NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Yang Tak Lagi Sama

Mobil itu melambat saat memasuki gang kecil menuju kos Nayra. Jalanannya sempit.

Hanya cukup untuk satu mobil dan beberapa motor yang terparkir di pinggir.

Suasana berbeda dari jalan utama yang tadi mereka lewati—lebih sunyi, lebih sederhana, dan terasa… pribadi.

Nayra menatap keluar jendela. Ini dunianya.

Tempat ia menjalani hari-hari dengan segala ketakutan, rahasia, dan perjuangan yang selama ini ia simpan sendiri.

Dan sekarang— Ada Arsen di dalam mobil itu.

Masuk ke wilayahnya. Tanpa ia rencanakan.

Tanpa ia siapkan.

“Belok kiri, Mas,” kata Sinta pelan dari kursi belakang.

Arsen mengangguk singkat.

Mobil berhenti tepat di depan bangunan kos dua lantai yang catnya mulai pudar. Beberapa jemuran terlihat di balkon atas.

Seorang ibu kos duduk di kursi plastik dekat pintu masuk, mengipasi diri.

Nayra langsung membuka pintu. “Udah sampai,” ucapnya cepat. Seolah ingin segera keluar.

Namun— Arsen ikut turun. Langkahnya tenang. Matanya memperhatikan sekitar. Lingkungan itu jauh dari dunia yang biasa ia tempati. Tapi ia tidak menunjukkan ekspresi merendahkan. Hanya… mengamati.

Nayra berhenti. Menoleh.

“Kamu nggak perlu turun,” katanya.

Arsen menatapnya. “Iya.” Jawaban itu singkat.

Tapi ia tetap berdiri di sana. Tidak kembali masuk ke mobil.

Sinta keluar lebih dulu. Melihat situasi itu, ia langsung tersenyum kecil. “Ya udah, kita naik dulu aja,” katanya.

Nayra menatapnya. “Sin…”

Sinta hanya memberi tatapan yang sulit dijelaskan. Antara mendukung. Dan… sengaja mendorong sesuatu.

Ibu kos melirik ke arah mereka. “Na, pulang?”

Nayra mengangguk cepat. “Iya, Bu.”

Matanya sempat melirik Arsen. Tatapan penasaran jelas terlihat di wajah ibu itu.

Namun Nayra langsung berjalan masuk.

Sinta mengikuti.

Arsen… beberapa detik diam. Lalu ikut masuk.

Tangga menuju lantai dua tidak terlalu lebar.

Catnya sedikit mengelupas. Langkah kaki mereka terdengar jelas.

Nayra berjalan paling depan. Jantungnya berdebar. Bukan karena lelah. Tapi karena—

Ia tidak pernah membayangkan pria itu akan sampai sejauh ini.

Sampai di depan kamar— Nayra berhenti.

Tangannya menggenggam kunci. Beberapa detik ia diam. Seolah ragu.

Namun akhirnya— Ia membuka pintu.

Kamar itu sederhana. Tidak besar.Hanya cukup untuk satu ranjang, satu lemari, meja belajar, dan beberapa barang pribadi.

Ada buku-buku di atas meja. Botol air. Beberapa snack. Dan suasana yang… hangat.

Berbeda jauh dari dunia Arsen.

“Masuk,” ucap Nayra pelan.

Arsen melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan. Tidak ada komentar. Tidak ada ekspresi berlebihan.

Namun jelas— Ia melihat semuanya. Dan memahami sesuatu.

Sinta langsung duduk di kursi. “Capek banget aku” katanya santai. Berusaha mencairkan suasana.

Nayra berdiri di dekat pintu.

Sementara Arsen tetap berdiri di tengah ruangan.

“Duduk aja,” kata Nayra akhirnya.

Arsen mengangguk. Lalu duduk di kursi kecil dekat meja belajar. Posisinya berhadapan dengan Nayra.

Beberapa detik tidak ada yang bicara. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

“Ini tempat mu?” tanya Arsen akhirnya.

Nayra mengangguk. “Iya.”

“Udah lama?”

“Lumayan.” Jawaban pendek.

Masih ada jarak.

Arsen menatap sekeliling lagi.

“ Kamu tinggal berdua?”

“Sendiri, Sinta di kamar sebelah tapi juga sering tidur di sini.”

Sinta mengangkat tangan kecil. “Halo.”

Arsen menoleh, lalu mengangguk sopan. “Terima kasih sudah jaga dia,” ucapnya.

Sinta sedikit terkejut. “Eh… iya.”

Nayra langsung menyela—

“Aku bisa jaga diri sendiri.” Nada suaranya halus. Tapi jelas.

Arsen tidak membalas dengan nada keras. Ia hanya menatap Nayra. “Iya, Aku tahu.”

Jawaban itu membuat Nayra sedikit terdiam.

Tidak ada perdebatan. Tidak ada bantahan.

Justru… pengakuan.

Suasana kembali hening.

Lalu—

Arsen berkata pelan— “Dokter bilang apa?”

Pertanyaan itu membuat Nayra sedikit terkejut. Namun kali ini— Ia tidak menolak.

“Baik. Normal.”

Arsen mengangguk. “Syukurlah.”

Beberapa detik.

Nayra menatapnya. “Apa lagi yang mau kamu tahu?”

Nada suaranya tidak setajam dulu. Tapi masih menjaga jarak.

Arsen menatapnya balik. “Banyak.”

Nayra mengernyit. “Tapi…”

Arsen melanjutkan— “Aku nggak akan tanya semuanya sekarang.”

Jawaban itu membuat Nayra diam. “Kenapa?” tanyanya pelan.

Arsen menarik napas. “Karena aku tahu… kamu belum siap.”

Kalimat itu— Lagi-lagi tepat. Dan Nayra tidak bisa membantah.

Sinta yang dari tadi diam, akhirnya berdiri.

“Aku ke bawah beli minum dulu,” katanya tiba-tiba.

Nayra langsung menoleh. “Sin—”

“Sebentar aja,” potong Sinta cepat.

Dan tanpa menunggu jawaban— Ia keluar.

Meninggalkan mereka berdua. Pintu tertutup. Sunyi. Lebih sunyi dari sebelumnya.

Nayra berdiri di tempatnya. Tidak tahu harus duduk atau tetap berdiri.

Arsen juga tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan. “Apa kamu selalu kayak gini?” tanya Arsen akhirnya.

Nayra mengernyit. “Gimana?”

“Semua ditahan sendiri.”

Nayra terdiam. Pertanyaan itu… terlalu dalam.

“Aku terbiasa,” jawabnya akhirnya.

Arsen mengangguk pelan. “Kelihatan.”

Beberapa detik hening.

Arsen berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup membuat jarak terasa berbeda.

“Kamu nggak harus sendiri lagi,” ucapnya pelan.

Nayra menatapnya. Jantungnya kembali berdebar. “Aku nggak minta,” jawabnya.

Arsen mengangguk. “Iya.” “Tapi aku tetap ada.”

Nayra menggigit bibir bawahnya. Bingung.

Kesal.Tapi juga… tidak bisa benar-benar menolak. “Kenapa sih kamu kayak gini…” bisiknya.

Arsen menatapnya dalam. “Karena aku mau.”

Jawaban itu sederhana. Tapi tidak bisa dibantah.

Beberapa detik mereka saling diam. Udara terasa lebih berat.

Nayra sedikit memegang perutnya.

Arsen langsung menyadari. “Kenapa?” Nada suaranya berubah.

Nayra menggeleng. “Nggak… cuma…” Ia menarik napas. “Sedikit kram.”

Arsen langsung mendekat. “Duduk.” Nada suaranya tegas.

Nayra menurut. Ia duduk di tepi ranjang.

Arsen berlutut sedikit di depannya. Posisinya sejajar. Matanya fokus. “Sering?” tanyanya.

Nayra mengangguk pelan. “Kadang.”

Arsen menghela napas. “kamu harus bilang kalau kayak gini.”

Nayra menatapnya. “Bilang ke siapa?”

Arsen menatap balik. “Padaku.”

Kalimat itu… Tidak lagi terasa asing. Tidak lagi terasa mengganggu.

Ada sesuatu yang berubah. Nayra tidak langsung menjawab. Hanya diam. Menatap pria di depannya. Yang sekarang—Tidak terasa sejauh sebelumnya.

Pintu terbuka Sinta masuk kembali. “Aku balik—”

Kalimatnya terhenti. Melihat posisi mereka.

Ia tersenyum kecil. “Ganggu ya…”

Arsen langsung berdiri. Menjaga jarak lagi.

Nayra menunduk. Sedikit canggung. Namun—Tidak menolak.

Sinta duduk kembali.

“Gimana?” tanyanya santai.

Nayra menggeleng kecil. “Udah mending.”

Beberapa menit kemudian— Arsen bersiap pergi. Ia berdiri di dekat pintu. Menatap Nayra.

“Aku pergi dulu.”

Nayra mengangguk. “Iya…”

Namun kali ini— Tidak secepat sebelumnya.

Arsen membuka pintu. Lalu berhenti. Menoleh. “Jangan telat makan.”

Kalimat yang sama. Namun— Diucapkan langsung.

Nayra menatapnya. Beberapa detik.

Lalu— Mengangguk pelan. “Iya.”

Pintu tertutup. Langkah kaki Arsen menjauh.

Di dalam kamar—Suasana berubah. Tidak lagi sama. Sinta langsung menatap Nayra.

“Na…”

Nayra masih menatap pintu. “Iya…”

“kamu sadar nggak?”

Nayra menghela napas pelan. “Iya…”

Sinta tersenyum. “Batas mu mulai geser.”

Nayra tidak membantah. Karena ia tahu— Itu benar. Tangannya perlahan menyentuh perutnya.bDan untuk pertama kalinya— Ia tidak merasa sendirian sepenuhnya.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!