Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA PERCAYA DAN CURIGA
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pagi itu, langit kembali tampak mendung, seolah ikut mendukung suasana hati Dante yang sedang diliputi ketidakpastian. Di ruang kerja utama yang senyap namun penuh tekanan itu, Dante duduk termenung di balik meja kerjanya. Di hadapannya, terpampang dua laporan terpisah. Satu adalah laporan intelijen yang menuding keterlibatan Pak Adam, dan satunya lagi adalah laporan kinerja yang menunjukkan kontribusi besar Pak Adam dalam memulihkan kondisi perusahaan di tengah tekanan.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan, dan Pak Herman masuk dengan wajah yang kali ini terlihat lebih serius dan sedikit mendesak. Langkah kakinya terasa lebih cepat dari biasanya. Di tangannya, ia membawa satu lagi berkas laporan yang terlihat cukup tebal dan ditandai dengan stiker berwarna merah, yang menandakan bahwa isinya sangat rahasia dan penting. Pak Herman meletakkan berkas itu di atas meja tepat di hadapan Dante, lalu menarik napas seolah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar yang tidak mengenakkan.
"Selamat pagi, Tuan! Maaf mengganggu lamunannya Tuan. Namun, saya rasa informasi terbaru yang baru saja kami terima ini sangat penting dan sekaligus mendesak untuk segera disampaikan kepada Tuan." ucap Pak Herman membuka percakapan dengan nada suara yang rendah namun terdengar sangat serius. "Tim pengawas kami yang ditempatkan di kantor cabang Pak Adam serta tim yang memantau aliran dana telah menemukan perkembangan baru yang cukup mencengangkan namun sekaligus membingungkan, Tuan."
Dante mengangkat wajahnya, menatap Pak Herman dengan tatapan yang semakin dalam. "Maksudmu ada perkembangan baru lagi, Pak? Apa kali ini mereka menemukan bukti yang lebih kuat mengenai keterlibatan Pak Adam, atau justru sebaliknya?"
Pak Herman menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menunjuk ke arah berkas yang baru saja diletakkannya itu. "Bukan sesederhana itu, Tuan. Hasil pengawasan kami menunjukkan bahwa Pak Adam akhir-akhir ini sering melakukan pertemuan dengan orang-orang yang tidak dikenal dan tidak memiliki hubungan bisnis resmi dengan perusahaan kita. Pertemuan itu dilakukan di tempat-tempat yang tersembunyi dan pada jam-jam yang tidak wajar."
Dante mengernyitkan keningnya, rasa curiganya mulai muncul kembali. "Lanjutkan, Pak! Dengan siapa dia bertemu? Dan untuk keperluan apa?"
"Masalahnya, Tuan! Orang-orang yang ditemuinya itu memiliki ciri-ciri yang mengarah kepada orang-orang yang diduga merupakan bagian dari jaringan Elang Hitam itu. Kami sempat mencoba mengidentifikasi identitas mereka, namun hasilnya nihil Seolah-olah orang-orang itu tidak pernah tercatat dalam data kependudukan manapun." jelas Pak Herman dengan nada yang semakin membuat bulu kuduk merinding. "Namun, di sisi lain, dari pengupingan percakapan yang sempat dilakukan tim kami, isi pembicaraan mereka bukanlah rencana untuk menyerang atau menjatuhkan kita. Isi pembicaraan mereka terdengar seperti negosiasi atau perdebatan. Seolah Pak Adam sedang menuntut sesuatu atau mengancam pihak tersebut."
Dante terdiam. Ini semakin memperumit keadaan. Jika Pak Adam bertemu dengan musuh, itu sudah cukup menjadi bukti kecurigaan. Namun, jika pertemuan itu bukan untuk bekerja sama, lalu untuk apa? Apakah Pak Adam sedang menjadi agen ganda? Atau dia sedang dipaksa dan mencoba melawan? Atau justru dia sedang memainkan peran yang jauh lebih licik dari yang kita bayangkan?
"Apakah ada rekaman percakapan atau dokumen yang bisa menjelaskan maksud pertemuan itu dengan lebih jelas,Pak?" tanya Dante lagi, berharap ada petunjuk yang bisa meyakinkannya.
"Maaf, Tuan! Percakapan itu terlalu samar dan menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti. Dan Pak Adam sangat berhati-hati, ia tidak pernah membawa dokumen fisik atau menyebutkan nama secara gamblang. Dia sangat berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri." jawab Pak Herman dengan nada pasrah.
Dante bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela besar di ruangan itu. Diluar, angin berhembus cukup kencang, menggoyangkan pepohonan. Ia memandang ke kejauhan, pikirannya berputar sangat cepat. Situasi ini ibarat berjalan di atas pasir yang terus bergeser. Satu langkah yang salah, maka seluruh bangunan yang ia bangun bisa runtuh seketika.
"Pak Herman," panggil Dante tiba-tiba dengan suara yang terdengar mantap namun berat. "Aku memutuskan untuk mengambil langkah yang sedikit berisiko. Kita tidak bisa terus-menerus hanya mengawasi dari kejauhan dan menganalisis data yang membingungkan ini. Kita harus tahu kebenarannya secara langsung."
Pak Herman terkejut mendengar pernyataan itu. "Maksud Tuan? Apakah Tuan berniat untuk memanggil Pak Adam dan menginformasikan secara langsung? Tapi itu sangat berisiko, Tuan. Jika dia benar musuh, maka kita akan memberikan peringatan kepadanya, dan dia akan menghapus semua jejak bukti atau bahkan melancarkan serangan balasan yang lebih cepat."
Dante menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan begitu, Pak! Aku berniat untuk menemuinya lagi. Tapi bukan dalam kapasitas sebagai atasan yang sedang memeriksa bawahannya. Aku akan menemuinya secara pribadi, seolah-olah aku sedang membutuhkan nasihat atau diskusi. Aku akan coba memancing percakapannya dan mengamati reaksinya lebih dalam lagi. Mungkin dengan cara itu, aku bisa menangkap getaran atau pesan tersirat yang tidak tertulis dalam data manapun."
"Waktu ini sangat berisiko, Tuan! Jika Pak Adam benar terlibat, maka Tuan bisa saja terjebak dalam perangkapnya atau menjadi sasaran bahaya. Biar kami saja yang menangani ini dengan cara lain." toleh Pak Herman, terlihat sangat khawatir akan keselamatan tuannya.
"Aku tahu risikonya, Pak. Tapi kita tidak punya banyak pilihan lain. Jika kita terus menunda, waktu akan berlalu, dan musuh akan semakin kuat mengatur strategi mereka. Aku harus mengambil keputusan sekarang. Aku percaya instingku, namun aku juga tidak akan mengabaikan kewaspadaan. Kau jangan khawatir, Pak! Aku akan berhati-hati," jawab Dante dengan tegas, matanya menatap tajam ke depan.
Melihat tekad Dante yang sudah bulat, Pak Herman tidak bisa berbuat banyak selain menuruti perintah itu. Ia mengangguk pasrah namun masih dengan wajah yang penuh kekhawatiran. "Baiklah, Tuan! Jika itu keputusan Tuan, maka saya akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendukung langkah Tuan."
"Baiklah, Terima kasih, Pak! Tolong pastikan semuanya berjalan rapi dan tidak ketahuan." pesan Dante.
▪️▪️▪️▪️▪️
Siang itu, dengan persiapan yang matang namun tetap berusaha tampil wajar, Dante berangkat menuju lokasi tempat Pak Adam biasanya menghabiskan waktu istirahat atau bertemu tamu secara pribadi. Ia memilih sebuah kafe yang tidak terlalu ramai namun tidak pula sepi, tempat yang dianggap netral dan nyaman untuk berdiskusi. Dengan berpakaian yang rapi namun tidak formal. Dante tiba di lokasi itu lebih awal untuk bersiap.
Tidak lama kemudian, Adam datang. Wajahnya terlihat sedikit lelah namun tetap ramah seperti biasanya .Ketika melihat Dante sudah menunggunya di salah satu meja pojok yang agak tersembunyi, ia terlihat sedikit terkejut namun segera mengubah ekspresinya menjadi senyum hangat.
"Selamat siang, Tuan Valtteri. Wah....ada angin apa Tuan mengundang saya bertemu di tempat semacam ini? Saya pikir kita akan bertemu di kantor atau ruang rapat seperti biasa," kata Adam sambil duduk di hadapan Dante.
Dante tersenyum tipis, berusaha terlihat santai meski di dalam hatinya perasaan tegang mendominasi. "Maaf ya, Pak Adam. Mengundang Tuan ke tempat semacam ini. Sebenarnya saya tidak berniat membicarakan urusan kantor secara formal hari ini. Hanya saja, beberapa hari ini pikiran saya cukup penuh dengan berbagai macam hal. Ada banyak keputusan sulit yang harus saya ambil, dan jujur saja, saya merasa bingung. Mengingat pengalaman dan kebijaksanaan Bapak, saya pikir saya butuh tempat cerita dan pendapat dari orang yang saya percayai."
Adam mengangguk mengerti, menatap Dante dengan pandangan yang lembut namun dalam. "Oh, begitu rupanya. Baiklah, Tuan. Saya senang Tuan menganggap saya orang yang bisa dipercaya. Silakan saja, Tuan! Apa pun yang bisa saya bantu atau berikan pendapat saya."
Percakapan pun dimulai. Dante dengan cerdik mulai mengarahkan topik pembicaraan ke kondisi perusahaan saat ini, tekanan dari pihak luar, hingga kemunculan musuh bayangan Elang Hitam. Dengan seksama. Dante mengamati setiap ekspresi wajah, perubahan nada bicara, serta gerak-gerik tubuh Pak Adam saat menanggapi topik-topik tersebut. Sesekali, Dante menyelipkan pertanyaan-pertanyaan menjebak atau yang mengandung makna tersirat, berharap Pak Adam akan tergelincir atau menunjukkan tanda-tanda kegelisahan.
Namun, Pak Adam menanggapi semuanya dengan tenang, bijaksana, dan sangat meyakinkan. Ia memberikan pandangan-pandangan yang mendukung upaya Dante dalam membenahi perusahaan. Ia juga mengutuk tindakan kejam dari pihak yang ingin menjatuhkan mereka. Namun, matanya sesekali terlihat redup, seolah menyembunyikan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Sesuatu yang membuat Dante semakin bingung.
"Sungguh, Tuan. Dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang tidak jujur dan hanya mementingkan diri sendiri. Tapi saya percaya, selama Tuan berdiri di jalur yang benar dan memiliki tekad yang kuat. Kebenaran pasti akan menang, dan kejahatan akan hancur dengan sendirinya. Apapun yang terjadi, Tuan, Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu Tuan. Saya tidak akan membiarkan orang-orang jahat itu menang," ucap Pak Adam dengan nada yang terdengar sangat tulus dan bergetar, seolah ia sedang menahan emosi yang besar.
Dante terdiam. Kata-kata itu sangat indah dan menenteramkan. Namun, di saat yang bersamaan, ingatan pada data-data bukti yang dikumpulkan timnya terus mengganggu pikirannya.
"Terima kasih atas kata-katanya, Pak Adam. Mereka memberi saya sedikit ketenangan dan semangat lagi." Jawab Dante akhirnya, berusaha menyembunyikan keraguan di dalam hatinya.
Pertemuan itu berakhir tanpa kesimpulan yang pasti. Dante tidak mendapatkan bukti baru yang mencolok, namun ia juga tidak merasa yakin bahwa Pak Adam adalah pengkhianat. Kembali ke dalam mobil, Dante terdiam lama, merenung. Langkah yang ia ambil hari ini belum memecahkan misteri, namun justru membuka pertanyaan baru yang lebih banyak. Sementara itu, Adam yang masih berada di lokasi itu, setelah Dante pergi, terduduk diam dengan pandangan kosong. Di dalam hatinya, perasaan bercampur aduk antara rasa hormat pada Dante, rasa takut akan bahaya yang mengancam, dan beban rahasia besar yang ia pendam sendirian.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
bingung kan
kalau sudah bingung, gugup dan gak bisa meloloskan diri lagi 🤭