sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Pengepungan itu tidak dimulai dengan teriakan.
Ia dimulai dengan keheningan yang terlalu rapi.
Eruditio selalu sunyi di malam hari, tapi malam itu berbeda. Tidak ada langkah tergesa, tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada bisikan murid yang pulang larut. Bahkan angin terasa enggan menyentuh lorong-lorong batu. Naluriku berteriak sebelum pikiranku sempat menyusun alasan.
Aku sedang berada di bangunan lama dekat arsip timur ketika aku menyadarinya:
aku tidak sendirian—tapi juga belum dikepung.
Itu tahap paling berbahaya.
Aku bergerak pelan, menahan napas, mendengarkan. Tidak ada suara sepatu. Tidak ada gesekan baju. Mereka yang datang bukan pemburu sembarangan. Keluarga Lin selalu seperti ini—tidak pernah tergesa, tidak pernah meninggalkan jejak jika tidak perlu.
Aku tahu aku sedang diuji.
Aku keluar dari bangunan lewat pintu belakang, menyusuri lorong sempit yang mengarah ke kanal air. Biasanya jalur ini aman. Biasanya. Malam itu, lampu-lampu kecil di sepanjang lorong menyala bersamaan—bukan terang, hanya cukup untuk memastikan aku terlihat.
Perangkap pertama.
Aku meloncat ke atap rendah, berlari menyilang, lalu turun kembali ke jalan batu. Tidak ada yang mengejar. Itu lebih mengerikan daripada dikejar. Mereka membiarkanku bergerak, mencatat setiap pilihan.
Aku menyadari sesuatu yang pahit:
ini bukan penangkapan mendadak.
Ini perburuan yang sudah dipelajari.
Aku mengubah rute, menuju menara observasi tua—tempat dengan banyak jalur keluar. Tapi di setiap belokan, selalu ada tanda kecil: bayangan yang terlalu lurus, bau logam tipis di udara, perubahan posisi penjaga kota yang tidak wajar.
Eruditio sudah ditutup rapat.
Bukan oleh tembok, tapi oleh kesepakatan diam-diam.
Aku teringat Sora. Cara ia menyuruhku pergi. Cara matanya lelah. Ia tidak berbohong—ia terlambat. Atau mungkin… ia tidak lagi punya cukup kuasa untuk menunda.
Serangan pertama datang tanpa suara.
Jaring tipis meluncur dari atas, hampir tak terlihat. Aku memotongnya tepat waktu, berguling ke samping, dan pedangku terhunus. Dua sosok muncul dari bayangan—tidak menyerang, hanya menekan, memaksaku bergerak ke arah tertentu.
Mereka tidak ingin membunuhku.
Mereka ingin aku lelah.
Aku melawan dengan efisien, bukan marah. Setiap gerakanku hemat. Setiap pukulan bertujuan membuka jalan, bukan menang. Tapi jumlah mereka tidak terasa. Selalu cukup. Selalu ada pengganti.
Aku mundur, napasku mulai berat.
Di atap menara, aku akhirnya melihat lingkaran itu. Tidak rapat, tidak panik—rapi. Terlalu rapi untuk ditembus. Panah-panah terarah padaku, tapi tidak dilepaskan. Mereka menungguku membuat kesalahan.
Aku tertawa pendek. Bukan karena lucu.
“Jadi begini caranya,” gumamku. “Tanpa saksi. Tanpa suara.”
Aku mencoba satu jalan terakhir—melompat ke kanal air di bawah menara. Airnya dingin, arusnya deras. Aku berenang melawan arus, berpegangan pada batu, lalu—
Sengatan.
Bukan racun mematikan. Hanya cukup untuk membuat otot-ototku melawan perintah. Aku terhuyung saat naik ke tepian, dan di sanalah mereka menutup jarak.
Aku masih bertarung. Naluri tidak pernah mati. Tapi tubuhku melambat. Pukulan mereka terukur. Tidak ada kebencian di wajah mereka. Hanya profesionalisme.
Pukulan terakhir menjatuhkanku ke lutut.
Pedangku terlepas dari genggaman.
Aku melihat sepatu-sepatu berhenti di sekitarku. Lingkaran itu akhirnya rapat. Seseorang berlutut di depanku, wajahnya tertutup kain gelap.
“Kenzy,” katanya pelan.
“Perburuan selesai.”
Aku mengangkat kepala. “Butuh seluruh kota ilmu untuk menangkap satu pengembara?”
Ia menjawab tenang, “Butuh kepastian.”
Ikatan dingin mengunci pergelangan tanganku—bukan tali biasa, tapi logam khusus yang menekan aliran tenaga. Aku mencoba melawan. Tidak berhasil.
Untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan keluarga Tong…
aku benar-benar tidak punya jalan keluar.
Saat mereka menyeretku pergi, pandanganku sempat menangkap bayangan di kejauhan—di balkon tinggi, seseorang berdiri diam.
Sora.
Ia tidak bergerak. Tidak memberi tanda. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Aku tidak tahu apakah ia menatapku… atau menolak melihat.
Aku tidak marah.
Aku sudah lama tahu akhir seperti ini mungkin datang.
Yang membuat dadaku sesak hanya satu hal:
aku gagal menjauhkan dunia ini dari orang-orang yang tidak seharusnya terseret.
Ecy muncul di pikiranku. Senyumnya yang sederhana. Cara ia tidak pernah menahanku.
Aku berharap ia tidak pernah tahu ke mana aku pergi malam itu.
Gerbang besi tertutup di belakangku tanpa suara keras.
Pengepungan sunyi berakhir.
Dan penjara sunyi dimulai.
...****************...
Ruangan itu terlalu bersih untuk disebut ruang interogasi.
Tidak ada rantai di dinding. Tidak ada noda. Tidak ada bau darah atau karat. Hanya meja batu abu-abu, dua kursi, dan lampu putih yang tidak berkedip—seolah ingin memastikan tidak ada sudut yang bisa kusembunyikan dari pandangan.
Tanganku masih terikat, tapi longgar. Sengaja. Mereka ingin aku sadar bahwa aku bisa bergerak… namun tidak ke mana-mana.
Pintu tertutup pelan.
Tidak dibanting. Tidak dikunci dengan suara keras. Hanya klik halus—cukup untuk memberitahu bahwa kendali sepenuhnya bukan milikku.
Seorang pria masuk lebih dulu. Usianya sulit ditebak. Rambutnya disisir rapi ke belakang, pakaiannya sederhana tapi mahal. Tidak membawa senjata. Tidak membawa alat penyiksaan.
Ia duduk di depanku tanpa menyapa.
“Kau tahu,” katanya akhirnya, “orang yang diburu biasanya datang dengan mata penuh kebencian.”
Ia menatapku.
“Matamu… hanya lelah.”
Aku tidak menjawab.
Ia tersenyum tipis, lalu membuka map tipis di depannya. Tidak ada kertas yang dikeluarkan. Hanya isyarat. Tekanan psikologis lebih efektif tanpa bukti di meja.
“Kami keluarga Lin,” lanjutnya tenang. “Kami tidak menyiksa. Tidak berteriak. Tidak memaksa pengakuan yang tidak perlu.”
Ia berhenti sejenak.
“Kami hanya bertanya. Dan menunggu jawaban jujur.”
Aku menghela napas perlahan. “Kalau begitu, bertanyalah.”
Ia mengangguk kecil, seolah menghargai sikap itu.
“Kenzy,” katanya, menyebut namaku seperti membaca judul buku.
“Kenapa kau kembali ke Eruditio?”
Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana.
“Untuk pulang,” jawabku.
“Pulang ke mana?”
“Ke tempat yang masih mengenalku.”
Ia mencatat sesuatu di ingatannya, bukan di kertas.
“Dan Ecy?”
Nada suaranya tetap datar.
Dadaku menegang, tapi wajahku tidak berubah. “Apa hubungannya dia dengan ini?”
Ia mencondongkan badan sedikit. “Kami memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa tidak ada orang lain yang ikut menanggung akibat pilihanmu.”
Aku terdiam. Itu bukan ancaman. Itu peringatan.
Pintu terbuka lagi. Seorang wanita masuk. Tatapannya tajam, lebih muda, lebih langsung. Ia berdiri, tidak duduk.
“Kau tahu berapa lama kami mencarimu?” katanya tanpa basa-basi.
“Cukup lama sampai kalian menutup satu kota,” jawabku.
Ia tersenyum dingin. “Itu berarti kau cukup penting.”
Aku menggeleng pelan. “Atau cukup merepotkan.”
Pria pertama mengangkat tangan, memberi isyarat agar wanita itu tenang.
“Kami tidak ingin menghukummu,” katanya padaku.
“Kami ingin memahami.”
“Memahami apa?” tanyaku.
“Kenapa seseorang dengan kemampuanmu memilih bersembunyi, bukan melawan.”
Aku tertawa pendek, kering. “Karena aku bukan simbol. Aku manusia.”
Wanita itu mendengus pelan. “Jawaban yang sering kami dengar.”
Pria itu menatapku lebih lama kali ini. “Kau tahu konsekuensi dari diam, Kenzy?”
Aku menatap balik. “Kalian tahu konsekuensi dari salah menilai.”
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada bentakan. Tidak ada tamparan. Tapi udara terasa berat, seolah dinding ikut mendengarkan.
Ia berdiri. “Kami akan memberimu waktu.”
“Untuk berpikir?”
“Untuk memilih,” jawabnya.
Pintu kembali tertutup.
Aku sendirian.
Di kesunyian itu, aku akhirnya mengerti satu hal:
keluarga Lin tidak menghancurkan tubuh lebih dulu.
Mereka mengikis pilihan.
Dan selama aku diam, dunia di luar ruangan ini—Sora, Eruditio, Ecy—tetap berada di ujung keputusan yang belum kuambil.