Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Tertinggal
Jejak kaki di dekat tirai itu belum sepenuhnya mencair.
Seseorang memang baru saja berdiri di sana.
Duke Wang menatap lantai dengan mata tajam, sementara pria misterius itu perlahan mengepalkan tangannya.
“Dia sudah mulai bergerak…” gumamnya pelan.
Xiao Mei merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
Jika seseorang benar-benar mengawasi mereka sejak awal malam ini—
maka semua yang terjadi di aula bukanlah
kebetulan.
Dan mungkin…
orang itu sudah mengetahui rahasia yang bahkan Xiao Mei sendiri belum pahami.
Sebenarnya… rahasia apa yang sedang mereka sembunyikan?
Happy reading><......
Xiao Mei merasakan getaran aneh saat hampir menyentuh tangan pria itu. Fragmen masa lalu mulai muncul, tapi ingatannya masih kabur.
Bayangan malam salju merah tiga tahun lalu muncul kembali, lebih nyata daripada sebelumnya.
“Xiao Mei… kau tidak mengingatku, tapi aku selalu mengingatmu,” kata pria itu. Matanya tajam, penuh emosi yang menyesakkan.
Duke Wang berdiri tegak di samping Xiao Mei, mata menyala penuh amarah dan proteksi.
“Kau tidak punya hak mendekatinya!” teriaknya, tapi suaranya nyaris tenggelam di hening aula.
Pria itu tersenyum pahit.
“Jika aku gagal… nyawanya bisa hilang. Dan kau… kau tidak akan bisa menolongnya.”
Xiao Mei menatap keduanya, jantungnya berdebar.
Perasaan asing tapi familiar terus menghantui.
Mengapa hatinya terasa sakit saat melihat pria misterius itu?
Mengapa fragmen masa lalu terasa menuntunnya untuk percaya, meski logikanya menentang?
Tiba-tiba, pelayan yang tadi masuk kembali, wajah pucat.
“Yang Mulia… ada seseorang di taman… berdarah dan pingsan!”
Xiao Mei menelan ludah. Malam ini, takdir mereka bergerak lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Pria itu melangkah ke depan, suaranya rendah, penuh tekad.
“Janji itu… aku akan menepatinya, apapun yang terjadi.”
Duke Wang menahan napas, matanya menatap tajam.
“Aku akan melindungi Xiao Mei. Tapi kau… jangan coba-coba mengganggunya,” katanya.
Duke Wang berdiri sedikit lebih dekat ke Xiao Mei, seolah tanpa sadar menempatkan dirinya sebagai penghalang.
Tatapannya tidak pernah lepas dari pria misterius itu.
Ada sesuatu pada pria itu yang membuatnya tidak tenang.
Bukan hanya karena kata-katanya—
tetapi karena cara pria itu memandang Xiao Mei.
Seolah-olah ia sudah mengenalnya jauh lebih lama daripada dirinya.
Xiao Mei menutup mata, dada berdebar, mencoba menenangkan napasnya yang tidak teratur.
Hatinya terasa kacau. Setiap kata yang diucapkan pria misterius itu seperti menarik sesuatu dari dalam ingatannya—sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.
Wajah pria itu terasa asing, namun pada saat yang sama… terlalu familiar.
Seolah-olah mereka pernah berdiri sangat dekat satu sama lain.
Namun di mana semua itu terjadi?
Dan Kapan?
Fragmen masa lalu mulai membentuk bayangan yang lebih jelas: tangan yang pernah digenggam, salju merah, darah yang menodai putihnya salju. Semua nyata, tapi tetap misterius.
Di luar aula, bayangan bergerak perlahan dari kegelapan. Sosok tak dikenal, wajah tersembunyi, aura kematian terasa begitu nyata.
Angin malam berhembus melalui koridor istana, membuat tirai-tirai panjang bergoyang pelan.
Seseorang berdiri di balik bayangan pilar batu, mengamati aula dari kejauhan.
Bibirnya melengkung tipis ketika mendengar nama Xiao Mei disebut.
Sosok itu tetap diam di balik bayangan, tidak bergerak sedikit pun.
Matanya mengamati setiap gerakan di dalam aula.
Terutama gadis yang berdiri di antara dua pria itu.
Xiao Mei.
Nama itu kini telah muncul kembali di permukaan—dan itu berarti waktu yang lama tersembunyi akhirnya hampir habis.
Tangannya perlahan mengepal di balik jubah hitamnya.
Malam ini hanyalah langkah pertama.
Dan segera… seluruh istana akan mengetahui kebenaran yang selama ini terkubur.
“Akhirnya… permainan ini benar-benar dimulai.”
Xiao Mei tahu satu hal: malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih berbahaya, dan lebih menentukan masa depan mereka semua.
Dan di hatinya, pertanyaan itu tetap bergema:
Siapa pria itu sebenarnya? Dan apa janji yang menuntut nyawa mereka?
BERSAMBUNG.........
Pria yang ditemukan di taman perlahan membuka matanya.
Darah masih mengalir dari lukanya, tetapi tatapannya langsung tertuju pada Xiao Mei.
Dengan napas tersendat, ia menggenggam lengan Xiao Mei sekuat tenaga.
“Lari… mereka sudah datang…” bisiknya lemah.
Duke Wang langsung mencabut pedangnya.
Namun sebelum siapa pun sempat bertanya—
suara langkah kaki terdengar dari balik pepohonan taman.
Seseorang… tidak datang sendirian.
Apa sebenarnya yang mereka kejar?
Dan mengapa Xiao Mei menjadi target mereka?
Bab 36 akan segera hadir.