Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Palsu
Kirana berdiri kaku di dekat pintu keluar belakang gedung sambil menggenggam ponselnya, kabar dari rumah sakit membuat semua masalah yang baru saja terbuka seolah kehilangan suara. Rekaman Rendra, flashdisk perusahaan, Niko dan Proyek Meridian tiba-tiba tidak lagi menjadi hal paling penting karena satu-satunya yang memenuhi kepalanya saat itu adalah ayahnya yang menghilang dari kamar perawatan.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Aiden berbalik cepat.
"Aku ikut." Rendra melangkah maju.
"Tidak perlu." Kirana menatapnya dingin.
"Dia juga ayah mertuaku." Rendra menahan napas.
"Jangan pakai hubungan itu sekarang." Kirana menggeleng pelan.
Rendra terdiam dengan wajah terpukul, di saat lain mungkin ia akan memaksa ikut dengan alasan khawatir namun setelah rekaman tadi setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa kehilangan hak untuk dipercaya.
"Bos, Niko bagaimana?" Gavin menunjuk Niko.
"Bawa dia ke ruang keamanan." Aiden menatap petugas.
"Jangan lupa flashdisknya." Gavin menunjuk saku Niko.
"Flashdisk ini ikut denganku." Niko tersenyum miring.
"Kamu terlalu percaya diri." Armand mendekat.
Petugas keamanan langsung menahan Niko dari kedua sisi, pria itu tidak melawan tetapi senyumnya membuat semua orang tidak nyaman. Kirana sempat menatapnya sekilas dan merasa pria itu tahu lebih banyak tentang hilangnya ayahnya daripada yang ia katakan.
"Apa kamu tahu sesuatu?" Kirana menatap Niko.
"Mungkin." Niko mengangkat bahu.
"Katakan." Kirana mendekat.
"Nanti." Niko tersenyum tipis.
Aiden hampir kehilangan kesabarannya saat melihat cara Niko menjawab, namun kondisi Kirana yang semakin pucat membuatnya memilih menunda semua pertanyaan. Saat ini, rumah sakit harus menjadi tujuan pertama sebelum semuanya terlambat.
"Kita pergi." Aiden menoleh ke Kirana.
"Saya ikut di mobil Tuan." Kirana mengangguk singkat.
"Aku menyetir." Gavin mengangkat tangan.
"Jangan." Aiden menatapnya.
"Saya bisa menyetir." Gavin menunjuk dirinya.
"Justru itu yang membuatku takut." Aiden berjalan cepat.
Gavin menggerutu pelan, tetapi tetap mengikuti mereka bahkan dalam keadaan genting celetukannya masih muncul begitu saja walau kali ini tidak cukup kuat untuk mencairkan ketegangan yang menyelimuti mereka.
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung cepat dan tegang, Aiden duduk di depan bersama sopir sementara Kirana berada di kursi belakang dengan ponsel yang terus menempel di telinganya. Rani tidak mengangkat panggilan, rumah sakit hanya memberi jawaban singkat dan setiap detik yang berlalu membuat kecemasan Kirana semakin sulit dikendalikan.
"Kak Rani masih tidak menjawab." Kirana menurunkan ponselnya.
"Kita hampir sampai." Aiden menoleh sebentar.
"Kalau sesuatu terjadi pada Ayah..." Kirana menggenggam ponselnya.
"Jangan pikirkan kemungkinan terburuk dulu." Aiden menatapnya dari kaca spion.
"Saya tidak bisa." Kirana memejamkan mata.
"Saya juga tidak bisa." Gavin mengangkat tangan pelan.
Aiden melirik tajam ke belakang.
"Saya diam." Gavin langsung menutup mulutnya.
Kirana tidak menanggapi, dalam pikirannya wajah ayahnya terus muncul dengan senyum lemah di ranjang rumah sakit. Baru beberapa jam lalu pria itu masih bercanda, masih meledeknya karena terlalu serius, dan masih menyuruhnya makan. Kini kamar itu kosong tanpa penjelasan.
Mobil berhenti di depan lobi rumah sakit dengan suara rem yang tajam, Kirana langsung turun sebelum sopir sempat membukakan pintu, Aiden mengikutinya dari belakang sedangkan Gavin berlari kecil sambil hampir tersandung pembatas parkir.
"Kirana!" Rani berlari dari arah koridor.
"Kak, Ayah di mana?" Kirana langsung mendekat.
"Aku tidak tahu." Rani menangis.
"Kakak tadi di mana?" Kirana memegang lengan kakaknya.
"Aku ke apotek sebentar." Rani mengusap wajahnya.
"Berapa lama?" Aiden mendekat.
"Kurang dari sepuluh menit." Rani menatap Aiden. "Saat aku kembali, Ayah sudah tidak ada."
Kirana menarik napas dalam, tetapi dadanya tetap terasa sesak. Ia tahu ayahnya belum cukup kuat untuk berjalan jauh sendirian, jika pria itu benar-benar keluar dari kamar pasti ada seseorang yang membantunya.
"CCTV rumah sakit sudah diperiksa?" Aiden menoleh ke petugas.
"Sedang diperiksa." Petugas rumah sakit tampak gugup.
"Saya ingin melihatnya sekarang." Aiden menatap tegas.
"Maaf, itu harus melalui izin bagian keamanan." Petugas itu menunduk.
"Kalau begitu panggil bagian keamanan." Aiden menahan suaranya.
Petugas itu langsung pergi, beberapa keluarga pasien yang berada di dekat lobi mulai menoleh karena suasana semakin tegang. Kirana tidak peduli pada pandangan orang-orang itu, ia hanya ingin tahu ke mana ayahnya dibawa.
"Kir, maaf." Rani memegang tangan adiknya.
"Bukan salah Kakak." Kirana menggeleng.
"Aku seharusnya tidak meninggalkannya." Rani menunduk.
"Kita cari Ayah dulu." Kirana menguatkan suara.
Aiden memperhatikan Kirana beberapa detik, wanita itu terlihat hampir runtuh tetapi tetap memaksa dirinya berdiri tegak. Sikap itu membuat dadanya terasa berat karena ia tahu Kirana terlalu terbiasa menahan luka sendirian.
Mereka dibawa ke ruang keamanan rumah sakit beberapa menit kemudian, dua petugas memutar rekaman CCTV koridor lantai perawatan. Kirana berdiri paling depan, matanya tidak lepas dari layar yang menampilkan pintu kamar ayahnya.
"Itu Ayah." Rani menunjuk layar.
"Perbesar." Aiden mendekat.
Petugas memperbesar gambar, di layar terlihat ayah Kirana duduk di kursi roda didorong seseorang yang memakai masker medis dan topi. Gerakan orang itu tenang, seolah sudah tahu jalur yang harus dilalui.
"Siapa itu?" Kirana menatap layar.
"Kami belum tahu." Petugas menggeleng.
"Putar bagian lift." Aiden menunjuk monitor.
Rekaman berpindah ke kamera lift, sosok bertopi itu mendorong kursi roda masuk lalu menekan tombol lantai dasar. Beberapa detik sebelum pintu tertutup, wajah orang itu sedikit menoleh ke kamera.
Gavin langsung menegang.
"Bos..." Gavin menunjuk layar.
"Aku lihat." Aiden menyipitkan mata.
"Kamu mengenalnya?" Kirana menoleh cepat.
Aiden tidak langsung menjawab, wajah orang di rekaman tidak terlalu jelas tetapi ada sesuatu pada bentuk rahang dan cara berdirinya yang terasa familiar. Ia pernah melihat sosok itu di lingkungan perusahaan, meskipun belum bisa memastikan namanya.
"Putar ulang." Aiden menatap petugas.
"Baik." Petugas memutar ulang video.
Kirana memperhatikan layar dengan napas tertahan, saat wajah itu kembali terlihat tubuhnya mendadak dingin. Ia memang tidak mengenal orang itu dengan dekat, tetapi ia pernah melihatnya satu kali.
"Dia pernah datang ke kantor." Kirana berbisik.
"Kapan?" Aiden menoleh.
"Saat Rendra masuk hari pertama." Kirana mengingat-ingat. "Dia berdiri di dekat lift, memakai kartu tamu."
Gavin langsung menepuk dahinya.
"Kartu tamu palsu." Gavin menunjuk layar.
"Orang yang sama." Aiden mengangguk.
Suasana ruang keamanan langsung berubah semakin tegang, jika orang itu terhubung dengan kartu tamu palsu di Pradana Group berarti hilangnya ayah Kirana bukan kebetulan. Seseorang sengaja menyeret keluarga Kirana ke dalam konflik Proyek Meridian.
"Pintu keluar mana yang dia pakai?" Aiden menatap petugas.
"Pintu samping." Petugas membuka rekaman lain.
Di layar berikutnya, sosok itu mendorong kursi roda keluar menuju area parkir samping rumah sakit. Sebuah mobil abu-abu berhenti di sana, tetapi pelat nomornya tertutup sebagian oleh bayangan.
"Perbesar pelatnya." Aiden menunjuk layar.
"Buram." Petugas menggeleng.
"Coba lagi." Aiden menahan kesal.
Petugas mencoba beberapa kali, tetapi hasilnya tetap tidak jelas. Kirana menatap layar dengan tangan gemetar, Rani menangis pelan di sampingnya sementara Gavin tidak lagi bercanda sama sekali.
Ponsel Kirana tiba-tiba bergetar, nomor tidak dikenal.
"Angkat." Aiden menoleh cepat.
Kirana menerima panggilan itu dengan napas tertahan.
"Halo." Kirana menekan ponsel ke telinga.
"Kirana Maheswari?" suara pria terdengar pelan.
"Siapa kamu?" Kirana menegang.
"Ayahmu aman." Pria itu tertawa kecil.
"Di mana Ayah saya?" Kirana menggenggam meja.
"Jangan berteriak." Pria itu menurunkan suara.
"Apa yang kamu mau?" Aiden mendekat.
"Jangan libatkan Aiden Pradana." Pria itu langsung berubah dingin.
Kirana menatap Aiden dengan wajah pucat, pria di seberang sana tahu Aiden ada di dekatnya. Itu berarti mereka sedang diawasi.
"Kamu mengawasi kami?" Kirana menoleh ke sekitar.
"Aku mengawasi cukup banyak hal." Pria itu tertawa rendah.
"Apa maumu?" Kirana menahan gemetar.
"Bawa flashdisk itu." Pria itu memberi perintah.
"Flashdisk apa?" Kirana pura-pura tidak tahu.
"Jangan bodoh." Pria itu mendesis. "Flashdisk yang sekarang dipegang Niko."
Aiden langsung mengangkat kepala.
"Kalau aku menolak?" Kirana bertanya pelan.
"Besok ayahmu tidak akan kembali." Pria itu memutus panggilan.
Kirana menatap layar ponsel yang sudah gelap, beberapa detik tidak ada suara di ruangan itu lalu pesan masuk muncul dari nomor yang sama berisi sebuah lokasi kosong di pinggir kota dan satu kalimat yang membuat darah Kirana seakan berhenti mengalir.
Datang sendiri, atau ayahmu pulang dalam keadaan tidak bernapas.