NovelToon NovelToon
Sang Raja Kota

Sang Raja Kota

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Preman / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Boy Permana

Kota X adalah kota tanpa tuhan, tanpa hukum, tanpa belas kasihan. Di jalanan yang penuh mayat, narkoba, prostitusi, dan pengkhianatan, hanya satu hal yang menentukan hidup dan mati: yaitu kekuasaan.

Di antara puluhan geng yang saling memangsa, berdirilah satu nama yang ditakuti semua orang

Reno, pemimpin The Red Serpent, geng paling di takuti dan paling berpengaruh di seluruh Kota X. Dengan kecerdasan, kekejaman, dan anggota yang kompeten Reno menguasai kota melalui darah dan pertarungan.

Namun kekuasaan sebesar itu mengundang musuh-musuh baru dan membuat iri musuh lama yang ingin menjatuhkan Reno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boy Permana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

awal perang besar

Wilayah River Kids di kota X terasa sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah kota yang biasanya tak pernah tidur.

terlihat Ega berdiri sendiri di depan motornya, hanya menatap layar ponsel, Napasnya terasa berat.

Ia tahu, sekali melangkah tidak akan ada jalan kembali.

Akhirnya ia menekan satu nama di daftar kontak nya.

Cakra.

Nada sambung hanya berbunyi sekali.

“Apa?” suara Cakra terdengar waspada.

“Aku perlu bertemu dengan Reno,” ucap Ega singkat. "ada sesuatu yang harus ku bicarakan langsung dengannya."

Hening beberapa detik.

“Kau sadar apa artinya permintaan itu?” tanya Cakra pelan.

“Aku sadar,” jawab Ega. “Dan aku siap tanggung risikonya.”

Cakra menarik napas panjang.

“Kalau begitu… akan aku atur. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak bisa menjamin keselamatan mu, jika ucapan mu menyinggung Bos ku.

“Terima kasih, aku tahu resikonya disana ataupun disini.”

"temui aku di tempat biasa" balas Cakra

Ega mematikan ponsel nya dan melaju menggunakan motornya ke tempat biasa bertemu dengan Cakra.

sesampainya ega di sana terlihat Cakra dan beberapa anak buahnya sudah menunggu, tanpa berlama-lama Cakra meminta Ega untuk mengikuti nya dari belakang untuk menuju markas Red Serpent.

sesampainya di markas Cakra turun dari mobil dan menghampiri Ega lalu mengajaknya masuk ke dalam markas untuk menuju ke ruangan, tempat berkumpulnya Reno dan para kapten.

sesampainya di ruangan itu Ega melangkah dengan kaki gemetar.

Lampu temaram menyinari meja besar dari kayu gelap. Reno duduk tenang, kedua tangannya bertaut.

Di belakangnya berdiri beberapa kapten.

Iwan bersandar di dinding dengan tangan terlipat, tatapan tajamnya mengarah ke Ega.

Cakra berdiri di samping Ega, "boss ini orang yang ingin bertemu, namanya Ega salah satu kapten di black hound dan juga salah satu informan ku."

Reno memandang Ega lama sebelum berbicara.

“Kau tahu kenapa kau berdiri di ruangan ini?” tanyanya datar.

Ega menelan ludah.

“Karena Cakra yang membawa ku ke sini.”

“Karena Cakra menjamin kau layak didengar,” koreksi Reno.

“Sekarang bicara. apa yang ingin kau bicarakan dengan Pelan dan Jelas.”

Ega menghela napas panjang.

“River Kids bergabung dengan Black Hound bukan karena keinginan kami,” katanya

“Alpha datang dengan pasukan. Ia menghancurkan wilayah-wilayah di sekitar wilayah kami, membunuh orang yang melawan, memperkosa wanita-wanita di wilayah geng lain yang pernah menolak ajakan alpha, membakar rumah-rumah milik anggota geng yang menentangnya bahkan anak-anak mereka pun tidak luput dari kekejaman alpha dan anak buahnya.

lalu ia datang ke wilayahku.”

"dengan kekuatan ku dan geng kecilku, aku tidak sanggup jika harus melawannya."

Suara Ega bergetar tipis, tapi ia memaksa diri tetap tegak.

“Aku sebagai ketua yang menjaga wilayah agar tetap aman dan untuk memastikan Keluargaku dan semua orang di sana tetap aman”

“Kami terpaksa tunduk,” lanjut Ega.

“Bergabung dan Mengibarkan bendera Black Hound, dengan terpaksa.”

Ia menatap Reno langsung.

“Tapi aku tidak pernah berhenti mencari jalan keluar.”

“Alpha sekarang sedang bersiap-siap untuk perang,” kata Ega.

“Rexy tertangkap membuatnya yakin serangan Red Serpent hanya tinggal menunggu waktu.”

Cakra menajamkan mata. Ini pertama kalinya ia mendengar ini.

“Radit diperintahkan melumpuhkan Iwan,” lanjut Ega sambil melirik ke arah Iwan.

“Vargo sedang mempercepat pengadaan senjata. Alpha ingin semua pasukan siap.” katanya.

“dan aku diperintahkan mengatur pertahanan wilayah.”

Ega tertawa hambar.

“Ironisnya, dia mempercayaiku mengatur pintu masuk.”

Reno menyipitkan mata.

“Dan di situlah kau melihat celah.”

Ega mengangguk.

“Jika Red Serpent ingin menyerang Black Hound,” ucapnya mantap,

“masuklah lewat wilayah River Kids.”

Semua mata tertuju padanya.

“Aku jamin tidak ada perlawanan. Kami akan membuka jalan. Tidak ada tembakan. Tidak ada jebakan dan kami akan menyabotase black hound dari dalam.”

Ega menundukkan kepala sebentar, lalu berkata dengan suara lebih rendah:

“Aku tahu… Red Serpent tidak membutuhkan bantuan kami untuk menghancurkan Black Hound.”

Ia mengangkat kepala lagi.

“Tapi izinkan River Kids membantu.”

Reno diam.

“Kami tidak menginginkan kekuasaan,” lanjut Ega.

Kami hanya ingin hidup seperti dulu. Menjaga wilayah kami tanpa berada di bawah bayang-bayang monster seperti Alpha.”

Lalu ia menatap Reno.

“Kami geng kecil. Tapi kami ingin memastikan orang-orang di wilayah kami tetap aman. Itu saja.”

Reno akhirnya berdiri.

“Kalau informasi yang kau bawa ini benar,” katanya perlahan dan penuh tekanan,

“River Kids dan wilayahnya akan berada dalam lindungan Red Serpent.”

Ega mengangkat kepala, matanya berbinar.

“Dan Ega,” lanjut Reno, “ jika ini hanya jebakan yang kau buat, Red Serpent bisa 100x lebih kejam daripada Alpha.

Cakra akhirnya bicara, singkat namun tegas:

“Aku percaya padanya boss.”

Reno mengangguk tipis.

“Kalau begitu,” katanya,

“bersiaplah. untuk merebut pinggiran kota dari tangan black hound”

"dan kau Ega pergilah jalankan rencana mu aku dan pasukan ku akan datang malam ini."

Di luar markas, Ega menarik napas panjang seperti seseorang yang baru saja melompat dari tebing dan berharap masih bisa hidup.

",dengan ini River kids akan bebas " ucap Ega dalam hati.

lalu Ega menaiki motornya, melaju meninggalkan markas red serpent dan kembali ke markas black hound.

sesampainya di Markas Black Hound.

Ega berjalan menyusuri lorong markas dengan wajah tenang.

memberikan perintah kepada anak buah seperti yang selalu ia lakukan setiap hari.

“Periksa ulang senjata pastikan setiap anggota mendapatkan senjata.”

“Radio komunikasi harus tetap menyala, jangan ada yang lengah.”

“Tim yang berjaga di flyover ganti shift tiap lima jam sekali.”

Semua tampak normal.

Alpha tidak curiga.

Bagi Alpha, Ega masih kapten yang patuh dan sibuk menyiapkan pertahanan.

Di dalam dirinya sendiri, Ega menyimpan rapat apa yang telah ia bicarakan dengan Reno. Ia tahu satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat kepalanya dipenggal.

Lalu Ega memanggil salah satu anak buahnya di River kids, untuk menginformasikan rencana sabotase di lakukan hari ini juga dengan berhati-hati.

" infokan kepada semuanya untuk beraksi sekarang, dan ingat harus berhati-hati agar tidak ada yang curiga." perintah Ega.

"siap bang, akan ku infokan kepada yang lain," jawab anak buah Ega

Malam harinya di markas The Red Serpent.

Reno berdiri di ujung meja rapat. Di sekelilingnya para kapten divisi berkumpul:

Iwan, Laras, Cakra, Elang, Guntur, Jhon, Kala dan Jaka.

Kursi Renata dan Bara kosong, keduanya masih belum pulih dari cedera.

Reno memulai rapat tanpa basa-basi.

“Informasi dari Ega dan Cakra sudah cukup jelas,” katanya datar.

“Black Hound sedang memperkuat pertahanan. Artinya mereka tahu kita akan bergerak untuk menyerang mereka.”

Ia menatap semua kapten satu per satu.

“Karena itu, kita akan bergerak lebih cepat.”

Cakra lalu menambahkan.

“Markas Black Hound akan kita serang dari wilayah River Kids. Jalur ini dijamin aman.”

Reno mengangguk, lalu berkata.

“Aku akan memimpin penyerangan ini di dampingi, Tomo dan Damar. kalian para kapten siap kan anak buah terbaik kalian dan kau Jaka seperti biasa kau dan divisi 9 jaga markas.”

Kemudian Reno menoleh ke Iwan.

“Iwan.”

Iwan mengangkat kepala.

“Radit kemungkinan tidak ikut bertahan di markas black hound,” lanjut Reno.

“Dia bergerak di kota, memburu kita… atau lebih tepatnya, memburumu.”

Iwan tersenyum tipis.

“itu bagus boss. Aku juga sedang mencarinya untuk membalas kan dendam bara.”

Reno menatapnya serius.

“Tugasmu jelas. Temukan Radit dan Habisi dia.

Kita tahu sepak terjang Radit, Selama Radit masih hidup, divisi penyerangan Black Hound mungkin bisa mengganggu.”

“Siap,” jawab Iwan singkat.

Tidak lama setelah rapat bubar, radio di telinga Iwan berderak.

“Iwan,” suara Cakra masuk tenang.

“Aku baru saja mendapatkan informasi, Radit sedang berada di pusat kota. Sekitar pusat perbelanjaan. Dia hanya ditemani beberapa orang,

titik koordinat pasti nya akan ku kirim melalui WhatsApp.”

"Terimakasih informasinya, aku akan kesana," jawab iwan.

Iwan lalu menatap anak buah Divisi 1 yang sudah bersiap.

“Kita bergerak sekarang semua anggota divisi 1 ikut dengan ku.”

Mesin motor dinyalakan.

Divisi 1 meluncur cepat menembus jalanan kota.

Lampu pusat perbelanjaan terlihat menyala terang dari kejauhan.

Radit berdiri di depan sebuah minimarket, kedua tangan di saku jaket. Di belakangnya hanya ada beberapa anak buah yang menjaga nya.

Salah satu dari mereka terlihat gelisah karena melihat banyak motor berjalan mendekat.

“liat itu banyak motor mendek ke arah sini, jika itu Red Serpent habislah kita." ucap salah satu anak buah Radit.

Radit menjawab.

“Sial seperti nya itu memang Red Serpent, kenapa mereka datang dengan jumlah sebanyak itu di saat aku menyebar pasukan ku di seluruh kota.”

Suara motor mendekat.

Banyak sangat banyak.

Radit tersenyum kecil.

“Dan ternyata… orang yang kita buru datang dengan pasukan.”

Divisi 1 berhenti rapi di seberang jalan.

Iwan turun dari motor, tatapannya langsung terkunci pada Radit.

Saat Iwan melangkah menuju ke arah Radit semua anggota divisi 1 mengikuti dari belakang.

“Radit apa kau yang menghajar Bara.” tanya iwan

Radit melangkah maju satu langkah sambil tersenyum.

“Memangnya kau pikir di kota ini ada berapa Radit yang memiliki nyali untuk menghajar kapten Red Serpent .”

Iwan mengangkat tangan, memberi isyarat ke anak buahnya untuk tetap siaga.

Radit melihat sekeliling, menghitung cepat.

Jumlah yang tidak seimbang.

Ia menghela napas, lalu tersenyum.

“Kalau kita bertarung seperti ini,” katanya, “aku akan kalah dengan jumlah kalian.

Radit menatap Iwan tajam.

“Aku mau kita duel, itu pun juga kalau kau berani satu lawan satu”

Anak buah Radit menegang.

“hanya kau dan aku,” lanjut Radit.

“Tanpa senjata. Tanpa campur tangan yang lain.”

Iwan menyeringai.

“Prinsip ku sederhana,” kata Iwan tegas.

“Kalau seorang lelaki menantang duel… aku tidak akan menolak nya.”

Ia menoleh ke anak buahnya.

“Jangan ada yang ikut campur. Kecuali dari mereka ada yang berbuat curang langsung habisi di tempat.”

Radit memberi isyarat yang sama ke orang-orangnya.

Dua pasukan mundur, membentuk lingkaran.

Lampu kota berpendar di atas mereka.

Dua pria berdiri saling berhadapan.

Mantan petarung terkuat Silver Fang

melawan

Kapten terkuat dari Divisi 1 Red Serpent.

1
Zan Apexion
semangat terus dalam berkarya ya author ☺️👍
Zan Apexion: sama-sama, tetap semangat dalam berkarya ☺️👍.

salam dari sesama penulis.
Sincerly,

Zan Apexion
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!