Disarankan membaca dulu ,
Omku Suamiku Season 1
Projek memikat hati suami.
ini sequel gabungan keduanya 👆
" Hai, Sweet heart, pulang bareng aku ! " Adam sudah duduk diatas jok motornya, tersenyum manis ke arah Regina.
" Jangan ganggu adikku " Dengkus Elang kesal.
" Dia cuma adik sepupu mu " Adam mencibir.
Bagaimana keseruan kisah cinta, adik, tetangga, keponakan dan para Om kecil yang melingkari kehidupan mereka seperti rantai yang saling bertautan, sementara orang tua mereka juga memiliki hubungan yang sama rumitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Aku akan mendukung mu
Berdiri didepan gerbang sekolahannya, manik mata Gaia bisa langsung melihat keberadaan mobil yang biasa Aditya gunakan.
Dengan berlari kecil Gaia langsung menuju bagian sisi yang berbeda dari tempat duduk pengemudi, tangan Gaia langsung membuka pintu, masuk dan duduk disebelah Aditya.
" Mau langsung pulang atau..."
" Terserah Abang saja, ada yang mau kita bicarakan bukan ? " Gaia memotong ucapan Aditya.
Pria yang berada di balik setir kemudi hanya menganggukkan kepala.
Aditya lebih memilih membawa Gaia kembali ke Coffeshop dari pada ketempat lain, disamping Gaia yang memakai seragam sekolah, akan ada pandangan negatif pada gadis itu jika Aditya membawanya ke tempat umum.
Selama didalam perjalanan, keduanya sama sama terdiam dan hanyut dengan pikirannya masing masing.
Sampai mobil yang Aditya kendarai berhenti di pelataran parkiran cafe, keduanya masih belum ada yang memulai pembicaraan.
" Apa perlu kupesankan minuman yang biasa kau minum, Gai ? " Aditya berucap ketika keduanya sudah berada didalam ruangan Aditya.
Aditya lebih memilih duduk di sofa bersama Gaia dari pada duduk di kursi kerjanya.
" Aku sedang tidak ingin, bang " sautnya pelan.
" Jangan terlalu di pikirkan, Gai ! kita hanya menyamakan tujuan kita, bukan memperbesar perbedaan, sekarang, boleh kau utarakan keinginanmu tanpa menutupinya atau takut jika keinginan itu mempengaruhi hubungan kita "
Aditya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, menatap diam pada gadis muda yang tidak jauh berada di dekatnya.
Gaia menarik napas panjang.
Sejujurnya ia sedikit ragu mengatakan apa yang sudah disusun semua rencana hidupnya kedepan, pria dewasa yang ketika diam dan serius terlihat semakin tampan, tidak dipungkiri jika Gaia semakin dalam jatuh cinta pada Aditya.
Ach....seperti inikah yang dirasakan oleh Freya ? sehingga ia bisa bertindak sangat memalukan ? mengejar ngejar Mas Elang, walaupun sering di acuhkan, menciumnya terlebih dahulu ? melihat bang Adit yang diam menatapku aku jadi ingin....
Gaia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran gila yang ada diotaknya.
Aditya tertawa geli melihat tingkah Gaia yang justru melamun lalu menggeleng.
" Gai...kamu mikirkan apa ? tindakan mu kemarin yang memukul mundur sainganmu, dengan ucapan ucapan mu yang seakan mendukung lawanmu padahal kamu ingin tahu tujuan dan kelemahannya ? sungguh menakjubkan " Aditya tersenyum simpul
" Hah ? " Gaia terbengong bodoh.
" Aku benar benar salut dengan tindakanmu kemarin, Gai, kau tidak terpancing mengungkapkan jadi dirimu, membuat aku semakin " Aditya mengedipkan sebelah matanya menggoda Gaia.
Gaia memalingkan wajahnya menyembunyikan semburat merah karena malu.
Aditya tersenyum lebar, melihat Gaia yang malu, membuat kedua pipinya merona dan semakin terlihat menggemaskan.
" Aku mau setelah kita menikah, tetap kuliah bang " ucapnya pelan kembali ke topik awal.
" Kapan rencana mu untuk memiliki anak ? " tanya Aditya langsung pada titik dari permasalahan yang di pikirkan Aditya.
" Mungkin saat memasuki semester lima baru di mulai merencanakan memiliki anak, saat itu usiaku sudah dua puluh tahun, kalau setelah lulus ...menikah dan punya anak, aku masih belum siap bang " Gaia mulai kembali menatap Aditya yang mimik wajahnya sama sekali tidak berubah.
" Rencana ingin mengambil jurusan apa ? " Aditya sangat ingin tahu pola pikir wanita yang menjadi calon istrinya ini, seberapa dewasa selain tindakannya yang kemarin.
" Aku ingin mengambil jurusan Desainer khusus perhiasan, setalah aku menamatkan pendidikanku, aku akan berkolaborasi dengan Freya yang mengambil jurusan Desainer khusus gaun pengantin "
" Kami tidak perlu bekerja dengan orang lain, kami bisa menerima pesanan khusus bagi pasangan yang akan menikah, rancangan yang kami buat tidak akan sama dengan siapa pun "
" Jadi kami tidak akan keluar rumah mengikuti alur jam kantor, kami tetap bisa mengurus anak dan suami " Gaia refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terlalu hanyut menceritakan semua impiannya.
Aditya tersenyum lebar, lalu terkekeh .
" Impianku terlalu tinggi jadi terdengar konyol ya, Bang ? " ujar Gaia merajuk.
" Enggak ? namanya impian dan cita cita, bebas....setinggi apa pun itu " jawab Aditya datar.
" Terus...keinginan Abang apa ? " Gaia merubah posisi duduknya menjadi tegak dan memasang tampang serius untuk mendengarkan apa yang akan Aditya ucapkan.
" Aku akan mendukungmu dalam mewujudkan impianmu " jawab Aditya mantap
Gaia terbengong, otaknya menjadi kosong mendengarkan perkataan singkat yang keluar dari bibir Aditya.
" Beneran nich, bang ? Abang tidak keberatan ? " Gaia masih tidak percaya.
Aditya hanya menggeleng.
" Menunggu tiga tahun sampai kau siap menjadi seorang ibu, usiaku tidak terlalu tua untuk baru memiliki seorang anak, asal kau bisa tetap menjaga hati untuk tetap setia, aku orang pertama yang mendukungmu " Aditya meraih jemari tangan Gaia yang dibiarkan bebas di taruh diatas pahanya, menepuk nepuknya lembut.
" Tunggulah disini, aku ingin mengecek kesibukan diluar " Aditya lalu keluar dari ruangannya, meninggalkan Gaia sendirian duduk di sofa.
Sepeninggal Aditya, Gaia menghembuskan napas lega, matanya dalam sekejap terasa berat, malam tadi ia sedikit sulit untuk memejamkan mata karena sedikit takut akan keputusan apa yang akan Aditya ambil.
Jika Aditya tidak menyetujui keinginannya, ia sangat berat karena Gaia sangat ingin menjadi desainer, kalau Aditya memutuskan pertunangan mereka...Gaia terlanjur jatuh cinta pada pria dewasa itu.
Menaikkan kedua kakinya keatas sofa dengan membuka kedua sepatunya, Gaia membaringkan tubuhnya, udara sejuk karena pendingin udara membuat kedua kelopak mata Gaia semakin berat, tidak sampai sepuluh menit, Gaia sudah tertidur nyenyak.
Setengah jam setelah meninggalkan Gaia dalam ruangan kantornya, Aditya kembali lagi dengan membawakan minuman yang biasa Gaia pesan jika berada di cafe, Aditya tahu jika pikiran Gaia hanya terfokus dengan visi mereka yang belum mencapai kesepakatan, makanya gadis itu tidak memesan minuman, tapi sekarang semua sudah clear, pasti Gaia sedang haus sehingga Aditya memesankannya tanpa perlu bertanya terlebih dahulu pada tunangan kecilnya.
Saat membuka pintu ruangannya, manik mata Aditya menangkap sosok gadis yang Aditya rasakan saat ini, ia sudah sangat tidak sabar menunggu kelulusannya, ingin segera menikahinya.
Aditya merasa seperti remaja yang baru pertama kali mengenal cinta, menggebu gebu tetapi Aditya berusaha tidak memperlihatkannya agar tidak mendapatkan ledekan dari Papanya.
Meletakkan minuman yang sudah terlanjur di bawanya, lalu Aditya fokus melanjutkan pekerjaannya tanpa mengusik Gaia yang tertidur lelap di sofa
▫️
▫️
▫️
...🌻🌻🌻🌻🌻...