Gavin terpaksa harus menelan Pil pahit,ketika ia tidak bisa mewujudkan mimpinya untuk menikahi sang kekasih yang sudah dipacarinya selama 4 tahun.karna orang tua seila sang kekasih meminta mahar yang besar yang tidak bisa dipenuhi oleh Gavin.
ditengah kegalauannya orang tua Gavin malah semakin mendesak anaknya untuk menikahi anak dari sang sahabat karna merasa berhutang janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab35
Aroma antiseptik menyeruak keudara,suara alat alat medis mengema ditelinga Yuna tapi semua itu tak mengusiknya sama sekali. ia diam menatap nanar sang ayah mertua yang terbaring lemah dengan selang infus yang menancap ditangannya.
" Astaga aku sama sekali belum menelfon Alina."
Yuna segera meraih benda pipi yang berada di dalam tasnya.
" Halo.alina akhirnya tersambung juga kamu ngak apa apa kan lin.aku sangat khawatir sama kamu."
" Yang harusnya khawatir itu aku yun.saat aku kembali aku sudah tidak melihat kamu dan saat aku masuk kedalam rumah itu.rumah itu kosong tidak ada siapapun yang berada disana."
" Ngak kok Alina Alhamdulillah aku masih baik baik
" Ya udah kalau begitu aku tutup telfonya yah Lin."
" Ehh yuna.itu waktu aku masuk kerumah itu aku melihat foto Gavin dengan seorang laki laki."
Deggggh
Jantung Yuna berdetak lebih kencang.takut jika Alina akan tahu hubungannya dengan gavin.belum saatnya ia jujur terlebih Alina adalah sahabat seila.
" Kamu kenal ya sama Gavin kok ngak bilang sama aku?"
Tangan pak Rusli bergerak, kelopak matanya terbuka secara perlahan.
" Alina aku tutup dulu telfonya.! " Ucap Yuna kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Alina menjauhkan benda pipi itu dari telinganya dan menatapnya.
" Aku merasa Yuna sangat aneh." Batinya.
" Bapak sudah sadar." Ucap Yuna ketika melihat pak Rusli membuka matanya secara sempurna.
" Yuna." Ucapnya tapi pandangan matanya menyusuri ruangan berharap Gavin ada disana,Gavin ada disisinya saat ia lemah tapi harapannya pupus saat netranya tidak menangkap sosok Gavin disana.
" Yuna bapak haus."
Dengan cepat Yuna mengambil segelas air minum yang berada diatas nakas.
" Ini pak minumnya pelan pelan."
" Terimakasih Yuna."
Yuna kembali meletakan air putih itu diatas nakas.
Pak Rusli menatap langit langit dengan tatapan kosongnya.
Yuna diam menatap pak Rusli ia sangat tahu seorang orang tua akan sakit jika diabaikan oleh anaknya.
" Bapak mau makan"
" Bapak tidak lapar nak."
" Bapak harus makan, sedikit saja."
Pak Rusli mengeleng
" Sedikit saja demi Yuna pak "
Pak Rusli menoleh kearah Yuna.
" Bisakah kamu menelpon Gavin untuk bapak.bapak sangat merindukannya."
Yuna mengingit bibir air matanya tertahan.
Ingin rasanya ia meluapkan amarahnya kalau dia sudah menelfon Gavin tapi ia sibuk terlalu sibuk dengan Seila sampai dia lupa bahwa dia seorang suami, seorang anak yang punya tanggung jawab.
Yuna mengerjap berusaha menahan gejolak perih dihatinya,mengalah demi kesehatan pak Rusli.
Yuna mengambil smartphonenya dari dalam tas selempang miliknya,mencari kontak Gavin dengan perasaan yang berkecamuk.
Satu kali panggilan,Gavin tidak menjawab.
Dua kali panggilan,tetap tidak ada jawaban.
Ingin rasanya Yuna menyerah, berhenti untuk menekan tombolnya lagi tapi ia tidak bisa menyerah saat melihat mata pak Rusli yang penuh harapan padanya.
Dan lagi Yuna mengalah pada keadaan,ia kembali menekan kontak Gavin pada layar smartphone nya.
Hingga sambungan teleponnya berhasil tersambung.
" Hallo sudah kubilang jangan meneleponku aku sedang sibuk." Bentak Gavin disebrang sana.
" Bapak sakit dia ada dirumah sakit." Ucapnya dengan cepat sebelum Gavin mematikan panggilan telfonya.
Setelah mengatakan itu Yuna segera menekan tombol merah yang ada pada layar handphonenya.
" Kamu sudah mengatakan bapak sakit nak,apa dia akan datang?"
Yuna berusaha tersenyum
"Dia akan datang.mas Gavin pasti akan datang." Ucapnya meski Yuna sendiri tidak yakin jika Gavin akan datang.
si jef jangan oon ya
oyo yuna semanagt
jef jangn oon jd ceo
lanjut thor ❤️❤️❤️❤️👍👍👍
semangat thor 👍👍👍👍👍