Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Sore itu, suasana di dalam mobil Thomas terasa jauh lebih hangat. Thomas sesekali melirik ke arah kursi penumpang, di mana Arunika sedang asyik membolak-balik ijazah dan sertifikat kelulusannya dengan senyum yang tak kunjung luntur.
"Kamu mau hadiah apa?" tanya Thomas memecah keheningan. Suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan nada bicaranya saat rapat direksi tadi pagi.
Arunika menoleh, matanya mengerjap polos. "Hadiah? Aku nggak ulang tahun, Mas."
Thomas terkekeh kecil, tangannya tetap stabil di kemudi. "Bukan itu. Ini sebagai apresiasi atas keberhasilan kamu. Cum laude itu bukan pencapaian kecil, Arunika. Kamu berhak minta apa saja. Tas baru? Liburan ke luar negeri?"
Arunika terdiam sejenak, tampak berpikir keras. Alih-alih menyebutkan barang mewah atau destinasi wisata mahal, matanya justru berbinar saat sebuah ide melintas di kepalanya.
"Oh, itu... kalau gitu, aku mau kita ke panti asuhan, Mas," jawab Arunika mantap.
"Panti?" Thomas mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan permintaan yang tidak biasa itu.
"Heem! Kita rayain di sana bareng adek-adek. Mas bawa makanan yang banyak, buku cerita, baju, sama mainan ya? Aku pengen berbagi senengnya aku hari ini sama mereka," jelas Arunika dengan semangat.
Thomas menepi sejenak di bahu jalan, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kagum yang membuncah di dadanya. Di saat gadis lain mungkin meminta perhiasan, Arunika justru meminta kesempatan untuk memberi.
"Oke, istriku. Kita siapkan semuanya sekarang," jawab Thomas sambil mengusap puncak kepala Arunika.
Dua jam kemudian, mobil Thomas—ditambah satu mobil boks kiriman kantornya yang berisi penuh barang—sampai di sebuah panti asuhan di pinggiran kota. Begitu turun, mereka langsung disambut oleh teriakan ceria puluhan anak-anak.
"Kak Nika datang!" teriak seorang anak laki-laki kecil sambil berlari memeluk kaki Arunika. Rupanya, Arunika memang sudah sering berkunjung ke sini jauh sebelum mengenal kontrak dengan Thomas.
Thomas turun dari mobil sambil membawa beberapa kardus mainan. Ia tampak sedikit kaku saat dikerubuti anak-anak kecil, namun ia tetap berusaha tersenyum dan membagikan bingkisan satu per satu.
"Mas Thomas, jangan kaku gitu dong! Sini, bantuin aku bagiin buku ceritanya!" panggil Arunika sambil tertawa melihat sang CEO yang biasanya ditakuti karyawan, kini tampak bingung memegang boneka beruang.
Suasana berubah haru sekaligus bahagia saat acara makan bersama dimulai. Ibu Panti, seorang wanita paruh baya berwajah teduh, mendekati mereka berdua yang sedang duduk di antara anak-anak.
"Terima kasih banyak ya, Pak Thomas, Nak Nika. Kalian benar-benar luar biasa. Panti ini jadi ramai sekali hari ini," ujar Ibu Panti tulus.
"Sama-sama, Bu. Ini semua kemauan Arunika," sahut Thomas sambil melirik istrinya yang sedang asyik menyuapi seorang anak kecil.
Ibu Panti tersenyum lebar, lalu ia menggenggam tangan Arunika dan Thomas secara bersamaan. "Ibu senang sekali lihat kalian serasi begini. Di hari yang bahagia ini, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
Ibu Panti menutup matanya sejenak, lalu berucap dengan nada khusyuk, "Semoga pernikahan kalian selalu diberkati, sakinah, mawadah, warahmah... dan semoga cepat dapet momongan ya, biar makin ramai rumahnya."
Deg.
Arunika yang sedang tertawa tiba-tiba terdiam. Mulutnya yang sedang mengunyah kerupuk mendadak berhenti bergerak. Matanya membulat sempurna, menatap Ibu Panti dengan tatapan kosong seolah-olah otaknya sedang mengalami system failure.
"Ha?" gumam Arunika pendek. Sinyal otaknya benar-benar ngelag.
Pikiran Arunika langsung melayang ke kertas kontrak di apartemen. Momongan? Di kontrak kan tertulis mereka bakal pisah dua tahun lagi! Gimana ceritanya mau dapet momongan kalau statusnya saja masih "partner-in-contract"?
Thomas, yang biasanya sangat cepat bereaksi, juga sempat tertegun selama beberapa detik. Namun, sebagai pria yang sudah terbiasa dengan negosiasi tingkat tinggi, ia jauh lebih cepat menguasai keadaan.
Thomas melirik ke arah Arunika yang masih mematung seperti patung manekin, lalu ia tersenyum tipis—senyum yang penuh arti—dan beralih menatap Ibu Panti.
"Amin, Bu. Terima kasih doanya. Mohon doanya saja supaya kami segera diberi kepercayaan," jawab Thomas dengan suara berat dan tenang.
Arunika langsung menoleh ke arah Thomas dengan leher yang terasa kaku. Mas Thomas?! Dia beneran meng-aminkan doa itu?!
"Tuh, denger kan Nak Nika? Suaminya sudah semangat gitu," goda Ibu Panti sambil menepuk bahu Arunika yang masih ngelag. "Anak-anak di sini pasti seneng kalau nanti punya keponakan baru."
Arunika hanya bisa memberikan senyum kaku yang lebih mirip seperti ringisan. "I-iya, Bu... hehe. Amin..." jawabnya pasrah, meski dalam hati ia ingin berteriak karena panik.
Sepanjang perjalanan pulang, Arunika hanya diam, menatap ke luar jendela dengan wajah memerah. Ia merasa suasana di dalam mobil jadi jauh lebih canggung setelah ucapan Ibu Panti tadi.
"Mas..." panggil Arunika pelan setelah mereka sampai di lampu merah.
"Ya?"
"Mas tadi kenapa ngomong gitu sama Ibu Panti?" tanya Arunika tanpa menoleh. "Mas tahu kan... kita kan... emm, kontrak."
Thomas menghentikan mobilnya karena lampu merah. Ia bersandar pada kursi, menatap Arunika yang tampak gelisah. "Terus aku harus bilang apa? 'Maaf Bu, kami nggak mau punya anak karena kami cuma kontrak dua tahun'?"
"Ya nggak gitu juga sih... tapi kan..."
"Itu doa yang baik, Arunika. Nggak ada salahnya di-aminkan," potong Thomas santai. "Lagipula, kontrak itu kan buatan manusia. Kalau Tuhan punya rencana lain, kita bisa apa?"
Arunika menelan ludah. Kata-kata Thomas barusan terdengar sangat ambigu. Rencana lain apa maksudnya?!
"Mas jangan bercanda ya! Aku masih mau lanjut S2 loh nanti!" seru Arunika menutupi kegugupannya.
Thomas tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Arunika. Ia kembali menjalankan mobilnya saat lampu berubah hijau. "Siapa yang bercanda? Aku cuma bilang itu doa yang baik. Tapi kalau kamu sudah kepikiran sampai momongan sekarang... ya aku nggak keberatan."
"MAS THOMAS!" teriak Arunika sambil memukul lengan Thomas pelan.
"Apa? Aku cuma jujur," goda Thomas lagi.
Malam itu, di tengah perjalanan pulang, Arunika menyadari satu hal. Doa Ibu Panti tadi bukan hanya membuat sinyalnya ngelag, tapi juga mulai merubah cara pandangnya terhadap pernikahan ini. Ia mulai bertanya-tanya, apakah mungkin kontrak yang ia anggap sebagai pelarian itu sebenarnya adalah jalan menuju "momongan" yang didoakan Ibu Panti?
Dan melihat bagaimana Thomas tersenyum malam ini, Arunika merasa pria itu punya rencana yang jauh lebih panjang daripada masa berlaku kontrak dua tahun mereka.
***
Thought
BAB 23: Serangan Jantung di Depan Ruang CEO
Lobi utama kantor pusat Adiputra Group pagi itu terlihat lebih mirip toko bunga daripada sebuah gedung korporat. Karangan bunga standing flower berderet rapi di sepanjang selasar, semuanya membawa pesan senada: Selamat Menempuh Hidup Baru untuk Bapak Thomas Adiputra & Ibu Arunika.
Arunika, yang hari ini tampil modis dengan setelan kerja semi-formal yang dipilihkan Thomas, melangkah dengan tangan yang melingkar erat di lengan suaminya. Sebenarnya, ia merasa sedikit terintimidasi oleh kemewahan ini.
"Duh, Mas... banyak banget bunganya. Sampai pusing aku liatnya, serasa lagi di pasar bunga Rawa Belong," bisik Arunika sambil melempar senyum canggung kepada beberapa karyawan yang membungkuk hormat saat mereka lewat.
Thomas tetap berjalan tegak, wajahnya sedatar papan tulis, namun ia tidak melepaskan tangan Arunika. "Biasakanlah. Ini risiko menikahi CEO-mu sendiri."
"Sombongnya mulai lagi," gumam Arunika pelan. "Pagi, Pak! Pagi, Mbak!" sapanya ceria kepada staf resepsionis, yang dibalas dengan tatapan kagum sekaligus iri.
Namun, suasana hangat itu mendadak mendingin saat mereka sampai di depan pintu ruangan Thomas. Di sana, bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap, berdiri Marcell. Dahinya berkerut dalam, matanya menatap tajam ke arah tangan Arunika yang masih merangkul Thomas.
"Pamer kemesraan mulu. Nggak di rumah, nggak di kantor, nggak tahu tempat," desis Marcell ketus.
Thomas menghentikan langkahnya tepat di depan adiknya. Atmosfer di koridor itu seketika berubah mencekam. "Sedang apa kamu di sini, Marcell? Aku tidak ingat ada jadwal rapat dengan divisi pemasaran jam segini."
Marcell mendengus, ia menegakkan tubuhnya. "Gue cuma mau ambil berkas yang ketinggalan di meja lo kemarin. Kenapa? Takut gue ganggu waktu 'pacaran' kalian?"
Arunika merasakan ketegangan di lengan Thomas. Ia segera menyenggol lengan Marcell dengan sikutnya, mencoba mencairkan suasana. "Ih, Sel! Masih pagi udah sensi aja, pantesan jerawat kamu nambah tuh di jidat."
"Nggak usah sok akrab, Nik," sahut Marcell sinis, meski matanya sempat beralih ke wajah Arunika yang terlihat semakin cantik setelah menikah.
Arunika hanya menjulurkan lidahnya. Ia kemudian menoleh ke arah Thomas. "Mas, aku ke meja aku dulu ya. Mau cek jadwal Mas buat hari ini. Semangat kerjanya!"
Arunika melepaskan rangkulannya dan berbalik badan menuju mejanya yang terletak tak jauh dari ruangan Thomas. Namun, baru berjalan tiga langkah, ia mendadak teringat sesuatu. Sesuatu tentang "provokasi" yang sempat ia diskusikan dengan Ardi lewat chat tadi malam untuk membuat Marcell benar-benar "panas".
Arunika memutar kembali badannya dengan cepat.
"Kenapa, Sayang? Ada yang ketinggalan?" tanya Thomas. Suaranya sengaja ia lembutkan—sebuah improvisasi yang membuat bulu kuduk Marcell merinding.
Arunika tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat ke arah Thomas dengan tatapan berani. Tanpa aba-aba, ia meraih ujung dasi sutra milik Thomas, menariknya dengan kuat hingga tubuh Thomas yang jauh lebih tinggi terpaksa membungkuk sedikit ke arahnya.
Arunika berjinjit, memejamkan mata, dan...
Cup!
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Thomas. Singkat, tapi sangat terasa.
"Selamat kerjanya, suamiku. Dadah!" seru Arunika dengan wajah tanpa dosa, lalu ia segera berbalik dan berlari kecil menuju mejanya sebelum Thomas sempat bereaksi.
Suasana koridor itu mendadak sunyi senyap, seolah-olah oksigen baru saja dihisap keluar.
Marcell melongo. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi di depan hidungnya. Ia merasa seperti baru saja ditampar secara visual. "Nika... barusan dia... apa-apaan itu?" gumamnya lirih, dadanya terasa sesak oleh rasa tidak terima.
Sedangkan Thomas? Sang CEO yang dikenal berdarah dingin itu mematung seperti patung Yunani yang terpahat sempurna. Tangannya masih menggantung di udara, seolah ingin meraih sesuatu yang baru saja pergi. Ia bisa merasakan sisa kehangatan bibir Arunika dan aroma lipstik stroberinya yang tertinggal.
"Mas Thomas! Jangan bengong! Tuh, Marcell sampai syok liat kita!" teriak Arunika dari kejauhan, sambil melambai-lambaikan tangannya sebelum menghilang di balik bilik kerjanya.
Begitu sampai di kursinya, Arunika langsung menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan berkas. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
"Duhh, Arunika! Lo ngapain tadi!!!" teriaknya dalam hati sambil meremas rambutnya sendiri karena malu. "Itu tadi nekat banget! Aduh, gimana kalau Mas Thomas marah? Tapi liat muka Marcell tadi... puas banget! Skakmat lo, Sel!"
Di depan pintu, Thomas akhirnya tersadar. Ia berdehem keras, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah berantakan. Ia melirik Marcell yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat.
"Sudah lihat apa yang kamu ingin lihat? Sekarang masuk ke ruanganmu dan mulai bekerja, Marcell. Atau aku perlu minta bagian personalia untuk mengevaluasi kinerjamu karena terlalu banyak diam di koridor?" ucap Thomas dengan nada dingin yang kembali normal.
Thomas masuk ke dalam ruangannya, menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas. Namun, begitu ia berada di balik pintu yang tertutup, ia menyentuh bibirnya sendiri. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya.
"Gadis nakal," gumam Thomas pelan. "Dia benar-benar tahu cara memulai hari dengan serangan jantung."
Thomas duduk di kursi kebesarannya, namun bukannya membuka berkas, ia justru membuka laptop dan mengirim pesan singkat lewat internal chat kantor kepada asistennya yang sedang bersembunyi di balik meja kerja di luar sana.
Thomas: Terima kasih untuk 'semangat' paginya, Nyonya Adiputra. Tapi lain kali, jangan lakukan itu di depan Marcell.
Gergeous wife 💙: Loh, kenapa Mas? Mas malu ya? Hehe.
Thomas: Bukan malu. Tapi aku tidak suka berbagi tontonan gratis untuk orang lain. Simpan sisanya untuk nanti malam di apartemen.
Arunika yang membaca pesan itu di mejanya langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap layar komputernya dengan mata membelalak. "Mas Thomas beneran sudah terkontaminasi otaknya! Kontrak kita... oh Tuhan, kontrak kita dalam bahaya!"
Pagi itu, di kantor Adiputra Group, gosip tentang "ciuman maut" sang istri CEO langsung menyebar seperti api dalam sekam, sementara Marcell hanya bisa duduk di ruangannya dengan perasaan hancur, menyadari bahwa benteng pertahanan Thomas dan Arunika jauh lebih kuat dari yang ia duga.
gagal
coba lagi dong 🤭