Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keegoisan Sesaat
Lagi-lagi dia bertemu Levi.
Entah mengapa, Emma merasa dia terlalu sering bertemu Levi di luar sekolah. Bukan tidak suka, seneng banget malah. Tapi di balik sengatan cinta itu, terbesit kesesakan di dada. Ia masih ingin mengorek informasi, tapi Levi selalu di sana untuk mengganggu.
"Kamu di sini juga, Mi?" Tanya Levi yang seenaknya duduk di sebelah Emma, padahal ada tempat tersendiri untuk para laki-laki. Atmosfer canggung diantara mereka membuat Ibu Dion inisiatif untuk menyingkir.
"Kok kamu juga disini?" Bisik Emma mendekat, yang entah mengapa membuat senyum Levi merekah.
"Aku dapat info dari Bimo, jadi aku datang," jawabnya.
"Kalau begitu enakin aja, aku mau pamit pulang," kata Emma ketika Ibu Dion menyediakan minuman untuk kedua tamunya.
"Bu, saya pamit dulu ya. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan." Emma menyalami dan merangkul Ibu Dion untuk sekedar memberikan penghiburan terakhir.
Levi yang semula bengong karena merasa kecewa, tiba-tiba mengeraskan suaranya, "saya juga, saya juga mau pamit bu."
'Apaan sih dia? Ngikut aja kerjaannya!' batin Emma.
"Oh ya Pak Levi, Terimakasih kedatangannya," ucap Ibu Dion.
Emma masih melirik kearah Levi yang mengekor di belakang Emma. Mereka berjalan menunduk untuk menjaga sopan santun di tengah ramainya para jama'ah dan tamu lain.
Lalu ketika Emma membuka pintu mobilnya, ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Levi yang masih di belakangnya.
"Astaga! Levi! Ngapain sih kamu?"
"Hehe, mau minta tumpangan," cengirnya.
"Lah emangnya tadi kamu kesini naik apa?" Tanya Emma yang tidak habis pikir dengan tingkah mengejutkan Levi.
"Itu, sama si Aren Gentong!" Levi membisikkan nama julukan untuk Pak Surya tepat di telinga Emma hingga membuatnya menggidikkan kepala geli.
"Ya udah sih, kamu bareng Pak Surya aja! Ngapain nebeng aku?"
"Yah nggak seru. Enakan bareng kamu, bisa bebas." Levi kembali dengan cengirannya yang membuat Emma menggeleng heran.
"Ck, ya udah ayo!"
Emma sudah tak mau terlalu lama menjadi pusat perhatian di tengah puluhan mata memandang. Jadi dia mengalah dengan tingkah kekanakan Levi yang tiba-tiba muncul entah mengapa.
.
.
.
Di mobil, Emma hanya diam fokus menyetir. Sedangkan Levi hanya memandanginya dari kursi sebelah. Sepertinya Levi sudah kerasukan setan ketawa, kerjaannya hanya senyum-senyum tanpa ada konteks.
'Apa sih dia?'
Semua atensi yang diberikan Levi membuat Emma tak nyaman. Itu sudah pasti kan? Cinta terpendam selama 10 tahunnya kini malah cengar-cengir menatapnya. Sudah bagus ia tidak terbang. Kalau Levi melakukan sedikit saja gerakan mendekatinya, mungkin Emma bisa dengan gampang membanting stirnya. Jadi, ia berusaha untuk menahan semuanya.
"Ehem, Vi?" Suasana penuh cinta yang coba Levi salurkan melalui tatapannya membuat Emma tercekat.
"Iya?"
"Mobil kamu di sekolahan kan? Aku antar sampai sana aja ya," ucap Emma membuat senyum Levi menurun dan malah menoleh ke jendela berlawanan dengan posisi Emma.
"Ck, mumpung masih di sini, kita kesana aja!"
Levi menunjukkan pantai di pinggir jalan yang mereka lalui.
"Loh, disini ternyata ada pantai? Kok kemarin aku nggak menyadarinya," kata Emma sembari memandang ke luar jendela.
"Kemarin? Kamu habis dari mana?" Tanya Levi.
"Ah tidak, cuma kesana kesini buat cari angin."
"Yuk, kita main sebentar!" Pinta Levi.
Emma berdiam sejenak. Di kepalanya terbesit kenangan tentang kakaknya. Hari dimana dia merasa bahagia sekaligus merana. Kenangan kebersamaan terakhir dengan kakaknya yang akan terus terpatri di ingatannya.
"Huh...." Emma menghela nafasnya.
"Oke ayo!"
Ia langsung mengehentikan mobilnya dan memarkirkannya di tepian pantai sebelum benar-benar terkena pasir pantai.
.
.
.
Disana, mereke berdua berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Tanpa ada suara tanpa ada gerakan ekstra, mereka hanya berjalan merasa deburan ombak kecil yang menerpa telapak kaki.
Emma masih disibukkan dengan segala pikiran mengenai kakaknya. Kenangannya, kasusnya, serta pelaku sebenarnya. Ia masih tidak percaya bahwa orang yang selama ini mendapatkan semua bentuk kebencian darinya ternyata hanya orang yang dijebak.
Mengapa hidupnya dipenuhi dengan kebohongan? Bahkan dirinya sendiri juga menyimpan kebohongan atas identitasnya kepada Levi, cinta pertamanya.
"Aku capek, kita duduk di sana aja!" tunjuk Emma ke spot sepi pinggir pantai.
Mereka-pun duduk bersama.
"Kamu haus? Aku beliin air kelapa dulu," ucapnya langsung berdiri dan berlari ke arah warung terdekat. Setidaknya Emma bisa menikmati waktunya sendiri untuk merenung, mengenang, dan menangisi tentang apa yang baru saja terjadi.
Air matanya sudah tidak bisa dibendung. Ia menatap lurus ke arah matahari yang mulai tenggelam. Cahaya merah muda kejinggaan menegaskan bahwa semua pasti akan hilang, begitu juga dirinya.
"Kak, aku lelah...." Matanya terpejam, terbenam di lututnya yang ia peluk. Air hangat terus mengalir di pipinya menandakan bahwa suhu tubuhnya perlahan memanas.
"Mi, kamu nggak apa-apa?" Kata Levi sambil menyodorkan Kelapa Muda yang baru saja ia beli.
"Makasih Vi," Emma menatap penuh arti idolanya itu.
"No problemo," ucap levi tersenyum lalu duduk di samping Emma.
Kini saatnya Emma melakukan apa yang dilakukan Levi di mobil. Ia memandangi Levi, menelusuri setiap jengkal wajahnya, seolah ingin terus berada di momen ini.
"Ada apa?" Tanya Levi.
"Tidak apa-apa," Emma mengalihkan pandangannya ke matahari terbenam.
"Vi?" Panggilnya pelan hingga mampu membuat jantung Levi mendadak berpacu.
"Hm?"
Alih-alih menjawab, Emma malah menghela nafasnya.
"Aku mencintaimu," ungkap Emma tanpa melihat kearah orang yang diajak bicara.
"Apa? Aku tidak mendengarnya."
"Aku mencintaimu."
Kali ini Emma menatap Levi sangat dalam selama Levi terdiam karena terkejut.
"Kamu serius? Kamu nggak lagi bercanda kan?"
"Tentu saja tidak," Emma membenamkan kembali wajahnya ke lututnya.
"Mi, aku...."
Levi hendak menjawab bahwa dirinya juga merasakan yang sama. Dia ingin sekali mengungkapkan betapa bahagia dirinya sekarang.
Sangat bahagia hingga membuatnya kesusahan untuk berbicara.
"It's okey, kamu nggak harus suka sama aku juga sih."
Emma seenaknya saja menyimpulkan perasaan Levi lewat diamnya.
"Nggak aku-" kalimatnya kembali terpotong karena sahutan dari Emma.
"Kita masih bisa jadi teman kan? Eyyy ayolah... Kita kan udah dewasa, masa harus canggung gara-gara satunya nyimpan perasaan sih," senggol Emma tertawa canggung.
"Bukan begitu, aku-"
"Lihat! Langitnya bagus banget ya. Warnanya pink gitu."
Ini bukan saatnya melihat langit. Bagi Levi ini momen krusial selama hidupnya sebagai play boy. Dia tidak pernah merasakan gejolak seperti selumnya. Tidak hanya itu, ia tidak pernah merasa takut kehilangan seperti ini sebelumnya. Seolah ia merasakan bahwa kalau ia tak memiliki Emma sekarang, maka Emma akan menghilang dari hidupnya selamanya.
"Dengarkan aku sebentar Emina!"
"Hm? Iya? Aku dari tadi mendengarkan. Kamu aja yang diam terus."
"Aku juga-"
"Sudah agak gelap, mari kita pulang."
Emma kembali memotong kalimat Levi dan langsung berdiri dari tempatnya duduk untuk kembali ke mobilnya meninggalkan Levi yang masih terdiam menatap punggungnya.
Di perjalanan menuju mobil, air mata Emma kembali mengucur.
Sejenak ia lupa dan terbuai dengan egonya untuk memiliki Levi padahal dirinya sendiri tengah berlomba dengan maut. Dirinya tidak akan sanggup melihatnya sakit karena ketiadaannya nanti. Lebih baik cukup sampai disini.
'Menyatakan cinta dan menolaknya dalam satu waktu? Wahh... Hebat sekali kamu!' protesnya dengan senyum penuh kepedihan.