. Di tengah debu yang perlahan turun, tubuh Yogi jatuh dari langit. Ia melayang puluhan meter sebelum mendarat dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Wajahnya pucat pasi, pedang Yin dan Yang di tangannya telah kehilangan cahayanya.
Sementara itu, di pusat kawah raksasa sedalam enam meter, sosok Arka Yudistira kembali terlihat.
Pakaiannya sudah hancur menjadi deretan kain yang menggantung tak beraturan, nyaris membuatnya telanjang jika tidak ada beberapa bagian yang masih tersisa. Wajahnya tertutup debu, rambutnya acak-acakan. Namun, ia berdiri tegak. Luka-luka di tubuhnya hanyalah sayatan tipis yang tidak berarti.
Yogi menatap Arka dengan mata yang hampir melompat keluar dari rongganya. Serangan terkuatnya ternyata hanya mampu merobek baju lawannya.
CLANG!
Yogi melempar pedang kesayangannya ke tanah. Ia jatuh terduduk dengan ekspresi putus asa yang campur aduk.
“Aku tidak mau bertarung lagi... aku menyerah! Menyerah! Menyerah!” teriak Yogi frustrasi. “Aku mengaku kalah!!”
Ia menarik napas panjang, merasa beban berat di pundaknya akhirnya terangkat. “Aku, Yogi, tidak akan pernah—pernah—pernah lagi bertarung dengan monster sepertimu!!”
Bagi Yogi, bertarung melawan Arka adalah siksaan batin. Pedang ringan mungkin hanya meninggalkan luka, tapi berada di hadapan pedang berat Arka membuat seluruh tubuhnya terasa ingin remuk. Setiap detik pikirannya harus tegang, waspada penuh karena satu kesalahan berarti maut.
Dahulu, ayahnya—Luhur Pangestu—pernah berkata bahwa pedang berat hanya cocok untuk tentara di medan perang, bukan untuk pendekar sejati. Ayahnya bahkan menyebut pengguna pedang berat sebagai orang bodoh.
Namun sekarang, setelah merasakan sendiri kengerian Arka, Yogi benar-benar ingin berteriak di depan wajah ayahnya:
“Ayah, lupakan teori itu! Persetan dengan semua omonganmu!!”
"Yogi dari Perguruan Pedang Surgawi menyerah! Arka Yudistira dari Akademi Pusat Kerajaan Surya Kencana menang! Ia melaju ke babak final besok!"
Wayan, sang wasit, tertegun selama tiga tarikan napas penuh sebelum akhirnya melirik ke arah Luhur Pangestu. Dengan nada yang agak canggung, ia mengumumkan hasil pertandingan yang tak terduga itu.
Plok... plok...
Plok plok plok plok...
Tepuk tangan mulai terdengar dari tepi Arena. Awalnya hanya beberapa orang, lalu merambat ke satu sudut, hingga akhirnya menggelegar memenuhi seluruh arena. Hampir seluruh penonton—bahkan para tetua sekte—bangkit berdiri memberikan penghormatan terakhir bagi laga yang luar biasa itu.
Mereka telah menyaksikan sesuatu yang langka: keanggunan pedang cahaya yang presisi, bertabrakan dengan keganasan pedang berat yang tak terbendung. Pertarungan antara pemuda usia enam belas dan tujuh belas tahun yang kekuatannya telah melampaui logika orang awam.
Namun, di tengah sorak-sorai itu, wajah Arka Yudistira justru tidak menunjukkan kegembiraan. Ia hanya menatap diam-diam pada gagang pedang di tangannya.
Angin sore bertiup perlahan, menerbangkan sisa-sisa serpihan logam hitam dari tangannya. Satu demi satu pecahan itu jatuh ke tanah. Pedang Hitam Raksasa yang telah menemaninya sejak awal turnamen, akhirnya hancur total demi memberinya kemenangan.
Arka berlutut. Dengan penuh khidmat, ia memunguti setiap kepingan logam hitam itu, tidak membiarkan satu pun tertinggal di tanah, lalu menyimpannya ke dalam pusaka gaibnya.
Yogi berjalan mendekat, melihat tangan Arka yang kini kosong. Sebagai pendekar, ia paham betul rasa kehilangan itu. Pedang bukan sekadar alat; ia adalah bagian dari nyawa.
"Ugh... anu... Bos..." Yogi berdehem canggung. "Di gudang pusaka perguruanku masih ada beberapa pedang berat. Ada tiga atau empat yang kualitasnya sangat tinggi. Biar... biar aku yang menggantinya untukmu. Ambil semua pun tidak apa-apa."
Yogi sudah membulatkan tekad. Bahkan jika ayahnya melarang, ia akan melakukan segala cara agar Arka mendapatkan pedang baru.
"Tidak perlu," Arka tersenyum santai, menghilangkan kesan tegang di antara mereka. "Aku sudah bilang, kalau kau bisa menghancurkannya, itu berarti kemampuanmu. Jangan merasa bersalah. Jadi, kau sudah puas sekarang?"
Melihat Arka tertawa tanpa dendam, Yogi menghela napas lega. "Hehe... puas! Sangat puas! Mulai sekarang, kau benar-benar bosku!"
Yogi mulai membombardir Arka dengan pertanyaan tentang bagaimana tubuhnya bisa sekeras baja dan bagaimana ia bisa begitu sakti dengan pedang yang dianggap orang sebagai "sampah". Arka hanya menjawab singkat bahwa pedang berat tidak cocok untuk semua orang, jadi jangan mencoba-coba menirunya.
Saat Arka membantu Yogi turun dari arena karena kehabisan tenaga, sebuah pergerakan menghentikan napas semua orang.
Kresna, utusan dari Wilayah Pedang Langit Perkasa yang legendaris, tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia menatap Arka.
Seketika, suasana menjadi begitu sunyi. Nama Wilayah itu adalah legenda—satu dari empat kekuatan tertinggi di Benua Arcapura yang statusnya suci dan tak terjangkau. Bahkan seorang pelayan dari sana akan diperlakukan lebih hormat daripada seorang raja jika berkunjung ke Kerajaan Surya Kencana.