NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Satu... dua... tiga... tahan posisinya, Mas."

Di ruang tengah rumah dinas bernomor 08, suara Cia menggema seperti instruktur senam yang tidak menerima bantahan. Gadis itu duduk bersila di atas karpet, menatap tajam ke arah suaminya yang sedang duduk di sofa dengan seutas resistance band karet berwarna biru melingkar di tangannya.

Kaus oblong Ren basah oleh keringat. Pria itu menarik karet resistensi tersebut menggunakan tangan kanannya secara perlahan. Urat-urat di lehernya menonjol, dan rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot pelipisnya berkedut.

"Tahan lima detik lagi. Lima... empat..." Cia menghitung mundur sambil memicingkan mata, memantau pergerakan otot bahu Ren.

Ren melepaskan tarikannya tepat di hitungan kedua. Pria itu mendengus kasar, menjatuhkan karet biru itu ke lantai seolah benda itu baru saja menghinanya. Ia mengusap wajahnya yang berpeluh dengan tangan kiri.

"Ini konyol, Almeera," gerutu Ren, napasnya sedikit memburu. "Saya terbiasa menarik pull-up bar dengan beban ransel tiga puluh kilo, dan sekarang kamu menyuruh saya bermain tarik-ulur dengan karet gelang raksasa?"

Cia merangkak maju, memungut karet biru itu, lalu menepuk pelan paha Ren. "Itu namanya fisioterapi, Mayor Ren. Otot bahumu itu sempat robek dan dijahit ulang. Kalau kamu langsung nekat angkat barbel, jahitannya bisa sobek lagi dan tangan kananmu bakal cacat permanen. Mau?"

Mendengar gelar barunya diucapkan oleh Cia, Ren hanya bisa menghela napas pasrah. SK Kenaikan Pangkat Luar Biasa telah resmi diterimanya minggu lalu. Kembang melati emas bersudut delapan kini resmi bertengger di pundaknya, menggantikan tiga balok kapten yang selama ini menemaninya.

Namun, gelar kebanggaan militer itu seolah tak ada harganya di hadapan dokter muda ini.

Ren mencondongkan tubuhnya, menopang siku di atas lutut, dan menatap Cia dalam-dalam. "Kapan saya bisa kembali latihan normal? Menjadi instruktur taktik tempur di pusat pendidikan bukan berarti saya hanya duduk di kelas teori. Saya harus mencontohkan manuver lapangan pada para taruna."

Ya, permohonan mutasi Ren telah disetujui. Ia kini dipindahtugaskan dari Batalyon Pasukan Khusus menjadi Instruktur Taktik Tempur di Pusat Pendidikan Infanteri. Pekerjaan yang jauh dari hujan peluru, namun tetap berada di habitat yang ia cintai.

"Dua minggu lagi," jawab Cia, mengusap pelan bahu kanan Ren yang masih berbalut perban tipis. "Sabar ya, Mas. Masa pemulihan memang selalu lebih menyiksa daripada lukanya sendiri. Tapi kamu hebat, progres ototmu jauh lebih cepat dari pasien normal."

Merasakan sentuhan lembut jemari Cia di bahunya, rasa frustrasi Ren perlahan menguap. Pria itu menangkap tangan Cia, mengecup punggung tangannya sekilas.

"Saya akan bersabar," bisik Ren, matanya melembut. "Selama jenderal kecil ini yang menjadi pelatih saya."

Cia tersipu malu, menarik tangannya dengan canggung namun senyum lebar tak bisa disembunyikan dari bibirnya. "Udah, sana mandi. Bau keringat. Nanti sore kan ada acara syukuran kenaikan pangkatmu di kantor komando."

Rumah sakit siang itu disibukkan oleh rutinitas biasa, namun di ruang nurse station paviliun bedah, suasananya terasa jauh lebih menegangkan bagi para dokter muda.

Cia duduk di depan komputer, menggigit kuku ibu jarinya—kebiasaan buruk yang kembali kumat. Di sebelahnya, Nayla sibuk me-refresh halaman portal web Kementerian Kesehatan dengan tangan gemetar.

"Sumpah, gue bisa tachycardia lama-lama nungguin server ini," gerutu Nayla, matanya tak lepas dari layar monitor.

Hari ini adalah hari pengumuman penempatan program internsip (magang wajib) bagi para dokter muda yang baru saja lulus Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Ini adalah gerbang terakhir yang harus mereka lewati sebelum resmi mendapatkan Surat Izin Praktik secara penuh.

Masalahnya, sistem penempatan ini menggunakan sistem kuota nasional. Jika kuota di kota besar penuh, mereka harus siap dilempar ke daerah pelosok di seluruh penjuru Nusantara selama satu tahun penuh.

Rania berjalan menghampiri mereka, meletakkan papan rekam medis, lalu menepuk bahu Cia. "Masih belum bisa diakses situsnya?"

"Masih down, Mbak. Padahal pengumumannya harusnya jam satu tadi," jawab Cia lemas. Ia menatap Rania dengan raut cemas. "Mbak Rania dulu waktu internsip dapet di mana?"

"Saya cukup beruntung, dapat di RSUD pinggiran kota, jadi masih bisa pulang seminggu sekali," Rania tersenyum menenangkan. "Tapi apa pun hasilnya nanti, kalian harus ingat, ini adalah bentuk pengabdian. Ilmu kalian justru akan paling banyak terpakai di daerah yang fasilitas kesehatannya minim."

Nayla mengerang pelan. "Masalahnya, Mbak, Cia ini kan istri Mayor tentara. Kalau dia sampai dapet penempatan di Puskesmas pelosok luar pulau, gimana nasib rumah tangganya? Baru juga suaminya pulang dari pedalaman, masa sekarang gantian Cia yang berangkat ke pedalaman?"

Ucapan Nayla tepat menusuk ketakutan terbesar Cia.

Sejak Ren memutuskan untuk pindah ke satuan pendidikan teritorial demi menemaninya, Cia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan rumah tangga yang hangat dan stabil bagi suaminya. Jika ia harus pergi selama satu tahun... bagaimana dengan Ren? Siapa yang akan mengurus fisioterapinya?

Ting!

Suara notifikasi serentak dari ponsel Cia dan Nayla memecah lamunan mereka.

Nayla buru-buru membuka emailnya. "Email dari portal! Link akses khusus server cadangan udah dikirim!"

Tangan Cia bergetar saat ia mengklik tautan tersebut. Ia memasukkan Nomor Pokok Mahasiswa dan tanggal lahirnya. Jantungnya berdetak kencang, seolah ia sedang melakukan resusitasi jantung paru pada pasien gawat darurat.

Layar berputar lambat. Loading.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

"Gue dapet RSUD Kabupaten!" pekik Nayla tiba-tiba, melompat dari kursinya dengan bahagia. "Lumayan, cuma tiga jam naik kereta dari sini! Yes!"

Cia masih terpaku pada layarnya. Halaman itu akhirnya terbuka, menampilkan sebuah surat keputusan resmi lengkap dengan barcode dan nama lengkapnya.

Mata Cia bergerak cepat mencari kolom lokasi penempatan. Begitu menemukannya, napas Cia seolah tersedot habis dari paru-parunya. Tulisan bercetak tebal itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.

Lokasi Penempatan: Puskesmas Daerah Terpencil (DTP) Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Durasi: 12 Bulan.

Dunia di sekitar Cia mendadak senyap. Papua Selatan. Ujung timur Indonesia. Jarak tempuh ribuan kilometer, dengan durasi satu tahun penuh.

"Ci? Lo dapet di mana?" Nayla menoleh, senyumnya perlahan memudar melihat wajah sahabatnya yang sepucat kertas HVS.

Nayla mencondongkan tubuhnya, melirik layar monitor Cia. "Ya Tuhan... Merauke?"

Cia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak menangis, namun rasa sesak di dadanya mengikat kuat. Ini bukan sekadar jarak. Ini adalah ironi takdir yang terasa begitu kejam. Suaminya baru saja mengorbankan karier gemilangnya di pasukan khusus demi menghindari jarak, dan kini... justru negara yang memanggil Cia untuk pergi.

"Apa ada jalur banding untuk penempatan istri TNI, Mbak?" tanya Cia lirih pada Rania, suaranya bergetar.

Rania menghela napas panjang, menatap Cia dengan penuh simpati. "Sulit, Cia. Penempatan internsip bersifat mengikat dari pusat. Kecuali ada kondisi medis darurat atau kehamilan, alasan lain biasanya ditolak. Kamu... harus mendiskusikan ini secepatnya dengan Mayor Ren."

Malam harinya, udara di asrama terasa cukup sejuk.

Di dalam rumah dinas, Ren sudah selesai mandi dan sedang merapikan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) miliknya di depan cermin. Malam ini adalah acara syukuran sederhana di aula komando atas kenaikan pangkatnya.

Cia berdiri di belakangnya, wajahnya murung sejak ia pulang dari rumah sakit. Gadis itu tidak banyak bicara, hanya membantu Ren merapikan kerah bajunya dan memasangkan pin penghargaan di dada kiri pria itu.

Ren, dengan insting militernya yang tajam, tentu menyadari perubahan atmosfer istrinya.

Pria itu berbalik. Sepasang melati emas mengilap di pundak kanannya, memancarkan wibawa yang luar biasa, namun tatapan matanya tetap melembut saat menatap Cia.

"Ada pasien gawat darurat yang tidak bisa diselamatkan hari ini?" tanya Ren pelan, tangan kirinya terulur merapikan rambut Cia yang sedikit berantakan.

Cia menggeleng pelan. Ia menunduk, tak berani menatap mata elang suaminya. "Enggak ada, Mas. Semua aman."

Ren mengangkat dagu Cia dengan telunjuknya. "Lalu kenapa panglima kecil saya terlihat seperti baru saja kalah perang? Kamu tidak mau saya pergi ke acara syukuran? Saya bisa menelepon Letnan Bima untuk mewakili."

"Jangan gila, ini acara buat kamu," tegur Cia cepat, akhirnya mendongak. Ia memaksakan sebuah senyum tipis. "Aku cuma... agak capek aja. Pasien di IGD lagi membeludak."

Ren menatap mata Cia mencari kebohongan, namun gadis itu menyembunyikannya dengan sangat rapi di balik senyum profesional dokternya.

"Baiklah. Mandi dan bersiaplah. Saya tunggu di ruang tamu. Kita berangkat bersama ke aula sepuluh menit lagi," ucap Ren, mengecup kening Cia sekilas sebelum melangkah keluar kamar.

Cia menatap punggung tegap suaminya yang menghilang di balik pintu. Pertahanan dirinya nyaris runtuh. Ia melangkah menuju tepi ranjang, merogoh saku jas putihnya yang tergeletak di sana, dan mengeluarkan secarik kertas hasil cetak (print-out) surat penempatan internsip-nya.

Ia harus memberi tahu Ren. Ia tidak mungkin menyembunyikan hal sebesar ini.

Dengan langkah berat, Cia keluar dari kamar, memegang kertas itu erat-erat di tangannya. Ren sedang duduk di sofa ruang tamu, sibuk membalas pesan di ponselnya, mungkin koordinasi dengan Bima mengenai acara malam ini.

"Mas," panggil Cia pelan, suaranya bergetar kecil.

Ren segera mematikan layar ponselnya dan mengangkat wajah. Melihat ekspresi Cia yang pucat dan selembar kertas yang diremas di tangannya, raut wajah santai sang Mayor seketika berubah tegang. Posturnya menegak.

"Ada apa, Almeera?" tanya Ren, nada suaranya berubah menjadi bariton rendah yang menuntut penjelasan.

Cia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan lutut suaminya. Ia mengulurkan kertas yang sedikit lecek itu dengan tangan gemetar.

"Surat keputusan internsip-ku baru aja keluar sore ini," ucap Cia, susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh.

Ren mengerutkan kening. Pria itu mengambil kertas tersebut, mata elangnya memindai tulisan di atas kertas putih itu dengan kecepatan membaca seorang komandan intelijen.

Keheningan yang mematikan menyelimuti ruang tamu.

Mata Ren terpaku pada satu baris kalimat bercetak tebal. Puskesmas Daerah Terpencil Merauke, Papua Selatan. Durasi 12 Bulan.

Tidak ada perubahan drastis di wajah Ren. Rahangnya tidak mengeras, ia juga tidak mendengus marah. Namun, cengkeraman tangannya pada ujung kertas itu perlahan mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kertas itu sedikit robek di bagian sisinya.

Cia menelan ludah. "M-Mas..."

Ren perlahan menurunkan kertas itu. Pria itu menatap Cia dengan pandangan yang sulit dibaca. Bukan marah, bukan juga sedih. Itu adalah tatapan kosong yang biasa ia tunjukkan saat mendapati rencananya di medan operasi hancur berantakan oleh serangan tak terduga musuh.

"Satu tahun," suara Ren terdengar sangat pelan, nyaris tak bernada. Ia menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Saya melepas jabatan komandan pasukan khusus, menukar seragam lapangan saya dengan kemeja instruktur, dan membiarkan anggota saya berjuang tanpaku, hanya agar saya tidak perlu jauh darimu selama satu tahun, Cia."

Kalimat itu diucapkan tanpa nada menuduh, namun efeknya terasa seperti sayatan belati tajam di hati Cia.

"A-aku tahu," isak Cia akhirnya pecah. Ia berjongkok di depan Ren, menumpukan tangannya di atas lutut sang Mayor. "Aku nggak bisa nolak, Mas. Ini sistem acak dari kementerian. Kalau aku mundur sekarang, SIP-ku bakal dicabut dan aku nggak akan pernah bisa jadi dokter resmi."

Ren memejamkan mata rapat-rapat. Pria itu menarik napas panjang, mencoba mengendalikan badai emosi yang mendadak menghantam dadanya. Saat ia membuka mata, tatapan dingin sang Kapten telah kembali menguasai iris matanya, membangun kembali tembok yang sebelumnya telah diruntuhkan Cia dengan susah payah.

"Bersiaplah. Letnan Bima dan yang lain sudah menunggu di aula," perintah Ren datar. Pria itu meletakkan kertas tersebut di atas meja kaca, lalu berdiri tanpa menatap Cia.

"Mas, tolong... kita harus bicara—"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Almeera," potong Ren, suaranya sedingin es di kutub utara. Ia berjalan menuju pintu utama, mengambil baret hijaunya. "Tugas adalah tugas. Jika negara memanggilmu ke ujung timur, sebagai istri seorang perwira, saya harap kamu tahu persis apa yang harus kamu lakukan."

Pintu kayu itu ditutup dengan suara debuman pelan, meninggalkan Cia yang bersimpuh sendirian di ruang tamu.

Gadis itu menatap selembar kertas di atas meja dengan pandangan nanar. Di saat ia mengira badai terbesar telah berlalu, takdir rupanya baru saja menyiapkan medan perang baru. Dan kali ini, Cia tidak yakin apakah ia dan sang Mayor berada di pihak yang sama.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!