Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Meskipun sudah mengecewakan semua pihak, Llyn tetaplah si pemilik bakat itu. Ia pun memutuskan untuk sekali lagi percaya kepadanya. Kesempatan terakhir akan diberikan kepada wanita yang terlihat sudah jauh lebih dewasa itu.
Hari terakhir ia di kota A, Llyn menghabiskan waktu bersama dengan Prof. Romi ditemani oleh Matt.
Sementara itu, Ray terlihat gelisah selama tiga hari ini. Ia merasa waktu berjalan terlalu lambat. Meskipun ada Lilian yang terus menemani di sampingnya, ia merasa seperti ada bagian dari dirinya yang hilang. Terasa kosong dan hampa.
"bukankah hari ini seharusnya dia kembali? kenapa tidak ada kabar?" gumamnya sambil melihat ponselnya yang sunyi.
"Ray, kamu kenapa?"
"RAY!" Sentakan itu membuat Ray kembali mencoba fokus kepada Lilian yang tengah duduk di sofa kantornya.
"ya?"
"aku panggil kamu kenapa nggak dengar sih."
"maaf, kerjaan lagi banyak."
"kerjaan apa melamun? mukamu kayak orang bengong loh."
"hmm yaa, ya kerja lah masa iya bengong."
Ray membalik-balik dokumen di hadapannya berpura-pura sedang sibuk. Sementara Lilian memicingkan matanya curiga.
"nanti temani aku ke butik ya, gaun pesanan aku sudah jadi."
"iya nanti aku temani."
"kamu nggak mau tanya gaun itu buat apa?"
"memangnya harus tanya ya?"
"ish dasar nggak peka, gaun itu mau aku pakai ke acara ulang tahun kakekmu besok."
Ray menepuk jidatnya karena lupa kalau besok ada acara. Fokusnya benar-benar sudah dibawa pergi oleh Llyn. Sebelumnya, ia selalu memesankan gaun khusus untuk istrinya agar sesuai dengan standarnya. Tapi kali ini ia lupa dan sudah tidak sempat.
Sesampainya di butik, Ray sambil melihat lihat gaun yang terpajang. Tapi tidak ada satupun yang menurutnya cocok untuk dipakai.
"gaun lama seharusnya masih bagus dan bisa dipakai," gumamnya pelan.
"aku telfon dulu ke luar."
"emm, Ray aku lupa bawa kartu."
"oh ini pakai kartuku saja."
"terimakasih."
Ray melangkah keluar dari butik lalu menelfon pelayan di rumah.
"bi, tolong siapkan gaun untuk Llyn."
"untuk acara apa tuan?"
"ulang tahun kakek, besok."
"baiklah."
Tanpa ia tahu, pelayan yang ia telfon langsung memberitahukan hal ini kepada Llyn. Llyn tersenyum sinis lalu meminta Bi Ais untuk tidak menyiapkan apapun. Urusan itu akan dia urus sendiri. Llyn sudah bersemangat akan memberikan kejutan untuk Ray dan keluarga besarnya. Besok sosok Llyn yang baru akan mereka lihat jelas dengan mata kepala mereka sendiri.
Llyn menelfon Kalea untuk menyiapkan sesuatu lalu bergegas kembali. Berpamitan dengan tergesa-gesa kepada Matt dan Prof. Romi.
Tidak lama kemudian, ada email masuk dari orang suruhannya lalu disusul dengan sebuah telfon masuk. "sangat sulit untuk mendapatkannya karena mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu di kantor,"
"tidak apa-apa, ini sudah cukup untuk memanaskan suasana," ucapnya sambil melihat foto-foto yang diterimanya.
Sementara itu, Ray juga mendapat sebuah kiriman foto dari anonim. Di foto itu memperlihatkan Llyn dan Matt yang terlihat sangat akrab. Bahkan ia bisa melihat tawa Llyn yang sudah lama menghilang. Ia baru sadar kalau dulu Llyn sering tertawa lebar, bahkan suaranya pun indah. Tapi semenjak menikah sepertinya ia tidak pernah melihatnya tertawa lagi.
"Astaga, bukankah itu istrimu Ray? kenapa terlihat mesra sekali dengan laki-laki itu?" Pertanyaan dari Lilian membuat fokus Ray berpindah ke sosok laki-laki yang ada di dalam foto.
Hatinya panas dan emosinya naik, ia marah melihat Llyn dekat dengan laki-laki lain. Ia marah ketika memikirkan kemungkinan bahwa mereka berselingkuh.