Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Berbeda
Sore itu berjalan lebih lambat dari yang Nayra bayangkan.
Ia masih duduk di sofa ruangan Arsen, tubuhnya tegak tapi jelas tidak benar-benar santai, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan, sementara matanya sesekali bergerak memperhatikan sekitar—rak buku, meja kerja besar, hingga jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota dari atas.
Semuanya terasa… jauh dari dunianya.
Arsen masih sibuk di meja, sesekali menjawab telepon dan sekali membaca dokumen.
Nayra melirik.“Kamu memang tiap hari kayak gini?” tanyanya akhirnya.
Arsen tidak langsung menoleh. “Iya.”
“Capek gak?”
“Biasa.”
Nayra tersenyum kecil. "Aku baru lihat langsung.”
Arsen melirik sekilas. “Dan?”
Nayra menarik napas.“…pantes beda.”
Arsen tidak membalas. Namun jelas ia mendengar.
Ketukan pintu terdengar lagi.
“Masuk,” ucap Arsen.
Pintu terbuka. Seorang pria masuk. Penampilannya rapi, tapi tidak setegang yang lain.
Wajahnya santai.
Tatapannya langsung menangkap suasana ruangan.
“Ganggu gak?” katanya ringan.
Arsen menggeleng. “Masuk aja.”
Pria itu melangkah masuk.
Matanya sempat berhenti di Nayra. “Oh.” Ia tersenyum.
“Lagi di temani orang yang spesial.”
Nayra langsung menegang.
Arsen mengernyit.
“Raka.”
Pria itu mengangkat tangan.
“Oke, oke… aku gak ngomong apa-apa.” Ia mendekat.
“Aku Raka, Asisten pribadi pak Arsen,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Nayra ragu sejenak. Namun tetap menyambut. “Nayra.”
Raka tersenyum lebar. “Tenang aja, aku gak segalak yang lain di sini.”
Nayra sedikit bingung. “Maksudnya?”
Raka duduk santai di kursi seberang. “Lingkungan ini kan…” ia melirik sekitar, “…lumayan kaku.”
Nayra mengangguk pelan.
“Iya… terasa.”
Raka tertawa kecil.
“Aku juga dulu gitu pertama kali masuk.”
Nayra menoleh. “kamu juga?”
Raka mengangguk.
“Aku gak dari dunia ini awalnya.”
Nayra sedikit terkejut. “Serius?”
“Serius.” Raka menyandarkan tubuhnya. “Makanya aku bisa lihat.”
“Lihat apa?” tanya Nayra.
Raka menatapnya santai. "Kamu lagi berusaha agar gak kelihatan salah tempat.”
Nayra langsung diam. Ia menunduk sedikit. “…kelihatan ya.”
Raka tersenyum tipis. “Banget.”
Arsen melirik dari meja. “Raka.”
“Iya, iya… aku gak jahat kok.” Raka kembali menatap Nayra. “Tenang aja.”
Nayra menghela napas kecil. “Aku memang gak biasa di sini.”
Raka mengangguk. “Dan itu kelihatan.”
Nayra tersenyum tipis. “Thanks ya… bikin aku makin sadar.”
Raka tertawa. “Bukan begitu maksud ku.”
“Terus?”
Raka sedikit mencondongkan tubuh. “aku cuma mau bilang…”
Nayra menatapnya.
“…kamu gak harus jadi kayak mereka.”
Kalimat itu, berbeda dari yang biasanya ia dengar. “Serius?” tanya Nayra.
Raka mengangguk. “Iya.”
“Tapi…” Nayra melirik Arsen sekilas. “Ini dunia dia.”
Raka mengikuti arah pandangnya. “Iya.”
“Dan aku masuk ke sini.”
Raka tersenyum tipis. “Masuk gak berarti harus berubah.”
Nayra terdiam. “Kalau kamu maksa berubah,” lanjut Raka, “kamu bakal capek sendiri.”
Nayra menggenggam tangannya. “…aku udah mulai ngerasain.”
Raka mengangguk pelan. “Makanya jangan dipaksa.”
Arsen akhirnya berdiri. “Udah selesai ngomongnya?”
Raka menoleh. “Belum, tapi kalau kamu cemburu aku lanjut nanti aja.”
Arsen menatap datar. “Kerjaan mu?”
Raka mengangkat bahu. “Masih aman.”
Arsen menghela napas kecil. Namun tidak membantah.
Nayra memperhatikan itu. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Arsen, lebih santai dan lebih… manusia.
“Kamu udah makan?” tanya Raka tiba-tiba.
Nayra menggeleng. “Belum.”
Raka langsung berdiri. “Ya udah, aku ajak makan.”
Nayra sedikit terkejut, “aku?”
“Iya.”
“Sendiri?”
Raka mengangguk santai. “Kenapa? Takut?”
Nayra melirik Arsen.
Arsen menatapnya. Beberapa detik. “…pergi,” ucap Arsen akhirnya.
Nayra sedikit kaget. “Serius?”
Arsen mengangguk.
“Aku masih ada kerjaan, takut kamu bosan menunggu.”
Raka tersenyum lebar.
“Nah, gitu dong.”
Nayra berdiri perlahan.
“Aku gak minta ya?”
Arsen menggeleng. “Enggak.”
Nayra mengangguk kecil. Lalu berjalan keluar bersama Raka.
Di luar gedung, udara terasa berbeda dan lebih bebas.
Nayra menarik napas panjang.
“Aku lega,” gumamnya.
Raka tertawa kecil. “Kelihatan.”
“Di atas itu…”Nayra menggeleng, “Bikin tegang.”
Raka mengangguk. “Karena kamu belum biasa.”
Mereka berjalan menuju sebuah kafe tidak jauh dari gedung.
Tempatnya lebih santai. Tidak terlalu formal.
“Duduk sini aja,” kata Raka.
Nayra duduk. “Thanks ya,” ucapnya pelan.
“Buat apa?”
“Buat… ngajak keluar.”
Raka tersenyum tipis. “aku cuma menyelamatkan kamu.”
Nayra tertawa kecil. “Segitunya ya.”
Raka menatapnya. “Kamu kelihatan terjebak tadi.”
Nayra terdiam, “…iya.”
Pelayan datang.Mereka memesan beberapa makanan.
“Na…” panggil Raka.
“Iya?”
“Kamu suka dia?” Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Nayra langsung terdiam. “…aku gak tahu.”
Raka mengangguk. “Jujur.”
Nayra menatap meja.
“Gue cuma… terbiasa Entah kenapa semenjak dia dalam hidupku dan ayah dari anakku, aku merasa semua perhatiannya membuatku nyaman dan membuatku jadi terbiasa dengannya.”
Raka tersenyum tipis. “Itu awalnya.”
Nayra mengangkat kepala. “Maksud mu?”
Raka menyandarkan tubuhnya.
“Semua hubungan awalnya dari terbiasa.”
Nayra tidak langsung menjawab.
“Tapi hati-hati,” lanjut Raka.
“Kenapa?”
“Karena kalau udah kebiasa…”
Raka menatapnya. “…susah lepas.”
Nayra menggenggam tangannya lagi, "Aku tahu.”
Raka tersenyum tipis.
“Aku gak bilang kamu harus lepas.”
Nayra menoleh. “Terus?”
Raka mengangkat bahu.
“Aku cuma bilang… jangan kehilangan diri mu sendiri.”
Kalimat itu, lagi-lagi berbeda.
Nayra tersenyum kecil, “kamu beda ya.”
Raka tertawa. “Aku masih normal di antara mereka. Ya bisa di bilang versi santainya.”
Nayra tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa lebih ringan.
To be continued 🙂🙂🙂