NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Tahanan atau Tunangan

Sesampainya di rumah Wayne, bibi sudah menyiapkan baju ganti dan menyiapkan air hangat untuk Milly mandi. Ia sudah bisa kembali tinggal di kamarnya sendiri. Jendela kamarnya sudah diperbaiki.

Tok.. Tok.. Terdengar pintu kamarnya diketok saat ia baru keluar dari kamar mandi. Ia keluar dengan rambut yang masih basah. Beberapa helai rambut menempel di sisi wajahnya. Ujung rambutnya meneteskan air kecil ke bahu. Ia mengusapkan handuk dengan kasar dan cepat ke rambut sembari tangan yang lain membuka handel pintu kamar.

"Sudah kapok belum kabur dariku?" sindir Wayne sembari mengambil alih handuk yang disampirkan di bahu Milly.

"Handukku," protes Milly. Tangannya yang ingin mengambil handuk berhenti di udara.

"Aku bantu keringkan rambutmu," ujar Wayne mendorong lembut Milly ke arah ranjang.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," bantah Milly sembari berebut handuk. Tapi gerak tangannya kurang cepat. Ia bahkan tidak bisa mengambil handuknya sendiri dari tangan Wayne.

"Duduk," pinta Wayne lebih lembut.

Milly masih cemberut. Tapi ia menurut juga. Ia duduk di tepi ranjang dan Wayne berdiri di sampingnya.

Dengan perlahan, Wayne meletakkan handuk itu diatas rambut Milly yang masih basah. Ia mulai mengeringkan rambut gadis itu. Gerakan tangannya tidak terburu-buru, hanya menekan lembut handuk agar air mudah terserap. Beberapa kali ia mengusap rambut Milly hingga sudah tidak terlalu basah. Ia kemudian mengambil hair dryer dari lemari, menyalakannya hingga suara mesin pengering rambut memenuhi ruangan. Masih dengan kehati-hatian, ia mengatur jarak hair dryer agar angin hangat tidak terlalu dekat dengan kulit kepala gadis di depannya ini. Jemarinya menyisir rambut Milly perlahan, memastikan setiap bagian rambut yang masih basah terkena udara hangat.

Tubuh Milly awalnya kaku. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti Wayne memperlakukannya ini. Namun, lama-lama bahunya sedikit lebih rileks. Ia merasa sedikit lebih nyaman.

"Sudah."

Suara Wayne membuat Milly tersadar. Ia menyentuh rambutnya yang sudah kering. "Terimakasih," katanya sungguh.

Wayne tersenyum tipis. "Tidak perlu," ujarnya sembari merogoh kantong dan mengeluarkan gelang.

Milly melihat dengan bingung. Gelang itu tampak sederhana. Sebuah lingkaran logam tipis bewarna perak. Tidak ada hiasan permata, hanya sedikit ukiran daun dan ranting yang artistik. Anehnya ada titik cahaya biru kecil yang berkedip pelan seperti mata yang sedang mengawasi.

"Gelang apa itu?" tanya Milly. Namun sebelum pertanyaan itu diselesaikan, Wayne sudah menarik salah satu tangannya dan klik, gelang itu terpasang.

"Apa ini?" tuntut Milly meminta penjelasan. Gelang itu menyusut mengikuti kerampingan tangannya dan mengunci.

"Gelang," jawab Wayne ringan.

Milly menarik tangannya. "Aku tidak mau gelang ini. Aku mau gelang ini dilepas."

"Tidak."

Milly maju satu langkah mendekat.

"Lepaskan, Wayne!"

"Tidak akan!"

"Kenapa tidak?"

"Tidak ya Tidak."

"Jangan seenaknya Wayne. Ini tanganku bukan tanganmu. Kau tidak berhak memasangkan gelang yang tidak aku inginkan," protes Milly menginterupsi.

Wayne tidak menjawab. Ia tetap kekeh tak mau melepas gelang itu dari tangan Milly.

Milly mulai habis kesabaran. Kedua alisnya mengernyit. Ia menatap gelang itu sekali lagi dan menggerakkan tangannya di udara, memutar-mutar tangannya sendiri. Jemarinya mencoba menyentuh pengaitnya, mencari celah sekecil apapun. Tapi setiap kali ia menariknya, gelang itu justru makin menyusut dan menyakitinya.

"Percuma. Kau tidak akan bisa melepaskannya," beritahu Wayne dingin.

"Apa ini?" desak Milly menuntut penjelasan. Suaranya terdengar bergetar.

"Gelang," sahut Wayne, nada suaranya terdengar sedikit lebih dingin.

"Kau dan aku jelas tahu, ini bukan sekedar gelang. Apa ini?" geram Milly dengan nada suara naik setengah oktaf.

"Itu hanya sebuah alat pelacak. Ia terhubung dengan sistem navigasiku. Jadi mulai sekarang aku akan tahu dimanapun lokasimu, kapanpun," jelas Wayne tanpa rasa bersalah.

"Aku bukan tahanan, Wayne."

"Aku tahu dan aku tidak pernah menganggap mu sebagai tahanan."

"Tapi kau memasang alat ini ke tanganku," geram Milly sambil menunjuk gelang di tangannya. "Apa bedanya kau dan papa Alletta?"

"Setidaknya, aku tidak memenjarakan mu di balik terali besi," ucap Wayne makin dingin.

"Tapi kau membatasi gerakku, kau mengawasiku, kau ..."

"Kau kabur Milly. Aku hampir kehilanganmu."

"Tapi kau menemukan ku."

"Aku tidak akan selalu seberuntung itu dan berjaga-jaga itu lebih penting."

Milly menelan ludahnya dengan susah. "Apa seperti ini caramu memperlakukan tunanganmu?"

"Sekarang kau baru mengaku aku tunanganmu?"

"Bukan. Bukan begitu..."

"Kau tetap tunangan ku tapi gelang itu juga tetap harus kupasang di tanganmu," tegas Wayne tak memberi ruang kompromi. Rahangnya tampak mengeras.

Dalam hati, Milly ingin berteriak dan merengek minta Wayne melepaskan gelangnya. Tapi ia tahu semua usahanya bakal sia-sia. Wayne tak akan mempan dengan aksi melodramanya. Ia mengulum bibirnya sendiri--memikirkan cara lain.

"Kau benar-benar tidak mau melepaskannya?" desis Milly bertanya untuk yang terakhir kalinya.

"Tidak," tandas Wayne tanpa keraguan.

Milly menarik nafas dalam. "Baiklah," gumamnya seolah menyerah. Tapi Wayne yang paling tahu, Milly tak akan mudah menyerah begitu saja.

"Kuingatkan, jangan pernah mencoba memaksa melepaskan gelang dari tanganmu. Karena selain bakal menyakitimu, juga jika kau tetap terus memaksa, maka otomatis akan mengaktifkan jarak radius 10 kilometer dariku. Kau tidak akan bisa kabur lagi lebih dari jarak 10 kilometer dariku."

"Kau.." geram Milly menahan diri. "Kau sungguh sudah memikirkan semuanya dengan cermat. Aku salut," imbuhnya angkat tangan.

Wayne menyeringai tipis. "Istirahatlah," katanya sembari membalikkan punggung. Ia melangkah keluar dari kamar Milly.

Milly melempar bantalnya ke arah Wayne, sayangnya lemparannya tak tepat sasaran. Bantalnya jatuh mengenai ambang pintu kamarnya sendiri.

"Masih berani mengatakan aku bukan tahanan," geram Milly marah-marah dalam kamar. Ia menutup pintu kamar dan memungut bantalnya.

Amarahnya yang tadi membara mulai mereda. Matanya jatuh pada pergelangan tangan. Ia lagi-lagi menatap gelang itu dengan perasaan campur aduk. Tidak peduli berapa kali ia mencoba mengabaikannya, gelang itu bakal mengingatkan dirinya jika mulai hari ini ada gelang ini yang membatasi ruang geraknya, yang mengawasinya seperti ada satelit berjalan di atas kepalanya.

Ia tahu Wayne mengkawatirkan keselamatannya. Ia tahu akhir-akhir ini ia sering dikejar bayangan hitam. Bahkan ia tahu identitas dirinya sebagai sang Pelihat jika terbongkar bakal menyusahkan Wayne Dan mungkin saja bakal mencelakai orang di sekelilingnya. Tapi apakah itu artinya ia tidak memiliki kebebasan lagi untuk diperjuangkan. Ia menghirup nafas panjang. Matanya terpejam sebentar. Ia mencoba menenangkan diri.

Malam ini ia sudah terlalu lelah. Ia baru saja keluar dari penjara, lalu bergelut dengan Wayne soal gelang ini. Ia pikir masalah sehari ini sudah cukup untuk sehari, esok punya kesusahan sendiri.

Ia naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Ia mematikan lampu kamar. Katanya tidur dalam keadaan lampu padam bisa membuat kualitas tidur jauh lebih baik.

***

1
Liza Navy
Jangan lupa tinggalkan like dan command yaa.. 🙏😍
Devi..
tetap punya kebebasan dan klo mau perjuangin yaa dg asah kemampuanmu smpai bisa melindungi diri sendiri dan bersikap dewasalah Milly😬
Devi..
knpa Milly rewel banget klo sama Wayne..nurut aja napa sih??toh utk ngelindungin dia tanpa menyakitinya..hiiiohhh🙄😬
Devi..
haahh lagi" Milly ceroboh,.. harusnya nenek Dorothy dikasih tau kondisi yg sebenarnya dan pindah k tempat yg aman biar gk dijadikan ancaman utk Milly..😌
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Navy: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Navy: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!