Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Tes DNA di Tengah Acara
Ballroom Imperial Palace Hotel masih dipenuhi bisik-bisik panas setelah pertengkaran Selene.
Beberapa tamu mulai kembali berbicara pelan.
Musik orkestra dimainkan lagi untuk menutupi ketegangan.
Namun suasana sudah berubah.
Malam itu tidak lagi terasa seperti acara amal kaum elit.
Melainkan medan perang yang dibungkus gaun mahal dan senyum palsu.
Dan di tengah semua kekacauan itu…
Elara tetap berdiri tenang.
Seolah badai tadi bahkan tidak cukup kuat menggoyahkannya.
Justru itulah yang membuat banyak orang semakin kagum.
“Wanita itu luar biasa…”
Seorang investor tua berbisik pelan.
“Kalau perempuan lain dipermalukan seperti tadi, mungkin sudah menangis.”
“Tapi dia tidak kehilangan kendali sedikit pun.”
“Sekarang aku mengerti kenapa Vasiliev memilihnya.”
Bisikan demi bisikan terus menyebar.
Dan setiap pujian itu—
terasa seperti tamparan lain untuk keluarga Moretti.
Di sisi lain ballroom, Selene duduk di sudut ruangan dengan wajah pucat.
Make-up mahalnya mulai tidak sempurna karena air mata.
Tangannya masih gemetar.
Sementara Seraphina berdiri di depannya dengan ekspresi dingin.
“Lihat apa yang kau lakukan.”
Nada suaranya rendah.
Namun justru itu lebih menakutkan.
Selene langsung mengangkat kepala.
“Aku hanya mengatakan kebenaran!”
“Kebenaran?”
Seraphina tertawa kecil tanpa emosi.
“Kau baru saja mempermalukan diri sendiri di depan semua investor.”
“Aku tidak peduli!”
Selene berdiri mendadak.
“Aku muak melihat semua orang memujanya!”
Tatapannya kembali jatuh pada Elara dari kejauhan.
“Kau tidak lihat cara mereka memandangnya?!”
Tentu Seraphina melihatnya.
Dan justru itu yang membuat dadanya semakin dingin.
Karena malam ini…
Elara bukan lagi sekadar ancaman kecil.
Wanita itu sudah mulai membangun pengaruh.
Dan begitu publik berpihak padanya—
akan jauh lebih sulit menjatuhkannya.
Sementara itu, Damian masih berdiri diam memandangi Elara.
Ada sesuatu yang berbeda malam ini.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat Elara tidak lagi bertahan hidup.
Wanita itu mulai mendominasi ruangan.
Dan semakin ia melihatnya—
semakin besar penyesalan yang menghantam dirinya sendiri.
“Elara.”
Suara Viktor terdengar pelan di dekatnya.
“Ada sesuatu yang aneh.”
Elara menoleh sedikit.
“Apa?”
Viktor menyerahkan tablet kecil.
“Orang kita menemukan aktivitas mencurigakan di ruang VIP belakang.”
Tatapan Elara berubah tipis.
“Aktivitas seperti apa?”
“Beberapa orang asing masuk sejak satu jam lalu.”
“Media?”
“Bukan.”
Viktor menatapnya serius.
“Mereka membawa dokumen laboratorium.”
DEG.
Elara langsung diam.
Perasaannya mendadak tidak nyaman.
“Laboratorium?”
“Ya.”
Viktor mendekat sedikit.
“Dan salah satu nama yang tercatat…”
ia berhenti sesaat,
“…adalah Dr. Heinrich Adler.”
Mata Elara langsung menyipit.
Ia mengenal nama itu.
Salah satu ahli genetika paling terkenal di Eropa.
Kenapa dokter seperti itu ada di acara amal?
Dan kenapa diam-diam?
Di sudut lain ballroom, Cassian juga memperhatikan situasi.
Tatapannya tajam mengarah ke lorong VIP.
“Menarik…”
gumamnya pelan.
Sesuatu besar akan terjadi malam ini.
Ia bisa merasakannya.
Beberapa menit kemudian—
lampu ballroom mendadak berubah lebih terang.
Musik berhenti total.
Dan pembawa acara kembali naik ke panggung dengan ekspresi sedikit tegang.
“Para tamu terhormat…”
Suasana perlahan kembali sunyi.
“Kami baru saja menerima permintaan khusus terkait keluarga Vasiliev.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
Elara langsung merasa firasat buruk.
Dan detik berikutnya—
suara lain tiba-tiba terdengar dari belakang ballroom.
“Kalau dia benar-benar pewaris Vasiliev…”
DEG!
Semua orang langsung menoleh.
Selene.
Wanita itu berdiri lagi.
Namun kali ini…
tatapannya jauh lebih berbahaya.
“…maka seharusnya dia tidak takut membuktikannya.”
Ballroom langsung membeku.
Seraphina menatap putrinya kaget.
“Selene, hentikan—”
Namun terlambat.
Karena Selene sudah berjalan maju ke tengah ruangan.
Dan senyum kecil di bibirnya membuat banyak orang merinding.
“Apa maksudmu?” tanya salah satu investor.
Selene tertawa kecil.
“Maksud saya sederhana.”
Tatapannya tajam ke arah Elara.
“Bagaimana kalau wanita ini sebenarnya bukan pewaris asli?”
DEG!
Ruangan langsung gempar.
Wartawan buru-buru mengangkat kamera lagi.
Bahkan beberapa tamu berdiri dari kursi mereka.
Damian langsung melangkah maju.
“Selene. Cukup.”
Namun wanita itu justru menatap Damian penuh luka.
“Kau membelanya lagi?”
“Karena kau sudah keterlaluan.”
Selene tertawa kecil histeris.
“Keterlaluan?”
Ia menunjuk Elara.
“Semua orang langsung percaya begitu saja hanya karena dia memakai nama Vasiliev!”
Tatapannya menyapu ballroom.
“Bagaimana kalau semuanya bohong?”
Bisik-bisik makin liar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
beberapa tamu mulai terlihat ragu.
Karena dunia elit seperti mereka…
dibangun di atas garis keturunan.
Dan jika identitas Elara dipertanyakan—
itu bisa menjadi skandal besar.
Elara sendiri masih diam.
Tatapannya tenang.
Namun Viktor tahu wanita itu mulai waspada.
“Dia menyiapkan sesuatu,” bisiknya pelan.
Elara mengangguk tipis.
“Aku tahu.”
Selene kembali bicara.
“Kebetulan sekali…”
senyumnya perlahan melebar,
“…aku sudah mempersiapkan cara untuk membuktikannya.”
DEG!
Pintu ballroom bagian belakang tiba-tiba terbuka.
Dan seorang pria tua berjas putih masuk bersama dua asistennya.
Beberapa tamu langsung mengenalinya.
“Dr. Adler?”
“Kenapa ahli genetika ada di sini?”
“Oh Tuhan…”
Ballroom makin ricuh.
Dr. Heinrich Adler berjalan masuk dengan koper logam kecil di tangannya.
Wajahnya serius.
Dan Selene langsung mendekatinya.
“Dokter ini bisa melakukan tes DNA cepat.”
DEG!
Kalimat itu langsung menghantam seluruh ruangan.
Seraphina bahkan sampai membelalak.
“Selene, apa yang kau lakukan?!”
Namun putrinya sudah terlalu jauh.
“Ayo buktikan.”
Tatapan Selene menusuk Elara.
“Kalau kau memang pewaris asli keluarga Vasiliev…”
senyumnya tajam,
“…kau tidak akan takut tes DNA di depan semua orang.”
Sunyi.
Ballroom benar-benar kehilangan suara.
Bahkan musik pun sudah dimatikan sepenuhnya.
Semua orang menunggu jawaban Elara.
Damian langsung bergerak mendekat.
“Ini gila.”
Tatapannya marah ke Selene.
“Kau menjadikan acara ini sirkus?”
“Aku hanya ingin kebenaran.”
“Kau ingin mempermalukannya.”
Selene tersenyum dingin.
“Kalau dia asli, dia tidak akan malu.”
Semua mata kembali jatuh pada Elara.
Dan beberapa detik itu terasa sangat panjang.
Sampai akhirnya—
Elara tersenyum kecil.
Tenang.
Terlalu tenang.
“Aku tidak keberatan.”
DEG!
Selene langsung membeku.
Bahkan Seraphina ikut terkejut.
Mereka tidak menyangka Elara akan setenang itu.
“Kau serius?” tanya salah satu investor.
Elara menoleh santai.
“Kenapa tidak?”
Tatapannya kembali pada Selene.
“Bukankah orang yang tidak bersalah tidak perlu takut?”
Kalimat itu langsung berbalik menghantam Selene sendiri.
Namun wanita itu buru-buru tersenyum lagi.
“Bagus.”
Ia melipat tangan.
“Kalau begitu lakukan sekarang.”
Dr. Adler maju perlahan.
“Untuk tes awal, kami hanya membutuhkan sampel darah kecil.”
Ballroom masih sunyi.
Semua orang benar-benar menyaksikan seperti sedang menonton drama besar.
Dan di tengah ruangan mewah itu—
tes DNA akan dilakukan.
Damian mendekati Elara pelan.
“Kau tidak harus melakukan ini.”
Tatapannya serius.
“Mereka sedang mencoba mempermalukanmu.”
Namun Elara hanya menatapnya singkat.
“Kalau aku mundur sekarang…”
ia tersenyum tipis,
“…mereka akan terus memakai ini untuk menyerangku.”
Damian terdiam.
Karena sekali lagi—
Elara jauh lebih kuat daripada yang ia bayangkan.
Dr. Adler mulai menyiapkan alat.
Salah satu asistennya membawa tabung kecil transparan.
Dan suasana ballroom menjadi semakin tegang.
Selene memperhatikan semuanya dengan jantung berdegup keras.
Karena malam ini…
ia yakin Elara akan jatuh.
Ia yakin pasti ada sesuatu yang salah.
Karena ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita itu benar-benar pewaris sempurna.
“Silakan.”
Dr. Adler menghadap Elara.
Tanpa ragu—
Elara mengulurkan tangannya.
Jarum kecil menusuk kulitnya.
Dan setetes darah masuk ke tabung transparan.
Semua kamera langsung menyala liar.
“Sekarang sampel pembanding.”
Dr. Adler menoleh.
“Apakah ada anggota keluarga Vasiliev langsung di sini?”
Seketika—
seluruh ballroom menoleh ke arah pintu utama.
Dan detik berikutnya—
suara tongkat terdengar perlahan.
TOK.
TOK.
TOK.
DEG.
Semua mata membelalak.
Karena pria tua yang masuk itu adalah—
Octavian Vasiliev.
Aura ballroom langsung berubah total.
Para investor otomatis berdiri hormat.
Bahkan pembawa acara terlihat gugup.
Pria tua itu berjalan perlahan dengan tatapan dingin khasnya.
Dan begitu ia berhenti di tengah ruangan—
semua orang otomatis diam.
“Aku yang akan menjadi pembandingnya.”
DEG!
Suara Octavian rendah.
Namun cukup membuat seluruh ruangan merinding.
Selene langsung pucat.
Ia tidak menyangka Octavian akan muncul sendiri.
“Karena gadis itu…”
tatapan pria tua itu jatuh pada Elara,
“…adalah cucuku.”
BRAK!
Ballroom langsung gempar.
Namun Selene buru-buru bicara.
“Kalau begitu tes ini akan membuktikannya!”
Octavian menoleh perlahan.
Tatapannya dingin seperti pisau.
Dan untuk pertama kali malam itu—
Selene benar-benar merasa takut.
Dr. Adler mengambil sampel Octavian.
Lalu mulai memproses data di alat portabelnya.
“Tes awal membutuhkan sekitar lima belas menit.”
Lima belas menit.
Namun malam itu—
lima belas menit terasa seperti hukuman panjang.
Karena seluruh ballroom kini dipenuhi ketegangan.
Tak ada yang benar-benar berbicara.
Semua menunggu hasilnya.
Dan di tengah keheningan itu—
Elara berdiri tenang.
Sementara Selene mulai gelisah sendiri.
Damian memperhatikan Elara diam-diam.
“Kenapa kau bisa setenang ini?”
Elara menatap lurus ke depan.
“Karena aku tidak hidup dalam kebohongan.”
Kalimat sederhana.
Namun cukup membuat Damian kembali terdiam.
Di sisi lain ruangan, Cassian tersenyum tipis sambil menyeruput wine.
“Sekarang ini baru menarik…” gumamnya.
Karena ia tahu satu hal:
Kalau hasil tes keluar…
malam ini akan meledak lebih besar lagi.
d psahkn dr bayi,rbut soal hrta....
tp mga aja kmbaran elara bkln jd plindung buat elara jg,biar para msuh ga brani ngusik mreka lg...
tp ga ush mksa jg kaleee....seribu maaf jg ga bs mnyembuhkn luka elara d msa lalu...mndingn mnjauh smntra,biarkn elara tnang...toh kl jdoh jg ga akn kmna kan?????
kl sdar y sukur,kl ga ya wasalam.....🙄🙄🙄
Ayo cari ide lain yg lbih konyol.....😛😛😛
enth dpt uang dr mna smp bsa mndtangkn orng hbat,hnya untk mnjtuhkn elara....yg msti d tes tu bkn elara,tp dia sndri....kira2 otaknya udh pndah kmna????
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....